Kumpulan Pengabdi


Oleh: Dahlan Iskan

SISTEM Pemilu di Muhammadiyah semakin teruji –baiknya. Kemarin sore Muktamar Muhammadiyah ke 48 itu pun bisa berakhir seperti biasanya: sangat damai. Tidak ada kubu-kubuan. Tidak ada tim sukses. Tidak ada kampanye terselubung. Dan yang jelas: tidak ada serangan fajar. Politik uang sama sekali tak tercium.

Yang terpilih menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pun Anda sudah tahu: Prof Dr Haedar Nashir. Sosok lama yang terpilih kembali. Untuk periode kedua.

Saya merenungkannya: mungkinkah sistem Pemilu Muhammadiyah ini diadopsi untuk pilpres tingkat negara Indonesia. Kita tahu pemilu dan pilpres kita itu terlalu berdarah-darah. Terlalu mahal. Terlalu memecah belah masyarakat. Kita memang bangga pada sistem demokrasi Amerika tapi kita tidak siap menirunya apa adanya.

Saya dikirimi foto dari Solo, tempat Muktamar Muhammadiyah itu berlangsung. Sidang plenonya dilakukan di auditorium Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sahabat Disway itu menyebut inilah auditorium terbesar, termegah, dan terbaik di seluruh Jawa Tengah.

Di situlah peserta muktamar terpusat. Di luarnya puluhan ribu warga Muhammadiyah menyaksikannnya: lewat pikiran masing-masing. Mereka datang dari berbagai wilayah dengan status khusus: penggembira. Mereka bukan utusan. Mereka bukan peserta. Mereka bukan pendukung salah satu calon ketua. Mereka tidak punya hak suara. Mereka tidak punya hak bicara. Mereka hanya punya hak untuk bergembira.

Dan mereka gembira dengan budaya bersih dan damai di Muktamar Muhammadiyah. Termasuk tahun ini bersih secara fisik: tidak ada sampah di tengah puluhan ribu masa. Mereka sudah tahu itu. Sebelum berangkat ke Solo mereka sudah harus membawa misi inilah green Muktamar.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memang salah satu dari 4 universitas terbesar milik Muhammadiyah. Tiga lainnya: UMM (Malang), UMY (Yogyakarta), dan UMSU (Medan). Di luar itu Muhammadiyah masih punya lebih 180 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Bahkan sekarang ini Muhammadiyah sudah punya 6 SMA di wilayah yang mayoritas masyarakatnya Kristen atau Katolik. Di Flores. Di Timor. Di Papua. Di pedalaman Kalbar. Kebanyakan siswa sekolah Muhammadiyah di situ beragama Kristen/Katolik. Mereka mendapatkan pelajaran agama Kristen/Katolik. Tidak mendapatkan pelajaran agama Islam. Mereka mendapat pelajaran tambahan ke-Muhammadiyah-an.

Sekjen Muhammadiyah selama ini Prof Dr Abdul Mu’ti memang dikenal sebagai pendiri Krismuha –Kristen Muhammadiyah. Ia memang orang Kudus. Kelahiran Kudus, Jateng. Doktornya dari Adelaide, Australia. Ia mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Saya menghubungi beliau kemarin siang. “Masih rapat,” katanya. Saya menghubungi Prof Dr Anwar Abbas. “Lebih tepat wawancara Prof Mu’ti,” katanya.

Maka saya wawancara dengan penggembira. Banyak di antara mereka yang saya kenal.

Para penggembira itu tidak perlu kemrungsung menanti siapa yang terpilih jadi ketua umum yang baru. Proses pemilihan pimpinan pusat di Muhammadiyah sangat rasional.

Setahun yang lalu pun sudah dibentuk panitia pemilihan. Di tingkat pusat. Diketuai Dahlan Rais. Panlih itu mengirim surat ke pengurus wilayah (tingkat provinsi) seluruh Indonesia. Masing-masing wilayah diminta mengusulkan 13 nama calon pimpinan pusat.

Yang dicalonkan boleh dari mana saja asal memenuhi syarat seperti yang diatur oleh anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Panlih lantas mentabulasi nama-nama yang diusulkan itu. Tahun ini terkumpul 200 lebih nama. Pekerjaan Panlih berikutnya: meneliti 200 nama itu. Apakah ada yang tidak memenuhi syarat administrasi seperti disebut dalam AD/ART.

Ternyata banyak juga wilayah yang mengusulkan tanpa melihat persyaratan di AD/ART. Setelah diteliti, Panlih mendapatkan 90 nama calon.

Mereka itu dikirimi surat. Harus menyatakan bersedia atau tidak. Harus mengisi daftar riwayat hidup. Termasuk hidupnya di Muhammadiyah. Pernah jadi pengurus apa saja.

Jumlah 90-an inilah yang kemudian dibawa ke sidang Tanwir pengurus pusat Muhammadiyah. Sidang Tanwir adalah sidang yang tingkatnya di bawah Muktamar. Sidang Tanwir ini berlangsung Jumat lalu, dua hari sebelum Muktamar.

Majelis Tanwir inilah mengerucutkan 90 nama itu menjadi 39 calon. Caranya sangat demokratis. Masing-masing anggota majelis memilih nama. Terpilihlah 39 nama dengan suara terbanyak.

Dengan demikian, sejak sidang majelis Tanwir itu, aktivis Muhammadiyah sudah tahu siapa saja 39 nama calon pimpinan pusat Muhammadiyah mendatang.

Nama 39 orang itulah yang kemarin dibawa ke Muktamar Solo. Peserta Muktamar tidak memilih ketua umum, tapi memilih 13 nama yang akan menjadi pengurus pusat Muhammadiyah. Terserah pada 13 orang itu: siapa yang salah satunya akan menjadi ketua umum. Yang 12 orang mendampingi sebagai pengurus pusat lainnya.

Kenapa 13 nama? Bukan 17 atau 9 atau 5 atau 45?

Saya pernah membaca keterangan Prof Dr Din Syamsuddin, orang Sumbawa yang pernah jadi ketua umum pengurus pusat Muhammadiyah. Katanya: tidak ada alasan khusus. Menetapkan jumlah itu bisa menimbulkan perdebatan panjang. Apalagi kalau harus dikait-kaitkan dengan kekeramatan sebuah angka. Justru misi Muhammadiyah harus melakukan dekramatisasi angka. Maka dipilihlah angka 13. Sekalian jadi lambang dekramatisasi angka 13 yang dianggap sebagai angka sial.

Dan ternyata Muhammadiyah tidak pernah sial. Sudah sekian kali muktamar dengan angka itu tetap saja lancar jaya.

Kenyataannya 13 orang itu sebenarnya kurang. Pengurus pusat Muhammadiyah perlu lebih dari 20 orang. Ya ditambah saja. Yang 13 orang itu diberi wewenang untuk menambahnya.

Di Pemilu kemarin malam itu lancarnya bertambah-tambah: pakai komputer. Ini untuk kali pertama pemilihannya pakai e-voting. Memang belum sepenuhnya elektronik. Belum pakai HP masing-masing. Peserta Muktamar masih harus maju ke suatu bilik suara. Di dalam bilik itu ada komputer. Peserta tinggal klik untuk pilih siapa. Beberapa bilik disediakan di bagian depan ruang muktamar. Cepat sekali. Langsung tertabulasi. Terpilihlah 13 nama.

Acara berikutnya: 13 nama itu bersidang. Singkat sekali. Penyebabnya: salah satu dari 13 nama tersebut adalah ketua umum incumbent: Prof Dr Haedar Nashir. Maka aklamasi terjadi. Beliau terpilih kembali. Selesai.

Dengan sistem pemilu seperti itu, Muhammadiyah bisa menghindari banyak virus yang merusak organisasi. Termasuk tidak mungkin terjadi, misalnya, seseorang tokoh tiba-tiba jadi pimpinan, hanya bermodalkan popularitas atau kekuasaan.

Pernah terjadi seorang tokoh Muhammadiyah dicoret dari daftar calon. Padahal ia seorang menteri. Ia harus menerima itu. “Padahal saya ini kurang Muhammadiyah apa?” keluh tokoh tersebut. Ternyata ia belum pernah menjadi ketua wilayah Muhammadiyah. Atau ketua majelis otonom di kepengurusan pusat. Ia adalah: Menteri Agama Tarmizi Taher.

Tentu iklim di Muhammadiyah sendiri yang juga memungkinkan sistem tersebut bisa dilaksanakan. Tertib administrasi dan tertib organisasi di Muhammadiyah terkenal disiplinnya. Pun dalam hal keuangan. Tidak ada keuntungan finansial apa pun untuk menjabat ketua umum Muhammadiyah. Juga tidak mendapat fasilitas. Termasuk tidak bisa ”menjual” Muhammadiyah dalam pemilu atau pilpres. Maka Muhammadiyah lebih sebagai kumpulan para pengabdi. Tidak terpilih pun apa susahnya. Mengabdi bisa di mana saja.

Akhirnya siapa yang jadi pimpinan Muhammadiyah sudah terseleksi secara ketat. Berjenjang. Transparan.

Hampir tidak mungkin terjadi kasus ”salah pilih”. (*)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 20 November 2022: Cadaver Plus

Mohamad Hadi Pranoto

seinget saya, ada 1 kejadian di Daerah Istimewa Yogyakarta terkait pembuatan logo/branding JOGJA yg ternyata malah terbaca TOGUA karena bentuk hurufnya yg aneh saat saya baca berita, lho ko’ ada peran beliau disana logo itu jd bulan²an warga, kemudian warga sumbang saran dan jadilah logo JOGJA warna merah yg sekarang saat itu saya seperti melihat perusahaan private besar dilawan masyarakat

 

Mbah Mars

Dari arena Muktamar Muhammadiyah 48 didapatkan info 13 orang calon Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2022/2227: 1. Prof. Dr. Haidar Nashir (2203) 2. Prof. Dr. Abdul Mu’ti (2159) 3. Dr. Anwar Abbas (1820) 4. Dr. M. Busyro Muqoddas (1778) 5. Prof. Dr. Hilman Latief (1675) 6. Prof. Dr. Muhadjir Effendy (1598) 7. Prof. Dr. Syamsul Anwar (1494) 8. Dr. Agung Danarto (1489) 9. Dr. M. Saad Ibrahim (1333) 10. Prof Dr. Syafiq Mughni (1152) 11. Prof Dr. Dadang Kahmad (1119) 12. Drs. Ahmad Dahlan Rais (1080) 13. Prof. Dr. Irwan Akib (1001) Tiga belas orang itu akan memilih ketua umum. Prediksi saya Pak Haidar Nasir masih akan menjabat ketua umum. Selamat memajukan Indonesia. Mencerahkan semesta.

 

Mirza Mirwan

“Maaf, Pak, mau tanya: dalam Islam apakah boleh jenasah seseorang dijadikan kadaver?” Pertanyaan itu keluar dari mulut teman putri sulung saya semasa SMA yang kuliah di kedokteran, ketika berkunjung dalam rangka lebaran. Ia anak yang, menurut saya, sangat religius. Juga santun. Saya terkejut, tentu saja, ditanya seperti itu. Saya benar-benar tidak tahu boleh tidaknya soal jenasah dijadikan kadaver. Tetapi dalam sekejap saya teringat siapa pelopor kedokteran bedah modern. “Mase tahu, nggak, siapa pelopor kedokteran bedah modern?” saya balik bertanya. Ia menggeleng, “Tidak tahu, Pak.” “Beliau ini seorang muslim, Mas. Namanya Abu al-Qasim al-Zahrawi, yang juga dokter di istana Khalifah al-Hakam II dari Dinasti Umayyah, abad 10. Kalau Islam tidak membolehkan jenasah dijadikan kadaver, pastilah Khalifah al-Hakam II melarangnya

 

Mirza Mirwan

kepencet. Sebab Khalifah kan dikelilingi ulama. Kenyataannya tidak dilarang. Bahkan buku karyanya tentang ilmu bedah itu dua abad kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Lalu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah bersabda bahwa ada tiga amal keturunan Adam yang tidah putus setelah meninggal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mau mendoakan. Nah, bukankah menjadi kadaver itu termasuk ilmu yang memberi manfaat? Tapi itu menurut penafsiran bapak, Nak.” Teman putri saya mengangguk-angguk. Dan anak itu sekarang menjadi residen untuk spesialis bedah syaraf. Semoga Allah memudahkan prosesnya. Tabik.

 

Sama Konomaharu

Marketing cuma pintu masuk ke management. Terutama bagian kualitas produk. Sampai ke dampak skala besar. Mau segila apapun cara promosi yang di lakukan kalau dari sisi management biasa saja, hasilnya akan sama saja. Heboh di awal, orang pada takut. Akhirnya serakah. Sampai gila. Ribut harta benda. Dari ke dua titik tadi maka muncul banyak hal. Produknya laku. Tapi meninggalkan banyak luka. Asal exit. Kena ROI (rileks of investment). Korbannya pelanggan. Pada jadi generasi presto. Kaum rebahan, dan generasi top up skin. Apalagi jika sampai menggunakan teknik berjoget ria sementara Anda tau KTP bagian religion orang Indonesia umumnya seperti apa. Bukan nama brand naik, brand yang di bawa justru memberi sedikit kesan negatif. Di anggap ancaman. Besar, atau kecil tetap terkesan negatif. Emas di tanah Papua yang tersembunyi saja tetap laku. Tanpa perlu di iklankan lewat cashback, atau jogetan. Cuma diskusi ringan. Sambil ngopi. Sama nilep rokok Sampoerna.

 

Lukman bin Saleh

Seorang dokter biasanya mendorong anaknya menjadi dokter. Seorang polisi juga biasanya begitu. Pun seorang jendral juga sama. Jendral Dudung smpai ngambek krn anaknya sepat tdk d terima di Akmil. Tp ada yg unik pada diri Abah. Mendorong anaknya agar tdk spt dirinya. Misalnya Bang Azrul, diupayakan tdk menjadi wartawan. Padahal Abah adalah suhunya wartawan. Dan sekarang Abah bercerita. Agar anaknya tdk mengambil jurusan menejemen. Dan kita sudah tau sendiri bagaimana kemampuan menejemen Abah. Dan pernah sy mendapat cerita dr salah seorang anak angkat Abah dr Bima. Yg disekolahkannya dulu. Mendorongnya untuk mengambil jurusan akutansi. Krn Abah merasa lemah dalam hal itu…

 

thamrindahlan

Hermawan Kertajaya Bapak Marketing Indonesia. #mazing 1. Berani Keluar dari zona aman Sampoerna mandiri membentuk Mark Plus _/ 2. Sukses mandiri karena mematuhi filosofi china tidak mau terus menerus menjadi pegawai _/ 3. Pakar marketing kelas dunia memasarkan diri mark plus dan menularkan ilmu pemasaran ke siapa saja._/ 4. Penulis handal mengabadikan ilmu berupa buku marketing paliing top./ 5. Cadaver. Mewakafkan jasad untuk ilmu kedokteran _/ 6. Dan lain lain _/ Berita penting Indonesia Raya_/ Kekuatan kokoh meembangun bangsa_/ Bapak Marketing Hermawan Kertajaya _/ Sosok Tokoh bermanfaaf luarbiasa_/ Bandar Lampung Ahad 201122

 

Mirza Mirwan

Perolehan kursi Dewan Rakyat di PRU15 Malaysia tak mengejutkan saya. Tak ada partai atau koalisi partai yang memenangi setengah + 1 dari 222 kursi Dewan Rakyat — jadinya hanya 220 kursi, karena ada 2 daerah pemilihan yang ditunda pengundiannya. Tetapi ada yang mengejutkan saya. Mahathir Muhammad (dapil Langkawi) dan Mukhriz Mahathir (dapil Jerlun) gagal mendapatkan kursi. Tengku Razaleigh Hamzah (Ku Li) juga keok di dapil Gua Musang. Putri Anwar Ibrahim, Nurul Izzah, juga gagal memenangi kursi dari Pematang Pauh. Ada lagi kejutannya. Para “pengkhianat” Anwar Ibrahim juga bertumbangan, hanya satu yang berhasil meraih kursi. Mereka yang gagal adalah Azmin Ali (dapil Gombak), Zuraida Kamaruddin (dapil Ampang), Baru Bian (Selangau), Kamaruddin Jaffar (Bandar Tun Razak), Mansor Othman (Nibong Tebal), dan Rashid Hasnon (Batu Pahat). Mungkin masih ada yang lainnya. Sebelum subuh tadi saya baca Anwar bilang bahwa PH yang memenangi 82 kursi sudah punya kawan untuk membentuk pemerintahan, tapi baru akan “dijlentrehkan” siapa kawannya itu setelah menyerahkannya kepada Agong — Yang di-Pertuan Agung. Kayaknya kursi dari GPS (22) dan Independen (7). Yang jelas bukan Barisan Nasional (30kursi) atau Perikatan Nasional (73kursi). Petinggi BN dan PN sejak jauh hari tak mau membentuk pemerintahan bersama PH.

 

mz arifinuz

LOKASI! LOKASI! LOKASI! Demikian pernah kalau tak salah Pak Ci (Cipitra) berkata tentang resep sukses bisnis nya. Milih lokasi yg paling straregis, paling ramai. Tentu sebagai orang jagoan marketing/marketer. Tuhan juga sebagai maha Marketer. Di pasar ada penjual, ada pembeli. Tuhan memposisikan Diri Nya sebagai Pembeli. Pembeli adalah raja. Pembeli lebih tinggi posisi nya? Penjual unggul juga harus jadi pembeli yg unggul. Membeli dg harga yg lebih rendah, menjual dg harga yg jauh lebih tinggi. Tuhan membeli raga & jiwa orang2 mu’min, yg bertaqwa dg alat tukar: SORGA. Perdagangan yg menguntungkan bagi orang2 yg bertaqwa. Semua kita adalah pedagang, pebisnis. Pimpinan menjual leadership nya. Ulama menjual ilmu nya, beroleh pahala/uang. Jenderal menjual ilmu militer nya. Dll. Semua saling menjual & membeli. Saling menguntungkan, win2 solution.

 

Liam Then

Satu lagi Bang Mahmud, gregetan soalnya. Begini, Bang Mahmud pasti sudah tahu, orang barat dulu, tanpa gengsi mengadopsi ilmu Aljabar dari jazirah Arab, tak cukup ilmunya, merasa nomer ciptaan mereka ; I,II,III,IV,dst kualitasnya kurang. Boyong dan pakai sekalian nomer-nomernya ciptaan asal Jazirah Arab, yang 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9 itu. Hasilnya kita semua sudah tahu, Aljabar, bahkan namanya sampai sekarang masih di pakai oleh orang barat. Algebra. Turunan ilmunya menjadi induk penemuan teknologi digital dan teknologi lainnya yang memberikan manfaat tak putus-putus kepada semua umat manusia. Tanpa 0,1,2,3 dari Aljabar. Tidak ada teknologi digital di jaman sekarang, bisa jadi pula perkembangan teknologi apapun tidak akan mencapai tarafnya dari apa yang umat manusia capai sekarang. Tapi, pertanyaannya, kenapa orang barat menjadi pemimpin dan penguasa nya dalam bidang teknologi? Karena mereka tak sungkan belajar. Kepada siapa saja.

 

Warung Faiz

Saya tersenyum ketika abah menyebutkan Surabaya kota terbesar ke 10 secara ekonomi,boleh dikatakan kalah sama kawasan jabodetabek… Bagaimn dgn peringkat kota2 besar seperti Medan,Palembang,Makasar dan kota2 besar diluar jawa.. Nampak sekali ekonomi kita terlalu berpusat ke jawa… Dan itu menciptakan masalah… Salah satunya mahalnya ongkos logistik kita… Kebetulan saya buka agen kecil sebuah perusahaan logistik nasional.. Bayangkan,angkutan expedisi dr jawa ke tempat saya Palembang bisa kapasitas maximal.. Sementara sebaliknya bersyukur kalo terisi 1/4 dr kapasitas… Tak heran kalo biaya logistik kita mencapai 20% dr ongkos produksi.. Bandingkan dgn negara tetangga di kawasan asean… Tentu saja kita tak bisa bandingkan dgn Singapura yg biaya logistik paling rendah di Asean.. Singapura itu negara yg tak terlalu besar..tinggal dilempar aja barang sdh sampai… Semoga kedepannya banyak tumbuh kawasan industri di luar pulau jawa..

 

Liam Then

Iyah KangSabar. Yang paling kasihan itu orang yang mudah kasihan.

 

Mbah Mars

“Saya sudah melakukan survey skala international. Kesimpulannya: pengangguran di Inggris dan Amerika lebih tinggi dibanding pengangguran di Indonesia. Saya dan anda semua sebagai bangsa Indonesia harus bangga. Bangga sekali. Selisih tingginya sampai mencapai 40 cm. Bahkan bisa lebih. Dan Pak Jokowipun terpingkal-pingkal mendengar ocehan Cak Lontong”

 

Aju Y

Tulisan diatas mengingatkan saya kepada kakek saya.. Ketika itu.. kakek saya mungkin bisa di bilang pahlawan saat itu karena ketika para penumpang akan menaiki kapal Titanic, kakek saya sudah mengingatkan bahwa kapal tersebut akan tenggelam beliau berusaha menyakinkan ke semua orang, namun tidak digubris seorangpun hingga akhirnya kakek saya di keluarkan dari ruang bioskop..

 

mzarifin umarzain

kakek yg peduli. setelah dikeluar dari bioskop, ketemu cewek, lantas pacaran, nikah jadi isteri nya, lahirkan anak, lahirkan cucu, yg nulis dikomentari ini.

 

Leong putu

Ke Jogja naik kereta Ke Solo naik Delman / Entah pada kemana ya mereka ?/ Mungkinkah masih kelonan / … Macing²

Jimmy Marta

Ke Solo naik delman/ Ke Sanglah pake kereta api/ Sudah siang masih kelonan/ Emanglah mereka sangat sayang istri.

 

Jimmy Marta

Pohon kelor di tepi kali/ Rasanya asin jika berbuah/ Komentator lagi lah sepi/ Apa login jadi masalah?

 

Macca Madinah

Karena rujukan terkait cadaver hanya dari serial2 seperti csi atau boston legal, ada satu episode saya lupa tepatnya di serial yg mana. Ada anak yg mencoba membatalkan wasiat ayahnya itu, sampai dia mencuri jasad ayahnya. Alasannya, jasad tersebut digunakan sebagai alat peraga. Anaknya tidak tega, sehingga awalnya dia meminta baik2, karena tidak diberikan akhirnya dicuri. Di serial yg lain, cavader digunakan di seperti di suatu ladang yg isinya beragam jenazah. Di sana para murid bisa mempelajari bagaimana suatu jenazah terdekomposisi. Jadi, memang, sebelum berketetapan hati mendonorkan jasad, perlu memastikan juga kesepakatan keluarga, dan bagaimana nanti jasad tersebut akan diperlakukan. Seperti jadi alat peraga itu, memang contohnya ekstrim, tapi mengambil salah satu organ kemudian diawetkan lalu ditaruh untuk peraga, sebetulnya juga sama. Itu yg perlu dipikirkan baik2 sebelum memutuskan.

 

Mahmud Al Mustasyar

Koq tumben2 nya Abah tidak pakai atribut disway, sewaktu mendampingi HK melakukan kunjungan ke Kapasari gang V. Apa sungkan sama suhu marketing, kalau ikut nebeng promosi ? Atau ….masyarakat Kapasari gang V; bukan target market disway ?

 

Kalender Indonesia Lengkap

Masih ingat pas hari terakhir opspek dulu di medio 95, kami dimasukkan ke lab anatomi untuk bergantian mencium kadaver. Sampai saat ini masih teringat sensasi kumis kadaver menyentuh pipi. Teman sebelah saya lebih luar biasa. Entah karena takut sama senior atau apa, dia mencium kadaver yang berlumuran formalin itu sambil bersuara, cup cup cup.

 

AnalisAsalAsalan

Marketing bukan penjualan. Demikian yang saya pelajari dari buku Pak Hermawan. Misal ada seorang direktur berkata, “Jika saya jasa konsultan Pak Hermawan, berapa kali lipat penjualan pabrik saya?” Ini salah paham. Ini sedikit tentang marketing. 1. Brand Ada pertanyaan, “Sebutkan merek mobil bagus!” Dijawab, misalnya: Avanza, Pajero, BMW, dst. Lho, kok BMW nomor tiga? Ini tugas marketing, agar ingatan tentang brand BMW naik. 2. Segmentasi Kalau brand BMW bagus, apakah BMW harus jadi mobil sejuta umat? Marketing menjawab, “Tidak. Segmen tertentu saja, misalnya manajer ke atas.” Setelah itu divisi penjualan melakukan serangan ke segmen yang dituju. Itu contoh sederhana perbedaan antara pemasaran (marketing) dan penjualan (selling). Dua bidang berbeda yang saling melengkapi.

 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id