Lesti “Nestapa” Kejora dan Amarah Tak Berujung

Lesti dan Rizki Bilar


Catatan:

Masayu Indriaty Susanto

PENYANYI cantik Lesti Kejora sudah paham kalau sang suami, Rizky Billar, adalah seorang pria bertipe “sumbu pendek” sejak sebelum menikah. Sang suami bahkan juga sadar diri dan mengakui itu.

“Saya ini tipenya sumbu pendek. Saya mudah marah dan meledak-ledak. Karena itu saya butuh tipe perempuan yang lembut dan tenang, seperti Lesti,” ujar Rizky Billar, seorang pemain sinetron dan presenter ganteng.

Tiga hari lalu, Lesti terbaring di RS Bunda Menteng Jakarta Pusat dengan sejumlah lebam dan cedera di tubuh mungilnya. Dalam pertengkaran terakhir dengan suaminya, dia dicekik dan dibanting ke lantai. Sampai dua kali. Tulang lehernya bahkan sampai bergeser.

Rasanya tak terbayangkan, penyanyi bersuara merdu itu sampai menjerit kesakitan. Perih batinnya lebih parah lagi.

Karakter bersumbu pendek adalah istilah yang sering disematkan pada orang-orang yang mudah tersulut emosinya. Dan jika marah, sering mengamuk dan melakukan hal yang ekstrim.

Membanting benda-benda, bahkan melakukan kekerasan dan menyakiti orang lain, termasuk dirinya sendiri. Sering juga disebut dengan temperamental.

Pemicunya bisa macam-macam. Bisa jadi hal-hal sepele. Semua orang bisa marah tentunya, namun penderita IED akan menunjukkan kemarahan yang ekstrim pada pemicu-pemicu yang mungkin bagi orang lain akan marah biasa.

Dalam kasus Lesti, Rizky Billar disebut mengamuk dan menganiaya istrinya karena kepergok memiliki affair dengan wanita lain. Dan Lesti minta dipulangkan ke rumah orang tuanya.

Temperamen kasar ini biasanya dianggap karakter “bawaan orok”. Tak bisa berubah atau diubah lagi. Udah dari sononya begitu.

Padahal, dalam psikologi, karakter pemarah ini diidentifikasi sebagai gangguan kesehatan mental Intermittent Explosive Disorder (IED).

Luka Masa Lalu

Seperti dilansir Cleveland Clinic, IED adalah gangguan mental yang kronis. Sudah bisa dideteksi sejak dini, bahkan dari masa kanak-kanak. Dan biasanya akan berkurang seiring usia.

Gangguan kesehatan mental ini bisa diturunkan secara genetik. Namun sebagian besarnya dipicu dari luka di masa lalu.

Seperti sering mendapat perlakuan kasar dari lingkungannya pada masa kecil. Baik secara verbal misalnya label-label negatif, maupun fisik seperti pukulan, tamparan, tendangan dan sebagainya.

Berbagai pemicu itu akan membentuk gangguan IED yang biasanya akan terasa jadi masalah saat penderita berusia dewasa muda.

Sulit mengontrol emosi saat marah, bahkan juga bisa berperilaku abusive (kejam). Malangnya lagi, yang menjadi korban biasanya orang-orang terdekatnya.

Ini yang menyebabkan penderita IED sulit menjalin hubungan yang stabil dan harmonis. Bahkan seringkali berujung pada tindakan pidana.

Dijelaskan, ledakan emosi ini biasanya tidak berlangsung lama. Tidak lebih dari 30 menit. Setelah mengamuk, pengidap IED akan merasa lega. Namun kelelahan.

Yang berbahaya justru adalah korban yang menjadi pelampiasan kemarahan itu.

Kabar baiknya, IED memang tidak bisa disembuhkan. Namun bisa dikendalikan.

Ada beberapa terapi untuk mengatasi IED termasuk terapi dengan obat.

Biasanya, psikolog akan melakukan psikoterapi, melatih penderita untuk lebih mampu mengendalikan emosi dan perasaan negatif.

Dengan beberapa kali sesi terapi, penderita biasanya akan memiliki kemampuan untuk mengontrol diri, terutama emosinya. Dan memiliki ketahanan mental yang lebih bagus dalam merespon kondisi-kondisi tidak ideal.

Jika hal ini kurang berhasil, atau ledakan emosi sulit terkendali dan membahayakan, maka psikiater bisa melakukan terapi dengan obat-obatan.

Ada beberapa jenis obat-obatan yang bisa diberikan untuk menjaga kestabilan suasana hati, meredam perilaku abusive dan lainnya.

Di Amerika, para 2019 penderita IED mencapai 7,3 persen dari populasi orang dewasa. Angka ini diyakini meningkat pasca pandemi Covid 19.

Tingginya angka penderita justru menjadi ancaman bertambahnya jumlah korban kekerasan yang sebagian besarnya adalah perempuan.

Padahal, penderita IED pasti sudah menunjukkan pola perilaku sebelumnya. Seperti dialami Lesti Kejora sendiri, yang mengaku sebelumnya memang mengetahui jika suaminya cenderung pemarah dan beberapa kali bersikap kasar saat marah. Sejak dulu. Namun perilaku kasar suaminya makin parah setelah menikah.

Artis kesayangan para “emak emak Indonesia” ini bahkan mengaku pernah dilempar dengan bola biliar. Namun meleset.

Namun Lesti, seperti juga banyak sekali perempuan, tidak merasakan itu sebagai ancaman. Dan tetap saja melangsungkan pernikahan dengan pujaan hatinya.

Sikap pemarah sang suami dianggap hanya “sebagian kecil’ dari wataknya dan akan selalu dimaklumi.

Apalagi di negara-negara yang menganut sistem patrilineal, sistem kekerabatan di mana laki-laki dianggap lebih “berkuasa” dan posisinya lebih tinggi, para istri dituntut untuk selalu berusaha menerima sang suami apa adanya.

Sikap permisif para perempuan seperti inilah yang menjadi salah satu pemicu tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di negeri ini.

Pasangan pesohor ini perjalanan kasihnya memang penuh drama keromantisan. Sehingga banyak penggemar yang baper melihatnya.

Siapa sangka, keromantisan itu ternyata diisi dengan perjuangan seorang Lesti Kejora yang terus berjuang bertahan pada sikap emosional dan agresif dari suaminya sendiri.

Saat Lesti akhirnya mengambil sikap tegas saat dianiaya suaminya yang ganteng itu, dengan melapor ke polisi. Simpati ramai mengalir padanya.

Lesti sudah benar. Kekerasan bukan suatu hal yang pantas untuk dimaklumi, apalagi dalam rumah tangga di mana ada seorang bocah mungil usia 8 bulan yang sedang tumbuh lucu-lucunya.

Semangat Lesti! (*)