NasDem Buka Kans Anies-Gibran  

Gibran Rakabuming (kiri) dan Anies Baswedan


JAKARTA
– Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Ahmad Ali mengatakan partainya membuka peluang bila Gibran berkenan menjadi cawapres.

Sebab, Anies dibebaskan untuk menentukan siapa sosok cawapres yang akan dia tunjuk untuk didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pernyataan tersebut  setelah Anies melakukan pertemuan dengan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di Kota Solo, Selasa (15/11)

Menanggapi pernyataan NasDem tersebut, Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat Andi Arief jengkel dengan sikap Partai NasDem yang membuka peluang politikus PDI Perjuangan, Gibran Rakabuming untuk diusung menjadi cawapres berpasangan dengan Anies Baswedan di Pilpres 2024.

Ia mengingatkan agar NasDem untuk disiplin ketika memutuskan ingin membangun koalisi dengan Demokrat dan PKS.

PKS dan Demokrat disiplin dalam koalisi. Harusnya Nasdem juga demikian. Bukankah sudah diserahkan kepada Anies untuk memilih cawapres,” kata Andi Arief kepada wartawan, Kamis (17/11).

Andi Arief mengimbau, agar partai besutan Surya Paloh itu untuk tidak melakukan manuver mencari cawapres tanpa sepengetahuan Demokrat dan PKS.

“Sebaiknya konsentrasi saja pada apa yang sudah dibicarakan di koalisi. Bulatkan saja tekad, bahwa NasDem bergabung bersama PKS dan Demokrat memilih di jalur perubahan. Jangan setiap bertemu figur di luar PKS dan Demokrat, Nasdem menawarkan sana-sini,” tegasnya.

Senada dikemukakan Deputi Analisa Data dan Informasi Balitbang DPP Demokrat, Syahrial Nasution. Dia mengingatkan NasDem untuk tidak genit di tengah penjajakan koalisi untuk Pilpres 2024.
Pernyataan itu disampaikan Syahrial merespons langkah salah satu elite Partai NasDem yang mewacanakan duet mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka untuk diusung menjadi pasangan calon presiden-wakil presiden (capres-cawapres) di Pemilu 2024 mendatang.

Menurutnya, mewacanakan duet Anies-Gibran sudah keluar dari platform perubahan dan perbaikan yang sudah disepakati dalam penjajakan koalisi antara Partai Demokrat, Partai NasDem, dan PKS.

Syahrial mengingatkan sikap genit dalam berpolitik bisa melahirkan ketidakpercayaan publik. “Padahal sesungguhnya pemikiran tersebut sudah lepas dari platform perubahan dan perbaikan yang disepakati. Kegenitan politik seperti ini lambat laun bisa menimbulkan distrust di kalangan masyarakat,” kata Syahrial.

Meski sudah dideklarasikan sebagai bakal calon presiden dari Partai NasDem, menurut Syahrial, Anies tidak mungkin bisa lepas dari Demokrat dan PKS.

“Platform sebagai agen perubahan dan perbaikan yang dibawa Anies hanya mungkin jika bersama-sama Demokrat dan PKS. Jika berselancar sendiri apalagi bersekutu dengan status quo, maka misi sebagai agen perubahan dan perbaikan, menjadi tidak sinkron. Bahkan menciptakan keraguan dan kebingungan,” katanya.

Menurut Syahrial, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sudah berkorban cukup besar dengan mendeklarasikan Anies sebagai capres 2024, dan secara intensif bersama Demokrat dan PKS menciptakan format koalisi terbaik untuk pilihan rakyat.

Oleh karena itu, dia mengatakan di akar rumput akan merasakan yang buruk bila format dan komunikasi koalisi yang sudah dirancang antara NasDem, Demokrat, dan PKS diganggu dengan gimik politik murahan.

“Jangan karena Anies sedang bertemu dengan Luhut Pandjaitan lantas diamplifikasi bahwa Anies-Luhut cocok dipasangkan, atau karena Anies ketemu Gibran, lantas diorkestrasi bahwa Anies-Gibran bisa jadi alternatif,” ucapnya.

Merespons hal tersebut, Waketum NasDem Ahmad Ali meminta pihak-pihak terkait tidak saling membungkam dan sensitif di tengah penjajakan koalisi antara partainya dengan Demokrat dan PKS.

Menurutnya, wacana yang disampaikan jajaran NasDem merupakan upaya untuk membangun sebuah pemikiran demi kepentingan bangsa Indonesia.

“Koalisi ini jangan saling membungkam, jangan sensitif. Wacana itu harus diwacanakan untuk kita semua, tidak ada yang dilanggar NasDem ketika kita mencoba membangun suatu pemikiran untuk kepentingan bangsa,” katanya. (del/net)