Kudeta Sepi


Oleh: Dahlan Iskan

 

SAYA pun seperti Anda: penasaran atas berita kudeta di Tiongkok. Apalagi Presiden Xi Jinping diberitakan lagi dalam status tahanan rumah.

Reaksi pertama saya: tidak mungkin. Terutama karena media-media Amerika tidak menyiarkannya. Kalau berita itu benar alangkah sudah hebohnya Amerika. Saya pun keliling Taiwan: di internetnya. Sepi. Jelas itu berita bohong.

Toh pagi harinya saya masih ngecek lagi: adakah kelanjutannya. Ternyata benar-benar bohong. Yang muncul di HP saya justru kiriman berita bohong lainnya: terjadi kudeta di Amerika Serikat. Presiden Joe Biden dalam status tahanan rumah. Pasukan militer memenuhi kota Washington DC.

Hoax dibalas hoax.

Maka sebelum tidur pun saya sempat melakukan analisis. Seandainya betul ada kudeta, apa alasannya. Memang terlalu banyak. Secara ekonomi pertumbuhan Tiongkok melambat selama Xi Jinping berkuasa. Pun sebelum ada Covid –lebih-lebih akibat pandemi itu.

Memang ada teori bagus: pertumbuhan ekonomi itu tidak bisa terus tinggi sepanjang masa. Tidak ada negara maju yang pertumbuhannya tetap tinggi. Tumbuh rendah pun sudah luar biasa bagus, karena dari nominal yang sudah besar.

Tapi tetap saja fakta berbicara: selama dua periode pemerintahan Xi Jinping pertumbuhan ekonom Tiongkok tidak sebagus sebelumnya. Popularitas Xi Jinping yang begitu tinggi ternyata tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Adakah itu yang menyebabkan ketidakpuasan hingga terjadi kudeta?

Terlintas juga soal perubahan konstitusi. Xi Jinping, lewat semacam parlemen Tiongkok, menghapus pembatasan masa jabatan presiden dua periode. Ia sendiri hampir pasti akan terpilih lagi untuk masa jabatan ketiga.

Terpikir pula: jangan-jangan ini balas dendam oligarki hitam di sana. Begitu banyak Xi Jinping menangkap pengusaha besar. Saya sering mendengar curhat pengusaha di sana: kini aturan-aturan bisnis semakin ketat. Gerak bisnis semakin tidak bebas bermanuver.

Tapi akhirnya jelas: berita kudeta itu tidak benar. Mungkin hanya halu akibat spekulasi yang terlalu. Misalnya: kok banyak sekali penerbangan yang dibatalkan di Beijing. Lalu kok banyak sekali tentara di Beijing dan sekitarnya. Ditambah: sudah tiga hari Xi Jinping tidak terlihat di depan umum.

Bagi yang sering ke Tiongkok harusnya hafal: pembatalan penerbangan di Beijing itu tidak aneh. Begitu ada latihan militer, sipil harus mengalah. Demikian juga ketika ada presiden mau turun atau naik pesawat bandara ditutup. Saya beberapa kali tertahan di landasan Beijing oleh hal seperti itu.

Secara hukum, di sana, udara Tiongkok adalah milik militer. Aturan penerbangan harus tunduk pada kepentingan militer. Jarak antar pesawat di udara pun  ditentukan berdasar keamanan nasional.

Mungkin hari itu lagi ada latihan militer. Latihannya lebih besar dari biasanya. Pesawat komersial yang terganggu lebih banyak.

Itu juga terkait dengan banyaknya pasukan militer di Beijing dan sekitarnya. Jangan lupa: 1 Oktober nanti adalah hari kemerdekaan Tiongkok.

Yang lebih sensitif lagi: pertengahan bulan depan ada Muktamar Partai Komunis Tiongkok. Itu merupakan peristiwa politik terpenting di sana. Melebihi Sidang Umum MPR di zaman Orde Baru.

Bagi orang seumur saya tentu masih ingat: setiap menjelang SU MPR negara seperti sedang genting. Razia-razia kendaraan ditingkatkan. Pun di daerah yang jauh dari Jakarta. Latihan-latihan militer terlihat di mana-mana.

Seperti itulah suasana setiap menjelang Kongres Partai Komunis Tiongkok. Saya beberapa kali di Beijing di masa seperti itu. Saya bisa merasakannya. Dan saya selalu teringat suasana menjelang SU MPR.

Di Muktamar itu nanti Xi Jinping akan terpilih lagi sebagai pemimpin tertinggi partai. Xi akan menyusun kepengurusan baru partai. Pengurus baru inilah yang akan menentukan siapa calon presiden Tiongkok yang akan dipilih oleh MPR-Tiongkok Maret tahun depan.

Menjelang perhelatan genting seperti itu, Xi Jinping tidak terlihat di depan publik. Maka ilmu spekulasi pun mendapatkan kelengkapannya: ada kudeta di Beijing.

Padahal Xi memang harus isolasi. Aturan Covid juga berlaku bagi presiden. Hari itu ia pulang dari Uzbekistan. Ada pertemuan negara-negara yang berbatasan dengan Tiongkok di sana: Forum Shanghai. Yang menarik Xi bertemu Vladimir Putin di sana.

Forum itu telah berkembang menjadi semacam blok ekonomi. Awalnya forum itu hanya dimanfaatkan Tiongkok untuk membuka jalur-jalur darat ke semua negara yang berbatasan. Lalu berkembang menjadi forum untuk melancarkan program One Belt One Road.

Kini forum itu telah menjadi blok ekonomi di luar Eropa dan Amerika. Pakistan misalnya. Ia sahabat segala musim bagi Tiongkok. Tapi Tiongkok tidak mampu menolong Pakistan di satu bidang: energi. Tiongkok sendiri kekurangan energi.

Maka forum ini menemukan jalan keluar: Rusia bertemu Pakistan. Rusia akan membantu Pakistan di bidang penyediaan gas. Akan dipasang pipa gas dari Rusia ke Pakistan. Lewat Afghanistan –sesama anggota forum Shanghai.

Rusia yang menghadapi kesulitan kirim gas ke Eropa bisa mengalirkannya ke Pakistan dan Afghanistan.

Bisa jadi gas itu akan sampai juga ke India. Lewat Forum Shanghai Rusia menemukan pasar barunya. India Pakistan pun menemukan sumber energi murah mereka.

Maka isu kudeta di Tiongkok memang bisa datang dari mana-mana. Dan itu tidak ditanggapi sedikit pun oleh media Tiongkok. Isu itu pun dianggap angin lalu. (*)

 

Siapa Membunuh Putri (24)

Tersangka, Tapi…

Oleh: Hasan Aspahani

 

BEBERAPA kali saya menelepon Pak Rinto. Dia tak mengangkat. Saya mengirim SMS. Saya mau bertemu dengannya. Di saat-saat seperti ini, saya memerlukan pendapatnya. Seperti biasa. Tapi rasanya lebih dari sekadar minta pendapat itu kebutuhan saya. Saya memerlukan nasihat seorang yang saya tuakan. Orang yang menggantikan orang tua saya. Sosok yang nyaris tak pernah saya punya.

Pak Rinto membalas SMS: “saya sedang berobat di Singapura. Nanti saya hubungi.”  Saya membalas SMS-nya dengan ucapan doa agar beliau lekas sembuh.  Saya tak bertanya beliau sakit apa. Dengan jawaban singkat begitu, bahkan tak mengangkat telepon berarti beliau sedang tak ingin dihubungi. Mungkin sakitnya berat dan beliau benar-benar perlu istirahat.

Pak Rinto setahu saya jarang sakit. Orangnya sehat. Sangat sehat untuk orang tua seumur dia, hampir 70 tahun umurnya.  Disiplinnya masih seperti polisi yang aktif. Olahraganya golf.  Pernah dia ajak saya ikut dia main golf. Kebetulan waktu itu saya sedang bikin tulisan tentang perkembangan pariwisata, termasuk lapangan golf di Borgam. Dia ajak saya ke Penangsa. ”Ini biaya membership-nya setahun berapa ya, Pak?”

”Saya tak pernah tahu. Saya itu dikasih membership semua lapangan golf di sini. Gratis,” katanya lantas tersenyum. ”Makanya, kalau mau belajar main golf, biar saya ajarin. Main sama saya saja.”

”Nggak cocok, Pak. Nanti kalau saya bisa bisa kecanduan saya. Kalau bapak nggak ada kacau saya…,” kata saya.

”Kalau kamu serius nanti saya mintakan membership gratis seumur hidup buat kamu, Dur.”

”Wah, jangan, Pak. Saya nemenin Bapak aja…,” kata saya.

Pak Rinto makin tertawa, ”dasar wartawan ndeso kamu itu ya.” Saya juga tertawa.  Karena ndeso itu saya susah sekali mengingat apa itu tee, pair way, green, hole in one, par, bogey, birdie. Berulang-ulang caddy girl yang mendampingi kami menjelaskan. Saya mencatat sebatas untuk tulisan saya saja.

Berita pembongkaran makam Putri membuat oplah Dinamika Kota bertahan. Tak naik, tapi tak juga turun. Angka retur eceran sedikit naik. Hendra, manajer pemasaran kami, minta oplah cetak tak diturunkan. Ia sedang bikin promosi untuk menggaet pelanggan baru. Beberapa daerah perumahan baru yang sudah ramai penghuni selama seminggu diberi koran gratis. Lalu dihubungi apakah mau berlangganan. Kalau dapat 30 persen saja dari mereka yang disasar menjadi pelanggan baru, program promosi itu berhasil.

”Banyak yang komentar begini, oh, kalian koran yang musuhnya AKBP Pintor, ya?” kata Hendra.

”Terus, langganan, nggak,” tanya Bang Eel.

”Ada yang langganan, ada juga yang nggak,” jawab Hendra. ”Tapi mungkin sudah perlu kita kurangi juga headline pembunuhan Putri.  Sudah bosan juga pembaca kita.”

”Gimana menurutmu, Dur?”

”Apa sudah tidak menarik soal pembunuhan Putri? Rasanya masih. Sampai vonis masih bisa menarik. Apalagi kalau AKBP Pintor sudah jadi tersangka. Masuk sidangnya nanti drama lagi…”

”Itu tak bukan kita yang atur… Tak bisa kita apa-apain. Kecuali kita ikuti saja,” kata Bang Eel.

”Betul, sih. Sementara kita kayaknya perlu tambah halaman. Iklan kita sudah hampir separo dari jumlah halaman. Mungkin itu yang bikin oplah stagnan.”

”Betul. Saya setuju tambah halaman, sudah sesak halaman koran kita. Iklan lowongan kerja itu ordernya bisa dua minggu sebelum tayang, antre,” kata Uus, manajer iklan.

Menambah halaman, risikonya menambah harga pokok produksi, menambah biaya cetak. Memperkecil margin keuntungan.  Kalau kenaikan biaya produksi itu diimbangi dengan kenaikan penghasilan iklan, maka tambah halaman adalah langkah yang benar.

”Naikin aja harga jual,” kataku.

Hendra tak setuju.  ”Jangan. Sekarang aja kita sudah paling mahal dibanding koran lokal lain. Naik harga eceran pasti oplah turun.”

”Menurutmu gimana, Dur?” tanya Bang Eel.

Saya mengusulkan tambah halaman sesuai kebutuhan iklan saja. Atau tambah halaman pada hari-hari yang ditentukan. Jadi pada hari itu, teman-teman iklan menjual lebih gencar. Kalau perlu diskonnya juga lebih besar, yang penting halaman terisi, pendapatan iklannya melebihi tambahan biaya cetak. Bang Eel setuju. Semua manajer setuju. Soal kenaikan harga eceran Bang Eel akan berkonsultasi dengan pak bos kami, Indrayana Idris.

Sehabis rapat gabungan redaksi, pemasaran, dan iklan, rapat rutin mingguan itu, saya diminta Bang Eel ke ruangannya. Biasa. Selalu begitu.  Ia menanyakan kesiapan redaksi kalau tambah halaman. Saya katakan harus tambah beberapa wartawan dan paling tidak dua redaktur.

”Kalau kita cetak empat sesi, paling tidak kita perlu dua redpel. Satu untuk dua sesi cetak pertama, dan satu redpel untuk cetak terakhir,” kataku.

”Kamu punya calon, nggak?” tanya Bang Eel. Saya menyebutkan dua nama redaktur. Bang Eel akan mempertimbangkannya, toh penambahan halaman itu juga belum diputuskan.

”Soal Mila, gimana, Bang?”

”Kenapa dia mau pindah? Nanti kata orang kita yang bawa mereka. Mentang-mentang kau dan aku dari Metro Kriminal, Yon ikut pindah, ini Mila lagi,” kata Bang Eel.

Saya tak menceritakan soal pelecehan yang dilakukan Beni kepada Mila. ”Tapi memang di sana kayaknya tak kompak lagi, Bang… Tak macam kita dulu,” kataku.

”Iya. Saya sering jumpa dan tanya kawan-kawan di sana, semua sibuk sendiri. Teman-teman yang menggantikan kita itu seharusnya bersyukur dapat kesempatan naik. Masa tergantung kau, tergantung aku,” kata Bang Eel.

”Mila gimana, Bang?”

”Suruh dia ketemu aku,” kata Bang Eel.

Ketika aku sampaikakn pesan itu Mila tampak enggan.  Saya bilang terserah dia. Keputusan ada di Bang Eel, bukan saya. Saya sudah sampaikan padanya.  “Kenapa, sih, kok kamu menghindari Bang Eel? Kalau nanti kerja di sini kan ketemu juga tiap hari,” tanyaku.

”Tak apa-apa, kan ada Mas Abdur,” kata Mila. Mila akhirnya mau menemui Bang Eel dan mulai bekerja di Dinamika Kota.  Saya melihat Mila yang semula, yang riang dan bekerja dengan efisien. Mbak Nana bilang sangat terbantu. Kerja kesekretariatan di redaksi surat kabar itu bukan pekerjaan yang bisa diremehkan juga. Sebagai pemred saya bergantung pada rekap produktivitas masing-masing wartawan yang dibuat sekretaris untuk mengatur para wartawan itu, memicu produktivitas dan semangat kerjanya.

Untuk beberapa urusan, Mila harus sering keluar kantor. Membeli ATK di Edukits, mengantar undangan narasumber untuk diskusi redaksi rutin, atau berkoordinasi dengan percetakan.

Semua pekerjaan itu selama ini ditangani Mbak Nana. Saya memberi kesempatan Edo untuk lebih sering melayani kerja sekretaris redaksi. Saya sengaja menjaga jarak dengan Mila. Tampaknya Edo ada hati pada Mila. Dia rapi sekarang, mulai tak tampak lagi bekas-bekas premannya. Kecuali tato Terpedo itu. Itu sejarah dan identitas, katanya.

Saya tak mau perhatian saya disalahartikan. Saya takut, atau tepatnya tak mau terlibat dengan perkara yang ribet. Urusan dengan hati dan perasaan perempuan bisa jadi sangat rumit, lebih rumit daripada ancaman karena berita.

Lagi pula kantor kini menyediakan mobil untuk saya. Mobil yang lebih sering dipakai anak-anak redaksi untuk meliput.  Sampai-sampai Bang Eel menegur saya.

”Kau tak suka mobil itu, ya, Dur?”

”Bukan gitu, Bang. Anak-anak lebih memerlukan untuk liputan,” kataku.

”Kalau kantor beli mobil satu lagi jangan tak dipakai ya,” katanya.

”Kalau belum ada anggarannya tak usah bang. Saya pakai motor aja beres,” kataku.

Sepulang dari Palembang, Nurikmal memuat liputan bersambung soal keluarga Putri di kota itu. Termasuk soal showroom mobil yang mereka punya. Putri Ratu Auto Showroom. Siapa yang tak kenal! Fakta yang mencurigakan itu bisa dikaitkan dengan pembunuhan Putri. Sejak kejadian itu, kata beberapa orang yang diwawancarai di sana, showroom itu pelan-pelan mulai kosong. Seperti tak  ada penambahan stok baru.

”Saya yakin ini ada kaitannya,” kata Nurikmal. Ia mengaitkan antara Putri sebagai istri polisi dan pengusaha, impor mobil setengah ilegal, alias bodong, dan pembunuhannya. Saya ajak Nurikmal menambahkan data-data dan analisis baru di bagan kasus dan peta berita yang saya bentangkan di dinding ruangan saya.

Dari pekerja di pelabuhan tikus – kira-kira sebesar apa ya tikusnya, sampai pelabuhannya bisa disandari kapal tongkang? – kami dapat info sebagian  mobil itu dibawa ke Sumatera Selatan.

”Kalau tahu dari kemarin info ini, saya cari informasinya di Palembang  itu bongkarnya di pelabuhan mana,” kata Nurikmal.

Saya lagi-lagi teringat Pak Rinto. Saya meng-SMS beliau.  “Saya masih berobat di Singapura”, beliau membalas singkat.  Apakah parah sekali sakit beliau?  Saya membalas: “Oh, maaf, Pak. Saya kira sudah pulang. Lekas sembuh, Pak.”  Sementara itu berita perkembangan lain yang tentang kasus pembunuhan Putri didapatkan Ferdy. AKBP Pintor dibawa ke Jakarta. Di mabes ia diperiksa propam dan akan menjalani sidang pelanggaran etik.

Tiba-tiba SMS dari Pak Rinto kuterima, menginfokan hal yang sama:” just info, mungkin kamu sudah tahu, AKBP P diperiksa Propam Mabes.”  Ia juga memberi nomor ”orang mabes” yang bisa dihubungi, yang ia sebut bisa memberi info valid.   Saya segera menghubungi nomor tersebut lewat SMS.  Ya, baru selesai. Langsung ditetapkan sebagai tersangka.  Saya bertanya lagi: ”Dalam kasus pembunuhan istrinya? ” Balasannya: ”Ya. Oke. Cukup ya. ”   Meskipun saya percaya 100 persen pada Pak Rinto, dan percaya pada informasi ”orang mabes” yang dia beri kontaknya itu, rasanya tak cukup konfirmasi kalau hanya dari SMS dari orang yang tak bisa disebutkan namanya.  Padahal ini info penting, eksklusif kalau koran lain belum tahu. Saya putar otak, siapa yang harus saya hubungi? (*)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 25 September 2022: PGA LIV

Cahyo Nugroho

Saya belakang ini justru mengira olahraga golf memasuki masa senjanya, peminatnya menurun apalagi anak anak nikenial kelihatannya tidak tertarik. Ternyata oh ternyata. Industri olahraga memang adalah industri yang luar biasa besar dan sangat atraktif, lihat bagaimana NBA, Liga Champion, Tennis, Tinju, F1, MotoGP dll. Biasanya diperkuat dengan beberapa pemain atau club top yang bersaing ketat di level atas, sehingga membawa emosi dan penasaran setiap ada pertandingannya. Saya justru salut dengan adanya kasus Liga LIV dan PGA Tour, saya saat ini tidak melihat ada pemain Golf yang dapat mendominasi kejuaraan sehingga menurut saya tidak ada menariknya. Semoga Golf tetap menjadi hiburan yang menyehatkan dan memberikan inspirasi.

 

Condro Mowo

“…,hrrrr….bojleng bojleng iblis laknat podo gojekan… hrrr…”.. kira-kira demikian amarah kubu PGA terhadap LIGA LIV. Dua ‘raksasa’ bagi kaum “pidak pedarakan” seperti saya dan masyarakat umumnya: apa itu golf? Sejumlah ingatan saya tentang golf adalah kasus Antasari Ashar dengan iming2 Rani. Sampai sekarang pun tak jelas kebenarannya. Bagaimana tahu golf, injak lapangannya saja tak pernah. Golf itu ‘dunia lain’ yang mengawang, imajinasi, tak tersentuh bagi kebanyakan orang. Jadi, kalau ada pertentangan, pertarungan, ‘gelut’ antar para ‘raksasa’ itu apa faedahnya bagi orang awam? Mending lihat Ki Warseno Slank.. “.. dok dok dok..ndrok dok… ”

 

thamrindahlan

Mari berolahraga Ahad tak kerja / Golf bukan olahraga rakyat / Murah meriah ayo senam saja / Badan kuat kantongpun sehat /

 

herry isnurdono

Abah DI ‘harus’ belajar dan main golf. Sudah pensiun dari dunia jurnalistik. Walaupun belum 100 persen pensiun. Olah raga golf, permainan catur dan orang sedang berpacaran, itu hakekatnya sama. Tidak enak untuk ditonton. Yang asyik, ya yang melakukan permainan golf, main catur dan orang pacaran. Level abah DI, itu sudah bukan memikirkan materi, keluarga, kecuali istri. Bayar member golf, tidak jadi soal. Uang sudah berlebih. Malah dengan main golf, abah DI pasti produktif menulis info A1. Tapi ketakutan abah DI, utk main golf ternyata ijin istru yang susah. Kata info A1, caddy lapangan golf itu yang bikin ngeri. Takut kejadian Antasari mantan Ketua KPK dan Rani si caddy cantik. Siapa tahu, abah DI mau menulis tentang Rani si caddy. Apa masih hidup atau sembunyi terus………ayo abah DI turun kelapangan golf. Sayang tas golf dan stick golf pemberian alm.Ciputra. Kalau abah DI tetap tidak mau main golf, saya bersedia menerima hibah peralatan golf dan tas pemberian alm. Ciputra. Saya menunggu kabar dari abah DI. Nuwun…………

 

Wahyudi Kando

Dato’ DI Mampir Lihat Lihat Lapangan golf itu ibarat diajak ngopi, ngobrol sm artis muda cantiikknya 5 iii, kebayang pertualangan isi kepala kemana….waduhh woooww, waduhh woow seandainya, andai kata…..hihi Begitu Juga lapangan golf…setelah turun coba main 18holes….ketemu bungker, pukul kesana, bolanya kesini hahaha Sekali kali Dato DI Mesti coba….hiihii

 

Juve Zhang

MBS “dirayu” bos softbank M.Son saja sukarela investasi 46 milyard usd. Yg konon ngobrol nya cuma 46 menit.kata bos M.Son. jadi kalau kita naik gra* atau pake jasa got* kita sudah ikut partisipasi dalam jaringan bisnis mbs. Luar biasa. Siapa lagi yg kuat bakar duit sampai triliun triliun. Sumber duitnya cuma nyiduk minyak bumi .ongkos produksi di SA 10 dolar jual 100 dolar.cuan 90 dolar x 10 juta 900 juta dolar sehari. Sebulan 27 milyar usd. Setahun hitung sendiri. Kalau harga minyak 150 .bayangkan cuan berlimpah.

 

Pryadi Satriana

Pak Liang YangAn, Abah sendiri sudah bilang tulisannya jelek, coba perhatikan ungkapan2 ini: “saya yang kecewa”, “Kemarahan saya itu saya tuangkan”, “Biar saja jelek”, “Biar saja salah.” Hal2 kayak gini ndhak perlu interprerasi lagi: sudah jelas “sampah” dari “orang tua – yg kebetulan mantan menteri – yg kekanak-kanakan parah.” Semoga Abah sadar: sampah ndhak pantes disebarkan ke orang banyak. Semoga. Salam. Rahayu.

 

Alon Masz Eh

Lha pulang kerja jam 02.30 pagi, subuh bangun, pagi2 sudah di kantor sambil marah2, jelas ritmenya (yah kerja yah apa saja) grusa-grusu, ga pas sadhuk, lambat disikat… Pantas saja mirip main bola. Dan 02.30 sampe subuh itu pendek… Filosofi maen golf yang ritmenya pelan, sabar pukulan demi pukulan, konsentrasi, menikmati, masuk lubang…sangat tidak pas dengan waktu yang sempit uhuk… Kelamaan. Senam itu mirip maen sepak bola, gerakannya banyak, to the point, pemanasan bentar, goyang2 heboh, keluar… kringet, pendinginan, ngos2an sambil selonjoran. Sat set wat wet selesai. Ndak tahu yang hobi nylathu… Olahraga favoritnya apa? Kemungkinan yah ndak olahraga tapi jadi komentator yang merasa paling bisa, suka nyalahin pemain, suka nyalahin pelatih, tapi ga bisa apa2. Terkait waktu pendek atau waktu panjang juga ga penting, karena ga ada kawan main, eh lawan main…. Gelem nylathu ga gelem diclathu, seneng njiwit ga gelem dijiwit. Tulisan abah tetep bagus pagi ini, sangat bagus untuk mancing Robert Lai nulis berikutnya.

 

Ahmed Nurjubaedi

Menurut almarhum Umar Kayam, melalui tokohnya di Mangan Ora Mangan Kumpul–Mr Rigen, golf itu sebenarnya tidak lebih dari perpaduan antara wok-wok an dan benthik, permainan anak-anak jaman dahulu kala…. Bedanya, golf ini di buatkan fasilitas untuk memenuhi imajinasi orang berduit…. Mungkin mirip surga kecil di dunia…. Alam yang hijau, kolam dan sungai kecil, buah-buahan, kendaraan yang imut, juga bidadari-bidadari yg jumlahnya tergantung ~amal ibadah~… Eh jumlah uang yg dikeluarkan…. Di titik ini, sepertinya ajaran agama tentang surga benar-benar telah merasuk pada diri manusia….

 

Jimmy Marta

Bagi pemain golf tentu tahu apa yg seru dari golf. Yg sy tahu itu mukul pake stick. Masukkan bola kelubang. Jarak dikit naik golfcart. Tas stik didorongi. Panas dipayungi caddy. Ada yg lain, katanya disitu bisa untuk lobby dan diplomasi.

 

AnalisAsalAsalan

Kok saya baru tahu kejuaraan dunia golf hanya satu–PG Tour, ke mana saja saya selama ini? Hahahahaha. Teori marketing mengatakan, “Kalau tidak ada diferensiasi (pembeda), maka satu-satunya senjata untuk berperang adalah harga (baca: uang). Persaingan dibutuhkan supaya hidup lebih hidup. PGA Tour bisa mengemas pertandingannya dengan lebih syantik, misalnya semua juara mendapat uang plus umroh atau wisata religi, juga bagi juara yang ingin kuliah lagi bisa langsung lolos lewat jalur prestasi. Hahahahaha.

 

Sadewa Sadewa

Saya jadi inget Bos saya dulu. “Kalau kamu main golf sama klien, kamu harus mengalah, jangan sampai kamu yg menang, sehebat apapun kamu”. Mungkin Trump juga gitu, waktu main golf bareng MBS, dia pura-pura kalah, MBS merasa happy, lalu menuruti apapun keinginan Trump. Trump kalah di lapangan golf, tetapi menang banyak di lapangan lainnya.

 

yea aina

Kalau kabar itu bukan hoak. Cuma satu kesalahan Ji Ping, lupa test water-publikasikan Big Data, musra memintanya menjabat kembali kwkwkw

 

Jimmy Marta

Habis baca disway Robert Lai nelpon abah DI. Sbg warga singapura, sikit sikit ia bisa cakap melayu. RL : “Hallo bother, selesaikah you dance? DI : “…….” RL : Iam sorry bro. Your frustated. DI : “……, ….. “. RL : Btw, your article pagi ini boleh jugalah. I know siapa you punya fans. Those comentators. They same with you. Sama sama gk understand golf..”! DI + RL : Haha….

 

Ahmed Nurjubaedi

Saya kebetulan sudah baca bukunya Greg Norman, The Way of the shark, sekitar 8 tahun yg lalu, ketika secara tidak sengaja nemu buku itu di bazar diskon Gramedia Basra…. Saya beli karena murah… Buku itu menggambarkan bagaimana filosofi dan prinsip hidup orang Australia: disiplin dan sangat serius memperjuangkan impian, sampai rela berbuat di atas rata2– namun tetap sportif. Misalnya di sepak bola. Orang Australia akan berlatih keras, mengembangkan sport science untuk mendukung keberhasilan mereka. Saat bermain di lapangan pun, mereka akan ngosek sampai detik-detik akhir. Namun kalau akhirnya tetap kalah, mereka akan dengan gentle ngaku kalah, introspeksi dan memperbaiki diri, alih-alih mencari kambing hitam. Mereka juga akan menaruh hormat kepada tim lawan. Itulah spirit orang Australia menurut Greg Norman…. Itulah kenapa Mas Ulik sempat menjadikan Australia tempat berlatih para pemain pilhan DBL….

 

Yuli Triyono

Kuat-kuatan uang ada di bola, ada di golf. Dan saya kira juga ada di bidang hukum.

 

Kang Sabarikhlas

duh, bung Jimmy…jangan sindir comentators, nyang bikin artikel kan Abah, saya ndak diajak kok. btw. saya ini lagi latihan golf khusus hole in one biar pinter dapat hadiah sepeda..eh anu mobil Abah nyang gk dipakai.. anu..saya nunut salam buat Pak Pry dengan ucapan “mohon bersabar, ini ujian”…

 

 

dabaik kuy

LIV keluar uang byk utk kompetisi tp tdk kriminal… Kalau OH keluar uang byk utk kompetisi dgn tujuan kriminal utk bikin UU dan PP yg mendukung usaha mereka tp merugikan rakyat byk…. OH = oligarki hitam…

 

doni wj

Ouwoo.. uang! Ouwooo.. lagi-lagi uang! Uang bisa bikin orang, Senang tiada kepalang, Uang bikin mabuk kepayang.. Uang – Nicky Astria Trump lagi.. Trump lagii.. Tampaknya sebelum pengadilan Amerika mengambil sebagian otaknya untuk membuktikan bahwa Trump benar-benar memutuskan mana yang rahasia dan mana yang tidak, Trump sudah melakukannya terlebih dahulu. Sehingga otaknya kurang se ons. Dan memanglah benar, jangan pernah melawan orang kaya, orang gila, dan orang yang berkuasa.. Dan Trump punya ketiga-tiganya

 

Agus Suryono

KOMENTATOR DISWAY Kenalkan saya pak. Nama saya A. OH. IYA. MAKASIH. KALAU NAMA SATA B PAK. Bapak bekerja di mana..? OH. SAYA BUKAN PEKERJA TETAP. Wah. Profesionall ya..? BETUL. SAYA KOMENTATOR. Wah, ruar biasa. Komentator apa, di TV apa. OH. SAYA KOMENTATOR DISWAY PAK..

 

Budi Utomo

@KS. Partai Demokrat dan PKS ga korupsi? Wkwkwk. Itu humor terbaik. Wkwkwk. Katakan tidak pada(hal) korupsi. Itu frase netizen yang selalu bikin saya ngakak. Wkwkwk. PKS? Dulu netizen bikin plesetan yang bikin ngakak saya tapi kurang etis saya ungkapkan di sini. Wkwkwk. Ya mari kita tunggu kabar dari China. Kalau Mao berkuasa tambah lagi satu orang yang bisa bikin homo sapiens punah. Wkwkwk. Ya mungkin lebih baik kita semua punah. Kadang saya berpikir begitu. Capek melihat politik lokal dan global. Terlalu banyak tahu banyak hal malah bikin tak bahagia. Wkwkwk. Makanya saya suka humor kayak Gus Dur. Wkwkwk. Humor bikin kita bahagia walau sesaat. Wkwkwk.

 

Budi Utomo

Mao Xinyu 毛新宇?Dia itu di medos China jadi bahan ejekan. Menjadi jendral hanya karena cucu Mao Zedong saja. Banyak Jendral lain yang protes waktu itu. Selain karena jadi jendral termuda juga karena dianggap ga punya kemampuan selain keberanian alias kenekadan layaknya seorang preman. Bisa saja dia nekad menyandera Xi Jinping tapi jendral lain yang lebih senior bakal menghabisinya. Mao Xinyu tidak disukai publik karena perilaku urakan. Mirip-mirip Kim Jong Un lebih kurangnya. Hubungan Xi dengan Mao memang tak baik. Sudah dari dulu. Sudah jadi rahasia umum. Xi diisolasi setelah baru tiba dari luar negeri karena protokol covid-19. Dah gitu aja dulu.

 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id