Kok Tidak Ditahan ?


Perlakuan ‘’Istimewa” Istri Jenderal

TIDAK ditahannya istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi (PC)  meski statusnya sudah jadi tersangka kasus pembunuhan Brigadir Yosua atau Brigadir J memantik beragam reaksi dari elemen masyarakat.  Polri pun banjir kritikan karena terkesan memberi perlakuan istimewa.

Situasi ini disebut bagian dari diskriminasi hukum karena posisi Putri yang dianggap dispesialkan.

“Polri harusnya segera tahan! Semua harus sama di mata hukum, tidak tebang pilih,” tegas pengacara keluarga Brigadir J, Yonathan Baskoro kepada wartawan, dilansir dari detikNews, Jumat (2/9).

Yonathan melanjutkan, tidak ditahannya Putri berpotensi menimbulkan permasalahan baru. Putri dianggap bisa membuat skenario yang lain dalam penanganan kasus pembunuhan Brigadir J.

 “Ini kalau PC nggak ditahan, dia bisa saja buat-buat skenario lain, dan citra Polri institusi yang ingin kita jaga ini menjadi taruhannya di mata masyarakat,” sambungnya.

Situasi ini juga dianggap bisa merusak citra kepolisian. Putri Candrawathi menurutnya harusnya segera ditahan.

Yonathan lalu membandingkan PC dengan sejumlah kasus yang menjerat ibu berstatus tersangka lainnya. Salah satunya kasus Prita Mulyasari, yang sempat mendekam di balik jeruji besi akibat pencemaran nama baik.

“Bagaimana dengan ibu-ibu yang lain? Seperti empat ibu rumah tangga di NTB, Niti Setia Budi, kasus Prita 2008? Baiq Nuril yang mengalami dugaan pelecehan seksual malah ditahan dan banyak juga yang lainnya yang tidak tersorot media,” urai Yonathan.

Kritikan juga dilontarkan anggota DPR RI, Fadli Zon. Legislator Fraksi Gerindra ini turut membandingkan Putri dengan kasus Mery, aktivis yang ditahan memiliki anak dan ibunya sedang sakit.

“Ini diskriminasi hukum. Aktivis Bu Mery punya anak kecil dan ibu yang sedang sakit dan harus dirawatnya. Beda dengan Bu PC, Bu Mery ditahan,” kata Fadli Zon dalam cuitannya lewat akun twitternya @fadlizon, Jumat (2/9).

Fadli Zon menyoroti alasan ditahannya aktivis Mery lantaran membawa anak kecil saat demonstrasi. Padahal, menurut dia, hal tersebut sudah dibantah melalui testimoni.

“Tuduhannya membawa anak kecil dalam sebuah aksi demonstrasi. Padahal sudah ada testimoni ia tak bawa anak kecil. Kasus ‘remeh’ @mohmahfudmd @MardaniAliSera,” paparnya.

Aktivis atau pegiat sosial Mery alias Bunda Mery disebut dipidanakan karena dugaan pelanggaran Undang-undang Perlindungan Anak. Dia juga diduga merekrut anak untuk mengikuti kegiatan aksi damai. Dia ditahan di Polres Lampung Utara.

Kritik pedas juga dilontarkan Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur. Dia memandang Polri perlu membuat kajian jelas tentang penahanan seorang wanita yang berstatus tersangka.

“Ya, tentu pertimbangan tidak menahan tuh bagian kebijakan yang selama ini juga diperjuangkan masyarakat sipil, apalagi perempuan dengan kondisi misalnya punya anak kecil. Tapi, problemnya adalah indikatornya nggak jelas, gitu,” ujar Isnur kepada wartawan dilansir dari detiknew.com, Sabtu (3/9).

“Jadi ketidakadilan nampak sangat terlihat ketika polisi tidak menahan Ibu PC, tetapi menahan banyak sekali perempuan-perempuan, ibu-ibu yang lain di berbagai penjuru Indonesia,” imbuhnya.

Isnur menilai perlu ada indikator jelas tentang penahanan seorang ibu yang berstatus sebagai tersangka. Hal ini diperlukan agar tidak ada keputusan Polri yang dianggap berpihak.

Menurutnya, dengan tidak ditahannya Putri Candrawathi ini sangat menunjukkan adanya perbedaan.

“Jadi harus polisi punya indikator yang sama, tidak kemudian standar ganda, kalau masyarakat biasa dia ditahan, tapi kalau ibu PC tidak ditahan dengan alasan kemanusiaan. Itu sangat menonjol perbedaannya,” katanya.

Sebelumnya, pengacara Putri mengatakan kliennya tidak ditahan. Alasannya adalah Putri masih mempunyai anak kecil dan kesehatannya tidak stabil.

“Terkait soal penahanan Ibu Putri, kami sudah mengajukan permohonan untuk tidak dilakukan penahanan karena alasan-alasan sesuai Pasal 31 ayat 1 KUHAP itu kita boleh mengajukan permohonan itu dan kita mengajukan karena alasan kemanusiaan,” kata pengacara Putri, Arman Hanis, di gedung Bareskrim Polri, Rabu (31/8).

“Ibu Putri masih mempunyai anak kecil dan Ibu Putri masih dalam kondisi tidak stabil,” tambahnya.

Meski begitu, Putri dikenai wajib lapor dua kali dalam seminggu. Dia memastikan bahwa kliennya tidak akan ke mana-mana lantaran sudah dicekal ke luar negeri.

Langkah Polri tidak menahan Putri Candrawathi yang sudah menjadi tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J menjadi polemic. Polri dinilai telah memberi keistimewaan pada istri eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo tersebut.

Anggota Komisi III DPR RI Jazilul Fawaid menyatakan bahwa proses penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu. Menurutnya, rasa keadilan publik tidak boleh diabaikan, meskipun Polri memang memiliki kewenangan memutuskan menahan atau tidak menahan seorang tersangka.

“Jelas hukum tidak pandang bulu. Tapi itu kebijakan dari penyidik mau ditahan atau tidak ditahan, tapi rasa keadilan masyarakat jangan diabaikan,” ucap Jazilul, Jumat (2/9).

Sementara itu, Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso mengatakan tindakan penyidik yang tidak menahan Putri dengan alasan memiliki anak telah mengusik rasa keadilan di masyarakat.

Sugeng membandingkan dengan kasus lain di mana tersangka perempuan tetap ditahan, meski memiliki anak.

“Sikap yang bisa dinilai diskriminatif apabila penyidik tidak melakukan penahanan karena pada kasus lain dimana seorang wanita yang juga memiliki anak yang sedang di bawah umur, perlu asuhan, juga ditahan,” katanya.

“Baiq Nuril, kemudian (kasus) seorang artis yang ditangkap dan sekarang artis itu sudah meninggal dunia. Kemudian ada dulu Angelina Sondakh, itu ditahan ketika anaknya masih perlu disusui,” imbuh Sugeng.

Terpisah, Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mengatakan tindakan kepolisian itu makin membenarkan asumsi di masyarakat bahwa polisi tidak adil dalam penanganan kasus itu.

“Masyarakat tentunya akan berasumsi bahwa ini karena PC adalah istri jenderal, dan yang memeriksa dan memproses ini adalah kepolisian,” kata Bambang.

Jika ingin konsisten mengembalikan kepercayaan masyarakat yang telah turun, harusnya, kata dia, polisi objektif dalam menentukan status Putri. Apalagi, kasus ini termasuk berat dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Atas banyaknya kritikan tersebut, Polri mengungkapkan 3 alasan yang jadi pertimbangan penyidik sehingga Istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi tidak ditahan. Salah satunya karena tersangka memiliki anak balita.

“Penyidik masih mempertimbangkan pertama alasan kesehatan, kedua alasan kemanusiaan, dan yang ketiga masih memiliki balita,” ujar Irwasum Polri Komjen Agung Budi Maryoto dalam konferensi pers seusai penyerahan rekomendasi dari Komnas HAM di kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, dilansir dari detikNews, Kamis (1/9).

Namun Putri ditegaskan dilarang ke luar negeri meski tersangka tidak ditahan. Selain itu, Putri dikenai wajib melapor dua kali sepekan.

“Di samping itu, penyidik juga telah melaksanakan pencekalan terhadap Ibu PC dan pengacara menyanggupi untuk Ibu PC akan kooperatif, dan ada wajib lapor,” pungkasnya. (tim/dikutip dari berbagai sumber)