Hotman Minta Korban untuk Tidak Berdamai

Hotman Paris mendampingi korban memberikan keterangan kepada awak media, kemarin. FOTO : TIA – PALPOS


Kasus Pemukulan Oknum Dewan

PALEMBANG – Pengacara top ibukota Hotman Paris Hutapea menemui langsung Juwita, korban pemukulan oleh oknum anggota DPRD Kota Palembang, Syukri Zen yang kini ditahan di Mapolrestabes Palembang.

Hotman Paris Bersama tim sengaja datang dari Jakarta untuk mendampingi korban dalam jumpa pers kepada awak media di Restoran Buntut Sunda Kang Ali, Jalan Jenderal Sudirman Palembang, kemarin.

‘’Jadi saya sengaja datang langsung ke Palembang untuk menangani kasus yang sempat menghebohkan media sosial, beberapa waktu lalu,” ujar Hotman.

Hotman mengatakan pada Juwita di depan awak media, jika tidak akan berdamai dan akan melanjutkan kasus tersebut ke pengadilan.

“Saya beri saran kepada saudari Juwita, agar kasus ini tidak ada damai. Kasus ini akan kita bawa sampai ke pengadilan,” kata Hotman.

Hotman juga menegaskan, jika tidak boleh ada yang memaksa Juwita untuk berdamai dalam kasus ini termasuk polisi.

“Perlu saya jelaskan, bahwa memang ada kewajiban polisi untuk menyarankan perdamaian. Namun, tidak ada siapapun yang berhak bisa memaksa kamu (Juwita) untuk berdamai,” tegas Hotman ke korban Juwita.

Hotman juga menerangkan, bahwa dalam Undang-Undang pun tidak ada kewajiban untuk berdamai.

“Dan di dalam UU pun tidak ada untuk wajib berdamai, jadi jangan mau didekati siapapun kalau tidak mau berdamai, karena itu hak kamu,” terangnya.

Hotman menambahkan, perkara kasus penganiayaan yang dilaporkan oleh Juwita dengan sangkaan Pasal 351 KUHP juga bisa ditambahkan dengan pasal tentang penghinaan Pasal 311 dan 315 KUHP.

“Bisa kita tambahkan pasal 315 KUHP, karena saat kejadian keluar juga kata-kata kasar seperti binatang dan lainnya,” tambahnya.

Sementara, kepada awak media cetak dan elektronik, korban menjelaskan kronologis yang menimpanya di SPBU Jalan Demang Lebar Daun Palembang, beberapa waktu lalu.

Dijelaskan korban, dirinya turun dari mobil karena mendengar kata-kata tak pantas dari oknum anggota DPRD Palembang itu. Setelah turun dari mobil, dia langsung dihajar dengan pukulan bertubi-tubi.

Ditanya laporan Syukri Zen atas pengeroyokan terhadap istrinya, Hotman langsung menimpali bahwa hak yang bersangkutan untuk melapor. Namun dia menegaskan bahwa di dalam mobil selain korban, ada ibunya yang sudah uzur dan adiknya masih kecil.

‘‘Dari video yang beredar rasanya tidak ada pengeroyokan itu. Mana mungkin emak-emak ini mengeroyok,’’ ujar Hotman.

Di balik kasus tersebut Hotman berharap menjadi pelajaran bagi yang lain, agar kasus serupa tidak terulang. Hotman menegaskan akan mengawal kasus ini sampai tuntas.

‘’Saya sudah tanya korban soal perdamaian yang ditawarkan pihak kepolisian. Korban menjawab tidak mau berdamai. Jadi kasus ini diharapkan sampai ke pengadilan,’’ ungkap Hotman.

Dia meminta Kapolrestabes Palembang agar ditambahkan pasal penghinaan dalam kasus tersebut. Dikarenakan pelaku mengeluarkan kata-kata tak pantas di muka umum.

Hotman Paris menambahkan, kedatangannya ke Palembang juga dalam rangka bagian program Hotman 911.  Yakni, memberikan bantuan hukum secara gratis khusus terhadap kasus yang menyentuh hati nurani dan Hak Asasi Manusia.

“Ini juga salah satu program Hotman 911 untuk memberikan bantuan hukum gratis,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan peristiwa pemukulan seorang gadis di Palembang oleh oknum DPRD Kota Palembang.

Video viral tersebut menghebohkan warganet. Pemukulan itu dipicu lantaran oknum anggota DPRD tersebut tidak terima saat ingin menyalip antrian pertalite, namun korban tak memberikan jalan.

Sementara, anggota DPRD Kota Palembang dari Fraksi Partai Gerindra yakni Syukri Zen telah berhasil diamankan rumahnya, Rabu (24/08), sekitar pukul 22.00 WIB. Saat ini Syukri Zen sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kejadian tersebut.

“Atas ulahnya juga, tersangka dikenakan pasal 351 tentang penganiayaan dengan ancaman kurang di atas 5 tahun penjara,” ujar Kapolrestabes Palembang, Mokhamad Ngajib. (tia)