Membela Kelapa Sawit di Tengah Tantangan Global


Oleh : Abiyadun*

DUNIA saat ini sedang dalam kondisi tidak baik bahkan diprediksi ke depannya semakin terpuruk. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Rabu (13/7/2022) dalam sebuah postingan blog menjelang pertemuan menteri keuangan dunia dan gubernur bank sentral di G20, Bali mengatakan prospek ekonomi global “gelap signifikan”, bahkan dapat memburuk lebih lanjut.

Kondisi ini bukan disebabkan karena keti dakmampuan negara untuk bangkit dan pulih pasca pandemi covid 19. Namun demikian usai covid 19, dunia langsung dihantam perubahan iklim ekstrim yang unpredictable dan perang Rusia dan Ukraina serta melambungnya inflasi yang mengancam kelaparan dan kemiskinan meluas.

Adanya tantangan global ini diprediksi membuat dunia mengalami krisis ekonomi, krisis energi, krisis pangan dan krisis keuangan.  Memanfaatkan Peluang Tantangan global di atas tak serta merta menghadirkan kegegalan dalam semua sektor, khususnya sektor pertanian. Antitesis ini tentu dengan mengacu pada fakta yang terjadi dalam kurun waktu 2,5 tahun terakhir ini selama pandemi covid-19. Salah satu sektor yang mampu bertahan bahkan menjadi bantalan pertumbuhan ekonomi nasional, di saat sektor lainnya mengalami kontraksi, itu hanya sektor pertanian.

Melansir data BPS, Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian tahun 2020 dan 2021 masing-masing sebesar 1,75% dan 1,90%. Sementara itu, pertumbuhan PDB nasional pada dua tahun tersebut masing-masing sebesar -2,07% dan 3,69%. Kinerja sektor pertanian pada masa pandemi Covid-19 juga ditunjukkan dari kinerja ekspor pertanian yang meningkat sebesar 15,79% pada tahun 2020 dengan nilai Rp 451,77 triliun dibandingkan tahun 2019, dan pada 2021 tumbuh 38,68% dibanding tahun 2020 dengan nilai Rp 625,04 triliun.

Salah satu komoditas strategis pertanian yang turut andil dalam kinerja pertanian ini adalah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dan produk turunannya turut andil. Pada quarter 2 tahun ini (Q2-2021), BPS mencatat kinerja ekspor komoditas kelapa sawit tumbuh sebesar 31,78% (yoy). Dengan kinerja tersebut, kelapa sawit berkontribusi sebesar 13% terhadap ekspor non-migas Indonesia.

Harga Crude Palm Oil (CPO) internasional pun terus mengalami kenaikan yang mencapai US$ 1.100 per MT.  Melihat sumbangsih kelapa sawit kepada Indonesia dan dunia saat ini, tantangan global yang mengakibatkan krisis pangan dan energi menjadi peluang komoditas kelapa sawit.

Lihat saja di antaranya, mayoritas aktivitas bisnis kuliner membutuhkan minyak goreng dan banyak pihak di dunia sangat bergantung pada keberadaan tanaman kelapa sawit. Ini adalah realitas yang dihadapi sehingga menjadi peluang untuk membela kelapa sawit di tengah tantangan global.

Secara historis tanaman kelapa sawit ada di Indonesai pada tahun 1869.  Belanda melalui Vereneging Ost Indische Compagnie (VOC) yang membawanya ke Indonesia.  Sejak awal kedatangannya tanaman kelapa sawit dianggap sebagai komoditas potensial untuk dibudidayakan di Nusantara.

Hal ini dibuktikan dengan kebijakan VOC mendirikan perkebunan kelapa sawit komersial pertama seluas 5.000 hektar di daerah Deli, Sumatera Utara dan Aceh. Perkebunan ini merupakan bagian eksperimentasi VOC untuk mengintroduksikan bibit-bibit baru tanaman pertanian dan perkebunan sebagai sumber devisa Belanda.

Bagi Indonesia sendiri, kelapa sawit telah menjadi komoditas bisnis yang menjanjikan mulai tahun 1980. Penulis mencatat setidaknya ada tujuh penyebab kelapa sawit menjadi komoditas menjanjikan di Indonesia, yaitu; pertama kelapa sawit cocok tumbuh di iklim tropis. Kedua, kelapa sawit berprospek panjang (usia tanam produktif bisa sampai 20 tahun).

Ketiga, tidak membutuhkan perlakuan khusus dalam membudidayakan kelapa sawit. Keempat, harga CPO dan minyak inti sawit (kernel oil) relatif meningkat karena peningkatan konsumsi minyak makan dan lemak dunia. Kelima, minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit merupakan minyak nabati dengan pangsa pasar besar (industri makanan dan oleokimia).

Keenam, minyak sawit mendukung gaya hidup sehat karena mengandung unsur yang cocok untuk diet manusia. Ketujuh, kelapa sawit memiliki produktivitas per hektar tertinggi dibanding minyak nabati dari tanaman lainnya. Dalam satu hektar kebun yang membudidayakan kelapa sawit dengan optimal akan dihasilkan minyak sawit enam kali lipat dari minyak rape seed.

Keunggulan komparatif dan kompetitif tanaman kelapa sawit terhadap tanaman penghasil minyak nabati lain menyebabkan peningkatan permintaan minyak sawit di pasar global. Hal ini pun terjadi di Indonesia. Permintaan minyak sawit domestik meningkat. Banyak pebisnis mencari minyak sawit untuk bahan baku industri dan makanan, kosmetik hingga obat-obatan Kontribusi Kelapa Sawit

Setelah reformasi di era otonomi daerah, perkebunan kelapa sawit berkontribusi besar terhadap pembangunan daerah terutama dalam upaya pembukaan lapangan pekerjaan melalui usaha budidaya dan pengolahan hilirnya. Potensi lapangan pekerjaan yang dapat disediakan oleh perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebesar enam juta orang, baik yang terkait langsung ataupun tidak. Selain itu lokasi kebun kelapa sawit yang mayoritas berada di luar Pulau Jawa berkontribusi mengurangi ketimpangan pembangunan wilayah.

Kontribusi ini berupa pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan oleh perusahaan secara swadaya disekitar perkebunan kelapa sawit. Kita ketahui bersama bahwa ketersediaan jalan dan jembatan menjadi katalis pertumbuhan perekonomian di luar Pulau Jawa.  Pada tahun 2014, Indonesia mendapatkan 18.9 miliar USD dari produksi 33.5 juta ton minyak sawit. Kelapa sawit pun menjadi komoditas ekspor andalan setelah batubara dan Migas.

Kondisi ini membuka peluang baru bagi investor untuk berinvestasi kebun kelapa sawit di Indonesia. Indonesia pernah tercatat sebagai negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia pada tahun 2015. Saat itu, kelapa sawit menghasilkan lebih dari 31 juta ton CPO (Ditjen Perkebunan 2015). Ini berarti bahwa industri kelapa sawit menjadi salah satu sumber penghasil devisa terbesar Indonesia dari sektor non migas.  Saat ini, untuk meningkatkan devisa negara saat pandemi Covid-19, Menteri Pertanian Indonesia, Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu menetapkan kelapa sawit sebagai komoditas strategis perkebunan unggulan Indonesia dalam program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida).

Selain menjadi motor perekonomian Indonesia hingga kini, kelapa sawit dapat menjadi model sistem pertanian berkelanjutan di masa depan. Beberapa aspek positif dari penanaman kelapa sawit berkelanjutan terhadap lingkungan adalah sebagai berikut; pertama, kelapa sawit yang dikelola dengan baik menyerap lebih banyak karbon (C) per satuan luas dari pada hutan hujan tropis sehingga membuat perkebunan kelapa sawit berperan penting dalam pengelolaan karbon dunia.

Kedua, kelapa sawit sepanjang tahun menutupi permukaan tanah sehingga dapat mencegah terjadinya erosi. Ketiga, tanaman kelapa sawit tidak memerlukan banyak pestisida walaupun ditanam dengan sistem monokultur terutama jika kondisi permukaan tanahnya dipelihara dengan baik sebagai habitat predator hama kelapa sawit. Keempat, hampir 25 persen dari biomassa hasil panen dapat dikembalikan ke kebun sawit sebagai mulsa yang kaya akan hara. Hal ini memberikan kesempatan bagi petani untuk mendaur ulang hara dan biomassa dari lahan subur ke lahan kurang subur di area perkebunan kelapa sawit. Namun, di tengah hingar-bingar sumbangsih tanaman kelapa sawit bagi keberlanjutan lingkungan dan perekonomian di Indonesia, perkebunan kelapa sawit Indonesia mendapat kecaman dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional.

Beberapa LSM internasional berkampanye menentang perluasan perkebunan kelapa sawit karena dianggap memberikan kontribusi besar terhadap deforestasi, menghasilkan emisi karbon, serta menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Akibatnya tersebar luas anggapan bahwa perkebunan kelapa sawit tidak berkelanjutan.

Namun penulis meyakini kampanye ini tidak semuanya benar. Meskipun secara historis kelapa sawit dikembangkan dalam skala perkebunan besar, realitanya tanaman kelapa sawit Indonesia telah berhasil dikembangkan dalam model perkebunan rakyat. Data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menyatakan bahwa pada tahun 2015 telah dihasilkan 11.44 juta ton minyak sawit yang berasal dari perkebunan rakyat dan swasta.

Dimana perkebunan kelapa sawit rakyat berkontribusi sebesar 4.80 juta ton (42 %) dari total produksi minyak sawit nasional.     Selain itu, dalam berbagai jurnal dan laporan ilmiah terkonfirmasi bahwa budidaya kelapa sawit mampu memberikan manfaat ekonomi berupa pendapatan tetap bagi sebagian besar penduduk miskin pedesaan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hal dapat menjadi bukti bahwa tanaman kelapa sawit merupakan salah satu alternatif  “obat” yang ampuh untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. (*/artikel ini sudah tayang di mediaindonesia.com)

*)Abiyadun Humas Kementerian Pertanian