Manfaatkan Akar Bakau dan Rempah Untuk Pewarna Batik

Belitung Timur manfaatkan pameran di acara Rakernas JKPI ke-IX untuk promosikan batik khasnya.
Belitung Timur manfaatkan pameran di acara Rakernas JKPI ke-IX untuk promosikan batik khasnya.

Palembang, Palpos.id – Ada sebanyak 73 stand yang ikut meramaikan rangkaian acara Rakernas JKPI IX di Kota Palembang, stand tersebut diisi oleh berbagai macam UMKM menarik dari masing-masing daerah di Indonesia.

Salah satunya batik khas Belitung Timur, dalam karnaval budaya tersebut sedikitnya mereka membawa lima batik dengan beragam motif yang menarik.

“Kalau di sini ada lima kain batik, batik mangrove, batik kater, batik telingsing, batik desimpor, dan terakhir batik remuding,” kata Riris salah seorang anggota Dekranasda Belitung Timur, Kamis (3/11).

Riris menjelaskan, dalam pembuatan batik tersebut ada dua jenis bahan yang digunakan yakni pewarna alami seperti akar mangrove dan pewarna tekstil.

“Ini kita ada yang terbuat dari bahan alami seperti akar mangrove atau akar bakau, karena kan banyak hutan mangrove jadi memanfaatkan bahan alami yang ada.

Bahan sintesis seperti pewarna tekstil juga pakai, tapi kalau di sini agak susah suplainya makanya lebih ke alami seperti akar bakau itu tadi,” jelasnya.
Lebih lanjut kata Riris, untuk motif di setiap kain pun rata-rata menggunakan bahan alami juga.

“Untuk batiknya ini juga banyak motif, salah satunya bentuk perahu kater yang diukir langsung menggunakan tangan. Lalu juga ada bentuk sahang, nah sahang ini juga banyak di Belitung Timur,” lanjutnya.

Riris menerangkan, ada juga motif yang yang di bentuk menggunakan daun simpor.

“Terus ada daun simpor, itu untuk mebuat motif juga seperti kan batik yang kami bawa dan di pajang itu. Pokoknya kain batik khas kami identik dengan alam dan rempah-rempah yang ada di Belitung Timur,” terangnya.

Selain itu, Riris mengungkapkan lama pembuatan kan batik tersebut kurang lebih sehari untuk satu kain.

“Nah kalau waktu pembuatannya kira-kira seminggu 7 kain, satu hari bisa satu kain tergantung pewarnaan. Ini kan ada pewarna sintetis, ada yang pewarna secara alami,” ungkapnya.

Kisaran satu kain batik di bandrol dengan harga Rp. 200 ribu hingga Rp. 500 ribu.

“Harga kisaran 200-500 ribu tergantung susah motifnya, karena ada yang cara cap, ada yang cara tulis. Selain batik, Belitung Timur juga punya rajutan, kopi dan makanan-makanan juga,” tambahnya. Dikatakan Riris, jika kain batik khas Belitung Timur ini biasanya dibuat untuk baju. (Tia)