Dendam Dicopot dari Ketua BPD

Mustafa Kamal


BATURAJA
– Aparat Polres OKU berhasil mengungkap kasus yang sempat menggemparkan masyarakat, Rabu (21/06) yang lalu. Di mana seorang sekretaris BPD Karang Dapo Kecamatan Peninjauan Kabupaten OKU, M. Sajili (42), ditemukan tewas di tepi Sungai Ogan.

Pada jasad koran terdapat 42 luka tusuk senjata tajam. Pelaku ternyata  Mustafa Kamal alias Mus Tato (54). Dia dibekuk di tempat persembunyiannya Dermaga Maringgai Lampung Timur Provinsi Lampung, Rabu (12/10) kemarin.

Dalam penangkapan tersebut, polisi memberikan tindakan tegas terhadap pelaku karena berusaha melarikan diri. Sebutir peluru menembus kaki kanannya.

Kapolres OKU AKBP Danu Agus Purnomo melalui Kasi Humas AKP Syafaruddin membeber motif di balik pembunuhah sadis tersebut. Diungkapkan, motif kasus ini dilatar belakangi dendam antara Mus kepada korban.

Alasannya, korban  telah mengingkari janji dan mengambil posisinya sebagai anggota BPD Desa Karang Dapo.

“Tersangka Mus ini mengaku sebelum ia mundur dari jabatan itu, korban pernah menyampaikan kalau ia tidak mau diangkat sebagai anggota BPD. Tapi ternyata berbeda, dan hal itu membuat Mus marah dan dendam,” katanya.

Adapun aksi pembunuhan itu sendiri terjadi setelah keduanya bertemu saat mencari ikan di pinggiran sungai. Saat itu, Mus langsung mencekik dan menikam korban menggunakan pisau berkali-kali hingga tewas.

 “Setelah itu mayat korban dibuang ke sungai. Semua barang korban juga diambil oleh Mus,” katanya.

Selain itu, diketahui juga jika Mus merupakan residivis dan pernah menjalani hukuman penjara selama 8 tahun di LP Tanjung Pinang, Riau, karena kasus pembunuhan.

“Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara,” katanya.

Sementara, Mus mengaku kabur ke Lampung terlebih dahulu untuk menghindari kejaran polisi. Di Lampung dia menumpang di rumah famili dari pihak isterinya. Selanjutnya isteri beserta lima anak menyusul ke Lampung.

Selama menjadi buronan polisi  Mus  bekerja serabutan sebagai nelayan dan pencari barang rongsokan di pinggir laut Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

Selama buronan polisi, tersangka dan keluarga tidak bersosialisasi. Tersangka menutup diri dan tidak ada warga sekitar yang tahu nama maupun identitas lainnya.

Setiap ada yang bertanya soal identiasnya, tersangka langsung mengalihkan topik pembicaraan, akhirnya tidak ada yang tahu latar belakang kehidupan Mus sampai akhirnya tertangkap. (len)