Old Love

Karya : Grace Herlina

Suatu pagi hari yang cerah membuat sang bintang pun iri melihat kecerahan sang matahari pada hari ini, hari dimana aku memulai hidup sebagai seorang  siswi pindahan di sekolah menengah atas ternama ini. Ya, aku pindah dari sekolah lamaku karena pekerjaan dari perusahaan ayah yang mengharuskan kami sekeluarga pindah ke kota besar yang menjadi ibukota negara Indonesia yaitu Kota Jakarta. Aku bertekad untuk mewujudkan masa depan yang cerah agar aku bisa menjadi seorang pribadi yang sukses kelak.

Koridor demi koridor hingga ruangan demi ruangan kutempuh untuk mengunjungi ruangan kepala sekolah untuk mengetahui info tentang kelasku hingga akhirnya saat aku melewati pinggir lapangan aku merasa terhantam permukaan keras di dahiku.
“dukk” hantaman yang cukup keras yang menghantam dahiku “aww aduhh” cicit ku sambil memegangi dahiku sebab nyeri yang amat terasa.

“waduh, maaf ya aku tidak sengaja” ucap sang pelaku yang menghampiri ternyata seorang lelaki yang berperawakan gagah perkasa yang sedang berdiri tegap menatapku dengan raut yang sulit untuk diartikan

“iya gapapa” ucapku, ia masih menatapku dengan raut yang bingung sekhawatir akan keadaan dahiku

“kamu yakin gapapa? dahi kamu merah soalnya, apa perlu aku bawa ke uks?” tutur sang lelaki yang tak henti bertanya-tanya

“aku gapapa kok ini cuma memar ringan aja” ucapku, aku mendongak menatap wajahnya sambil mengangguk ringan

“kamu serius? oh ya, kamu murid baru ya? aku gak pernah melihat kamu di lingkungan sekolah ini” tanya sang lelaki

“iya, aku murid pindahan dari luar kota” ucapku dengan senyum terukir dibibirku

“oh baiklah, apa kamu mau saya antar ke ruang kepala sekolah?” tanyanya, sontak membuatku mengangguk antusias. Aku membuntutinya dari belakang hingga akhirnya sampai ke ruang kepala sekolah.

“Terima kasih ya karena telah mengantarku ke ruang kepala sekolah. Oh ya, kita belum berkenalan sejak tadi” ucapku, sambil menyodorkan tangan kananku bermaksud mengajak berkenalan.

“Iya sama sama. Oh iya, namaku Kieran Alexander Weston biasa dipanggil Kai” balasnya sambil menyambut tangan kananku.

“Namaku Cassey Quintessa biasa dipanggil Quin” tuturku selagi menjabat tangan lelaki yang bernama Kai ini.

Ia pun meninggalkanku di depan ruangan kepala sekolah setelah berpamitan untuk masuk ke kelasnya karena bel masuk ke kelas telah berbunyi, aku pun mengetuk pintu ruangan tersebut dan membuka pintunya.

“Selamat pagi pak, maaf menganggu waktunya saya Cassey Quintessa murid baru pindahan dari luar kota pak..” ucapku dengan sopan kepada sang Bapak kepala sekolah

“Wah iya, Selamat pagi nak dan selamat datang ke sekolah ini. Ruang kelas kamu berada di kelas 12 MIPA 5 ya nak, kamu tinggal lurus lalu belok ke kanan saja” ucap sang kepala sekolah selagi memberikan petunjuk arah dimana ruang kelasku berada

“Baik pak, Terima kasih pak” Ucapku aku menyusuri koridor dan memasuki ruang kelas yang akan aku tempati, aku pun mengetuk pintu hingga wali kelas dari kelas tersebut memperbolehkan aku masuk

“masuk nak” ujar wali kelas

“baik bu, terima kasih bu” ucapku kepada wali kelas selagi memperhatikan seluruh anggota kelas ini hingga akhirnya aku menemukan sosok yang membuat jantungku berhenti, Dia. Dia yang selalu kucari selama ini, dia yang selalu kubutuhkan selama ini, dia yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan dia juga cinta pertama ku.

“Ayo nak kamu perkenalkan diri ke teman-teman sekelasmu” kata Ibu guru

“Ha-halo semuanya perkenalkan namaku Cassey Quintessa biasa dipanggil Quin, salam kenal semuanya” ucapku gugup karena sedari tadi ia menatapku dengan intens

“Baiklah Quin, kamu bisa duduk bersama Kai” Kata Bu guru
Ya. Selain sekelas dengan “dia” aku juga sekelas dengan lelaki yang melempar bola pada saat pagi tadi.

“Hai, kita bertemu lagi aku harap kita bisa berteman dengan baik” kata Kai sembari senyum hangat yang ia berikan padaku yang membuat rasa hangat menjalar keseluruh tubuhku.

“Hai kai, baiklah mari kita berteman” Ujarku sambil menatap matanya dan bersiap untuk duduk di kursi sebelahnya

“Baiklah anak-anak kita akan memulai pelajaran kita pada pagi hari ini” ucap Bu guru. Selama pembelajaran berlangsung aku merasakan seseorang mengawasiku sedari tadi yang membuat sedikit bulu kuduku berdiri hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi dan membuyarkan lamunanku .

“Quin, apakah kamu mau ke kantin bersamaku?” tanya Kai sembari melihat kearahku

“Ah tidak aku membawa bekal dari rumah” ucapku membalas ajakannya

“baiklah” ia pun ke keluar kelas dan menuju ke kantin

“Cassey?” panggilnya membuatku sontak menoleh kearahnya yang membuat jantungku berdetak tak karuan

“Ju-julian, Ha-hai” ujarku terbata-bata sembari menatapnya, ia pun mengambil tempat duduk disebelahku tanpa bertanya lagi.

“Bagaimana kabarmu?” Tanyanya, aku tersenyum tipis mencoba untuk tidak terlihat gugup didepan Julian.

“Aku baik, kamu?” Aku bertanya balik, walau disisi lain aku sedikit kecewa dengan Julian. Bagaimana ia meninggalkanku dan menyisakan rasa kecewa di hatiku.

“Semuanya baik..” Respon Julian, selama beberapa menit keadaan hening. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan tempat makanku.

“Maaf soal yang hari itu..” Celetuknya tiba-tiba, membuatku menghentikan acara makanku. Sedikit sakit jika dibahas lebih lanjut, jadi aku memilih untuk tidak membahasnya terlalu dalam.

“Tidak masalah, itu sudah masa lalu..jangan terlalu larut” Kataku, Julian terkekeh pelan dan mengangguk.

“Ingin kuantarkan pulang hari ini?” Tanyanya lagi, aku menggeleng. Aku hanya berniat untuk tidak memiliki hubungan yang terlarut-larut bersamanya. Aku hanya tidak ingin merasa sakit lagi.

“Tidak, aku bisa pulang sendiri. Kau pulanglah sendiri juga. Ok?” Jawabku, melihat raut wajahnya yang terlihat kecewa membuatku sedikit menyesal. Tapi bagaimanapun aku harus memulai lembaran yang baru di tempat yang baru ini.

“Baiklah aku tidak memaksa, aku akan pergi ke lapangan untuk bermain..sampai jumpa Cassey” Ujarnya sambil beranjak keluar kelas meninggalkanku sendirian.

Aku hanya menunduk menatapi bekalku, pikiranku kalut. Dan aku tidak tahu harus melakukannya bagaimana. Yang bisa aku lakukan hanyalah menjalani semuanya, mungkin di tempat yang baru ini aku akan menemukan lembaran baru yang lebih baik.

Aku tersenyum kecil dan melanjutkan acara makanku, aku hanya berusaha berpikir positif untuk sekarang.

Hari berganti hari, dan bulan berganti bulan. Tidak terasa jika aku sudah menjadi mahasiswi tetap di sekolah ini selama 2 bulan lamanya. Aku mendapatkan banyak teman baru yang baik kepadaku, termasuk kai.

Pria yang duduk semeja denganku, ia sangat baik, ramah, dan peduli kepadaku. Segala perhatiannya, aku menyukainya. Seperti sekarang ia yang sedang membelikanku makanan karena aku tidak membawa bekal.
Disisi lain, aku juga kembali dekat dengan Julian. Walau aku berusaha menghindarinya, namun itu semua terasa sia-sia bagi orang yang bertekad kuat seperti Julian.

“Cassey/Quin!”

Aku terdiam saat dua lelaki bersautan memanggil namaku, aku yang sedang duduk bersama teman-teman perempuanku tersentak. Rasanya seperti canggung sekali, aku membenci suasana yang membuatku terlihat bodoh.

“Quin..kamu dipanggil sama dua laki-laki yang berbeda, pilihlah” Rayu hannah, aku menatapnya kesal dan membuang muka. Bukannya membuatku tenang malah menambah rasa kesalku.

“Cassey”

Aku menoleh menatap Julian, terlihat membawa makanan yang berbeda dengan Kai. Pria itu juga terlihat mendekatiku, walau aku bisa melihat ekpresinya yang terlihat tidak suka kepada Julian.

“Quin, aku membawa makananmu. Ingin makan bersama?” Tanya kai, aku sontak kembali menoleh kearah Kai dan tersenyum berniat menerima tawaran Kai ketimbang Julian.

Namun sebelum aku menghampiri Kai, tanganku sudah ditarik oleh Julian melangkah keluar kelas. Aku memberontak, namun kekuatan Julian jauh lebih besar dariku. Aku akhirnya pasrah hingga kami sampai di ujung lorong dekat tangga darurat.

Ia menatapku dan mendekati diriku, sebagai seorang perempuan. Aku menjauhkan diriku berusaha menjauhi Julian jika pria itu ingin melakukan sesuatu.

“Cassey aku mencintaimu.”

Ucapnya tiba-tiba, Julian menatapku dengan mata memohon. Seakan-akan berharap jika aku akan membalas perasaannya. End