MASIHKAH API SUMPAH PEMUDA?


Di Kalangan Generasi Sekarang

SETIAP tanggal 28 Oktober akan dikenang sebagai Hari Sumpah Pemuda. Tahun ini peringatannya memasuki yang ke 94 tahun. Sumpah pemuda merupakan peristiwa sejarah yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928 yang silam.

Di mana pemuda dan pemudi Indonesia mengikrarkan diri ke dalam satu kebulatan tekat: satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa melalui rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia. Tonggak sejarah ini menjadi momentum bersatunya pergerakan kedaerahan dalam usahanya merebut kemerdekaan dari kekuasan penjajahan Belanda.

Bila melihat kenyataan peran pemuda masa kini sangat berbeda jauh dengan peranan pemuda pada era sebelumnya. Pemuda kini hidup dalam dunia yang serba-pragmatis sebagai imbas dari guliran budaya globalisasi yang merasuk budaya Indonesia lewat perkembangan teknologi dan informasi yang sangat memikat. Walaupun globalisasi tidak selalu membawa dampak esamey, tetapi positif.

Namun globalisasi di Indonesia lebih banyak berdampak esamey, seperti pola hidup masyarakat yang menjadi lebih konsumtif, hedonis, dan materialistic. Akibatnya, pemuda kini tidak lagi mempersoalkan esamey dalam tataran kebangsaan.

Tantangan semakin berat didalam kecenderungan esame yang semakin esame dan dinamis. Persatuan dan kesatuan terancam oleh berbagai persoalan kebangsaan. Perubahan yang diharapkan akan segera terjadi pasca rezim Suharto tumbang ternyata tidak juga terjadi. Bahkan reformasi di bawah kepimpinan presiden Habibie, Abdulrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono keadaan Indonesia tidak banyak mengalami perubahan.

Pada zaman penjajahan Belanda, para pemuda Indonesia mengambil langkah aktif untuk menyikapi penindasan yang terjadi. Pada saat sekarang ini dimana keadaan Indonesia yang mengalami krisis multidimensional pemuda seyogyanya mampu merevitalisasi persatuan dan kesatuan bangsa. Bukan sebagai penonton saja. Perjuangan terberat bagi pergerakan pemuda saat ini bukan semata menggantikan sebuah esame pemerintahan.

Perjuangan terberat dari gerakan pemuda saat ini adalah revolusi “mindset” atau cara pandang pemuda dan kepada nilai-nilai kebangsaan yang beradab. Hingga hari ini, makna sumpah pemuda secara kesejarahan tidak akan dilupakan. Namun waktu demi waktu, budaya dan keadaan yang begitu cepat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Kebiasaan-kebiasaan baru pun muncul di era milenial. Tentu saja dalam memperingati hari-hari besar juga mengikuti zaman dan waktu yang tepat dengan metode yang tepat pula jika ingin selalu eksis. Lalu, muncul pertanyaan, bagaimanakah kita memaknai sumpah pemuda di era milenial ini?

Kita ingin dari generasi ke generasi mampu memaknai dengan baik cita-cita luhur dari penggagas lahirnya semangat pemuda dalam persatuan dan kesatuan. Saat ini, makna hari sumpah pemuda di kalangan milenial diartikan tidak hanya sekadar kebiasaan dan perayaan tahunan saja, namun seharusnya bisa merefleksikan semangat perjuangan pemuda saat itu ketika memegang tombak untuk meraih kemerdekaan.

Salah satu perjuangan pemuda saat ini yaitu dengan menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan, karena di era globalisasi seperti sekarang, rasa persatuan tersebut bisa saja mengikis nilai persaudaraan jika kita tidak mampu memanfaatkan teknologi dengan benar, dan kurangnya rasa toleransi untuk menerima perbedaan. Padahal perbedaan adalah bagian dari kemajemukan bangsa Indonesia, dan menjadi alasan bersatunya Indonesia dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Untuk menghargai perjuangan pemuda zaman lampau, maka milenial hari ini harus melahirkan ide, kreativitas, dan inovasi agar mempertahankan eksistensi dari kemerdekaan itu sendiri. Ide-ide milenial itu tidak perlu dibatasi, jika ide tersebut memberikan kekuatan untuk membangun negeri. Semua pemuda wajib terlibat. Dimulai dari aksi yang secara langsung turun ke lapangan untuk beraspirasi, maupun dari mimpi-mimpi baik sebelum tidur maupun setelah tidur.

Terkait kreativitas, hasil karya-karya terdahulu dapat kita lakukan observasi untuk menghasilkan karya-karya baru sehingga mengasah keterampilan milenial. Sementara terkait dengan inovasi, pemuda milenial harus selalu melakukan research atau penemuan-penemuan yang bersifat kekinian, tidak mudah puas atas prestasi yang telah didapat, dan selalu berupaya melakukan aktivitas baik yang menjadi kebiasaan, maupun keluar dari zona nyaman.

Tekad dan nilai sejarah itu kini mulai pudar dimasa globalisasi yang dimana orang bebas melakukan segala sesuatu tanpa batas tanpa mengganggu kebebasan orang lain. Seiring kemajuan jaman, kepandaian para pemuda Indonesia yang dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa dan pelajar terdidik lainnya tersirat hal yang sangat ironis jika saya melihatnya.

Hal ironis itu adalah lunturnya makna kesatuan untuk tetap dirajut dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai contoh kini marak dan sering kita temui adanya tawuran antar pemuda. Penyampaian aspirasi anarkis oleh mahasiswa yang katanya menyuarakan suara rakyat tapi malah mengganggu ketenangan dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat. Ada juga di era yang semakin maju ini para pemuda hanya membuang waktu berharganya untuk kegiatan-kegiatan non produktif seperti main-main tanpa tujuan pasti, game, begadang dan banyak kegiatan lain yang kurang produktif.

Bahasa pergaulan dan komunikasi yang digunakan oleh kaula mudapun kini semakin menjauh dari bahasa persatuan bahasa Indonesia, kini muncul bahasa Alay yang merusak identitas bahasa persatuan kita. Beberapa komunitas tertentu merasa bangga dengan bahasa Alay dan merasa malu menggunakan bahasa persatuan Bahasa Indonesia.

Itulah yang sangat mengkhawatirkan bisa-bisa 10 tahun lagi orang tidak akan mengenal lagi Bahasa Indonesia. Alangkah baiknya jika kita sebagai pemuda Indonesia bisa memaknai dan menghargai cita-cita luhur para pemuda terdahulu untuk bisa menjadikan Bangsa Indonesia menjadi satu kesatuan yang utuh dan bisa berkembang maju.

Sebenarnya banyak yang dapat dilakukan oleh generasi muda yang lebih positif dan bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat. Misalnya saja Mahasiswa, sebagai anak muda yang berintelektual dan berpendidikan segudang kegiatan yang dapat dilakukan antara lain aktif dalam kegiatan-kegiatan penelitian seperti PKM, aktif di organisasi yang memberikan dampak positif dikampus dan masyarakat dan juga bisa mengembangkan potensi diri sendiri dengan meningkatkan soft skill yang nantinya dapat berguna dimasa mendatang. Semoga api Sumpah Pemuda masih terus terjaga di negeri ini. (tia/dari berbagai sumber)