Meledak ! Harga Telur Ayam

Pedagang telur di pasar tradisional Baturaja Kabupaten OKU

Masyarakat Kecil Makin Terjepit

PALEMBANG – Masyarakat kecil khususnya di Sumatera Selatan makin terjepit. Hampir semua kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Di sini lain, pemerintah berniat mencabut subsidi BBM yang dirasa memberatkan APBN. Otomatis, dengan dinaikkannya harga BBM akan mempengaruhi biaya produksi dan berdampak naiknya sejumlah barang.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, per 23 Agustus 2022 harga telur ayam ras di tingkat eceran mencapai Rp31.000/kg atau naik sekitar 2,9 persen dibandingkan seminggu sebelumnya dan naik sekitar 6,1 persen dibandingkan sebulan sebelumnya.

Data ini tidak berbeda jauh dengan harga telur ayam ras di Sumatera Selatan dalam sepekan terakhir ini. Di Kabupaten Muaraenim dan Ogan Komering Ulu harga telur tembus Rp31 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional. Ledakan terjadi Kabupaten Empat Lawang. Di Bumi Sangi Keruani Sangi Krawati ini harga telur tembus Rp54 ribu.

Meri, salah satu pedagang telur ayam keliling mengungkapkan, bahwa kenaikan telur ayam telah berlangsung selama satu minggu belakangan. Menurutnya, kenaikan telur ayam telah berlangsung selama satu minggu belakangan.

Masih menurut Meri, harga satu karpet (30 butir) Rp54 ribu dari harga sebelumnya Rp48 ribu. Dia tidak mengetahui secara persis penyebab kenaikan harga telur ayam.  Telur ayam yang ia jual itu dibeli dari Kota Lubuklinggau.

Masih dikatakan Meri, ada juga pedagang yang menjual telur ayam Rp55 ribu per karpet. Sedangkan  untuk harga per butir ia menjual dengan harga Rp2 ribu.

Terpantau kenaikan cukup tinggai di pasar Kecamatan Pendopo dan Muara Pinang. Di sini harga telur per karpet  naik dari Rp 48.000 menjadi Rp  56.000 per karpet. Kenaikan harga telur di Empat Lawang ini karena dibarengi dengan adanya bantuan PKH yang memang membuat telur banyak dibeli masyarakat.

Terpisah, di Pasar Lubuklinggau harga telur ayam ras  terus naik dalam sepekan terakhir.  Sebelumnya masih dikisaran harga Rp50 ribu per karpet. Namun pelan-pelan harga terus naik dan hari ini (28/08), harga telur ayam ras sudah tembus Rp54 ribu per karpet.

Kondisi itu menurut Adi, seorang pedagang telur di Pasar Satelit,  disebabkan harga pakan ayam petelur sekarang sedang naik.  Kondisi itu membuat peternak ikut menaikan harga telur, karena modal yang dikeluarkan bertambah.

Mengenai omzet yang didapat, dikatakan Adi, sebenarnya tidak begitu berdampak. Karena walau bagaimanapun konsumen pasti akan tetap membeli meski harga naik.

“Kalau ke pedagang dampaknya tidak begitu pengaruh ya, tapi mungkin lebih berdampak pada konsumen,” jelasnya.

Soalnya banyak konsumen yang mengeluh. Kendati demikian mereka tidak punya pilihan, karena harga telur memang bukan pedagang menetapkan semua sendiri tetapi memang sudah ada harganya dari agennya. Mengenai pasokan telur, dikatakan Adi, tidak ada kendala. Bahkan stok bisa dikatakan lebih dari cukup.

Rosidah, seorang konsumen, mengatakan naiknya harga telur tidak begitu berdampak pada konsumsi rumah tangga. Sebaliknya dampaknya justru sangat dirasa pada biaya belanja dapur.

“Telur sama dengan bahan pokok lainnya seperti beras, minyak, meski naik mau tidak mau kita butuh dan tetap beli juga,” tuturnya.

Sebaliknya untuk menyiasati membengkaknya belanja dapur, mau tak mau emak-emak harus pandai menyiasati dan melakukan efesiensi pada kebutuhan tambahan.

Di Kota Baturaja harga telur terjadi penurunan. Harga telur ayam ras di sejumlah pasar tradisional di  di sini turun dari Rp32 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram.

“Harga telur ayam sepekan lalu sempat tembus ke angka Rp32 ribu perkg. Harga ini tertinggi yang pernah ada selama ini. Namun dua hari ini harganya mulai berangsur turun hingga ke level Rp30 ribu perkg,” kata Jauya, salah seorang pedagang sembako di Pasar Atas Baturaja, Selasa (23/08).

Menurut dia, turunnya harga tersebut disebabkan harga jual di tingkat agen saat ini mulai berangsur turun, sehingga pedagang ikut menyesuaikan harga di pasaran. Kendati harga telur sudah turun kata Jauya, permintaan konsumen di pasaran masih rendah, karena warga Baturaja saat ini banyak yang lebih memilih membeli telur pecah yang harganya jauh lebih murah, yakni dikisaran Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram.

Di Pasar Kayagung harga telur ayam ras tembus di angka Rp 29 ribu per kilogram. Kenaikan terjadi sekitar dua minggu terakhir.

“Harga telur ini naik, dan naiknya sudah sekitar dua mingguan. Kita biasanya beli dari peternakan yang ada di Desa Air Batu, Kabupaten Banyuasin  sekitar 60-70 peti,” ungkap Joni (53) seorang pedagang telur, kemarin.

Ia menambahkan, dirinya sendiri tidak tahu kenapa harga telur bisa naik. Namun dia menduga karena harga sawit yang menurun, dan juga jika ada setiap pencarian Program Keluarga Harapan (PKH).

“Kalau PKH itukan biasanya pihak penyalur langsung datang ke peternakan untuk membeli telur. Sehingga mungkin karena hal itulah juga harganya menjadi naik,” ujarnya.

Dikatakannya lagi, semenjak harga telur naik banyak masyarakat yang mengurangi jumlah pembelian. Dimana menurutnya, kalau biasanya membeli sekitar 10 Kg, sekarang palingan hanya 5 Kg.

“Sebenarnya kita sebagai pedagang, tidak terlalu masalah harga naik, namun yang masalah itu adalah pembeli. Karena kadang-kadang ada yang mengeluhkan kenaikan tersebut,” tuturnya.

Masih kata Joni, dirinya pribadi lebih senang berjualan di harga standar karena lebih banyak beli. Menurutnya, untuk apa harga naik tapi pembeli berkurang, begitu juga sebaliknya.

Sementara itu, Marni (37) seorang ibu rumah tangga (IRT) yang tinggal di Kelurahan Mangun Jaya, Kecamatan Kayuagung berharap, harga telur khususnya sembako-sembako yang mengalami kenaikan bisa turun ke harga normal lagi.

“Seperti harga telur yang saat ini naik, sangat memberatkan kita sebagai IRT. Karena kita yang mengurus dapur pastinya ada hitung-hitungan. Makanya saya juga mengurangi kalau belanja, kalau  duku suka beli 3 kg sekarang mungkin hanya 2 kg saja,” tutupnya.

Banyaknya keluhan masyarakait terkait harga telur yang terus meningkat, cukup membuat peternak ayam petelur prihatin. Namun mereka tidak ada pilihan lain karena harga pakan ayam yang naik hampir dua kali lipat, daya beli masyarakt juga turun.

Merli, peternak ayam petelur di Lahat mengatakan naiknya harga telur tidak membuat mereka bisa meraup banyak keuntungan seperti yang disangkakan banyak pihak.

Pasalnya, harga pakan ayam juga meningkat. Seperti konsentrat yang tadinya hanya 7 ribu perkilo, naik jadi Rp 10 ribu perkilonya. Begitu pula dengan jagung, yang sebelumnya hanya Rp  3000 naik jadi Rp 5000- Rp 5.500 per kilonya.

Dengan kondisi demikian, mereka terpaksa naikan harga jual telur yang sebelumnya Rp 40 ribu-Rp 45.000 per karpet naik jadi Rp 50 ribu-Rp 55 ribu per karpet.

Tingginya harga telur ini lanjut Merli, membuat daya beli masyarakat turun drastis. Yang biasanya beli satu atau dua karpet, sekarang hanya beli seperempat sampai setengah karpet saja.

“Akibatnya, banyak telur yang menumpuk dan tidak terjual. Kalau sudah begini, kota terpaksa banting harga daripada rusak dan tidak bisa dijual lagi,” ujarnya.

Terkait kondisi ini Merli berharap harga pakan ternak kembali turun seperti sebelumnya. Karena kebutuhan masyarakat akan telur ini sangat tinggi, terutama untuk anak-anak.

Terpisah, kalangan pengusaha menilai kondisi itu tidak lepas dari mahalnya biaya produksi dari para peternak.

“Telur itu karena direct cost cukup mahal, karena jagung HPP (harga pokok produksi) naik, cost naik,” kata ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman GAPMMI Adhi S Lukman, dilansir dari portal berita nasional.

Menurutnya, tingginya HPP peternak berkisar di Rp21.000–Rp22.000/kg, dipengaruhi tingginya harga bahan baku pakan (sekitar 65 persen dari HPP), baik yang berasal dari dalam negeri seperti jagung. Maupun bahan baku asal impor seperti soy bean meal (bungkil kedelai) dan meat bone meal (tepung tulang dan daging).

HPP tersebut kemudian mempengaruhi harga jual pada tingkat peternak dalam kondisi normal berkisar Rp22.000-Rp24.000/kg, yang kemudian berakibat pada harga eceran telur ayam ras yang seyogyanya berada pada kisaran Rp27.000–Rp28.000 per kg.

Sementara itu karakteristik industri pangan kecil memiliki daya tahan yang rendah, di mana hanya mampu membeli bahan baku harian, ada yang mingguan, termasuk tidak memiliki inventory stock seperti perusahaan besar dimana perencanaan bisa sebulan.

“Industri kecil begitu bahan baku naik mereka nggak kuat, jadi ada yang kurangi size tapi ada yang menaikkan harga. Modalnya ya itu, mereka kalau ngga naikkan (harga), ngga punya modal untuk beli lagi. baik DOC, maupun pakan dan sebagainya,” kata Adhi.

Sementara itu Plt Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra menyebutkan sejumlah faktor yang menyebabkan kenaikan harga telur ayam ras. Termasuk kenaikan permintaan terhadap komoditas bahan pokok tersebut dengan adanya pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Kebijakan pelonggaran PPKM terkait dengan perubahan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi telah meningkatkan permintaan terhadap telur ayam ras dengan sangat signifikan yaitu sebesar 60 persen untuk memenuhi konsumsi rumah tangga, hotel, restoran, dan katering serta industri makanan dan minuman,” urai Syailendra dalam keterangan resmi, Rabu (24/08). (yat/fad/ozi/len/ian)