BERJALAN DENGAN KEKHAWATIRAN

Oleh: Della Jennita

Sejak aku duduk di bangku TK sering kali aku mendengar pertanyaan “Apa cita-citamu?”, “Apa impianmu?”, “Kalau sudah besar mau jadi apa?”. Aku tumbuh dari masa kanak-kanak ke masa remaja dengan banyak pertanyaan berkaitan dengan masa depan. Yang awalnya ku tanggapi dengan sangat bersemangat sambil berimajinasi aku yang sedang bekerja dengan begitu keren di masa depan, akhirnya aku sampai di titik dimana aku tertawa ketika mendapatkan layangan pertanyaan yang seperti itu.

Menginjak bangku SMA membuat aku semakin khawatir akan langkah yang akan kuambil. Kulalui hari – hari dengan penuh kekhawatiran akan masa depan, “Di masa depan apa sih yang akan ku capai?”, “Apakah aku akan menjadi ‘orang’?”, “Apakah aku bisa membanggakan kedua orang tuaku?”, “Apakah aku menjadi sosok yang aku impikan selama ini?”. Semua pertanyaan mengenai masa depan selalu terlintas di benakku setiap harinya. Semakin tinggi harapanku akan masa depan semakin aku takut apabila akhirnya aku jatuh. Bayangan-bayangan buruk tentang masa depan selalu menghantuiku dan tidak pernah terpisah dari pikiranku.

Aku adalah seorang siswi biasa yang bersekolah di salah satu SMA swasta di Sumatera Selatan. Aku merupakan murid yang tidak dapat dikatakan pintar namun bodoh juga tidak, seorang siswi dengan tingkat kecerdasan pas pasan. Aku kerap mengikuti lomba yang ditawarkan kepadaku. Prinsip ku “selagi ada kesempatan kenapa harus takut” jadi semua lomba yang ditawarkan kepadaku selalu kuterima entah itu aku bisa atau tidak. Dalam pikiranku “Jadilah… tambah pengalaman, menang atau kalah itu urusan nanti yang penting ikut saja dulu.” Dari beberapa lomba yang ku ikuti pernah aku mendapatkan kemenangan, dan ku anggap itu sebagai keberuntungan. Dan untuk lomba yang gagal kumenangi akan kuanggap sebagai pengalaman. Jika ditanya “Apakah aku kecewa?”, tentu aku sangat kecewa namun aku berusaha untuk menutupi perasaan itu dan tidak menunjukkannya bahkan aku akan menguburnya dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Pertanyaannya adalah “Apakah aku melupakannya?” jawabannya adalah “Tidak, sama sekali tidak.”, tidak sedikitpun aku melupakan akan kekalahan itu namun kututupi dan kusimpan dalam hati yang terdalam perasaanku yang sebenarnya.
Aku yang tergolong rata-rata di bidang akademik namun juga tidak memiliki keahlian dibidang non akademik. Membuatku merasa resah, aku sebagai pribadi yang tidak memiliki satupun keahlian ataupun kelebihan namun memiliki banyak kekurangan. Aku tidak dapat mengisi celah dengan kelebihanku. Itulah yang tertanam dalam pikiranku mungkin pemikiran yang merendahkan diri itulah merupakan salah satu pemicu mengapa setiap harinya aku selalu dihantui akan kekhawatiran. Sering kali aku melihat siswa/siswi ‘pentolan’ sekolah yang sempurna di kedua bidang, akademik dan non akademik. Saat melihat mereka aku merasa sedikit iri sekaligus kecewa akan diri sendiri. “Apakah aku tidak dapat seperti mereka?” terlintas dipikiranku. Suatu pemikiran yang tidak pantas bukan? , bahkan aku tidak berusaha sekeras mungkin untuk dapat menjadi sosok yang lebih baik, dan malah hanya dihantui oleh rasa ketakutan dan kekhawatiran.

Sebagai anak SMA aku melakukan aktivitas yang sama secara berulang kali dan itu menjadi sebuah kebiasaan yang memuakkan. Lelah rasanya terus mengulang hal yang sama, sekolah di pagi hingga siang hari, les di sore hari, mengerjakan tugas di malam hari. Satu kata ‘rutinitas’ tertanam di benakku, sebuah kewajiban untuk melakukan hal-hal tersebut. Dan apabila kewajiban itu tidak terpenuhi ketakutanku akan masa depan semakin membesar. Rasanya ketakutan, kekhawatiran itu telah menggerogoti jiwa dan pikiranku. Aku melewati hari-hari dengan terus memikirkan “Bisakah waktu dipercepat” namun disamping itu aku juga menolaknya dengan memikirkan sebaliknya “Bisakah aku kembali ke masa kanak-kanak”. Aku ingin waktu dipercepat namun aku juga tidak ingin, “Hahaha…. lucu untuk memikirkannya, hal yang mustahil”, kata dalam benakku. Selalu kucoba untuk memantapkan diri dan berteguh dalam melakukan keseharianku. Namun tetap saja aku berakhir dengan kegagalan. Aku terus mengulang fase yang sama seolah terperangkap dalam sebuah siklus, dari kebosanan dan kemuakkan, diiringi dengan kekhawatiran dan ketakutan, hingga kebangkitan dan kegagalan.
Sering kali aku mendengar pertanyaan “Sebagai anak sekolah apa sih yang dipikirkan?”, hingga pernyataan “anak sekolah tidak memiliki beban untuk dipikirkan.” Memang sebagai anak sekolah semua kebutuhanku tercukupi bukan dari keringatku sendiri. Namun dalam menjalani kehidupan tentu ada lika liku tersendiri. Sebagai anak SMA aku menghadapi berbagai rintangan hidup, dalam dunia pendidikan, dalam pergaulan, semua ada tantangannya sendiri. Setiap mendengar pertanyaan dan pernyataan tersebut aku hanya dapat menggilas balik bagaimana aku menjalani kehidupan, bagaimana aku harus melalui semua hal, termasuk susahnya melupakan kegagalan.

Dikelilingi oleh orang sukses, yaitu orang-orang yang berhasil masuk ke universitas pilihan mereka bahkan telah berhasil meniti karir membuatku sangat tertekan. Bukan aku merasa tidak senang akan pencapaian orang lain, tentu aku bahagia bahwa mereka telah berhasil untuk memasuki dunia orang-orang dewasa. Namun aku takut sekali bahwa aku tidak ada apa-apanya jika disandingkan dengan mereka. Bagaikan aku hanya sebuah batu kerikil di antara batu kristal. Perasaan minder, tidak percaya akan diri sendiri membuat ku merasa putus asa hingga ingin menyerah dan hanya berpasrah. Takut apabila nanti aku terjun ke masyarakat, dunia pekerjaan, aku tidak sesukses mereka.

Disamping itu banyaknya harapan yang tergantung pada diriku membuat aku merasa bahwa aku tidak boleh menyerah dan tetap berusaha. Namun kembali lagi diiringi dengan ketakutan yang semakin besar. Sebagai pribadi yang diharapkan menjadi ‘orang’ aku takut tidak dapat memenuhi ekspektasi orang-orang yang selalu mendukungku seperti kedua orang tuaku, saudaraku, bahkan keluarga besar. Takut akan menjadi sosok yang mengecewakan di masa depan, bahkan rasanya aku tidak sanggup untuk membayangkannya.

Saat ini aku sedang dilanda kebimbangan akan pilihan masa depan, “Apakah aku akan berkuliah?”, “Jika iya, dimana?”, “Jurusan apa?”, “Kerja apa nantinya?”, berbagai pertanyaan mengenai masa depan semakin sering terlintas di pikiranku. Hal ini seiring dengan pertanyaan dari orang-orang sekitar, yang hanya ku respon dengan senyum atau tawaku akibat dari kebingungan akan apa keputusan yang tepat akan masa depanku. Banyaknya pilihan dan tekanan pertanyaan orang lain membuat aku hari demi hari mengkhawatirkan akan hari esok, ketakutan salah langkah kembali dan kembali muncul hingga semakin membesar.

Sering kali aku merenungkan seperti apa sih sosokku di masa mendatang, imajinasi akan kesuksesan membawa harapan semakin memuncak akhirnya dilanda rasa ketakutan teramat besar akan kegagalan. Aku sadar bahwa kekhawatiran yang sedang kurasakan seiring aku melangkah adalah hal yang tidak baik. Maka dari itu aku berharap aku dapat menjalani hari-hari ku dengan perasaan yang lapang / tenang. Jangan membiarkan kekhawatiran tumbuh semakin besar. Ubahlah rasa takutmu dengan rasa percaya diri dan tetap berusaha demi masa depan. Biarlah waktu yang menentukan seperti apa masa depan kita. Yang kupahami tentang masa