Masih Butuh Digratiskan

Fery Kurniawan


Ir. Ferry Kurniawan – Pengamat Kebijakan Publik

TERKAIT putusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) soal layanan feeder yang pertanggal 31 Oktober 2022, tak digratiskan lagi alias dipungut biaya (tarif ongkos) dengan besaran mencapai Rp 4000 perorang mendapat reaksi dari berbagai pihak.

Salah satunya dari Pengamat Kebijakan Publik, Ir. Ferry Kurniawan. Menurutnya layanan feeder memang seyogiyahnya gratis seperti transjakarta sebagai upaya atau membantu masyarakat agar mudah mobilisasi termasuk mencapai lokasi yang jauh dari halte.

“Kalau dipungut biaya maka feeder harus punya trayek angkutan. Artinya sistem trayeknya harus diatur sedemikian rupa yang sifatnya refrensentatif. Selain itu juga bayar pajak trayek angkutan,” ujar Ferry.

Dikatakan Ferry, layanan feeder dengan menerapkan tarif ongkos dinilai merupakan tindakan perbuatan melawan hukum.

“Ini bisa jadi pungli (pungutan liar) karena hal ini menyangkut fasilitas yang memang diperuntukkan gratis untuk masyarakat. Ini sesuai dengan tujuan awal keberadaan feeder ini,” kata Fery.

Terlepas dari itu, lanjut Ferry, apapun alasannya menarik tarif ongkos dalam layanan feeder saat ini belum saatnya apalagi fasilitas pendukungnya berupa halte masih sangat tidak layak ditambah jam kerja bus tidak jelas. Kondisi yang sama juga bagi layanan Teman Bus.

“Jadi dalam kondisi saat ini, semua layanan transportasi yang sifatnya membantu harus diutamakan terlebih dahulu karena masyarakat sangat terbantu dan memang masih dibutuhkan ditengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih berjuang keluar dari naiknya kebutuhan pokok saat ini,” ucapnya.

Ferry menambahkan, daripada membuat destinasy wisata dan fasilitas yang digunakan sesaat alangkah lebih baik memperbaiki fasilitas angkutan umum dan meningkatkan sistem pelayanan transportasi umum agar layanan optimal dan intinya masyarakat terbantu. (tia)