Pabrik Miras di Banyuasin Terbongkar

Peralatan pengoplos dan miras di rumah tersangka, kemarin. foto : edho-sumeks.co


PALEMBANG
– Sebuah rumah di Jalan Tanjung Api-Api Kelurahan Talang Keramat Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin digerebek jajaran Subdit 1 Industri dan Perdagangan (Indagsi)  Ditreskrimsus Polda Sumsel.

Rumah milik Suliyanto alias Yanto (38) tersebut ternyata dijadikan pabrik minuman keras (miras) oplosan  merek Mansion House dan Vodka.

Terbongkarnya berawal dari penangkapan mobil minibus Kijang LGX di Pasar Tanjung Raja, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Kamis (27/10). Mobil tersebut dikemudikan Suliyanto.

“Tersangka tengah mengendarai mobil jenis Kijang LGX dan disetop setelah dicurigai oleh anggota kita saat membawa dus berisi botol miras,” kata Direktur Ditrreskrimsus Polda Sumsel Kombes Pol Barly Ramadhany SH SIK melalui Kasubdit Indagsi AKBP Hadi Syaefuddin SE, saat merilis kasusnya, kemarin.

Ditemukan miras oplosan jenis whisky merek mansion house dan Vodka sebanyak 30 dus atau sebanyak 3.310 botol.

Kemudian dilakukan pengembangan di rumah tersangka yang dijadikan home industry di Jalan TAA, Lorong Balai Transmigrasi, RT 04/02, Kelurahan Talang Keramat, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin dan berhasil diamankan 1.872 botol.

Ribuan botol tersebut diduga tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label.

Pelaku sudah memproduksi sejak delapan bulan lalu atau persis pada bulan Maret 2022 lalu,” terang AKBP Hadi.

Dalam satu bulan, tersangka dapat memproduksi kurang lebih sebanyak 100 dus atau sebanyak 4.800 botol, sehingga dalam kurun waktu delapan bulan sudah sebanyak 38.400 botol.

“Pelaku menjual miras oplosan ini seharga Rp 375 ribu untuk setiap dus yang berisi 48 botol dan mendapatkan keuntungan Rp 75 ribu. Omzetnya sebanyak Rp 300 juta selama delapan bulan,” kata AKBP Hadi lagi.

Pasal yang disangkakan yakni Pasal 62 Ayat 1 Jo Pasal 8 Ayat 1 hurup e dan f Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan dan Pasal 106 Jo Pasal 24 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan.

“Hukuman penjara di atas 5 tahun atau denda sebesar Rp 2 miliar,” tandas AKBP Hadi.

Sementara, tersangka Yanto mengaku keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 75 ribu per dus yang ditotal selama delapan bulan mencapai Rp 60 juta.

“Diedarkan ke Ogan Ilir, Muara Enim, Pagaralam, Banyuasin, Musi Banyuasin termasuk ke Bangka. Saya belajar otodidak, produksi sendiri hingga mengedarkannya juga sendiri,” ujar tersangka Yanto.

Tersangka menjelaskan, untuk komposisi campuran miras oplosan yakni air galon isi ulang, alkohol 70 persen, pewarna caramel.

“Untuk botol kosong didapat dari penjual barang bekas dan untuk tutup botol dan label diperoleh dari Jakarta,” tutup tersangka Yanto.(dho/SC)