BPK Temukan Kelebihan Pembayaran Proyek TPT

INDRALAYA – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI menemukan ada kelebihan bayar pada dua pekerjaan rekontruksi pada dinding penahan tanah atau Tembok Penahan Tebing (TPT) di dua desa di Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Pekerjaan tersebut merupakan proyek Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ogan Ilir. Berdasarkan dokumen yang di terima Palpos, kelebihan bayar berdasarkan lembar dokumen Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (LHP BPK) RI total sebesar Rp107 juta dari dua pekerjaan rekontruksi dimaksut.

Temuan BPK itu mengacu pada Pengawasan supervisi rekonstruksi dinding penahan tanah batang hari Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Pinang dengan Kontrak: No 360/05/Kontrak- Supervisi/BPBD-OI 2021. Nilai pekerjaan Rp.193 juta, dengan pelaksana CV Rrb dengan nilai kelebihan pembayaran sekitar Rp.22 juta.

Juga pada pengawasan supervisi rekontruksi di Desa Kuang Anyar, Kecamatan Muara Kuang, dengan kontrak: No 360/08/Kontrak-Supervisi/BPBD-OI 2021.
Nilai Pekerjaan Rp. 113 juta. Pelaksana CV Moh dengan kelebihan pembayaran sebesar Rp.84 juta.

Berdasarkan Informasi yang di terima, kelebihan bayar atas temuan BPK itu baru dikembalikan Rp 1 Juta ke Kas Daerah setelah 60 hari dari Stressing BPK.
Sebelumnya, dua proyek tersebut diberitakan pernah bermasalah. Dimana pada masa pengerjaan oleh pihak ketiga PT Gajah Mada Sarana, dua proyek tersebut secara fisik mengalami amblas.

Karena masih dalam masa pemeliharaan pihak ketiga bersedia untuk memperbaiki kembali. Proyek tersebut menelan dana yang bersumber dari APBN senilai Rp8,4 milyar.

Kepala BPBD Ogan Ilir, Edy Rahmat melalui Staf Rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana, Pitha membenarkan terkait temuan BPK tersebut. Pitha membantah terkait adanya pengembalian senilai Rp1 juta dimaksut. Dia mengatakan pihak yang bersangkutan telah dua kali mengembalikan atas kelebihan bayar itu.

“Terkait itu telah ada mediasi antara Pemkab dengan pihak perencana dari proyek Rekontruksi TPT itu. Pak sekda dengan yang bersangkutan telah ada kesepakatan untuk melunasi kelebihan pembayaran,” terangnya.

Adapun pihak ketiga yakni PT. Dwi Egenering  telah dua kali melakukan pengembalian sebanyak Rp 100 juta. Sisanya Rp.7 juta akan dikembalikan di November mendatang. (sro)