Jangan Dipaksakan

Yan Sulistyo


Yan Sulistyo – Pengamat Ekonomi

LANGKA pemerintah mengganti TV analog ke TV digital nampaknya masih mengalami perdebatan dari banyak pihak, pasalnya masih banyak masyarakat yang belum siap menerima pergantian tersebut terutama masyarakat kelas menenga ke bawah. Hal ini pihak mendapat reaksi berbagai pihak salah satunya Pengamat Ekonomi, Yan Sulistyo.

“Artinya dengan pengalihan channel TV analog ke digital itu berarti ada pengeluaran tambahan bagi konsumen yang TVnya masih analog. Masih banyak juga masyarakat terutama masyarakat miskin atau setegah miskin yang TVnya masih analog dan itu nantinya akan membebani mereka,” ujarnya, Jumat (4/11).

Yan menuturkan, meskipun pemerintah memberikan STB gratis untuk TV digital kepada masyarakat. Tetap saja sebenarnya semua kembali ke selera masyarakat.

“Walaupun Pemerintah sudah memberikan gratis STB tapi menurut saya itu sebenarnya mau analog atau digital itu sebenarnya masalah selera saja bagi masyarakat. Seperti kamera, kan masih banyak juga yang memakai kamera analog bukan DSLR ataupun Mirrorles. Jadi menurut saya pemerintah tidak perlu memaksakan TV harus bersiaran digital,” tuturnya.

Yan juga mengatakan, jika seharusnya dunia pertelevisian cukup dibagi rata saja karena baik analog dan digital semuanya sama. “Kalau ada yang masih suka dengan TV analog ya tetap disiapkan siaran analog, begitu juga dengan perusahaan pertelevisian. Kalau mereka masih menyiapkan siaran yang bersifat analog, menurut saya sah-sah saja,” katanya.

Menurutnya, pemerintah tidak perlu sampai mengancam perusahan pertelevisian karena itu termasuk otoriter. “Jadi Pemerintah tidak perlu memberikan ancaman apapun seperti yang saya baca hari ini, sampai Kemenko Polhukam megancam beberapa stasiun TV. Menurut saya tindakan dari pemerintah ini sudah otoriter,” imbuhnya.

Dikatakan Yan, jaman sekarang tidak semua masyarakat masih menonton TV jadi tidak perlu dipaksakan. “Masalahnya sekarang apakah masyarakat masih menonton TV, contohnya saya. Saya tidak lagi menonton TV, karena saya lebih senang menonton Youtube. Jadi tidak perlu memaksa apapun, percuma saya dipaksakan kalau masyarakat itu tidak lagi menonton TV,” kata Yan. Lebih lanjut Yan menerangkan, jika sebenarnya kebanyakan iklan pun sekarang berpindah ke sosial media (sosmed).

“Para perusahaan TV juga sekarang ini sudah berkurang peminatnya, mereka sudah susah-susah tetapi iklan kan sudah banyak ke sosial media baik instagram, youtube, ataupun sosial media lainnya,” teranya. Tentunya perubahan teknologi tersebut akan memakan banyak biaya bagi perusahaan TV.

“Sehingga porsi rating iklan di TV Indonesia ini berkurang, apalagi mereka dipaksakan menggunakan siaran TV yang digital. Itu kan perubahan teknologi, otomatis akan memakan biaya bagi perusahaan TV,” lanjutnya. Yan menambahkan, kalaupun Pemerintah memberikan subsidi, maka hal tsesbut bisa dibilang cukup bagus. Akan tetapi, Pemerintah kedepannya juga harus memikirkan akankah TV masih diminati.

“Kalaupun memberikan subsidi, ya menurut saya bagus. Tapi balik lagi, masyarakat masih banyak yang menonton TV ata tidak ? Kita juga harus memikirka kedepannya sekitar 5 tahun lagi apakah TV masih dilihat, begitu,” tambahnya. Selanjutnya, Pemerintah tentu makin meyulitkan masyarakat jika hal ini benar terjadi.

“Jadi Pemerintah jangan menyulitkan masyarakat Indonesia, hidup sekarang sudah sulit ditambah lagi dengan masalah siaran TV seperti ini. Menurut saya tidak penting, yang penting sekarang itu dibahas soal keamanan dan politk di Indonesia yang semakin kacau di jaman Pemerintahan Jokowi ini,” sambungnya.

Yan juga mengomentari Kemenko Polhukam yang berani mengancam terkait perubahanTV analog ke digital tersebut. “Termasuk juga Kemenko Polhukam ini juga sekarang mulutnya semakin ember, karena sudah berani mengancam,” tandasnya. (tia)