15 Titik Masih Rawan Banjir

PALEMBANG – Banjir atau genangan menjadi masalah di Kota Palembang. Saat ini Pemerintah kota Palembang berupaya untuk mengendalikan persoalan tersebut.
Kepala Dinas PUPR Kota Palembang, Ahmad Bastari mengatakan, perlu koordinasi semua pihak untuk mengatasi banjir ini.

“Ketika pengembangan wilayah dilakukan, dengan banyak lokasi Dibangun Perumahan, kemudian dikatakan titik banjir baru. Padahal dulunya memang lokasi tersebut daerah genangan air,” jelasnya aat menjadi narasumber Seminar dan Loka Karya DPP Gerakan Cinta Rakyat (Gencar) Dewan Kesehatan Rakyat Sumatera selatan (DKR) di ruang Parameswara Setda Kota Palembang, kemarin (8/11).

Diakuinya, kalau dikatakan lokasi Banjir bertambah iya. Tapi untuk mengatasi persoalan Pengendalian banjir ini standar Indonesia perencanaannya untuk 25 tahunan, beda dengan Belanda yang hitungannya ratusan tahun. Karena Butuh cost besar, dan lahan yang besar.

“Perencanaan kita tidak mampu untuk mengatasi banjir yang besar. Apalagi ketika curah hujan ekstrem seperti terjadi pada awal Oktober lalu. Sebab kita tidak mampu langsung menghilangkan genangan karena hujan ekstrem,”Ki 88arnya.

Mengatasi persoalan banjir, pemerintah kota Palembang dalam hal ini Dinas PUPR juga tidak berpangku tangan saja, sebab berbagai upaya dilakukan, seperti melakukan pembongkaran bangunan yang berada diatas saluran atau ruang air.

“Setidaknya tim kami sudah membongkar 221 bangunan untuk ruang air ini,” Katanya.

Kemudian, pembangunan kolam retensi yang terbilang cukup masif sepanjang 10 tahun terakhir.

“Saat ini kita punya 46 kolam retensi, dari yang 10 tahun lalu sudah bertambah banyak. Dimana kolam retensi ini lahannya ada Dari pembebasan pemerintah dan hibah masyarakat,” Terangnya.

Dikatakan nya, bahwa Kolam retensi harusnya ada disetiap lokasi untuk ruang air. Karena itu, pembangunan kolam retensi di Palembang akan terus dilakukan.

“Terbaru perencanaan untuk pembangunan kolam retensi gandus/keramaian dekat lahan yang akan dibangun kawasan kantor gubernur yang baru,” Paparnya. (*)