PERINGATAN DINI !


Kasus HIV di Sumsel Meningkat, Harus Serius Lakukan Pencegahan

KASUS HIV di Sumatera Selatan (Sumsel) termasuk relative tinggi. Hal ini karena adanya peningkatan kasus pada pertengahan 2022 dibandingkan tahun sebelumnya.Dari data Dinas Kesehatan Sumsel, dalam kurun waktu enam bulan di tahun 2022, ada 210 orang terjangkit HIV.

Dari data tersebut, kasus HIV tertinggi berada di Kota Palembang. Dimana kasus HIV di Kota Palembang sdbanyak 112 kasus, Banyuasin 19 kasus, OKI 17 kasus, Muara Enim 15 kasus, OKU Timur 11 kasus, Muba 10 kasus, Prabumulih 7 kasus, Ogan Ilir 5 kasus, OKU 4 kasus, Pagaralam 3 kasus, Lahat 2  kasus, dan Lubuklinggau serta OKU Selatan masing-masing 1 kasus.

Terkait hal ini, sejumlah warga Kota Palembang yang ditemui koran ini berpendapat, tingginya kasus HIV di Kota Palembang tak lepas dari kebebasan masyarakat yang kerap melakukan sex bebas pergaulan bebas.

“Didukung juga dengan maraknya tempat dunia malam, hiburan bebas. Ini menyumbang angka itu, lelas dari dunia malam ke hotel lalukan hubungan terlarang terbentuknya HIV atau tertularnya,” jelas Rudi, salah seorang warga Kota Palembang.

Setelah tertular lanjut dia, maka keturuannya ikut serta juga. Maka jumlah kasus makin meluas. “Maka pemerintah harus menekan jumlah dunia hiburan, karena bagaimanapun juga ini akan menyumbang jumlah penderita HIV,” ujarnya. Senada dikatakan Andini, warga Kota Palembang lainnya. Menurutnya, tinggi kasus HIV aids di Kota Palembang dikarenakan kehidupan pergaulan bebas yang mulai tak terkontrol.

“Kondisi ini ditambah dengan adanya sarana untuk itu seperti tempat hiburan malam yang menyediakan berbagai hal yang memberikan peluang bagi warga untuk berhubungan bebas.

Untuk itu lanjut Andini, pemerintah harus serius melakukan langkah dan tindakan. “Selain menyediakan pengobatan, pemerintah juga bersama stake holder seperti tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk saling bahu membahu memberikan edukasi ke masyarakat agar menghindari pergaulan bebas. Bagi pemerintah dan pihak yang punya wewenang lainnya juga harus tegas memberantas prostitusi termasuk mengawasi tempat hiburan yang menyediakan layanan prostitusi,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Palembang, jumlah penderita HIV tahun ini hingga Juli 2022 mencapai 185 kasus. Ini meningkat dibandingkan tahun 2021 yang hanya 93 kasus.

Kadinkes Kota Palembang melalui Kabid P2P Dinkes Kota Palembang, Yudi Setiawan mengatakan, ada banyak faktor peningkatan HIV ini.

“Salah satunya adalah saat ini mulai gencar lagi dilakukan pendataan setelah sebelumnya terhenti akibat pandemi,” kata Yudi.

Dari data yang ada, sambung dia, paling tinggi HIV ini diderita dari kategori Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau gay dari 64 kasus menjadi 116 kasus.”Kemudian pasien TB dari 4 kasus menjadi 17 kasus. Lalu,pasien IMS dari 2 kasus menjadi 8 kasus. Waria dari 1 kasus menjadi 3 kasus dll,” jelas dia.

Dari segi umur, sambung Yudi, banyak dari usia produktif antara 25 tahun sampai 49 tahun. “Kalau dari sisi pekerjaan banyak dari pegawai swasta.kemudian mahasiswa dan wiraswasta,” jelasnya.Yudi menambahkan, pihaknya saat ini terus melakukan sosialisasi dan mengimbau warga Palembang untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menjadi jalur penularan HIV.

Sedangkan kasus HIV AIDS di Kabupaten OKU Timur termasuk tinggi di Sumsel. Saat ini Kabupaten yang berjuluk Lumbung Pangan ini terdapat 26 kasus positif. Ini berdasarkan dari data yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Timur. “Untuk kasusnya menyebar di seluruh Kabupaten OKU Timur,” ujar Kadinkes OKU Timur, Zainal Abidin melalui Kabid Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Umaidah Kosim, Jumat (2/9).

Yang mengejutkan, penularan tertinggi berasal dari hubungan sesama jenis antar lelaki atau homoseksual. “60 persen kasus berasal dari hubungan sesama jenis antara lelaki dengan lelaki. Sisanya dari seks bebas tanpa alat pengaman,” tambahnya. Sementara untuk kasus yang berasal dari penggunaan narkoba dan jarum suntik hingga saat ini belum ditemukan di OKU Timur.

“Dari 26 kasus tersebut, empat diantaranya anak-anak. Dua diantaranya balita. Dua anak tersebut dalam masa on therapy dan dua balita sedang menunggu hasil viral load atau uji infeksi dalam darah,” paparnya. Untuk penanganan dan pencegahan yang dilakukan Dinkes OKUT saat ini adalah dengan melakukan pengawasan dan pemantauan ke rumah-rumah melalui beberapa Puskesmas.

“Obat juga diberikan per bulan. Mereka juga melakukan pemeriksaan di PDP kita di RSUD OKU Timur. Untuk fasilitas PDP kita juga sedang mengajukan ke Kementerian empat Faskes lainnya yaitu RS Charitas, RS Taqwa, PKM Bangsa Negara dan RSUD Martapura,” lanjutnya.

Selain itu, Dinkes juga melakukan sosialisasi ke sekolah, pesantren, Lapas dan kantong-kantong penjaringan dan rutin melaksanakan screening pada ibu hamil dan pasien yang datang ke Faskes dengan keluhan tertentu. “Data ini juga sebenarnya bisa saja lebih, karena diduga ada juga yang pasien OKUT berobat di luar Kabupaten OKU Timur,” pungkasnya.

Terpisah, anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Sumsel, Holda MSi mengaku, prihatin dengan peningatakan jumlah penderita HIV di Sumsel yang signifikan.

Menurutnya, ini bukan hanya menjadi PR besar pemerintah, tetapi harus menjadi PR besar bagi seluruh masyarakat, tidak terkecuali bagi ibu- ibu rumah tangga.Untuk itu, seluruh masyarakat mari bersatu padu untuk memerangi penyebaran HIV. (rob/nik/ika/ard/del)