Omzet Apotek di Muba Turun Drastis

Pj Bupati Muba H Apriyadi mengecek beberapa lokasi Apotik untuk memastikan peredaran obat syrup yang dilarang tersebut tidak beredar.
Pj Bupati Muba H Apriyadi mengecek beberapa lokasi Apotik untuk memastikan peredaran obat syrup yang dilarang tersebut tidak beredar.

SEKAYU, Palpos – Pasca adanya larangan apotek menjual obat syrup mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG), sejumlah pemilik apotek mengeluh pendapatannya (omzet) turun drastis.

Hal itu terungkap, saat Pj Bupati Muba, H Apriyadi melakukan pengecekan ke sejumlah apotek yang ada di Kabupaten Muba, Selasa (25/10), guna memastikan tidak ada lagi obat syrup yang dilarang tersebut.

“Jadi setelah kami ke lokasi dibeberapa apotek, pemilik apotek mengadu karena omzet mereka turun drastis, apalagi ini musim pancaroba banyak anak-anak yang terkena penyakit batuk dan pilek yang tidak berani mengkonsumsi obat syrup,” ujar Apriyadi saat sidak ke beberapa apotek di Sekayu.

Apriyadi menegaskan, larangan penjualan dan mengkonsumsi obat syrup yang berdampak pada gangguan ginjal akut atipikal pada anak tersebut harus ditaati demi kesehatan anak-anak dan masyarakat Muba.

“Apalagi sudah ada Surat Edaran dari Kemenkes dan Pemkab Muba juga melalui Surat Edaran Bupati sudah menegaskan untuk menginventarisir dan mengamankan jenis obat-obatan syrup yang dilarang,” tegasnya.

Sementara itu, petugas jaga Apotek Telaten Prima Sekayu, Monica mengaku pasca pelarangan obat syrup yang dapat berdampak pada gangguan ginjal akut atipikal pada anak tersebut omzet penjualan obat di apotik miliknya turun mencapai 30-40 persen. (omi)