Bus Kurnia


Oleh: Dahlan Iskan

YANG menaikkan harga BBM Sabtu lalu mungkin menyesal: mengapa tidak dulu-dulu. Enam bulan lalu, misalnya. Atau lebih awal lagi. Toh risiko sosialnya ternyata kurang lebih sama: ribut.

Kenaikan harga BBM memang ibarat momentum untuk hidup baru. Normal baru. Begitu diputuskan, banyak perhitungan  harus dilakukan. Normal baru pun harus kita masuki ketika normal baru yang lama belum sepenuhnya normal.

Dan yang seperti itu sudah terjadi berkali-kali. Dulu maupun kini. Hanya yang sekarang beda: Pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berlalu. Anda masih rajin pakai masker. Masker itulah yang mengingatkan Anda:  “semenderita-menderita akibat kenaikan harga BBM masih lebih  menderita terkena Covid”. Asal Anda tidak membandingkan dengan ini: sudah terkena Covid terkena kenaikan harga BBM pula.

Tapi mengalami penderitaan yang berat kadang positif juga: penderitaan apa pun setelah itu terasa lebih ringan.

Move on.

Kurnia pun move on: Kurnia Lesani Adnan.

Ia pemilik perusahaan bus Siliwangi Antar Nusa (SAN).

Dua tahun ia dipukul Covid-19. Kini ia dihantam lagi kenaikan harga BBM. Tidak baru. Ia sudah mengalami krisis berkali-kali dalam hidupnya. Selalu saja Kurnia mendapat karunia: bertahan sampai sekarang.

Ia sudah tidak bisa menghitung berapa banyak peristiwa kenaikan harga BBM sepanjang perjalanannya sebagai pengusaha bus.

Pukulan terbesar yang pernah ia alami justru bukan oleh Covid atau kenaikan harga BBM. “Yang berat itu perubahan gaya hidup masyarakat,” ujarnya. Hampir saja itu mematikan bisnisnya. Juga bisnis teman-temannya. “Masyarakat tidak mau lagi naik bus yang asal-asalan,” ujar Kurnia.

Memang konsumen bus adalah orang berpenghasilan rendah. Tapi selera orang miskin pun kini sudah berubah. Kurnia segera menyadari itu. Ia ikut berubah. Bus-bus lama ia jual. Ganti bus baru. Dengan merek yang bergengsi. Agar lebih nyaman. Dengan jumlah kursi yang dikurangi. Dengan layanan yang berbeda. “Sekarang saya hanya bergerak di angkutan bus premium,” ujar Kurnia.

Bahkan Kurnia melangkah lebih jauh. Ia tidak akan mengejar status sebagai pemilik bus terbanyak. Kian banyak memiliki bus belum tentu kian sukses. Punya lebih banyak bus bukan berarti kian banyak dapat laba. Zaman berubah. “Bus saya kini tinggal 85 buah. Tapi semua premium,” ujarnya.

Bus Siliwangi menjalani rute jarak jauh: Bengkulu-Jakarta. Ada yang lebih jauh lagi: Pekanbaru (Riau) – Blitar (Jatim). Sejauh 2.400 km.

Soal tarif ia ikut saja gaya pemerintah: mengumumkan kenaikan tarifnya mendadak. Lima jam setelah pemerintah menaikkan harga BBM Siliwangi langsung ikut. Inilah kenaikan tarif bus tercepat. Siang masih tarif lama sore sudah tarif baru: Pekanbaru-Blitar Rp 740.000.

Apa pun perubahan di dunia ini  Kurnia akan tetap menjadi pengusaha bus. Gen di darahnya adalah gen angkutan bus. Bapaknyalah yang mendirikan SAN. Di Bengkulu. Ayah Kurnia orang Bengkulu. Keturunan Pariaman.

Sang ayah, saat muda, seorang sopir. Pegawai Pemda. Ia sopir pejabat pemerintah di Bengkulu.

Tapi ia orang Minang.

Ia pilih berhenti. Ia menyukai mesin mobil. Ia bisa memperbaiki kerusakan apa pun. Maka, daripada berhenti, ia dipindah ke bagian perbengkelen di Pemda. Zaman itu semua Pemda punya bengkel mobil sendiri.

Ia jadi kepala bengkel.

Statusnya tetap pegawai.

Ia orang Minang.

Ia berhenti.

Sang ayah bersatu dengan kakaknya. Mereka membeli bus kecil. Elf. Bus mereka terus bertambah. Berkembang lagi ke bus besar. Terus pula bertambah.

Lalu pecah kongsi.

Sang ayah mendirikan SAN.

Kurnia lahir.

Nakal.

Sekolahnya ogah-ogahan. Untung bisa tamat SMP.

Sejak SMP, Kurnia sudah lebih senang ”sekolah” di bus. Ia ikut perjalanan jauh Bengkulu-Jakarta. Dan ke mana saja bus ayahnya berkelana. Syukurlah di Jakarta Kurnia sempat  lulus STM.

Mengapa bus Bengkulu ini bernama Siliwangi?

Zaman itu di penyeberangan Merak-Bakauheni begitu banyak preman. Dalam persaingan antarpreman pun yang kalah pengusaha. Apalagi banyak oknum di dalam preman itu.

Ayah Kurnia cari godfather. Ia pernah menjadi sopir Jenderal Himawan Sutanto. Sudah seperti keluarga. Ketika sang jenderal tugas ke luar negeri pun Kurnia ditawari ikut serta.

Kelak, ketika sang ayah sudah menjadi pengusaha bus, hubungan baik itu sangat berguna. Ia mengadu soal perpremanan di Merak-Bakauheni.

“Beres,” ujar Sang jenderal. “Bilang saja bus itu milik saya,” tambahnya.

Tidak hanya kata-kata. Sang jenderal juga menulis oret-oret: jangan ada yang ganggu bus-bus miliknya.

Himawan lantas meminta agar bus itu ditambah kata Siliwangi di depan nama lamanya. Himawan adalah Pangdam Siliwangi. Jadilah Siliwangi Antar Nusa (SAN). Tanpa sang jenderal benar-benar memilikinya. Sampai sekarang.

Bus Siliwangi pun tidak disentuh preman. Kurnia menjaga perusahaan itu sebagai generasi kedua. Perubahan demi perubahan ia lakukan.

Salah satu perubahan pelayanan ”zaman baru” adalah begini: misalkan bus itu mogok. Lalu dipinggirkan. Penumpang tidak perlu berlama-lama berdiri di pinggir jalan yang pengap. Perusahaan mendatangkan mobil jemputan. Penumpang diangkut ke tempat yang layak. Bisa ke fasilitas umum, ke masjid atau depot terdekat. Atas biaya perusahaan.

AC adalah mutlak. Tempat duduk yang bisa dideglakkan juga wajib. Plus toilet. Video. Jangan sampai tidak ada: colokan listrik untuk charging handphone.

Meski bukan yang terbesar, Kurnia dipilih menjadi ketua umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI). Anggotanya adalah generasi kedua para pengusaha bus. Mereka membangun website. Mereka menjadi satu network yang saling mendukung.

Di dalam IPOMI (berdiri tahun 2012), tergabung sekitar 30 pengusaha muda. Yang terbesar adalah Sinar Jaya: 1.200 bus. Ada lagi nama Rosalia Indah, Gra Mas, dan NPM. Bus mereka kisaran 200 sampai 400 buah.

Ketika menyebut nama NPM dahi saya mengerut. Saya seperti sering melihat bus dengan nama itu. Saya penasaran. Singkatan apa NPM itu. Ternyata itu sebuah seruan: Naikilah Perusahaan Minang. Lupakan kenaikan harga BBM –kalau bisa. (*)

 

 Siapa Membunuh Putri (4)

Oleh: Hasan Aspahani

”Hei, Dur. Selamat, ya…,” kata Bang Ado, berdiri menyalami dan memberi selamat pada saya.  Bang Ado, kurang lebih seusia Bang Eel. Sebelum menjadi GM dia juga wartawan. Orangnya tenang. Administrasinya rapi. Dalam hal keuangan pun dia ketat. Bukan pelit, tapi rasional. Itu yang membuat ”Metro Kriminal” berkembang bagus sejak tahun pertama. Meski lambat dalam hal kenaikan oplah.

”Kapan berangkat ke Medan, Bang?” tanyaku. Aku tahu dari Bang Eel, Bang Ado dapat tugas baru bikin koran di ibu kota Sumatera Utara itu. Tugas yang berat dan menantang. Di sana sudah ada tiga koran besar yang berusia lama, dengan segmen pembaca yang loyal.

”Dua hari lagi. Saya sebenarnya agak ragu menerima tawaran ini, tapi bagaimana bisa menolak. Di grup kita ini perintah ya perintah. Harus patuh. Lagian kalau aku tak ke Medan, Eel tak naik, kau pun tak akan dipromosikan secepat ini,” kata Bang Ado.

Kami bicara macam-macam, sedikit sejarah ”Metro Kriminal” di mana dia bisa disebut sebagai perintisnya, dan rencana lain tapi belum terlalu pasti, rencana bikin satu koran lain lagi di kota kami.  Itu, kata Bang Ado, tergantung perkembangan ”Metro Kriminal”.

”Kalau oplah kita sudah 30 ribu, bisa pasang mesin yang lebih besar, nah, biasanya kita akan buka koran baru, supaya mesin efisien,” kata Bang Ado.  ”Metro Kriminal” dimulai dengan lima ribuan. Dua tahun pertama oplah hanya berkisar di antara angka itu. ”Waktu kau masuk itu oplah kita sekitar tujuh ribu. Dalam enam bulan, karena berita Sandra itu, kita bisa sampai 15 ribu sekarang,” kata Bang Ado.

”Benar-benar karena berita itu, Bang?”

”Iyalah, karena apa lagi? Jualan koran ini kayak pisang goreng, kalau enak, orang datang membeli. Kalau nggak menarik, dingin, ya disorong-sorong ke muka orang juga nggak ada yang mau. Sederhana saja, kok.”

Saya mengangguk-angguk saja. Lumayan dapat sedikit tambahan wawasan pemasaran. Bang Eel pernah mengajari saya tentang perumpamaan juru masak itu. Reporter belanja bahan, redaktur yang masak, redpel yang mengatur penyajiannya dan merencanakan besok mau memasak apa lagi. Saya sekarang ada di posisi pengatur penyajian dan perencanaan.  Kalau bahannya bagus, masaknya enak, disajikan bagus, pasti laris, kata Bang Eel.

Di ruangannya, hari itu, Bang Ado juga memberi saya SK jabatan baru.  Ditandatangani oleh CEO. Bangga juga rasanya. Saya melihat ke angka gajinya, itu lebih penting.  Tidak besar, tapi tidak juga kecil. Jadi wartawan tak membuatmu kaya, tapi tak akan bikin kamu miskin juga, kata Bang Eel suatu hari.

Angka gaji itu menari-nari di dalam kepala saya, membuat saya berhitung, sepertinya sudah bisalah saya berpikir untuk menikah. Ini kota yang berbahaya kalau terus-terusan melajang hidup sendirian.  Ustad Samsu berkali-kali mengingatkan itu. Kata beliau, jangan terlalu cemas dengan penghasilan. Bukan besarnya yang penting. Tapi berkahnya. Dan menikah adalah jalan untuk memanen keberkahan.

Bang Ado sekali lagi memberi selamat sebelum aku keluar dari ruangannya.  Saya sedikit terbebani oleh pesannya yang terakhir, ”hati-hati saja sama Eel,” katanya.

Saya bertanya, ”Kenapa, Bang? Saya malah sejak awal agak berhati-hati sama Mas Jon…”

”Jon sudah selesai, sudah bisa kamu atasi itu. Bertahun-tahun koran ini tergantung sama dia, sejak kamu ada, tak bisa lagi dia mengatur berita semau dia. Sandra itu buktinya.  Kalau tak ada kamu, Dur, tak akan bisa jadi semenarik itu liputan koran kita,” kata Bang Ado.

”Kalau Bang Eel kenapa?”

”Pokoknya hati-hati sajalah. Nanti kamu tahu sendirilah.”

Aku menduga-duga, apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam? Selangkah sebelum keluar, di pintu ruangan Bang Ado aku bertanya, ”Abang kenal Bang Ameng?”

”Kenal. Tapi Eel yang lebih dekat dengan dia,” kata Bang Ado, sambil tersenyum penuh isyarat.

Baru saja saya keluar dari ruang Bang Ado, Mas Jon muncul. Begitu melihat saya dia menunjuk-nunjukkan koran kami dan koran pesaing. ”Kalah kita hari ini, Dur. Coba lihat, koran lain angkat berita soal hasil otopsi itu, yang Sandra hamil itu. Ini beritamu nggak ada. Parah ini… kecolongan,” kata Mas Jon, bicara seperti berteriak-teriak.

Bang Eel muncul di pintu ruangannya, ”Kenapa Jon? Aku yang ngedit beritanya. Dur dapat kok info itu,  tapi kemarin belum terlalu jelas konfirmasinya, dokter di Pusdokkes tak mau disebut sebagai sumbernya,  jadi aku pending dulu… Ndak usah teriak-teriak gitulah kau. Nanti kita bahas di rapat,” kata Bang Eel. (bersambung) 

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 6 September 2022: Amplop Suharso

alasroban

Sebaiknya memang bagitu Bah, Demi kemaslahatan bersama. Setiap kader partai yang menjadi pejabat publik harus melepas jabatan di partai. Cukup menjadi anggota saja. Ini untuk mengurangi potensi penyalahgunaan wewenang publik untuk kepentingan partai. Lebih sesuai darpada yang mana semangat Pancasila. “Mengutamakan kepentiangan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan”

 

Ahmad Zuhri

Amplop untuk Kyai itu biasanya disebut Bisyaroh, yaitu merupakan tanda terima kasih atas jasa yang telah dilakukan seseorang yang diminta untuk melakukan sesuatu dalam hal ibadah. Bisyaroh ini bisa juga insentif atau honor untuk pengurus pondok. Tidak ada batasan berapa besar/banyak jumlahnya, karena yg diharapkan adalah keberkahan nya bukan nilai nya. Jadi ingat dawuhnya Gus Mus.. jangan cari banyaknya, tapi carilah berkahnya. Tentu saja banyak sekaligus berkah akan lebih baik hehe..

 

rid kc

PPP ini lumbung suaranya kantong-kantong NU tapi sayang pengurus dan ketuanya mayoritas bukan dari NU. PPP sekarang dalam kondisi sulit karena sudah ditinggalkan oleh orang NU. NU punya PKB. Sejak dulu orang NU hanya sebagai obyek saja di PPP sementara pengurusnya bukan dari NU. Inilah yang membuat suara PPP anjlok dan baru disadari sekarang. Saya pesimis PPP bisa lolos Parlimentary Threshold dalam pemilu 2024.

 

mpostor Among Us

Pernah menyimak penjelasan, bahwa ilmu atau penjelasan petunjuk Islam itu tidak ditarif bukan karena tabu, tapi karena nilainya sangat berharga, tidak akan sebanding dengan uang sebanyak apa pun. Karenanya maka hanya Tuhan yang punya kekayaan tak terhingga yang akan membayarnya. Walaupun begitu, masyarakat yang merasa mendapat manfaat tetap saja mengapresiasi waktu kesediaan kiyai dan ustadz itu dengan sesuatu tanda kasih. Dari mana pula bapak itu menyetarakannya dengan sogok.

 

Kang Sabarikhlas

Membaca CHD tentang amplop…ya begitulah, kita harus belajar bijaksana. Yang utama bila ada pergantian bisa dilakukan dengan damai dan legowo. Saya justru asyik dengan cerber “Siapa membunuh Putri” berdasarkan kisah nyata. Enak dibaca dan perlu, juga selalu ada yang baru (baru kemarin he.he.he). Anu…saya jadi ingat kayak konflik di Daily Planet antara Perry White dan Lois Lane+Clark Kane di film. Saya jadi semangat baca CHD bila ada 2 artikel utama… Tapi, duh.. ada tapinya, dengarkan lagu ini… “Aku moco disway rokokan, …Bojo ngomel kopi rong sasetan”.

 

Er Gham

Amplop kategori ini diberikan saat pamit. Bersifat pribadi. Berbeda dengan amplop proyek. Walaupun sudah jaman serba digital, amplop proyek lebih ‘aman’ diberikan dalam bentuk cash. Tidak melalui rekening. Tidak terlacak PPATK. Biasanya juga dihindari untuk diberikan di rumah atau kantor. Lebih aman diberikan saat di parkiran mobil atau dalam mall. Kalo bisa, yang tidak termonitor CCTV. Amplop proyek diberikan sebelum proyek dimulai. Pakai uang pribadi dulu, nanti tinggal dipotong jika uang proyek sudah cair. Dipecah dalam banyak amplop, dengan jumlah nominal yang berbeda. Isi amplop tergantung ‘kapasitas’ si penerima. Jadi berbeda beda. Misalkan proyek senilai 10 miliar, maka disiapkan amplop 3 miliar. Rugi dong penerima proyek? Ya enggak lah, khan 3 miliar itu nilai mark up nya. Nilai proyeknya sendiri hanya 7 miliar. Jadi dari 3 miliar, disiapkan banyak amplop. Ada yang terima 2 miliar, 500 juta, 100 juta, bahkan ada yang cuma 5 juta. Yang 5 juta diberikan ke kroco kroco kecil. Sedangkan yang terima 2 miliar ini yang biasanya kena OTT KPK. Apakah diberikan sekaligus? Tidak, sesuai proyek berjalan. Ada yang diawal, ada yang di tengah sebagai biaya maintenance, ada pula yang di akhir proyek sebagai pengaman setelah proyek selesai. Apakah ini cerita yang benar? Tentu saja, uraian saya hanya fiksi saja. Hanya imajinasi, karena ‘penasaran’ tentang bagaimana sih praktek teknis korupsi di negara kita.

 

Fenny Wiyono

Amplop itu termasuk suap atau tidak adalah pada tujuan di berikannya amplop. apabila Amplop yg di berikan kepada Kiai tersebut tidak membuat penerimanya melawan hati nurani, malawan hukum (negara dan agama) yg berlaku, tidak untuk menindas org yg tidak bersalah, tidak untuk memanipulasi suatu keadaan ya harusnya tidak ada masalah kan??? lagian masa mau kasih kiai di ewer2 kayak org nyawer?

 

Jokosp Sp

PPP ( Pengikut Partai Paling sak umprit ). Kemarin – kemarin gag jelas mau dibawa ke mana. Ke depan mau ke mana ?

 

Agus Suryono

PENGGANTIAN KETUM MENJELANG PEMILU.. Kayaknya penggantian KETUM menjelang Pemilu, baik untuk P3. Supaya strategi pemenangan bisa diperbaiki. Terutama, karena pencapaian Pemilu terakhir sangat minim, maka strategi MENCEGAH TERPENTAL dari SENAYAN, harus menjadi PRIORITAS. Tetapi karena pada jaman 3 partai, P3 pernah menang, termasuk mengalahkan Golkar di DKI, maka “MODAL DASAR” itu perlu “DIULIK” lagi. Meskipun sebenarnya, saat itu bisa menang, antara lain, karena unsur yang sekarang ada di PAN, PKS, PKB – semua masih ngumpul di P3. @Ini analisis orang awam..

 

Em Ha

NITIP TANYA Abah nitip tanya untuk Menkeu ibu SRI MULYANI : Harga Pertalite (SPBU Pertamina) 10.000, sudah disubsidi lebih kurang 3000 sampai 4000 kata bu menteri, karena harga keekonomiannya +/- 14.000 Harga Revvo99 (VIVO) 10.900 setelah diprotes pemerintah, sebelumnya bisa jual lebih murah dari Pertalite. Titip tanya : 1. Berapa sebenarnya besaran subsidi perliter pertalitenya biar tau juga kita berapa besaran duit yang diterima kalau isi BBM? koq bisa swasta jual lebih murah dari harga keekonomian menurut hitungan pemerintah? 2. Waktu harga ICP atau minyak dunia 20-40 dollar perbarel, kenapa tidak dihitung berapa besaran subsidi masyarakat untuk pemerintah atau pertamina.?

 

Er Gham

Para koruptor misalnya. Saat sekolah SD, SMP, sampai kuliah, mereka adalah orang orang yang polos dan jujur. Tapi sedikit demi sedikit belajar kebohongan demi kebohongan. Sehingga tidak merasa bersalah ketika korupsi.

 

Dismas Raka

Memang memberi amplop ke ustad atau kyai itu beda dengan suap dan menurut saya baik – baik saja, tapi di zaman yang membingungkan (salah jadi bener, bener jadi salah) ini, lebih baik para ustadz dan kyai menjaga diri untuk tidak menerima langsung hadiah dari jemaahnya, bisa dilewatkan yayasan atau pondok yang dikelola, menurut saya itu lebih elok.

 

Liam Then

Secara teknis jawabannya. Karena bukaan amplop coklat vertikal, jadi muatnya lebih gampang . Kalo banyak isinya begitu dibuka ngga luber kemana-mana. Kalo yang putih, setau daya ,bukaannya horizontal. Juga tidak ada beredar amplop putih dengan ukuran besar yang memadai. Hehehe.

 

Komentator Spesialis

Harga BBM di Saudi jauh lebih murah dari di Indonesia. Buzzer : Ya iyalah, saudi kan penghasil terbesar minyak bumi. Lalu kenapa harga minyak goreng melejit mengikuti harga internasional ? Indonesia kan produsen terbesar minyak sawit. Buzzer : …..anu…anu…(gelagepan nggak bisa jawab)

 

Jimmy Marta

Gak pa pa juga cerita amplop kiyai ini dibuka pak suharso monoarfa. Biar rakyat tahu bahwa bisik bising selama ini memang ada. Terlepas dari apa tujuannya. Apa warnanya, atau tipis tebalnya yg jelas memang ada. Kalau cerita itu berakibat sang ketum dilengserkan, itulah harga kejujuran yg harus dibayar pak monoarfa.

 

Arala Ziko

rekam jejak digital yakni video di youtube, waktu RI 1 masih belum jadi RI 1, beliau terang terangan menjelaskan bahwa BLT itu tidak berguna atau tidak efektif. Lhaa dilalah sekarang malah seneng ngasih ngasih BLT. Coba Pak Dahlan jika ada ketemu RI 1, mohon ditanyakan kok skrg memilih opsi BLT

 

Pembaca Disway

Wajar orang ganti pendapat, kalau orang nggak pernah ganti pendapat justru aneh. (Tentu harus ada alasannya..)

 

Liam Then

Di Thailand , ada aliran Budha yang biksu nya langsung jemput bola.Langsung minta.Biasa saja. Karena memang kerjanya mereka hanya berdoa. Di Indonesia status kiai lain.Kita lihat balik ke sejarah. Mereka soko guru perjuangan bangsa. Perannya penting dan tak terlupakan. Pak SM terlalu semangat,sehingga keseleo lidah. Samakan kebiasaan amplop untuk kiai dengan amplop uang sogokan. Yang urat ketersinggungannya tipis tentu tak terima. Wajar itu. Kebiasaan memberi uang kepada ahli agama, bukan hanya di Indonesia saja. Diseluruh dunia prakteknya sama. Saya kira itu cerminan ungkapan tulus hati masyakat.Mungkin seperti ini jika di ungkapkan ke kata-kata : “Kami tak begitu paham agama, keseharian kami habis sibuk ,lupa,lena untuk keluarga dan dunia. Amplop ini hasil perjuangan kami di dunia. Kami berikan kepada anda, sebagai dukungan kami ke anda. Yang begitu fokus kepada agama. Supaya anda tidak seperti kami. Kadang hilang, lena, lupa, dalam dunia.”

 

Liam Then

Politikus Indonesia tentu sangat mengharapkan, basis dukungan gratis ,tak perlu ongkos. Saya bahkan tak perlu jadi politikus , supaya tahu. Betapa beratnya tekanan biaya dalam operasional. Karena sudah banyak cerita horror Anggota Dewan Yang Terhornat yang beredar. Ada yang sampai trauma dengan telepon asisten. Atau bunyi pintu ruangan yang terketok. Karena ada probabilitas ,begitu pintu di buka ,yang muncul, wartawan, lsm,pemuka masyarakat basis dukungan. Mereka datang minta sumbangan. Manusia jaman sekarang, yang namanya uang, tentu sangat berat berpisah dengannya. Sebagian besar kita, tentu ingat perasaan nelangsa. Waktu berpisah dengan lembaran seratus ribuan dari dompet. Waktu melihat deretan jumlah angka di rekening bank bukannya bertambah ,tapi berkurang. Begitulah kira-kira empati saya kepada politikus RI. Kasihan juga. Tapi saya lebih kasihan lagi kepada konstituen khusus. Yang datang kelapangan-lapangan saban lima tahun. Memakai kaus yang ada sablon lambang partai. Mereka berdiri,dibawah panggung,dibawah terik sinar matahari. Di beri makan nasi kotak, atau kotak isi snack,kue, plus air mineral. Mendengarkan orasi, yang belum tentu mereka mengerti. Pulangnya di sangu 50-100rb.Beberapa tahun sekali. Salah satu masalah kronis di RI. Salah kaprah dan kebiasaan mengurat,mendarah daging di masyarakat. “yang diatas” harus memberi ke yang di bawah. Yang di bawah ngarep,yang diatas (politikus,pejabat)kelimpungan.

 

daeng romli

Gara2 amplop sang kyai, suharso monoarfa “dipaksa” turun dr ketua PPP. Mungkin dia kurang familiar dgn kebiasaan warga yg sowan ke kyai dan sekedar memberi “sedikit uang”. Atau juga mungkin yg dimaksud Suharso bukan amplop itu, tp amplop lain yg diberikan oleh seorang pejabat negara kepada kyai tertentu dan itu menjelang pilpres. dan itu saya rasa tdk sedikit isinya. Mungkin ada yg masih ingat….Abah Pasti ingat krn itu viral….#melawanlupa Salam

 

Er Gham

Ini kudeta Abah. Tidak ada pengunduran diri. Dilakukan saat ybs traveling, tidak berada di Jakarta. Dilakukan secara terburu buru. Sekarang Pak Monoarfa akan serang balik.

 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id