24 Tahun Harian Palembang Pos


Dari Newsroom Terkecil di Dunia

Jadi Koran Oplah Terbesar di Sumsel

HARIAN Palembang Pos menjelang seperempat abad menjadi bagian dari warga Kota Palembang. Berawal dari media yang ruang redaksinya dijuluki terkecil di dunia, Palembang Pos berkembang menjadi media populer yang setiap pagi ditunggu para pembacanya yang menanti berbagai informasi aktual.

Kini bahkan dalam bentuk koran digital. Isu yang diangkat adalah masalah khas masyarakat perkotaan yang justru kurang mendapat ruang di media mainstream lainnya. Inilah keunggulan yellow journalism alias jurnalisme kuning.

Sejak pertama terbit 24 tahun lalu, koran Palembang Pos sudah tampil beda. Tampilan halaman mukanya mencolok dengan warna-warna terang, dominan merah. Judul berita-berita headline-nya menggunakan kata-kata yang lugas, cenderung sensasional. Judul-judul ini yang membuat pembaca langsung tertarik untuk membaca.

Palembang Pos memang didesain sejak awal sebagai koran kuning atau yellow newspaper. Ini istilah untuk media yang menyajikan berita-berita kriminal juga politik dengan teknis penyajian sensasional. Yellow journalism atau jurnalisme kuning sudah lama dikenal dalam dunia pers, baik di Indonesia maupun dunia. Koran kuning yang populer di Jakarta adalah Pos Kota dan Lampu Merah (kini berganti nama menjadi Lampu Hijau). Di Yogyakarta ada Harian Meteor.

Media kuning yang populer secara internasional misalnya The Daily Sun di Afrika Selatan yang oplahnya mencapai 500.000 eksemplar. Lalu ada Tabloid News of The World di Inggris yang oplahnya pernah menjadi tertinggi di dunia. Tak bisa dipungkiri, meski penyajiannya sering diprotes karena dianggap sebagai “lampu kuning” dalam etika komunikasi jurnalistik karena tampil terlalu bombastis dan sensasional, namun bahasa jurnalistik yang dipakai koran-koran kuning justru lebih mengena buat masyarakat perkotaan.

Banyak hal yang menjadi alasan untuk itu. Koran kuning mampu menyajikan berita-berita kriminal dan politik menjadi mudah dipahami berbagai kalangan. Apalagi tampilan halaman koran kuning juga biasanya lebih menarik dan eye catching dengan warna-warna yang lebih berani. Pembaca lebih menyukai pemberitaan secara apa adanya daripada dibalut dengan kata-kata yang kaku.

Namun yang paling penting, koran-koran kuning selalu mengangkat isu-isu dari strata masyarakat yang lebih luas. Dari yang tertinggi sampai yang terbawah. Koran kuning memuat berita-berita yang tidak power sentris. Atau berpusat pada kekuasaan seperti media mainstream lainnya. Namun juga menyajikan isu-isu dari masyarakat terbawah. Isu-isu ini biasanya jarang mendapat tempat di media lain. Hal ini lah yang menjadi bonding dan kedekatan yang kuat antara koran kuning dengan pembacanya.

Mang Juhai yang Fenomenal

Cikal bakal diterbitkannya Harian Palembang Pos berawal dari banyaknya pembaca halaman “DOR” di Harian Sumatera Ekspress atau Sumeks di Palembang. Sumeks sendiri adalah media terbesar di Bumi Sriwijaya yang tergabung dalam jaringan media Jawa Pos pimpinan Dahlan Iskan. Halaman “DOR” adalah halaman khusus yang memuat berita-berita kriminal.

Saking banyaknya penggemar halaman itu, CEO Sumeks mendiang Soeparno Wonokromo lalu berinisiatif untuk menerbitkan koran khusus kriminal yang kemudian dinamai Palembang Pos. Apalagi Soeparno Wonokromo sendiri latar belakangnya memang wartawan kriminal di Jawa Pos Jakarta.

Sebagai “adik baru” Sumeks, Palembang Pos diterbitkan dengan dipunggawai beberapa redaktur senior dari Sumeks sendiri. Yaitu Ocktaf Riadi (redaktur halaman “DOR”), Asril Chaniago (redaktur halaman “Metropolis”), dan Muntako BM (redaktur halaman politik dan ekonomi). Jurnalis senior dari Harian Rakyat Bengkulu Noparina Bahraq kemudian turut bergabung memperkuat tim perintis harian Palembang Pos ini. Sebagai pemimpin redaksi dipegang langsung Soeparno Wonokromo.

Yang unik adalah ruang redaksinya. Tim redaksi Palembang Pos hanya diberi ruang redaksi yang sempit yang posisinya di bawah tangga kantor Sumeks, berikut beberapa komputer. Karena jumlah komputernya juga terbatas, wartawan pun harus mengetik bergantian.
Kondisi ini sempat mengejutkan Mr John Moon, jurnalis asal Amerika Serikat yang menjadi media consultant Jawa Pos Group. Bahkan saat berkunjung ke redaksi Palembang Pos, Mr Moon sempat terpana.

“Ini adalah newsroom paling kecil di dunia yang pernah saya temui,” ujarnya sambil tertawa dan geleng-geleng kepala.
Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat tim redaksi Palembang Pos. Koran baru itu terus terbit menyapa pembacanya setiap pagi. Para loper menjajakan koran itu di setiap persimpangan jalan, terminal, pasar, perumahan, juga di trotoar jalan. Oplah Palembang Pos pun melejit.

Apalagi kemudian, Palembang Pos meluncurkan rubrik khas Mang Juhai yang diisi dengan berbagai kisah seputar masalah keseharian masyarakat kota. Sosok imajinatif Mang Juhai yang lucu dan kocak juga sering melemparkan sentilan yang satire, baik bagi pemerintah atau kejadian-kejadian kriminal dan politik yang sedang jadi pembicaraan hangat. Pembaca pun merasa terwakili oleh sosok Mang Juhai. Mang Juhai pun jadi ikon populer Palembang Pos hingga kini.

Puncaknya, pada periode 2004-2006, Palembang Pos meraih oplah tertinggi. Mencapai 30 ribu eksemplar per hari. Angka ini bahkan juga sempat mengalahkan sang kakak, koran Sumeks yang ketika itu adalah koran dengan oplah terbesar di Sumsel.

Pencapaian ini juga melebihi ekspektasi dari Soeparno Wonokromo sendiri, yang membuat janji istimewa untuk koran baru ini. Soeparno yang biasanya berpenampilan sederhana ini mengatakan, dia akan mengenakan dasi ke kantor jika Palembang Pos oplahnya mencapai 20 ribu eks per hari.

Dan saat angka itu tercapai, bahkan lebih tinggi, jurnalis senior Jawa Pos itu menepati janjinya. Selalu mengenakan dasi saat hadir di kantornya sendiri. Saat Graha Pena Palembang berdiri, newsroom Palembang Pos pun pindah dan menempati lantai paling atas.

Kini koran yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Kota Palembang ini sudah tepat 24 tahun hadir. Seiring perkembangan teknologi, Palembang Pos juga bertransformasi dengan hadir melalui format online dan koran digital. Pembaca harus selalu disapa setiap pagi, disuguhi berita-berita aktual sebagai “sarapan” rutin. Karena informasi sesungguhnya adalah merupakan kebutuhan pokok bagi setiap orang. Dengan mengetahui informasi, kita akan menguasa dunia. Selamat ulang tahun Palembang Pos! (*)

*)Masayu Indriaty Susanto adalah wartawan Palembang Pos 2000-2002