POLISI TETAPKAN DUA TERSANGKA

AKBP Catur Cahyono Wibowo

PALEMBANG – Pengusutan kasus kematian santri Pondok Pesantren Gontor yang menewaskan santri asal Palembang, AM (17), menemui titik terang.

Penyidik Polres Ponorogo menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya AM.

Kedua tersangka  adalah santri senior di Pesantren Gontor. Mereka ialah MFA (18), warga Kabupaten Tanah Darat, Sumatera Barat, dan IH (17), warga Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

“Keduanya ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo di kantornya di Ponorogo, Senin (12/09).

Dia menjelaskan, penetapan tersangka diputuskan setelah pihaknya mengantongi dua alat bukti cukup, buah dari olah tempat kejadian perkara di kompleks Pesantren Gontor, pemeriksaan saksi-saksi dan barang bukti yang dikumpulkan. “Total korban tiga orang,” ujar Catur.

Kedua tersangka, lanjut Catur, dijerat dengan Pasal Pasal 80 ayat (3) jo Pasal 76 c UU tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 170 ayat (2) ke 3 e KUHP. “Sanksi di sini tuntuan 15 tahun penjara dan denda Rp3 miliar,” katanya.

Catur menambahkan ada 10 barang bukti yang diamankan dari insiden memilukan tersebut.

Di antaranya ada 2 kaos oblong, 2 celana training, 1 unit becak, 2 patahan tongkat, 1 minyak kayu putih, 1 air gelas mineral, 1 buah rekaman CCTV RS Yasyfin Darussalam Gontor.

Sementara, Soimah (45), orang tua AM mengaku lega atas ditetapkannya dua tersangka kasus kematian buah hatinya itu.

‘’Alhamdulillah sedikit lega dengan tertangkapnya dua tersangka,’’ ujarnya.

Dia berharap pihak kepolisian bisa mendalami penyebab kematian ini dan diusut tuntas sampai selesai.

‘’Bukan hanya ke pelakunya saja, tapi pihak-pihak terkait yang menyebabkan anak saya meninggal. Semoga permasalahannya bisa terang benderang dan jelas,’’ ungkapnya.

Soimah mengaku ingin melihat wajah kedua tersangka yang tega menganiaya AM hingga tewas.

‘’Pertama ingin aku peluk mereka, benar-benar kupeluk kuat. Mungkin tidak bisa ngomong, cuma bisa menangis saja,’’ ujarnya.

Titis Rachmawati, kuasa hukuk keluarga AM mengatakan hukum  harus terus berjalan. Dia juga berharap pihak keplisian  jangan hanya tersangka saja, tapi pihak lainnya harus diusut tuntas.

Sebelumnya, Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo menyebut legal standing harus dipenuhi semua sebelum pihaknya menetapkan tersangka kasus ini. Baik itu secara materiil maupun inmateriil.

“Ini kita akan melakukan konsolidasi dengan tim khusus. Baik yang pergi ke Palembang atau pun tim khusus lain terkait dengan terduga pelaku,” kata Catur.

Catur mengungkapkan, pihaknya saat ini juga sedang melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Ponorogo dan lembaga bantuan hukum. Sebab, salah satu dari terduga pelaku anak dibawah umur. Selain itu, 2 korban lainnya juga masih anak dibawah umur.

 “Salah satu terduga pelaku masih anak-anak. Tentu dalam semua prosesnya ada pendampingan. Kita melakukan kerjasama dengan Dinsos P3A Ponorogo dan LBH,” katanya.

Di sisi lain, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Ponorogo juga melakukan investigasi terkait dugaan penganiayaan yang menyebabkan santri  meninggal dunia. Kemenag Ponorogo pun langsung melakukan komunikasi dengan pihak Pondok Gontor.

“Mengetahui informasi terkait meninggalnya santri Pondok Gontor diduga dianiaya, Kemenag Ponorogo langsung melakukan investigasi,” kata Kepala Kemenag Ponorogo, M. Nurul Huda.

Oleh juru bicara Pondok Gontor, Kemenag Ponorogo, kata Nurul Huda mendapatkan informasi atau gambaran terkait penganiayaan santri AM. Dugaan penganiayaan itu dilakukan di tempat pramuka, hingga menyebabkan yang bersangkutan meninggal dunia. Penganiayaan itu dilakukan oleh dua santri yang lebih senior daripada korban.

“Pihak Pondok selama proses penyelidikan ini bersikap kooperatif, sehingga semakin memudahkan kita untuk cepat mengungkap kasus dugaan penganiayaan ini,” pungkasnya.

Catur menyebut jika dari hasil otopsi ditemukan luka akibat benda tumpul di tubuh korban. Sayangnya, dia enggan memberikan penjelasan apakah luka tersebut yang menyebabkan Albar meninggal.

“Untuk apakah luka tersebut menjadi penyebab kematian, biar ahli yang akan menyampaikan,” katanya.

Untuk diketahui,  AM meninggal diduga dianiaya oleh seniornya saat mengikuti perkembanan Jumat Sabtu, Senin (22/08).  Siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1  Ponorogo asal Palembang ini dinyatakan meninggal sekitar pukul 06. 45 WIB. Namun pihak keluarga baru diberitahu oleh pihak pondok sekitar pukul 10.20 WIB.

Atas kematian putra sulungnya, Soimah menuntut keadilan karena kuat dugaan almarhum meninggal karena dianiaya. Soimah pun menemui pengacara kondang Hotman Paris Hutapea saat berkunjung ke Palembang, Minggu (4/9). Kasus ini pun langsung viral.

Pihak Ponpes Gontor membuat pernyataan resmi membenarkan AM meninggal karena dianiaya seniornya sesama santri. Aparat Polres Ponorogo langsung melakukan pengusutan dengan memeriksa sejumlah saksi dan melakukan otopsi jasad AM di TPU Sungai Selayur Kecamatan Kalidoni Palembang.

Pihak Pondok Pesantren Modern Gontor Darusalam mendatangi kediaman AM dan melakukan ziarah ke makam almarhum di TPU Sungai Selayu, Jumat (9/9) kemarin.

Ponpes Gontor dipimpin Drs. KH. M. Akrim Mariyat Dipl.A.Ed, melakukan doa saat ziarah ke makam AM. Selain itu,  juga akan melakukan doa bersama di rumah duka Siti Soimah  di Jalan Mayor Zen, Lorong Sukarame, Kecamatan Kalidoni Palembang, malam harinya.

Meski demikian, Soimah dan keluarga meminta kasus ini untuk terus diusut sampai tuntas. Agar kekerasan dalam dunia pendidikan tidak terulang lagi. (nik)