Khusnul Nusakambangan


Oleh: Dahlan Iskan

MUNGKIN baru Khusnul Chotimah korban parah bom teror menemui para terorisnya: Amrozi, Muklas, Ali Imron. Khusnul berangkat ke Nusakambangan. Ke Lamongan. Ke Jakarta.

Dari Sidoarjo Khusnul ke Cilacap. Naik sepeda motor. Bonek asli. Itu November 2008. Enam tahun setelah bom Bali. Lalu menyeberang laut ke pulau penjara itu.

“Ongkos penyeberangan, waktu itu, baru Rp 10.000,” ujar Khusnul.

Secara fisik, Khusnul sudah kuat. Luka bakar 60 persen akibat bom Bali sudah tinggal bekasnya.

Lebih kuat lagi tekadnyi untuk ”balas dendam” kepada para teroris. Operasi berkali-kali atas wajah, badan, dan kakinyi relatif berhasil. Skar bekas operasi itu kian samar. Tapi sumber penghidupannyi yang masih belum jelas.

Saat ke Nusakambangan itu mereka berbekal uang Rp 150.000: untuk bensin, makan, dan penyeberangan. Kalau malam mereka tidur di masjid.

Khusnul sempat kecewa. Tiba di penjara Nusakambangan Khusnul ditolak petugas. Napi hukuman mati tidak boleh ditemui siapa pun. Khusnul lantas menceritakan susah payahnyi perjalanan naik sepeda motor ke Nusakambangan. Dia juga menceritakan maksudnyi untuk hanya bisa melihat Muklas dan Amrozi.

Akhirnya diizinkan. Sendirian. Suami Khusnul diminta menunggu di luar. Muklas pun didatangkan ke ruang kunjungan. Dipisahkan dengan jeruji baja. Saat itulah Khusnul menumpahkan kejengkelannyi. Juga menceritakan penderitaannyi. Termasuk kesulitan ekonominyi.

Ternyata reaksi Muklas di luar dugaan Khusnul. “Ia justru menyalah-nyalahkan saya,” ujar Khusnul.

“Apa yang ia ucapkan,” tanya saya.

“Saya justru disalahkan kenapa malam itu berada di tempat orang kafir,” ujar Khusnul. “Muklas juga memaki-maki saya mengapa saya tidak pakai jilbab. Justru saya disuruh bertaubat,” tambahnyi.

“Bagaimana dengan sikap Amrozi?” tanya saya.

“Sama saja. Biar pun sejak TK, SD, SMP, sampai SMA saya ini di sekolah Muhammadiyah, tetap saja saya dikafirkan,” kata Khusnul.

Khusnul pun menceritakan pertemuan dengan teroris itu kepada suami. Sang suami emosi. Ia mengajak Khusnul ke Lamongan. Ia berniat membunuh siapa pun keluarga Amrozi yang bisa ditemui di Paciran, Lamongan.

Maka di lain kesempatan sang suami mengajak Khusnul berangkat ke Lamongan. Khusnul setuju. Khusnul mendukung yang direncanakan suami: membunuh siapa pun keluarga Amrozi. “Biar merasakan penderitaan itu seperti apa,” ujarnya.

“Akan dibunuh dengan cara apa?” tanya saya.

“Dengan bensin. Kami akan membeli bensin. Disiramkan ke rumah salah satu keluarga. Kami bakar,” jawab Khusnul.

Mereka pun naik sepeda motor ke Lamongan. Tiba di Gresik mereka berhenti makan. Saat itulah Khusnul merasakan ada panggilan nurani: kalau suaminyi membunuh pasti keduanya akan masuk penjara. “Saya berpikir kasihan anak-anak saya. Siapa yang memelihara,” ujar Khusnul. Apalagi dia tahu sang suami sangat sayang pada putra keduanya.

Suara hati itu dia sampaikan ke suami. Sang suami bisa menerima. Terutama setelah ingat anak nomor dua mereka.

Waktu itu sang anak kedua sudah kuliah di Untag Surabaya. Ambil jurusan sastra Inggris. Tapi harus berhenti kuliah. Tidak ada biaya untuk melanjutkan. Drop out.

Anak itu mencoba mencari pekerjaan. Melamar ke mana-mana. Tidak ada panggilan wawancara.

Suatu hari sang anak minta kepada ibunya: tolong kenalkan dengan jaringan teroris. “Untuk apa?” tanya sang ibu. “Saya mau ikut mereka. Jadi teroris lebih enak,” ujar sang anak.

Rupanya sang anak mendengar teroris itu, kalau ditangkap, mendapat santunan yang baik. Asal mau bertobat.

Sang ibu tentu miris mendengar permintaan sang anak. Dia sendiri  korban teroris. Dan anaknyi ingin jadi teroris.

Lebih menderita lagi sang ayah. Belum lama ia mau membunuh keluarga teroris. Kini anak kesayangannya justru ingin jadi teroris.

Khusnul mendengar ada teroris yang insyaf. Karena itu ia tidak dihukum mati. Ali Imron. Ia dihukum seumur hidup.

Khusnul bertekad menemui Ali Imron. Ia lagi ditahan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Khusnul ingin anaknya bertemu Ali Imron. Agar diberi nasihat. Agar jangan jadi teroris.

Maka suami-istri ini ke Surabaya dulu. Sang anak diajak. Mereka ke Pasar Keputran. Dari pasar itu selalu ada truk ke Jakarta. Membawa sayur dan bahan makanan.

Khusnul, suami dan anak kedua pun cari nunutan truk ke Jakarta. Sambil jaga barang. Khusnul masih tetap tomboi. Kini dia sudah punya anak ketiga. Masih bayi. Itulah anak yang lahir setelah jadi korban bom Bali. Juga laki-laki.

Kepada Ali Imron, Khusnul bercerita banyak tentang penderitaannyi, nasib anaknyi, dan segala macam kesulitan setelah bom Bali. Ali mau memberi nasihat yang diinginkan. Mereka pun pamitan.

Saat pamit itulah Ali Imron memberi sangu Khusnul. Khusnul kaget. Nilainya Rp 1,5 juta.

“Kok Ali Imron banyak uang ya?” tanya saya.

“Saya juga heran, di penjara kok punya banyak uang,” ujar Khusnul.

Mereka pun pulang ke Surabaya. Tidak naik truk lagi. Mereka punya uang untuk naik kereta.

Uang habis. Juga tidak cukup untuk membayar uang kuliah Sang anak. Pekerjaan juga tidak kunjung didapat. Sang anak sudah hampir dua tahun tidak bisa kuliah. Sang ayah belum menemukan sumber penghasilan yang bisa untuk menyekolahkan anaknya.

Suatu sore rumah kontrakan Khusnul di Sidoarjo digerebek polisi. Sang suami tidak di rumah. Khusnul tidak tahu ke mana suami pergi. Yang jelas, tadi masih salat  Jumat. Pulang dari masjid ia pamit pergi.

Rumah Khusnul digeledah. Di lemari ditemukan uang Rp 15 juta. “Uang apa ini?” tanya polisi seperti ditirukan Khusnul pada saya. “Itu uang suami. Baru kemarin didapat. Itu untuk bayar uang kuliah anak kedua kami,” jawab Khusnul.

Penggeledahan diteruskan ke bagian bawah lemari. Ditemukanlah serbuk putih. Beberapa kilogram. Polisi menyitanya.

Bagaimana dengan uang Rp 15 juta itu?

“Kalau uang itu disita, anak saya tidak bisa kuliah,” ujar Khusnul pada polisi. Uang itu pun dikembalikan ke Khusnul. Pesan polisi: agar dipakai bayar kuliah anaknyi.

Khusnul tahu suaminyi tersangkut perkara narkoba. Sang suami sudah bercerita dua hari sebelumnya. Yakni ketika mendapat uang Rp 15 juta itu. Itulah untuk pertama kalinya sang suami pulang membawa uang banyak. Harapannya: anak kesayangannya bisa kuliah lagi.

Malam harinya Pak RT datang ke rumah Khusnul. Pak RT memberitahukan berita duka: Sang suami tewas ditembak polisi. (*)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 1 November 2022: Khusnul Bomiyah

Mirza Mirwan

Beberapa tahun setelah tragedi Bom Bali 1 sineas Nia Dinata mengangkat tragedi itu ke layar lebar dengan judul “Long Road to Heaven”. Nia bersama Constantin Papadimitriou menjadi produser film yang penggarapannya dipercayakan kepada Enison Sinaro sebagai sutradara. Film tersebut dibintangi antara lain Surya Saputra (sebagai Hambali), Sudibyo JS (Amrozi), Hestu Wreda (Ali Imron), dan Endris Sukmana (Mukhlas). Ada juga Alex Komang dan Joshua Pandelaki yang memerankan tokoh yang tak masuk pemberitaan. Komang memerankan Wayan Diya, sedang Joshua memerankan Haji Ismail. Bintang lainnya adalah orang bule, antara lain Mirrah Faulkes dan John O’Hare. Bahasa yang digunakan dalam film itu juga Indonesia dan Inggris. Durasi film itu hampir 2 jam. Dialog Hambali, Amrozi, dkk, mungkin berdasarkan pengakuan dalam sidang pengadilan. Selebihnya berdasarkan kesaksian tokoh nyata seperti dialog antara Hannah Catrele (diperankan Mirrah Faulkes) dengan Haji Ismail (diperankan Joshua Pandelaki). “Kenapa sih orang Islam suka membantai orang-orang non-muslim?” begitu kurang lebih tanya Catrele kepada Haji Ismail. “Jangan digeneralisir, Nona. Apa yang mereka, para teroris, lakukan itu tak dibenarkan menurut ajaran Islam dan Quran.” Sayangnya, seingat saya, film itu kurang laku di Indonesia. Mungkin penonton tidak tahu bahwa itu film tentang Bom Bali. Sebaliknya cukup laku di luar negeri, terutama di Australia. Maklum, dari 200-an korban tewas, 88 orang dari Australia.

 

Leong putu

Semut :” Cak, manusia itu kejam banget ya Cak ? Dikit² main bunuh aja “. Cicak :” iya Mut, padahal aku udah berusaha membantu mereka. Dengan mengurangi jumlah Nyamuk”. Semut :” kawan kawanku mereka semprot, gara gara berebut gula yang jatuh di lantai…hiks hiks hiks”. Cicak :” nyamuk makanan ku juga di semprot, membuat aku g ada makanan…”. Semut :”……………” ( semut tidak terdengar lagi suaranya untuk selama )

 

bramantio sukardi

jadi offset-nya kebangetan kalo LDNU menghubungan wahabi dengan terorisme, lha wong iku demo aja gak boleh, haram kok sampe meledakkan bom. kalau mau deradikalisasi sebernya simpel, tangkapin semua simpatisan imam samudara,, gak banyak kok, bredel web arrahmah.com dan simpatisan yag sealiran

 

bramantio sukardi

LDNU dan mungkin abah gak tau atau pura-pura gak tahu. bahwa yang diundang BNPT buat men-DEradikalisasi para napi teroris, bom bali itu syeikh ali hasan al halaby, gurunya guru para wahabi nusantara. mengapa yang diundang ulama wahabi bukan kyai NU, tanya kenapa.

 

Juve Zhang

Daripada Amrozi.ImamSamodra dkk. Saya lebih “respek” sama mereka yg pergi ke Suriah gabung ISIS. Langsung terjun ke medan pertempuran. Dari pada berbuat onar di dalam negeri. Yg mereka lawan jelas sama sama pegang senjata .seimbang. lah di sini orang yg gak tahu apa apa pada mati.cacat seumur hidup.dsbnya. jadi kalau ada yg mau tempur ke LN seyogyanya pemerintah mengijinkan .bila perlu kasih uang “dinas” . PDL. Perjalanan Dinas Luar negeri.wkwkwkkw

 

Liam Then

Premis yang saya pakai Tuhan Maha Adil. Ke-Maha-an Tuhan atas keadilan, berlaku rata kesemua mahluk hidup. Bukan hanya orang yang menyembahNya. Segala kejadian dan perbuatan semua mahluk di dalam dan diatas muka bumi. Sudah sesuai dengan hukum natural yang di gariskan oleh Tuhan. Manusia di beri keistimewaan, berupa akal dan kesadaran. Karena itu manusia bisa berhasil mendominasi di muka bumi ini. Tapi tunggu dulu, benar kah, manusia mendominasi di bumi ini? Apakah ini cuma pengertian, akal nya manusia yang terbatas. Belum tentu benar bukan? Tapi manusia percaya. Ia yang utama. #makin bingung kan ? Wkwkwkk

 

hoki wjy

saya sering membaca kalimat Tuhan memang tdk akan memberi cobaan diluar kemampuan seseorang utuk menanggungnya. yg saya tdk mengerti umpama ada seseorang bernama Jarot ketika mulai berbisnis dg uang pinjaman namun dalam perjalanannya dia ditipu dan bangkrrut tdk kuat menanggung beban tsb maka Jarotpun bunuh diri dan mati, bukan kah semestinya Tuhan sudah mengetahui bahwa pak Jarot ini kalau dikasih cobaan usahanya bangkrut dia pasti bunuh diri lalu mengapa Tuhan masih memberinya cobaan seperti itu? atau umpama seorang wanita bernama Resti dia berpacaran dg seorang pria yg sangat di cintainya namun setelah menghamilinya sang priapun kabur entah kemana merasa malu karena sudah hamil diluar nikah maka Resti pun memilih minum racun serangga dan tewas pertanyaannya bukankah Tuhan sudah mengetahui kalau si Resti dikasih cobaan hamil diluar nikah dia akan minum racun serangga lalu mengapa Tuhan masih memberinya cobaan yg demikian? bukankah katanya Tuhan tdk akan memberi cobaan diluar kemampuan seseorang untuk menanggungnya?

 

Leong putu

Pagi pagi sikat gigi / Gigi bersih nafas wangi / Sodara sodari selamat pagi / Sehat jasmasi juga rohani / #mekso

 

munawir syadzali

Lapor Juragan Disway, dr kemarin mau nderek komen loginya gag pernah berhasil. Pdhl pas lagi beol ada ide2 cemerlang utk menyemarakkan komen pilihan. Cuma mau usul, tolong orang2 seperti Pak Mirza diberi panggung utk menulis catatan harian di Disway. Sepertinya ilmunya gak kalah sama juragan Disway. Dr perpolitikan sampe dunia pengeboran minyak kok tau ya. Sangking penasarannya, Sy cari profile Pak Mirza di google kok ketemu ya. Wah, misterius jg ternyata Pak Mirza ini. Ngoten mawon. Suwun

 

Rihlatul Ulfa

Kita akan kehilangan banyak ‘ikan besar’ jika kasus pembunuhan brigadir J gagal diungkap diawal. melihat drama persidangan kemarin, sampai hakim dan jaksa geram dengan keterangan art Susi. memang dari potongan detail kamera yg mengarah ke wajah Susi saat bersaksi ekspresi Susi seperti ‘menganga’ seperti sedang mendengarkan intruksi saat otaknya mencoba memperosesnya saat itu. maka saat jaksa mengatakan apakah Susi memakai ‘handsfree’ juga pertanyaan dasar yang ternyata tidak bisa dijawab lugas dengan Susi. maka hakim dan jaksa menilai, Susi memang harus dipisahkan dengan saksi-saksi lain, agar dikonfrontasi keterangannya dengan saksi-saksi lain. keputusan disidang kemarin para saksi bersaksi sendiri-sendiri lebih baik, karena memutus komunikasi mereka jika ‘bersekongkol dalam keterangan’ dan Susi bisa saja menjadi saksi yg menguntungkan nantinya ‘jika benar kesaksian ia dipersidangan bohong’ melihat kubu Sambo benar-benar seperti ingin membuat mereka tidak bersalah begitu kuat. untungnya sisi psikologis dipersidangan, hakim dan jaksa yg berbicara dengan lugas dan to the point membuat saksi bisa saja ‘buyar’ dalam mekanisme yg sebelumnya mereka coba susun.

 

Sama Konomaharu

Waktunya memotong, dan mencabik-cabik anggaran kepolisian sampai 30% untuk memberantas narco boy, dan terorisme. Adapun anggaran harus di serahkan ke ustad dan kyiai baik dari NU maupun Muhammadiyah. Di mana kedua ormas ini terbukti mampu membersihkan gejolak kekocakan antara sayap kanan, dan sayap kiri.

 

Johan

Jadi ingat, teman saya orang Bali yang begitu emosional ketika menonton berita penyambutan jenazah para bomber setelah di eksekusi. Jenazah disambut bak pahlawan. Saat itu pas lagi makan siang. Piring dan gelas dibantingnya sampai hancur berantakan. Kami yang duduk bersamanya hanya bisa diam. Tidak ada satu katapun yang bisa kami ucapkan. Perasaan malu, miris, geram bercampur aduk jadi satu.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id