PERAJIN TEMPE GUNDA GULANAH


Harga Kedelai Melambung

NEGERI yang terkenal memiliki tanah subur dan sangat luas, namun urusan pertanian tak sepenuhnya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. Pemerintah pun lebih memilih impor ketimbang menggenjot produktivitas petani.

Salah satunya kedelai sebagai bahan baku dasar membuat makanan merakyat yakni tahu dan tempe. Sejauh ini, harga kedelai terus menunjukkan tren kenaikan. Khususnya kedelai impor. Akibatnya perajin tahu dan tempe pun terancam gulung tikar karena makin turunnya minat masyarakat untuk membeli tahu dan tempe.

Kementerian Perdagangan mengakui harga kedelai pada Oktober 2022 masih tinggi. Pada September 2022, harga kedelai naik menjadi Rp 12.385 per kilogram. Sedangkan harga jual di Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Kopti) pada September lebih tinggi, yaitu Rp 13.044. Kemudian harga beli kedelai per 4 Oktober sebesar Rp 12.575. Sementara harga kedelai normal berkisar Rp11.000 per kilogram.

Dilansir dari detiknet.com, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Sudaryono mengatakan, salah satu cara untuk menekan harga kedelai yakni petani harus diperhatikan. Caranya dengan membuat program bantuan benih, pupuk, membeli hasil panen, dan lainnya.

“Perhatian ini harus dimulai dari hulu, supaya semua bisa merasakan program dari pemerintah. Perhatian dari pemerintah juga akan membawa efek yang baik juga, jadi ini adalah momentum untuk tingkatkan produksi dalam negeri,” kata Sudaryono dalam keterangannya, Jumat (14/10).

Dengan perhatian dari pemerintah, kedelai yang dihasilkan petani akan berlimpah. Pada akhirnya akan memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri dan bisa menekan kenaikan harga.

“Kalau petaninya dibantu, tentu hasil panennya akan bagus dan melimpah. Kalau kedelai melimpah, kan harga stabil, rakyat juga senang. Akhirnya roda perekonomian bisa berputar dengan biak. Jadi intinya pemerintah harus merencanakan rencana jangka panjang untuk menurunkan ketergantungan impor kedelai menuju kemandirian,” ungkapnya.

Menurut Sudaryono, upaya kemandirian pangan menjadi antisipasi pemerintah atas ancaman krisis pangan dunia. Ini saatnya pemerintah melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar susisdi. Sebab, subsidi adalah solusi jangka pendek.

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyebut tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga kedelai. Mengingat kedelai merupakan komoditas impor yang harganya ditentukan oleh pasar bebas.

Namun, hal itu tidak berarti pemerintah tidak bisa mengambil tindakan atau mencarikan solusi. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, meminta para importir untuk membuat kontrak kerjasama jangka panjang kepada produsen kedelai di luar negeri.

Cara ini dianggap bisa membuat harga kedelai lebih stabil.

“Panggil semua importir kedelai untuk menekan produsen menjadi kontrak jangka panjang sehingga stabilitas harga kedelai ini bisa terjamin,” kata dia.

Bhima menyebut, selama ini importir dengan produsen kedelai di luar negeri meneken kerjasama jangka pendek. Akibatnya risiko fluktuasi harga kedelai tidak bisa terhindarkan.

“Jadi jangan hanya kontrak jangka pendek. Kontrak jangka panjang bisa meminimalisir terjadinya fluktuasi harga bahan baku kedelai,” sambungnya.

Sementara itu, beberapa pedagang yang ditemui di sejumlah pasar tradisional mengaku kenaikan harga kedelai membuat mereka pengrajin kewalahan. Saat ini harga kedelai sudah mencapai Rp 13.500/kg.

“Kami sekarang berat sekali, terpaksa kami mengurangi produksi. Dulu produksi bisa sampai 180-200 kg per hari. Sekarang 150 kg terkadang masih nggak habis,” kata Haqi Irmansyah, pengrajin tempe di Sukamulya, Palembang.

Haqi berharap, agar pemerintah membantu subsidi sehingga harga kedelai ini bisa lebih murah.

“Tidak ada jalan lain, karena kedelai ini impor. Jadi, harganya naik terus. Kami sangat berharap agar pemerintah bisa mensubsidinya,” jelasnya.

Untuk harga, sambung Haqi, sejauh ini tidak ada kenaikan. Harga tempe masih Rp 4-5 ribu sedangkan tahu satu bungkus isi 10 kita bandrol Rp 10 ribu. “Paling kita kecilkan ukurang tempenya,” ujar dia.

Perajin tahu lainnya menambahkan, selalu merugi sejak kenaikan harga kedelai. Pihaknya berharap harga kedelai bisa stabil di angka Rp10 ribu per kilogram.

“Jika harga kedelai stabil kami bisa mendapatkan untung. Tapi kalau harganya naik maka kami terpaksa harus menaikan harga jual. Namun hal itu sulit dilakukan karena masyarakat kita tahunya harga tahu ini murah,” ungkapnya.

Hasil pemantauan, penjualan tempe di Palembang terus mengalami penurunan. Disebabkan daya beli masyarakat yang turun. Padahal tempe dikenal sebagai produk pangan murah. Mulai terpuruknya perajin tempe rumahan, diperparah melonjaknya harga bahan baku kedelai, 2 bulan terakhir.

Beberapa perajin memilih tetap tidak menaikkan harga jual tempe. Mereka mensiasati dengan mengurangi ukuran. Namun hal itu belum mampu menutupi biaya produksi. Perajin tempe berharap, Pemerintah dapat mengintervensi harga atau memberikan subsidi untuk pembelian kedelai yang harganya terus tak terkendali. Bila dibiarkan, bisa membuat banyak perajin tempe yang gulung tikar.

Sementara Kadin Perindag Kota Palembang, Raimon Lauri mengaku belum menerima keluhan terkait kenaikan harga kedelai ini.

“Belum ada keluhan, nanti kami survey langsung ke lapangan,” tukasnya. (tia/ika)