Masih Tahap Peningkatan Kualitas

Proses belajar mengajar di salah satu sekolah di Palembang. Foto DOK


PALEMBANG
– Melihat berbagai tantangan yang terjadi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencoba untuk melakukan upaya pemulihan pembelajaran.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemendikbudristek guna mengatasi permasalahan yang ada ialah mencanangkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini sudah diterapkan di sekolah- sekolah di Palembang, hanya saja perlunya peningkatan kualitas tenaga pengajar.

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Palembang Lukmannul Hakim, Selasa (25/10) mengatakan, sejauh ini penerapan kurikulum merdeka masih dipetakan melalui guru penggerak, pemetaan kurikulum merdeka ini mulai dari tingkat SD dan SMP dalam proses pembelajaran kurikulum merdeka tidak ada kendala

“Namun untuk meningkatkan kualitas siswa kita juga harus meningkatkan kualitas tenaga pendidiknya. Tenaga pendidik atau guru menjadi tombak utama dari kegiatan belajar mengajar,” jelasnya.

Selain itu, Konsep Merdeka Belajar berkaitan dengan Profil Pelajar Pancasila, dimana ada enam aspek yang perlu diperhatikan. Yang terdiri dari enam aspek dari Profil Pelajar Pancasila guna mencapai tujuan Merdeka Belajar, hal tersebut juga menjadi alasan keberadaan program Guru Penggerak karena pembentukannya bertujuan untuk memenuhi enam aspek tersebut.

“Peran Guru Penggerak tak hanya sebatas sukses dalam mengurus kelas yang diampunya. Selain menjadi guru yang baik, Guru Penggerak juga harus memiliki kemauan untuk memimpin, berinovasi, melakukan perubahan,” terangnya.

Oleh karena itu kata Lukman Guru dan Sekolah Penggerak memiliki peran penting dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Guru dan Sekolah Penggerak menjadi kunci sukses keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka.

Sementara itu, Kepala SMPN 39 Palembang Sukmaesi mengatakan, penerapan kurikulum merdeka di SMPN 39 sejauh ini tidak ada kendala.

“Dulu kami tidak intens berdiskusi, tapi setelah penerapan Implementasi Kurikulum Merdeka kami semakin intens untuk melakukan pelatihan di sekolah (in-house training), kadang berdiskusi di luar in-house training, menentukan langkah-langkah apa saja yang harus kami persiapkan untuk diterapkan nanti di dalam kelas,” pungkasnya. (nik)