Akankah Misteri Kematian Santri Itu Diusut Polisi ?

Soimah (tengah) orang tua santri Ponpes Gontor curhat kepada pengacara kondang Hotman Paris, Minggu (4/9). FOTO : SEPTI-PALPOS


PALEMBANG
– Seorang ibu rumah tangga bernama Soimah yang merupakan wali santri Pondok Pesantren Modern Gontor Jawa Timur meminta keadilan hukum atas kematian putra sulungnya.

Dia meminta Kapolda Jawa Timur untuk mengusut kematian anaknya bernama Albar Mahdi (17), yang merupakan siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Pusat Ponorogo. Kuat diduga almarhum meninggal karena menjadi korban penganiayaan.

Keresahan Soimah ini dikemukakannya kepada pengacara kondang Hotman Paris Hutapea saat berkunjung ke Palembang, Minggu (4/9). Soimah bercerita sembari berlinangan air mata.

Dia menceritakan kisah anaknya yang dikembalikan pihak pesantren dalam keadaan sudah dibungkus kain kafan.

Soimah menjelaskan betapa dia membutuhkan keadalian atas meninggalnya putra pertamanya itu.

“Saya selaku umi dari Albar Mahdi siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Pusat Ponorogo asal Palembang mohon keadilan kepada semua pihak, agar bisa membantu saya. Sungguh miris, tragis dan menyakitkan hati saya dan keluarga kejadian ini. Tidak ada kabar sakit atau apapun itu dari anak saya, tiba-tiba dapat kabar dari pengasuhan Gontor 1 telah meninggal dunia pada Senin, 22 Agustus 2022 pukul 10.20 WIB. Padahal di surat keterangan yang saya terima, putra saya itu meninggal pada pukul 06.45 WIB. Ada apa? Rentang waktu itu menjadi pertanyaan keluarga kami,” jelasnya.

“Akhirnya almarhum tiba di Palembang pada Selasa siang, 23 Agustus 2022 diantar oleh pihak Gontor 1 dipimpin ustad Agus. Itu pun saya tidak tahu siapa ustad Agus itu, hanya sebagai perwakilan. Di hadapan pelayat yang memenuhi rumah saya, disampaikan kronologi bahwa anak saya terjatuh akibat kelelahan mengikuti Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum),” jelasnya.

“Tetapi karena banyak laporan- laporan dari wali santri lainnya, bahwa kronologi tidak demikian. Kami pihak keluarga meminta agar mayat dibuka. Sungguh sebagai ibu saya tidak kuat melihat kondisi mayat anak saya,’’ paparnya.

Amarah tak terbendung karena laporan yang disampaikan berbeda dengan kenyataan yang dia diterima. Sehingga merasa tidak tidak sesuai Ia akhirnya menghubungi pihak forensik dan pihak rumah sakit yang sudah siap melakukan otopsi.

“Namun, setelah didesak pihak dari Gontor 1 yang mengantar jenazah akhirnya mengakui bahwa anak saya meninggal akibat terjadi kekerasan. Saya pun tidak bisa membendung rasa penyesalan saya telah menitipkan anak di sebuah pondok pesantren yang nota bene nomor satu di Indonesia,” ujarnya.

‘’Mengingat sudah lebih dari satu hari perjalanan dan saya tidak rela tubuh anaknya diobrak-abrik. Keputusan saya untuk tidak melanjutkan ke ranah hukum pada saat itu didasari banyak pertimbangan. Karena itu kami membuat surat terbuka yang intinya ingin ketemu sama Kyai di Gontor 1, pelaku dan keluarganya untuk duduk satu meja ingin tahu kronologis hingga meninggalnya anak kami. Tapi sampai saya membuat tulisan ini, Rabu, 31 Agustus 2022 belum ada kabar atau balasan dari surat terbuka tersebut. Padahal kami selaku keluarga korban. Saya tidak ingin perjuangan anak saya Albar Mahdi siswa Kelas 5i Gontor 1 Ponorogo sia-sia,” ujarnya.(nik)