OBAT PUSING SEMENTARA


Penyaluran BLT BBM 

SEPERTI kebijakan sebelumnya, keputusan menaikan bahan bakar minyak (BBM) diiringi pemerintah dengan menyiapkan bantuan langsung tunai (BLT) yang diperuntukkan untuk rakyat miskin terdampak kenaikan BBM tersebut.

Namun persoalannya, selain penyaluran subsidi untuk masyarakat miskin ini terkadang tak tepat sasaran, efektifitas BLT ini untuk meringankan beban masyarakat  masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

Pertanyaannya apakah BLT benar-benar dapat meringankan masyarakat atau hanya menjadi ‘obat’ untuk menghilangkan rasa sakit saja tanpa menyembuhkan penyebab rasa sakit tersebut. Bagaimana pendapat warga atas  pertanyaan ini?.

Fajar, salah seorang warga Sukarami Kota Palembang mengatakan, BLT BBM sebenarnya dapat dikatakan membantu meringankan namun tidak efisien dan efektif.

“Karena bantuan ini sifanya hanya menanggulangi untuk sementara karena dampak kenaikan BBM lebih jangka panjang sedangkan BLT hanya menanggulangi dalam jangka pendek, setelah itu masyarakat terdampak lagi dari naiknya harga-harga kebutuhan pokok,” ungkapnya, Minggu (11/09).

Oleh sebab itu, lanjutnya, seyogyanyalah pemerintah menyiapkan program bantuan yang sifatnya memberikan pancing ketimbang bantuan uang, sehingga masyarakat belajar untuk memberdayakan diri ketimbang berharap bantuan yang bersifat sementara tersebut.

Tak berbeda dengan apa yang dikatakan Adi, salah seorang warga di kawasa Km12 Palembang. Menurutnya bantuan BLT sifatnya hanya menanggulangi sementara untuk mendorong daya beli tapi tidak bisa menolong warga dari dampak kenaikan BBM tersebut.

“Jadi kembali ke awal yakni pemerintah perlu mempertimbangkan kembali terkait putusan menaikan BBM karena BLT tak akan bisa mengatasi dampak besar dari kenaikan BBM bersubsidi secara ekonomi,” ucapnya.

Sedangkan  Nuraini, salah seorang warga Kelurahan Kemuning, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau mengatakan, BLT BLT membuat sebagian masyarakat tersenyum sumberinga ketika menerima pencairan dana tersebut. Kendati kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama.

“Pasalnya ketika dana bantuan senilai Rp 600 ribu yang dicairkan setiap catur wulan atau empat bulan sekali itu sudah di dalam genggaman, sesaat kemudian langsung ludes. Ya dana BLT nya untuk bayar listrik, bayar sewa rumah, setelah itu langsung habis,” ungkapnya.

Meski bantuan tersebut jauh dari kata cukup dan tidak sebanding dengan kondisi sekarang, tetapi Nuraini merasa bahwa bantuan tersebut bisa mengurangi sedikit beban ekonomi keluarganya.

“Memang sih tidak cukup, tapi paling tidak setelah dananya cair sewa rumah satu bulan kedepan dan tagihan listrik bisa tertutupi, jadi tinggal memikirkan yang lain,” kata Nuraini. Seandainya bisa memilih, dikatakan Nuraini, dirinya tidak masalah tidak mendapatkan bantuan asalkan semua harga bahan pokok dan lainnya murah dan terjangkau.

Selain itu lanjut dia, cari uang semakin sulit, tapi menghabiskannya justru sekejap mata. “Karena uang kita sekarang tidak ada nilainya lagi,” katanya.  Kendati demikian dia tetap berterimakasih pemerintah memberikan subsidi berupa BLT.

Lalu Linda, salah seorang warga Rupit Kabupaten Muratara  yang mendapatkan bantuan BLT. mengaku, bantuan BLT sangat membantu, namun dengan jumlah bantuan yang ada, tentunya tidak bisa memenuhi kebutuhan.

“Kalau untuk penyaluran bantuan sudah maksimal, akan tetapi jika jumlah bantuan tidak ditambah pastinya akan menyulitkan bagi kami masyarakat yang kurang mampu,”ujarnya. Untuk Linda berharap, agar pemerintah tidak menaikan harga bahan pokok, karena akan menyulitkan masyarakat terkhusus warga yang kurang mampu.

Terpisah, keputusan pemerintah menaiknya BBM ditengah ekonomi masyarakat belum pulih akibat pandemi Virus Covid-19 ditentang banyak pihak.  Naiknya BBM dinilai memberatkan. Lantaran dampaknya sejumlah bahan pokok dan barang-barang lainyapun ikut mengalami lonjakan harga.

Salah seorang pedagang di Inderalaya, Samsul, menuturkan dampak naiknya BBM membuat pembeli di warungnya sedikit berkurang. Selain itu, bahan-bahan pokok seperti telur, mie instan, beras dan lainya banayak yang mengalami kenaikan harga.

 “Pembeli sedikit berkurang, sejak naiknya BBM. Menurut saya naiknya BBM ini tidak dibarengi dengan upah karyawan, juga harga jual berbagai hasil pertanian. Sehingga masyarakat terhimpit, yang membuat daya beli melemah,”terangnya.

Meski dibarengi dengan adanya BLT sebesar Rp 600 ribu, menurutnya tetap saja tak lantas membuat atau memperbaiki daya beli masyarakat.

Endang warga Indralaya lainnya, mengaku bersyukur karena mendapatkan bantuan BLT senilai Rp 600 ribu dari pemerintah. Dengan uang tersebut kata dia, dapat sedikit membantu ekonomi keluarganya.

“Saya sangat bersyukur ya, kalau dibilang susah semuanya memang lagi jamannya susah ya. Kita hanya bisa berharap agar ekonomi kita kembali setabil. Kalau sekarang susah. Meski telah mendapatkan BLT, itu tak lantas membuat kehidupan kita jadi lebih baik. Tetap saja nyari uang susah sekarang,” tukasnya. (rob/yat/lam/sro)