Oknum Perawat Penyuka Sesama Jenis

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Harissandi menggelar jumpa pers penangkapan Herman, kemarin. FOTO : MARYATI-PALPOS


Korban Diimbau Segera Lapor 

LUBUKLINGGAU – Oknum perawat di RS Siti Aisyah Lubuklingga bernama Herman diamankan polisi. Kuat diduga Herman yang sudah beristri dan anak ini  juga penyuka sesama jenis.

Herman diamankan lantaran mencabuli keluarga pasien sebut saja namanya Kumbang (13).  Pencabulan  itu terjadi di uang Al Mulk lantai 2, Kamis (15/09), sekitar pukul 23.30 WIB.

Kejadian berawal saat korban sedang menunggu kakak perempuannya sakit dan menjalani perawatan di RS tersebut. Tersangka yang merupakan perawat di ruangan itu mengajak ngobrol  korban.

Tersangka  memuji postur tubuh korban yang bagus dan cocok jika  mau masuk polisi. Kemudian tersangka bercerita kalau mau masuk polisi harus cek kesehatan. Tersangka  menawarkan jasa membantu cek kesehatan korban dan mengajak ke lantai 2.

Tanpa prasangka buruk korban menuruti ajakan tersangka dengan ikut naik ke lantai dua. Lalu, tersangka berpura-pura memulai pemeriksaan terhadap korban.  Tersangka menanyakan apakah korban ada penyakit hernia seraya membuka celana korban. Kemudian memeriksa kemaluan korban.

Tersangka kemudian memegang kemaluan korban dengan alasan untuk mengetahui alat vital  berfungsi atau tidak. Tidak cukup di situ, tersangka juga melakukan oral seks terhadap korban.

Terakhir tersangka meminta agar dilakukan anal seks (sodomi) oleh korban. Sadar bahwa dia bukannya diperiksa kesehatan lagi oleh tersangka, korban menjadi ketakutan. Korban spontan berteriak sambil berlari kembali ke lantai satu tempat saudaranya dirawat.

Korban kemudian mengadukan apa yang telah dilakukan tersangka terhadapnya. Keluarga pun marah dan mencari tersangka. Namun tersangka sudah diamankan rekannya di ruangan perawat.

Kasus ini kemudian dilaporkan keluarga korban ke Polres Lubuklinggau, hingga tersangka diamankan.

Kapolres Lubuklinggau AKBP Harissandi didampingi Kasatreskrim AKP Robi Sugara membenarkan adanya penangkapan tersebut.

“Untuk itu kita mengimbau kepada masyarakat yang merasa anak/keluarganya jadi korban agar segera melapor ke Polres Lubuklinggau,”  ujar Kapolres Lubuklinggau, AKP Harissandi dalam Pers Release di Ruang Ops Tim Macan Satreskrim Polres Lubuklinggau,  kemarin.

Dikatakan Kapolres, masyarakat tidak perlu ragu dan khawatir identitas korban tidak akan terungkap ke publik. Karena identitas korban dipastikan akan dilindungi.

“Jangan malu dan jangan ragu, kerahasiaan identitas korban kita jamin,” tegas Harissandi.

Proses penangkapan tersangka sendiri dijelaskan Harissandi, dilakukan setelah Polres Lubuklinggau menerima laporan dari pihak korban dan sudah menemukan dua alat bukti yang cukup.

“Tersangka ditangkap saat bekerja di RS, Kamis (15/09), sekitar pukul 23.00 WIB,” ujarnya.

Bersama tersangka juga diamankan barang bukti (BB) berupa pakaian korban dan pakaian seragam kerja yang dipakai tersangka saat melakukan aksi cabulnya

Sementara, tersangka  mengaku telah mencabuli korban. Pencabulan sendiri berhasil dilakukan tersangka setelah mengiming-imingi korban untuk melakukan pemeriksaan kesehatan  bila mau masuk polisi.

Kendati mengakui mencabul korban, namun tersangka menolak dikatakan mengidap kelainan seks. Dengan dalil dirinya telah beristri dan memiliki anak. Dia mengaku sebagai lelaki normal.

Atas perbuatannya itu tersangka dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dan terancam 12 tahun penjara.

Terpisah, pihak RS Siti Aisyah Lubuklinggau membenarkan Herman adalah perawat. Namun, atas kejadian tersebut, Herman yang merupakan perawat honor langsung dipecat.

“Benar dia pegawai RS Siti Aisyah, dan kami telah melakukan pemberhentian status dia sebagai pegawai honorer RS Siti Aisyah sampai menunggu adanya kepastian hukum,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medik Khusus, Evi Andayani, didampingi Kabid Penunjang Medik, Rama Diani Fitri, Humas Bidang Pers, Yaser Watera, kepada awak media, kemarin.

Menurut Evi, tindakan tegas dari pihak manajemen RS Siti Aisyah tersebut didukung juga oleh Komite Keperawatan yang juga segera mencabut kewenangan klinis tersangka sebagai perawat.

Dalam kesempatan itu, pihak RS Siti Aisyah juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban. “Ini bukan kesalahan tindakan pelayanan tetapi ini murni sikap yang salah, kelainan seks dari H,” katanya.

Karena itu pihak RS menyadari akan ada dampak psikis dari korban. Untuk itu pihak RS juga  telah menyiapkan psikolog konseling bila  keluarga korban membutuhkan pendampingan untuk pemulihan psikis. (yat)