Pengembara

Oleh: Fransisko

Ada seorang pemuda bernama Theodorus, dia merupakan pemuda asal Norwegia yang sangat bijaksana. Dia hidup sendirian di suatu desa tanpa ada keberadaan orang tuanya, ketika Theodorus berusia 6 tahun, dia bertemu dengan kakeknya yang merupakan seorang admiral angkatan laut. Kakeknya berkeinginan untuk menjadikan Theodorus sebagai prajurit angkatan laut, tetapi Theodorus masih bingung dengan hal itu. Suatu ketika, datanglah seorang bajak laut dengan anggotanya. Bajak laut tersebut merampok desa Theodorus dan membunuh semua orang yang ada di desa tersebut, tetapi bajak laut tersebut tidak membunuh Theodorus. Dengan wajah yang sedih dan kesal, Theodorus berkeinginan kuat untuk membunuh bajak laut tersebut. Sejak kejadian itu, Theodorus datang ke pegunungan setiap harinya untuk berlatih teknik pedang dengan ditemani seekor burung gagak. Setelah 10 tahun kemudian, Theodorus yang berusia 16 tahun tersebut memulai perjalanannya di lautan. Dia berpergian ke tempat kakeknya berada dengan sebuah kapal kecil. Dalam perjalanan yang sedikit jauh, Thedorus memiliki persediaan makanan yang cukup sedikit. Jadi dia memutuskan untuk menuju desa terdekat. Ketika sampai di desa terdekat, Theodorus bertemu dengan seorang pemuda bernama Edvard. Edvard merupakan seorang penembak jitu di desanya.

“Jangan bergerak! Siapa Anda dan ada hal apa Anda ke desa ini?” ujar Edvard sambil mengangkat senapan.

“Saya Theodorus seorang pengembara, tujuan saya kemari hanya ingin menambah persediaan makanan” jawab Theodorus.

“Kami tidak memiliki persediaan makanan, jadi lebih baik kau pergi dari desa ini!” ujar Edvard dengan tegas.

“Ayolah teman, saya hanya ingin mencari persediaan makanan. Saya tidak akan berbuat rusuh pada desa ini” ujar Theodorus.

Tiba-tiba Edvard meluncurkan peluru pertama ke arah samping Theodorus.

“Jika Anda berani maju selangkah, tidak segan-segan peluru saya akan mengenai kepala Anda” ujar Edvard dengan nada mengancam.

Dengan cepat Theodorus langsung menebas senapannya.

“Maaf, aku duluan ya” ujar Theodorus sambil tersenyum.

Theodorus langsung menuju ke desa sambil tergesa-gesa. Sesampainya di toko persediaan makanan, dia langsung membeli banyak persediaan makanan. Edvard yang terdiam sejenak lamgsung menuju ke desa sambil berlarian untuk menangkap Theodorus. Edvard memberitahu warga sekitar bahwa ada seorang penyusup yang masuk ke desa, tetapi warga desa tidak begitu peduli pada ucapan Edvard. Ketika Theodorus jalan-jalan disekitar desa, dia mendengar warga sekitar seakan membenci kehadiran Edvard. Sesaat kemudian, akhirnya Theodorus sampai di pusat desa. Lalu Theodorus dihadang oleh Edvard.

“Wah ketemu lagi nih” ujar Theodorus sambil tersenyum.

Edvard langsung menembak Theodorus, tetapi hanya mengenai wajah sebelah kanan. Dengan gesit Theodorus langsung mengeluarkan pedangnya. Di luar desa, tiba-tiba muncul seorang bajak laut. Tanpa sepengetahuan warga sekitar, bajak laut langsung mulai merampok warga desa. Banyak warga desa berteriak dan berlarian dari bajak laut. Mendengar teriakkan warga sekitar, Theodorus dan Edvard langsung menuju ke arah teriakkan.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Edvard.

“Membunuh bajak laut adalah tujuanku mengembara” ujar Theodorus sambil tersenyum.

Sampailah mereka di hadapan bajak laut tersebut. Ternyata bajak laut yang menyerang desa Edvard bukan bajak laut yang menyerang desa Theodorus.

“Apakah kamu bisa menjaga bagian belakangku?” Tanya Theodorus kepada Edvard

“Apa keuntunganku jika aku membantumu” ujar Edvard

“Tidak ada” ujar Theodorus. “Lalu kenapa aku harus membantumu?” tanya Edvard.

“Karena kau tidak bisa mengatasinya sendirian” ujar TheodorusDengan sekejap Theodorus mengalahkan semua kru bajak laut dan juga kaptennya. Datanglah warga berterima kasih kepada Theodorus karena berhasil mengusir bajak laut tersebut. Edvard dengan wajah terkejut seakan tidak percaya bahwa pengembara tersebut ternyata sangatlah kuat.

Seminggu kemudian setelah kejadian tersebut, Theodorus ingin kembali melanjutkan perjalanannya ke tempat kakeknya berada. Edvard tiba-tiba menghampiri Theodorus dengan persiapan yang baik.

“Tunggu Theodorus!” ujar Edvard.

“Ada apa? Kenapa kamu bersiap-siap seakan meninggalkan desa ini?” tanya Theodorus.

“Apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu yakin ingin membunuh bajak laut yang menghancurkan desamu?” tanya Edvard.

“Aku hanya mengembara, membunuh bajak laut itu hanyalah alasanku mengembara” jawab Theodorus.

“Kalau begitu izinkan aku untuk berlayar bersama kamu” ujar Edvard.

“Niat saya sih juga begitu, mari kita berlayar bersama” ujar Theodorus sambil tersenyum.

Akhirnya mereka melakukan perjalanan menuju tempat kakek Theodorus berada.
Sesampainya mereka di markas angkatan laut, Theodorus dan Edvard ditahan oleh prajurit angkatan laut.

“Siapa kalian?” Tanya salah satu prajurit angkatan laut.

“Saya Theodorus dan dia Edvard, kami berdua ingin mencari kakek saya Halvor” ujar Theodorus.

“HAH??…..ada keperluan apa dengan Admiral Halvor” tanya prajurit angkatan laut dengan rasa terkejut.

“Kenapa anda begitu terkejut dengan nama Halvor?” tanya Theodorus.

“Tidak apa-apa, Admiral Halvor sedang bertugas. Dia tidak ada di markas ini” jawab prajurit angkatan laut.

Setelah beberapa jam kemudian, kumpulan burung gagak datang menghampiri markas angkatan laut dengan membawa sebuah berita. Berita tersebut berisi kematian Admiral Halvor akibat ulah bajak laut. Bajak laut yang ada pada berita tersebut sama dengan bajak laut yang menghancurkan desa Theodorus. Berita ini langsung menggemparkan seluruh dunia, disebabkan admiral angkatan laut tidak berhasil mengalahkan bajak laut. Semua masyarakat bertanya-tanya jika seorang admiral saja tidak bisa mengalahkan bajak laut, siapa lagi yang bisa mengalahkannya? Masyarakat mulai diselimuti dengan rasa takut.

Setelah berita tersebut menyebar ke seluruh penjuru dunia, pemerintah dunia memanggil semua prajurit dan admiral angkatan laut untuk melakukan rapat di markas pusat. Rapat ini berisi pernyataan perang terhadap bajak laut tersebut. Setelah Theodorus mendengar berita ini, dia langsung terkejut hingga pingsan selama 5 hari. Selama 5 hari, angkatan laut mulai merencanakan penyerangan terhadap bajak laut yang akan dilakukan di Pulau Neraka atau disebut dengan Hell Tale. Setelah 5 hari, Theodorus terbangun dan didiagnosis bahwa Theodorus membangkitkan kekuatan dari dalam tubuhnya.

“Theodorus, apa kamu sudah baikkan?” tanya Edvard.

“Aku baik-baik saja, tetapi kepalaku sedikit pusing” jawab Theodorus.

“Aku dimana ini?” tanya Theodorus.

“Kita di rumah sakit khusus angkatan laut” jawab Edvard.
“Selamat pagi Theodorus, bagaimana kondisinya?” tanya dokter.

“Sudah lumayan dok” jawab Theodorus.

“Ini hasil visual dari tubuh kamu, kami melihat adanya cahaya di dalam tubuhmu mirip seperti kakekmu. Kami tidak tahu itu apa, tapi mungkin cahaya itu akan memberimu kekuatan” ujar dokter.

“Kekuatan apa dok?” tanya Theodorus.

“Maaf theo, kami kurang tahu. Tapi menurut peneliti kami ada 5 kekuatan, masing-masing kekuatan berbeda warna cahayanya” ujar dokter.

“Dalam tubuhmu, terdapat cahaya berwarna biru” ujar dokter.

“Baik dok, terima kasih telah merawat saya” ujar Theodorus.

“Iya, sama-sama” jawab dokter

Selama perbincangan tersebut, angkatan laut sudah bergerak menuju pulau Neraka. Theodorus yang menyadari hal tersebut, langsung berlarian menyusup ke kapal angkatan laut. Sesampainya di Pulau Neraka, anggota bajak laut dan prajurit angkatan laut langsung mulai melakukan penyerangan. Theodorus langsung berlarian menuju kapten dari bajak laut itu, untuk membalaskan dendam kakeknya dan juga warga desanya. Tetapi Theodorus langsung ditahan oleh kedua pemimpin dari armada bajak laut tersebut.

“Kamu langsung pergi saja, biar aku yang urus mereka” ucap Edvard.

“Kutunggu kau disana” ujar Theodorus.
Sesampainya dihadapan sang kapten.

“Akhirnya kita berjumpa lagi, setelah kamu menghancurkan desaku” ujar Theodorus.

“Apakah kita pernah bertemu?” tanya sang kapten.

“JANGAN PURA-PURA BODOH KAMU! Kamu menghancurkan desaku dan membunuh kakekku Halvor” ujar Theodorus sambil berteriak.

“Sepertinya aku pernah membunuh orang dengan nama Halvor, aku selalu mengingat lawan yang kuat. Halvor termasuk lawan cukup kuat bagi saya, tetapi dia mati konyol karena membantu prajurit angkatan laut” ujar sang kapten.

“BERANINYA KAU!!” ucap Theodorus sambil menahan amarah.

Dengan cepat, Theodorus langsung menyerang sang kapten. Tetapi sang kapten tidak membiarkannya dengan mudah. Pada saat Theodorus berlari menuju sang kapten, wakil admiral angkatan laut melihat sekilas 2 pemuda yang masing-masing memiliki tekad untuk menjadi kuat.

“Siapa mereka berdua itu?” tanya wakil admiral.

“Mereka adalah pengembara, salah satu pengembara bernama Theodorus mencari kakeknya yaitu Admiral Halvor” jawab salah satu prajurit.

“Sepertinya menarik” ujar wakil admiral.
Pertarungan antara Edvard dan 2 pemimpin armada nampaknya sangat sengit.

“Apakah hanya segini kekuatan 2 pemimpin armada dari bajak laut terkuat?” Ujar Edvard dengan wajah tersenyum.

Dengan mudah, Edvard mengalahkan kedua pemimpin tersebut. Lalu Edvard menuju ke tempat Theodorus bertarung. Sesampainya disana Edvard langsung menembak sang kapten dari jarak jauh dan mengenai kaki sang kapten. Theodorus langsung menyadari hal itu dan tersenyum kehadiran Edvard.

“Sudah kuduga kau pasti bisa mengalahkannya” ujar Theodorus sambil tersenyum.

“Terima kasih telah menungguku Theo” ucap Edvard.

“Baiklah sudah saatnya kita serius” ujar Theodorus dengan rasa percaya dirinya.

“Hanya menambah 1 orang saja itu tidak akan membuat kalian bisa mengalahkanku” ucap sang kapten dengan nada sombong.

Setelah 1 jam melakukan pertarungan, terlihat bahwa Theodorus dan Edvard kelelahan. Theodorus langsung maju terburu-buru, namun pedangnya malah patah. Dan Theo pun terjatuh hingga hal ini membuat sang kapten mendapatkan kesempatan untuk membunuhnya. Sang kapten langsung cepat membunuh Theo, tetapi Edvard dengan cepat menghalanginya. Hal ini membuat sang kapten murka dan langsung menghampiri Edvard dan membunuhnya.

“TIDAKKKKKK!!!!!!!!!” ujar Theodorus sambil berteriak.

“Sudah kubilang kalian tidak akan bisa mengalahkanku” ucap sang kapten.

Theo dengan cepat menghampiri Edvard dan meminta pertolongan dengan angkatan laut. Tetapi angkatan laut tidak bisa menolongnya, karena tidak ada yang ahli dalam pengobatan disana. Theodorus dengan sujud memohon kepada prajurit angkatan laut, untuk memberi pertolongan kepada Edvard. Namun tidak ada satupun yang dapat menolongnya, seketika Theo terdiam dan menangis. Theo mulai berpikir tentang yang dikatakan sang kapten, bahwa dia masihlah kurang kuat.

Seketika cahaya dalam tubuh Theo membesar, sehingga Theo bangkit dari tangisannya. Theo tanpa sengaja sudah mengaktifkan kekuatan dalam tubuhnya. Dia langsung menyadari hal itu, dan dia mengingat tentang apa yang diucapkan oleh dokter. Bahwa cahaya itu menunjukkan adanya kekuatan, tetapi Theo masih tidak tahu apa kekuatannya. Saat Theo memegang kembali senjatanya yang patah, tiba-tiba serpihan senjatanya mulai bersatu membentuk pedang yang sempurna dengan adanya cahaya biru disekitar pedang tersebut.

“Apa ini? Kenapa pedangku memancarkan cahaya biru?” tanya Theodorus.
Dengan gesit, Theodorus langsung menebas tangan sang kapten hingga putus. Sang kapten langsung terkejut dengan perubahan kekuatan Theodorus.

“Sepertinya kau sudah dapat kekuatan baru ya” ujar sang kapten sambil melihat Theo memegang pedangnya.

“Kali ini tidak akan kubiarkan kau berbuat seenaknya” ucap Theodorus.

Theodorus mulai menebas satu persatu bagian tubuh sang kapten, hingga sang kapten berteriak kesakitan. Dan Theodorus mulai mengakhiri pertarungannya dengan menebas kepala sang kapten. Lalu semua orang di pulau tersebut terkejut dengan kematian sang kapten. Sisa anggota bajak laut, satu-persatu mulai dihabisi oleh wakil admiral angkatan laut.

“KITA MENANG!!!!” ucap wakil admiral sambil teriak.

Setelah kemenangan itu, pemerintah dunia langsung ingin menemui pemuda itu di markas pusat angkatan laut. Lalu Theodorus diberi 2 pilihan ingin menjadi admiral atau ingin pulang ke desanya. Dengan suara yang tegas, Theodorus langsung memilih kembali pulang ke desanya. Dia ingin membangun kembali desanya.

Lalu pemerintah dunia memberikan sedikit hadiah kepada Theodorus sebagai penghargaan atas jasanya dalam perang tersebut. Theodorus pun langsung bergerak cepat kembali ke desanya. (*)