Amplop Suharso


Oleh: Dahlan Iskan

INI langka sekali: PPP masuk Disway. Tidak banyak yang menyangka Ketua Umum Suharso Monoarfa bisa diganti. Di tengah jalan. Kemarin dini hari.

Yang mengherankan: prosesnya mulus sekali. Seperti bukan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tidak ada perlawanan. Tidak ada intrik. Baik dari sang ketua umum maupun dari pion-pionnya.

Mungkin karena Suharso sendiri lagi tidak ada di Jakarta. Ia lagi melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Ia ke Prancis. Ke pabrik pesawat Airbus. Suharso memang seorang anggota kabinet Presiden Jokowi. Ia Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Kudeta?

Kelihatannya tidak. Tekanan pada dirinya memang luar biasa. Terutama dari internal partai. Kalau tidak mundur, perolehan suara PPP bisa nyungsep. Terutama di basis pesantren di Jawa.

Anda sudah tahu: Suharso mengucapkan kata-kata yang dianggap menghina kiai. Yakni soal budaya memberi amplop pada kiai.

Waktu itu Suharso jadi pembicara di forum yang diadakan KPK. Ketika bicara sulitnya memberantas korupsi, Suharso menyelipkan contoh budaya amplop untuk kiai.

Heboh.

Terutama di kalangan NU. Amplop untuk kiai bukan upeti atau sogok. Itu lebih bersifat mengharap berkah. Suharso sebenarnya tidak salah. Ia tidak bijaksana. Mungkin karena ia bukan tokoh yang datang  dari kalangan pesantren. Bukan pula NU. Bahkan, seperti banyak diungkap di media, Suharso bukan orang Jawa. Meski namanya Suharso ia Monoarfa. Dari Gorontalo.

Ini dekat Pemilu. Heboh seperti itu hanya menyulitkan PPP yang sudah sulit. Apalagi ada yang sampai mengadukannya ke polisi. Dianggap mencemarkan nama baik kiai.

Yang juga banyak disesalkan adalah: ia tidak mau minta maaf. Langsung. Maafnya dilewatkan pengurus lain. Kemarahan kian memuncak. Tiga unsur penting dalam PPP kompak: minta Suharso mundur. Yakni Majelis Syariah, Majelis Kehormatan, dan Majelis Pertimbangan.

Maka tidak ada lagi yang di belakangnya. Menurut sumber Disway, Suharso mengirim text dari luar negeri. Text itu dikirim ke salah seorang pengurus. Dari situlah mulai berkembang pemikiran: apa yang harus dilakukan.

Maka dilaksanakanlah rapat pengurus DPP PPP. Info mengundurkan diri tersebut dibahas. Dicarikan forum yang benar untuk mencari penggantinya. Maka diadakanlah Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) yang dilekaskan.

Seluruh pengurus provinsi diundang. Mendadak. Rapat itu baru bisa dimulai menjelang pukul 12.00 malam. Tapi lancar. Dari 34 pengurus wilayah yang diundang, 27 yang datang. Kuorum tercapai. Keputusan diambil. Pengunduran diri Suharso diterima. Ketua umum baru dipilih, dengan status pelaksana tugas. Ia adalah  Muhamad Mardiono.

Nggak pernah dengar namanya?

Ia orang lama. Jabatan di partai adalah ketua dewan pertimbangan. Jabatan di kenegaraan adalah anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Ia memang teman Suharso. Sesama pendukung Presiden Jokowi. Juga sesama pengusaha. Sama-sama kaya. Mardiono punya harta Rp 1,2 triliun. Ia pengusaha lemah –lemah-nya ratusan hektare.

Kelebihan Mardiono adalah: ia orang NU. Asal Banten. Ia akan lebih diterima di kalangan tradisional PPP. Ia lebih tepat menghadapi persoalan besar di PPP.

Misalnya, sekarang ini, ada dua wakil gubernur dari PPP yang “mubazir”: Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bagaimana bisa, sebuah partai kecil tidak memanfaatkan dua kadernya yang begitu potensial.

Apalagi dua-duanya putra kiai besar yang sangat menentukan di perjalanan PPP. Yang wagub Jateng, adalah putra kiai besar Maimun Zubair, Rembang, –yang begitu konsisten di PPP. Yang wagub Jabar adalah keluarga pesantren besar Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya.

Dua-duanya kini disingkirkan dari PPP. Tidak punya jabatan apa pun di partai. Pun sekadar di pengurus wilayah atau cabang.

Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen, tersingkir gara-gara berminat jadi ketua umum PPP. Ia mendeklarasikan diri menjelang Muktamar PPP di Makassar. “Jangankan bisa jadi calon, masuk arena muktamar saja tidak bisa,” ujarnya.

Hari itu Suharso menjadi calon tunggal. Aklamasi. Tidak ada yang berani menyainginya. Ia mengaku mendapat angin yang baik dari atas –lepas angin itu ada atau tidak.

Belakangan ada niat untuk merangkul kembali Yasin. Ia ditawari menjadi calon anggota DPR. Yasin menolak. Itu karena ia diplot untuk jadi calon dari dapil Wonogiri.

Itu memang dapil kering bagi PPP. Sebelum Suharso memang pernah dapat dua kursi DPRD kabupaten. Tapi di pemilu terakhir dua kursi itu hilang. Sekarang ini PPP Wonogiri krisis pengurus. Ketua PPP setempat dirangkap dari Semarang. Tidak ada yang mau menjadi ketua PPP Wonogiri.

Dengan ketua umum yang baru, peta politik bisa berubah. Sedikit. Komitmennya bersama PAN dan Golkar mungkin tetap, tapi warna baru akan muncul.

PPP kemarin-kemarin diramal akan mati. Sekarang bisa hidup lagi. Siapa tahu. (*)

 

 Siapa Membunuh Putri (3)

Kepiting Saus, Anak-anak Panti, dan Sensor Berita

Oleh: Hasan Aspahani

 

PATRON’S Café  di mana aku dan Bang Eel malam itu bertemu adalah kafe milik pengusaha dan anggota DPRD Risman Patron. Risman, lelaki asal Bangka. Aktif di paguyuban Tionghoa. Bicara sangat fasih dalam dialek Melayu. Kalau dengar ia bicara tanpa melihatnya orang tak akan mengira ia orang Tionghoa. Cara bicaranya sangat Melayu. Ia malam itu benar-benar menjamu kami.

Bang Eel memesan bir kaleng. Aku cukup jus melon.  Hidangan seafood disajikan dengan cara yang bagiku aneh. Kepiting, kerang, udang, dimasak dalam saus merah lalu dihampar di alas kertas di atas meja.  Sebagai anak laut, tinggal dan besar di rumah masa kecil di tepian pantai, saya tak asing dengan makanan laut. Cara menyajikan hidangan di hadapan kami membuat saya teringat tumpukan kotoran berang-berang setelah memangsa kepiting, udang, dan lain-lain.

Risman malam itu seperti sudah menunggu kami.

“Ini wartawan baru yang kodenya ‘dur’?” katanya sambil menjabat tanganku dan merangkul pundakku.

“Iya, Bang Risman…”

“Panggil Bang Ameng aja…. Hebat beritamu sudah sebulan lebih soal Sandra… “ kata Bang Ameng sambil melirik Bang Eel.

“Abang Ameng satu kampung dengan Sandra? Dia asal Bangka juga kan?” tanyaku.

“Ah, itu Eel yang tahu tuh…” kata Bang Ameng, sambil terus mengembangkan senyumnya yang ramah.

Saya teringat berita terakhir tadi saya buat tentang bocoran hasil otopsi yang tak pernah diberitakan. Sandra terbunuh dalam keadaan hamil.  Kasus pembunuhan Sandra menjadi pembicaraan di kota kami. Koran kami memberitakan dengan cara yang berbeda.

Sandra adalah mahasiswi di perguruan tinggi swasta. Dia hidup bersama ibunyi, tanpa ayah, dan dua orang adik.  Gadis Tionghoa asal Bangka itu, sambil kuliah bekerja sebagai agen asuransi. Rumah yang dia tinggali lumayan mewah. Rasanya agak terlalu mewah untuk seorang gadis yang hanya bekerja sebagai agen asuransi dan menanggung ibu yang tak bekerja dan dua adik yang masih sekolah. Sekolah mahal pula. Dalam pemberitaan saya, saya mendapatkan sumber yang mengarahkan dugaan dia istri simpanan seorang pengusaha di kota kami.

Mayatnyi ditemukan di hutan Bukit Mata Air. Sebuah kawasan yang dicadangkan sebagai hutan kota di pulau kecil ini.  Dalam perkembangan pemberitaan, polisi mengumumkan pelakunya sopir taksi gelap. Motifnya: perampokan dan pemerkosaan.  Malam kejadian itu, kata polisi, Sandra dijemput oleh si sopir taksi gelap.

Bang Jon yang mula-mula mendapatkan informasi itu. Ia pegang radio polisi, jadi tiap informasi apa pun yang beredar di antara polisi ia langsung tahu. Pada hari mayat Sandra ditemukan, aku ikut Bang Jon ke TKP.  Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat korban pembunuhan. Tentu saya  awam tapi saya melihat tak meyakinkan kesimpulan bahwa dia dibunuh karena perampokan dan pemerkosaan. Lagi pula apa yang dirampok? Jam tangan dan tas ranselnya masih ada. Sandra tewas dicekik.

Pada hari pertama memberitakan kasus itu koran “Metro Kriminal” seperti koran-koran lain memberitakan persis seperti keterangan polisi. Bang Jon yang menuliskannya untuk koran kami.  Pada liputan-liputan hari berikutnya, saya tetap ikut bersama Bang Jon, saya heran kenapa banyak fakta menarik yang tak ia tulis. Saya menanyakan itu kepada Bang Jon.

“Sudah, ikuti aja. Di liputan kriminal ini kita ya memang gini mainnya. Kalau kita nulis yang beda dari info humas Polres bisa ketutup akses kita, mau dapat berita dari mana?” kata Bang Jon. Kala itu kami ngobrol sambil ngopi di kantin Polres.

Memasuki minggu kedua aku menulis berita sendiri. Selama ini saya hanya numpang kode di berita Bang Jon.  Meskipun saya juga yang mengeditnya sebelum diserahkan ke Bang Eel. Saya menuliskan deskripsi fakta apa yang saya lihat, saya melihat korban ditemukan di TKP. Tak ada foto, karena waktu itu kami tak boleh memotret.  Siapa yang membunuh belum ditemukan. Koran-koran lain, termasuk koran kami sibuk memberitakan orang-orang membantu ibu dan adik-adik Sandra.

Kalau orang cermat membaca berita saya di “Metro Kriminal” itu maka mereka bisa menyimpulkan bahwa tak mungkin motifnya perampokan dan pemerkosaan. Tak ada barang hilang, tak ada tanda-tanda perlawanan.  Ini pembunuhan berencana. Saya diam-diam mulai kenal dengan beberapa penyidik, dan mendapatkan informasi dari mereka. Diam-diam maksud saya tanpa lewat Bang Jon.

Hari berikutnya saya memberitakan  jarak dari kampus dan lokasi penemuan mayat. Waktu terakhir kali orang melihat Sandra di kampus dan hari ketika mayatnya ditemukan, juga perkiraan kapan dia meninggal.

“Ada berita besok?” tanya Bang Ameng, sambil menanyai kami mau minum apa, dan menyuruh pelayanan mengambilkannya.

Saya mau menjawab tentang hasil otopsi itu. Ini informasi baru yang memenuhi 13 rukun iman berita yang jadi standar penilaian berita di grup surat kabar kami.  “Ada, Bang…. “

Belum saya bicara lebih jauh, bang Eel memotong.  Saya menangkap Sesuatu yang mencurigakan. Bang Ameng mempersilakan kami makan. Kalau mau nambah apa-apa silakan pesan lagi saja, katanya.  Saya makan lahap karena memang sudah sangat lapar. Tapi kecurigaanku tadi membuat aku berpikir bahwa makanan mewah dan pasti mahal ini bisa terasa lebih sedap kalau saja perasaan itu tak ada dalam kepalaku.

Sehabis makan, Bang Eel bertanya lagi soal tawarannya padaku menjadi asredpel.  Ia jelaskan berapa kenaikan gaji yang akan kuterima, apa tugas dan tanggung jawabku.

“Kamu boleh sesekali ke lapangan. Jangan di kantor terus, malah tak bagus. Tapi pastikan pekerjaan perencanaan, editing, stok berita cukup. Ingat soal nabi kedua itu.”

***

Headline “Metro Kriminal” masih tentang Sandra. Tapi bukan soal kehamilan itu.  Bagian itu hilang. Pasti Bang Eel yang mengeditnya. Yang diangkat adalah hasil wawancara saya dengan perusahaan asuransi di mana Sandra bekerja sebagai agen. Dia adalah agen terbaik dengan penghasilan yang masuk akal kalau dia bisa kuliah kampus swasta yang terbilang mahal itu dan menghidupi adik dan ibunyi.  Saya sudah punya perencanaan panjang untuk menjaga isu pembunuhan Sandra ini: kuliah terakhir yang dia ikuti, buku terakhir yang dia pinjam di perpustakaan, klien-klien pembeli polisi asuransinyi dan siapa-siapa saja yang dia prospek.

Anak-anak panti berebut minta giliran membaca “Metro Kriminal”.  “Berita apa lagi, Bang Dur? Ini masih Bang Dur yang meliput kan?” tanya mereka. Selalu begitu. Tiap hari. Seakan tak percaya wartawan yang menuliskannya tinggal di rumah panti bersama mereka.  Sejak awal datang ke kota ini, aku mencari panti asuhan. Tak jauh dari kantor “Metro Kriminal”. Ustad Samsu yang memberi tahu tentang Panti Asuhan Abulyatama ini.

Saya serahkan koran pada Rido. Anak paling tua di antara anak-anak panti lain. Dia yang membacakan untuk adik-diknya.

“Do, kepiting yang abang bawa malam tadi sudah dipanaskan?”

“Sudah, Bang…”

“Buat makan siang, ya..”

“Iya, Bang….” Kata Rido.

Bu Yani, pengurus panti memintaku bicara soal sewa panti yang habis bulan depan dan harus diperpanjang. Pengurus belum punya uang cukup.  Bu Yani penggagas dan pendiri panti ini. Mungkin karena dia tak pernah punya anak. Suami pertamanyi meninggal, suami keduanyi meninggalkannyi karena tak punya anak.  Dia masih kerabat Ustad Samsu.

“Saldo di kas panti ada berapa, Bu Yani?”

“Cukup buat biaya hidup anak-anak selama tiga bulan. Untuk perpanjangan sewa sama sekali tak ada.” Kata Bu Yani.

Sejak tinggal di panti saya membantu Bu Yani memikirkan biaya operasional panti. Hitung-hitung itu pengganti biaya sewaku tinggal di sini.

“Nanti saya coba cari ya, Bu…”   Saya ingat ada beberapa donatur tidak tetap yang sudah beberapa bulan tak dihubungi. Saya mencoba mengingat-ngingat siapa saja. Mungkin hari itu aku harus menemui  Pak Restu Suryono, pengacara terkenal, dan politisi berpengaruh itu. Atau Pak Roni Sirait, pensiunan reserse polisi, yang baik itu.

Sampai aku berangkat ke kantor “Metro Kriminal”, aku masih berpikir kenapa info soal kehamilan Sandra itu tak muncul dalam berita.  Di kantor, Mila, sekretaris redaksi kami sedang merekap produktivitas berita wartawan. “Wah, Mas Dur paling tinggi lagi, nih. Bonus lagi nih, Mas,…” kata Mila. Aku tersenyum. Mila gadis yang bekerja dengan baik, telaten, rapi. Dia anak Belakangpadang, pulau tetangga.   “Bang Eel sudah datang?

“Ada di ruangannya,” kata Mila. “Eh, Mas Dur, ini iklanmu ya?”

Aku memperhatikan iklan Patron’s Café. Ada band live tiap malam di sana. Semalam memang aku melihat ada band yang main di bagian luar café, bagian yang menghadap laut. Asyik juga kelihatannya.

“Bukan,” jawab saya.

“Kata Bang Eel ini iklanmu, Mas”.

Bang Eel nongol dari pintu ruang kerjanya. Dia memanggilku masuk. Menyuruh saya duduk dan menyerahkan sebuah amplop. Aku bertanya amplop apa itu.

“Ini komisi iklan buatmu. Iklan Patron’s Café.” Kata Bang Eel. Aku langsung teringat iklan yang tadi ditunjukkan Mila.

“Bang Ameng mau pasang tiap bulan. Nilainya minimal sebesar itu. Bayar di depan. Itu iklanmu, saya sudah bilang ke bagian iklan. Kamu masih tinggal di panti?” tanya Bang Eel.

“Masih, Bang….”

“Sampai kapan? Ini kamu terima aja. Cari koslah ya. Di sekitar kantor kita banyak ruko yang dikoskan.  Masak tinggal di panti terus.”

Aku jadi kehilangan selera untuk bertanya tentang berita Sandra.  Aku ambil amplop itu dan terbayang senyum di wajah Bu Yani, dan wajah anak-anak panti, Rido dan kawan-kawannya. Rasanya uang komisi iklan ini cukup untuk  perpanjangan sewa rumah untuk panti.  “Mas Dur, dipanggil Bang Ado, ditunggu di ruangannya,” kata Mila.  (bersambung)      

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 5 September 2022: Vivo1000

Sasti Ramedeni

Terasa…sangat terasa. Biasanya saya isi full 17K kemarin siang coba isi full 28K. Maafkan jika suatu saat uang saya tak cukup untuk Nasionalis untuk membeli produk perusahaan dalam negri. Otot kawat balung Wesi. Kuat ra kuat dilakoni.

 

rid kc

Usul saya cabut sekalian subsidi BBM alihkan semua ke infrastruktur dan pendidikan. Subsidi BBM kasihkan ke yang berhak dengan memberikan kartu subsidi BBM. Data yang berhak menerima subsidi sudah ada di kemensos. Penerima subsidi jika akan beli BBM tinggal bawa kartu subsidi BBM ke SPBU begitu nanti discan barcode maka akan muncul nama dan kuota subsidi BBM bagi penerima tersebut. Tidak seperti sekarang ribet banget akhirnya terjadi antrean yang luar biasa. Kasihan para sopir antar kota antar propinsi apalagi yang membawa komoditi sembako. Saya yakin mekanisme seperti sekarang akan dirubah karena banyak mudharatnya.

 

Arala Ziko

Kalau saja proyek E KTP tidak dikorupsi, aliran subsidi bbm melalui scan E KTP waktu pembelian semestinya bisa berjalan lancar.

 

Tri Setyo Rifai

Waktunya jalan-jalan ke Jakarta dan sekitarnya bah…Pom Bensin VIVO bukan cuman satu…tapi banyak bisa 2, 3, 4 bahkan lebih…ada yang di bintaro (tangsel)…pamulang…dan banyak tempat lain….????

 

Komentator Spesialis

SPBU lain menurunkan, SPBU Pertamina malah menaikkan. Saya kemaren beli Shell VPower turun jadi Rp 15.150. Daripada pertamax turbo atau cuman sekelas pertamax yang mahalnya nggak ketulungan, mending saya isi Shell saja. Masih ada alternatif lain seperti AKR BP dll. daripada SPBU pertamina yang harganya mahal, ngantre panjang dan servisnya amburadul.

 

thamrindahlan

Secerdik cerdiknya JK tetap saja harga BBM di “sesuai” kan. Dampak pertama dirasakan oleh pengendara jalanan. Dampak kedua harga sembako ikutan menyesuaikan bersebab ongkos transport. Berprasangka baik sajalah . Presiden Jokowi pasti sudah memikirkan berulang kali resiko kenaikan BBM. Resiko di kurangi dengan BLT. Semoga benar benar sampai tepat sasaran walaupun belum mampu mengurangi penderitaan orang kecil. Bersyukur ada Vivo. Cuma ada satu di disini, bisa bisa diserbu. Adakah Hartawan nan Dermawan ber investasi agar muncul ribuan VIVO di seluruh tanah tumpah darah nusantara. Pertanyaan serius : Rencana mengganti transportasi kendaraan ke energi listrik apakah sudah ter cantum di APBN ?. Inilah alternatif terbaik guna mengurangi ketergantungan BBM. Ambil segepok uang di ATM Untuk mencicil pembelian kereta Tidak kapok naikkan harga BBM Orang kecil semakin menderita

 

Jimmy Marta

Bagi sesama pebisnis, kompetitor itu lawan. Jika ada yg menyebutnya mitra, anda jangan percaya. Itu basa basi dibibir, hatinya anda pasti gk tahu. Pasti mereka berusaha mengalahkan. Pastinya yg menang yg bisa mempengaruhi dg regulator. Persaingan itu mestinya penting dijaga. Hal itu menguntungkan bg konsumen. Dapat perbandingan, ada pilihan.

 

Komar Diatna

Di Kota Bogor SPBU Vivo ada 2 Pak DIS. Saya beberapa kali beli revvo 89 sebelumnya. Tapi stlh pengumuman BBM Pertalite naik, revvo 89 malah lenyap.

 

Nurkholis Marwanto

Kalau saya Presidennya, saya akan memerintahkan Bu Nicke untuk impor BBM dari Rusia. BBM murah rakyat senang. Membangun IKN tidak perlu multi years. Uang 500T bisa dialihkan ke IKN. Jadilah ibukota baru. Kalau Amerika marah-marah, mau memberikan sanksi bisa dibicarakan baik-baik. Wong kita tidak melakukan kriminal. Wong PBB saja belum sepenuhnya setuju. Ini kan sanksi Negara barat. Negara mana sih yang sudah diberikan sanksi karena membeli minyak Rusia? India baik-baik saja. Tiongkok apalagi. Hongaria yang negara NATO dengan tegas akan tetap membeli bahan bakar murah Rusia. Jangan-jangan masih banyak negara lain yang membeli. Mengapa kita tidak beli sekalian? Alasannya jelas, membutuhkan BBM murah untuk stabilitas, untuk pertumbuhan ekonomi. Kita mempunyai nilai tawar yang tinggi. Terutama di Asean. Amerika tidak akan langsung memberikan sanksi. Ada pembicaraan dibaliknya. Amerika masih membutuhkan pengaruh Indonesia, untuk geopolitiknya.

 

Jimmy Marta

Data lengkap dan paling mudah mengenai mobil pribadi itu adalah menyangkut cc, tahun keluaran dan bodynya(bc, pick up atau bukan). Dari data itu pasti mudah dibuat klasifikasi. Yg berhak dp subsidi atau yg tidak. Tidak ruwet. Mypertamina awalnya menjurus kesitu. Juga opsi kedua sistim mendaftar itu.Tp entahlah setelah diuji coba sebulan di bbrp kota, gk jelas nasibnya. Kalau dilihat perjalanan awal dg cashless spbu, koneksi internet lah masalah utamanya. Sekarang tinggal kemauan. Ingin meringankan rakyat atau membebankan pengusaha atau merepotkan pemerintah.

 

EVMF

“I think business is very simple… Take the sales, subtract the costs… The math is quite straightforward.” (Bill Gates) “Saya pikir bisnis itu sangat sederhana… Hitung angka penjualannya, kurangi biaya-biayanya… Matematikanya sangat sederhana.” Masalahnya tinggal “keterbukaan informasi” berapa sebenarnya angka-angka yang real atas bahan baku, biaya produksi, biaya distribusi dan lain sebagainya. Najwa Shihab pernah mengatakan… angka-angka dapat direkayasa atas nama metodologi sehingga seperti real… Apakah Standard Metodologi nya atau Orangnya yang mesti “Ber-standard” ?? Sehingga besarnya angka subsidi BBM menjadi transparan, sekaligus raut wajahnya APBN akan jernih. Juga para ekonom tidak perlu capék berbantah-ria, toh masalahnya sepertinya bukan di Standard Metodologi nya.

 

Lukman Nugroho

Subsidi salah sasaran itu salah siapa ? Salah yang memberi atau yang menerima ?

 

Rihlatul Ulfa

Sudah seharusnya memang Pemerintah punya rival. Biar lebih tahu diri, biar lebih bisa lebih mau repot ngitung-ngitung. Kan kalau sudah begitu siapa nanti yg rugi? Hehe keren nih vivo. Anggapannya anda tidak mungkin mempunyai satu penyelamat di muka bumi ini. Misal yg satu berkhianat yg satunya tiba-tiba datang membantu dengan tulus. Atau apakah gara-gara karena mayoritas pembeli pertalite khususnya motor suka membulatkan jadi 10.000. Padahal membulatkan itu bukan berarti mereka sangat mampu. Tapi penguasa kebijakan-kebijakan di dalamnya bisa saja terihlami karena hal itu. ‘Sudah naikan saja jadi 10.000. Toh biasanya juga mereka membulatkan nya kan’ sesimpel itu. Padahal Pemerintah harusnya tidak pernah boleh berfikir sesimpel itu, ini misalnya saja. Karena kenaikan BBM ini bukan hanya satu yg membuat dia naik. Tapi semuanya.. semuanyaa..

 

Er Gham

Vivo RON 89 tiba tiba menghilang di banyak spbu. Padahal direksinya bilang masih ada stok untuk 2 bulan yang akan dihabiskan. Apakah karena ada ancaman pemerintah agar vivo menaikkan harga bbm RON 89? Kenapa usil sih pemerintah. Kalo masyarakat Jabotabek beli bbm pengganti pertalite di 30an spbu vivo justru bagus. Beban subsidi berkurang, karena dalam harga pertalite yang Rp 10.000 masih ada subsidi sebesar Rp 3.000. Atau memang harga Rp 10.000 itu harga ajaib, yang diotak atik gatuk. Biarkan saja vivo jualan. Khan, jumlah pom bensinnya juga tidak sampai 1.000. Jangan sampai, ada kebohongan demi kebohongan yang terus diproduksi di negara ini.

 

doni wj

Pada tahun buku 2021 Pertamina mencatatkan pendapatan sebesar USD 57,51 miliar atau senilai Rp 832,97 triliun, dengan keuntungan bersih 29,69 triliun rupiah. Ini meningkat dari torehan tahun sebelumnya yang USD 41,47 miliar atau setara Rp 600,65 triliun dengan keuntungan bersih 15,2 triliun rupiah (CNBC Indonesia). Petronas memperoleh pemasukan USD 20,9 miliar dan menyumbangkan dividen USD 11,15 miliar. Menurut keterangan pers Menkeu Malaysia yang dikutip Reuters. Entah beban apa saja yang ada di Pertamina, labanya yang hampir 3 kali lipat Petronas namun keuntungan bersihnya seperlimanya. Seberapa banyak Pertamina bisa menyumbang ke subsidi yang 502 triliun rupiah ke 275 juta penduduk Indonesia? Berapa bagian yang ditanggung Petronas dari 33 triliun rupiah subsidi yang digelontorkan untuk 32 juta hamba negeri jiran? Agaknya jumlah penduduk yang tidak lebih besar dari penduduk Jawa Tengah itu yang membuat Malaysia mampu mensubsidi BBMnya 10.000 rupiah per liter hingga harga jualnya Rp 6.800 saja. Yang pemasukannya banyak Pertamina. Yang untungnya banyak Petronas. Yang paling cerdik menggerakkan dan memancing emosi dan jempol warga +62 adalah Vivo

 

Liam Then

Jika di sensus, juga di teliti. Perihal kenaikan harga BBM bersubsidi. Terkait pemahaman kenapa harus naik, saya yakin, mayoritas populasi dapat mengerti. Tetapi jika di sensus lagi, alasan orang marah dengan kenaikan BBM bersubsidi. Yakin saya ,ada persentase besar ,alasan kemarahan. Karena pemerintah, dari pusat sampai daerah, dari DPR sampai DPRD II gagal proyeksikan pola hidup hemat dan penggunaan anggaran tepat guna. Sudah jamak ,dan banyak di berita, laporan kekayaan, tentang ajudan-ajudan, tentang staf-staf ahlinya ahli badan-badan bentukan ekstra lainnya.Salah satu gubernur daerah Istimewa tercatat menunjuk puluhan pemikir unggul sebagai anggota suatu think tank untuk mendukung kebijakannya ,memajukan daerah. Pemerintah pusat dengan proyek-proyek ambisius dan prestisius. Di daerah saya, pemda tak dana untuk proyek jembatan duplikasi 267 milyar , sehingga harus antre tahunan di PUPR. Bikin ribuan orang terkena macet saban petang, setiap hari,sampai sekarang. Tak mampu bangun jembatan dengan 267 milyar, dengan APBD. Tapi mampu bangun trotoar mewah jalan protokol, senilai 54 milyar. Berkunang-kunang saya memikirkan sebenarnya skala prioritas dan njelimetnya aturan kepemerintahan, terkait pembangunan fasilitas publik. Bisa jadi, alasannya, pemda tak wewenang untuk bangun jembatan duplikasi, itu ranah nya PUPR, pusat. Entahlah. Banyak yang melanggar norma logika, di republik kesayangan saya ini.

 

Tao Lie

Setahu SPBU VIVO di Tangerang juga ada dekat perumahan Modern.

 

Liam Then

Di kota saya yang ibukota provinsi, tak punya motor,atau mobil. Istilahnya “patah kaki”. Kemana-mana susah. Karena tak ada sistem transportasi umum yang bekerja. Mau naik sampan ,parit sudah dangkal, sempit. Jangankan sampan, ikan saja sudah ogah tinggal di situ. Jadi yah… begitulah. Di Negara maju, master plan pengembangan wilayah dan transportasi , cara orang berpindah, semuanya di serahkan kepada ahlinya. Tujuan nya supaya lancar, rapi aman,tidak macet,efisien,indah,nyaman dan sebagainya. Ahlinya harus yang mantab, world class. Tak gengsi jika harus sampai sewa orang luar. Di negara berkembang yang koruptif, master plan pengembangan wilayah kota, transportasi,semuanya di serahkan kepada ORANG SENDIRI. Hasilnya ? Mohon maklum, ala kadarnya. Di negara gagal , lain lagi, master olan pengembangan wilayah dan transportasi. Diserahkan kepada Alam dan Yang Maha Kuasa. Mari bersama-sama berdoa dengan takjim, supaya level kepemimpinan di negara kesayangan kita ,tak sampai ke level yang terakhir diatas.

 

Agus Suryono

SAMA SAJA.. Beli Pertalite Rp 20.000, atau beli 2 liter, harusnya sama saja. Karena yang menghitung KONVERSI, dari RUPIAH ke LITER, dan atau LITER ke RUPIAH adalah CPU. Bukan OPERATOR atau petugas SPBU. Bahkan saat PENYALURAN BBM ke tangki, yang MENTRIGER on/off sampai sesuai kemauan PEMBELI adalah juga CPU. Jadi, pilihan 1 atau 2, keduanya SAMA SAJA..

 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id