Posisi Monoarfa


Oleh: Dahlan Iskan

BEGITU cepat birokrasi kita. Empat hari setelah diajukan pengesahan itu langsung diterbitkan: Mardiono menjadi Pelaksana Tugas Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan.

Suharso Monoarfa pun kehilangan angin. Posisinya tiba-tiba sangat sulit: mau melawan atau menyerah.

Kalau ia melawan sangat tidak elok. Ia seorang menteri: Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Yang dilawan juga menteri: Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Untuk bisa melawan dengan total ia harus mundur dari kabinet. Pertanyaannya: apakah tidak eman. Ia bisa kehilangan dua. Ia memang sudah mengatakan tidak takut kehilangan jabatan (Disway 9 September 2022) tapi apakah ia bisa mendapat restu.

Sejauh ini DPP yang baru tidak mengindikasikan ingin mengganti posisi Suharso di kabinet. Tinggal Suharso sendiri yang harus mikir: apakah mau duduk di kursi sambil mempertaruhkan harga diri.

“Saya akan konsultasi dulu dengan bapak Presiden,” ujarnya. Saya lagi di Karawang menjelang subuh kemarin, saat Suharso menghubungi saya. Lebih 5.000 orang sudah siap senam Disway bersama Bupati Cellica yang cantik dengan 5 i itu. “Pengesahan itu membuat posisi saya sulit,” kata Suharso menjelang subuh itu.

Sehari kemudian saya berada di Institut Pesantren KH Abdul Chalim di Pacet, Mojokerto. Ada wisuda di situ –saya diminta pidato wisuda. Saya mencoba bertanya pada politisi lokal: apakah PPP tidak jadi hilang dari DPR di Pemilu depan. Mereka pernah mengatakan kepada saya: di bawah ketua umum Suharso, PPP akan hilang dari DPR. Menjadi partai gurem. Tiba-tiba Suharso diganti. Apakah pergantian itu akan membawa kebaikan bagi PPP. “Mungkin bisa bertahan,” jawab mereka kemarin.

“Tidak boleh hanya bertahan. Harus meningkat,” ujar Muhammad Mardiono, Plt Ketua Umum PPP tadi malam.

Mardiono memang menelepon ketika saya dalam perjalanan menuju Surabaya. “Di Pemilu 2014, di saat PPP dilanda konflik berat saja bisa dapat 39 kursi. Saya harus mengembalikan itu,” katanya.

Kini PPP tinggal punya 19 kursi DPR. “Kami akan gerakkan kembali kader PPP di bawah,” katanya.

Mardiono ternyata lahir di Yogyakarta. Dari orang tua asli Magelang. Bahasa Jawanya halus. Kromo. Rendah hati. “Saya ini dari keluarga sangat miskin,” katanya. Mardiono pun bercerita masa remajanya. “Saya sampai pernah menjadi sopir angkot,” tambahnya. Itu ia lakukan ketika harus ikut pakde-nya di Blabak, dekat Magelang.

Di Blabak pula Mardiono menamatkan SMA. Di SMA swasta. Lalu merantau ke Jakarta. Kerja apa saja. Akhirnya pindah ke Cilegon, Banten. Dapat pekerjaan di sana.

Di Cilegon pula Mardiono masuk PPP. Di anak cabang. Saat itu Cilegon masih berstatus kecamatan. “Saya masuk PPP karena kakek saya dulu PPP,” katanya. Sang kakek adalah kiai kampung di Magelang.

Ia kenal Suharso. Sudah lebih 20 tahun. Yakni sejak ia masih  menjadi ketua PPP wilayah Banten. “Waktu itu beliau anggota DPR dari PPP,” kata Mardiono.

Karir politik Mardiono naik ke pusat ketika Romy Romahurmuziy menjadi ketua umum PPP. Mardiono diangkat menjadi wakil ketua umum.

Maka Mardiono mestinya menjadi Plt ketua umum ketika Romy terkena perkara KPK. Begitulah bunyi anggaran dasar partai. “Tapi Mbah Moen menghendaki lain. Saya ikut saya perintah beliau,” ujar Mardiono. Mbah Moen adalah KH Maimoen Zubair, kiai besar PPP dari Rembang. Jadilah Suharso Monoarfa, ketua majelis pertimbangan saat itu, menjabat Plt Ketua Umum. Lalu terpilih sebagai ketua umum di Muktamar PPP di Makassar.

Sejarah berulang. Mardiono, ketua majelis pertimbangan kini menjadi plt ketua umum. Ibarat sukses yang tertunda saja.

Sejak pindah ke Cilegon itu Mardiono menjadi orang Banten. Punya usaha di sana. Berkembang. Kini ia punya pabrik pipa baja. Punya beberapa hotel. Juga punya perusahaan logistik.

Tapi PPP Banten tinggal punya satu wakil di DPR. “Pemilu depan harus kembali tiga kursi,” katanya.

Mardiono juga sudah menelepon Gus Yasin di Semarang. Putra Mbah Moen ini menjabat wakil gubernur Jateng dari PPP. Selama ini Gus Yasin merasa disingkirkan oleh PPP. Kini sudah dirangkul kembali oleh ketua umum yang baru.

Demikian juga wakil gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum. Selama ini ia juga merasa tersingkirkan. “Saya juga sudah telepon Pak Uu,” ujar Mardiono. Di Jabar PPP pernah jaya. “Waktu saya nyalon wagub dulu, PPP masih punya 9 kursi DPR. Sekarang tinggal 3 saja,” ujar Uu tadi malam.

Pemilu kian dekat. PPP ternyata masih sempat konsolidasi. Rebutan suara akan seru. Pemilik suara sebaiknya tenang-tenang saja. (*)

 

Siapa Membunuh Putri (9)

Si Sopir Presiden

Oleh: Hasan Aspahani

 

JALAN keluar suatu persoalan, pencerahan pemikiran, cahaya di kegelapan jalan hidup, seringkali kita temukan ketika kita bertemu atau bertanya pada orang yang tepat.  Itulah pentingnya membuka jejaring pertemanan. Di kota pulau ini saya mendapatkan hal seperti itu pada sosok Roni Sirait.  Seorang pensiunan polisi. Tepatnya, dia berhenti dari dinas kepolisian.

Kalau penduduk pendatang diberi nomor urut dari satu, dua, dan seterusnya, saya dapat nomor satu,” kata Pak Roni padaku, suatu hari.  Dia sosok yang unik. Banyak sisi-sisi humanis yang membuat dia jadi orang yang menyenangkan.

Mungkin dialah orang satu-satunya di dunia ini yang menjadi ketua panitia pembangunan masjid, meskipun dia Kristen.  Saya tahu itu, ketika pada suatu wawancara ia sodorkan map, berisi permohonan dana sumbangan pembangunan masjid. Ada namanya sebagai ketua panitia.

”Warga minta dan tunjuk saya, artinya mereka percaya dan menganggap saya mampu, apa harus saya tolak?” katanya lantas tertawa ringan.

Kalau mau tahu bagaimana pulau itu berkembang dari kosong menjadi kota sedinamis sekarang, temui ia. Ia adalah kamus berjalan, ensiklopedia hidup tentang sejarah pulau ini, saksi mata berbagai kejadian penting. Berapa kali pecah perang antarsuku, suku apa melawan suku apa, apa penyebabnya, siapa yang mengompori, ada kepentingan apa di balik setiap peristiwa itu, bagaimana kerusuhan itu didamaikan, apa konsesi yang dibagikan.

Belum lagi buka tutup perjudian yang tak pernah benar-benar ditutup, tak pernah juga secara terang-terangan dibuka. Siapa atau angkatan mana yang jadi beking di perjudian hotel-hotel tertentu yang diam-diam dioperasikan menjadi kasino.

”Bapak harusnya jadi wali kota, Pak!” kata saya.

Dia tertawa lebar. ”Jadi orang bebas begini saja nikmat sekali, Dur. Sesekali jadi sopir presiden itu juga nikmat lain yang luar biasa,” katanya terus memperbesar tawanya.

“Saya ini mau mencari apa lagi? Anak-anakku sekolah dan tinggal di luar negeri.  Masih sehat, masih bisa makan sukun goreng. Ngopi bareng wartawan hebat macam kau ini….,” katanya.

”Bapak banyak musuh, Pak? Kan banyak penjahat yang dulu bapak tangkap?”

”Beberapa aku tembak dan mati,” kata Pak Roni. Seperti sesal, tapi ia sama sekali tak ragu dengan ucapannya itu.

”Pasti ada yang dendam sama aku. Aku sendiri sudah menganggap semua jadi bagian dari masa lalu, yang sudah lewat. Itu dulu kan aku lakukan sebagai tugas,” katanya.

”Bapak takut?”

”Kalau takut ngapain aku bertahan di sini, Dur. Anak saya bolak-balik ngajak saya tinggal di Amerika, yang satu di Australia,” kata Pak Roni. ”Saya mencintai kota pulau ini, Dur. Entah kenapa. Mungkin karena terlalu banyak bagian dari sejarah hidup saya yang saya lewatkan di sini. Istri saya juga dikuburkan di sini. Saya tak bisa jauh dari dia,” katanya.

Dia bisa cerita panjang, tentang bagaimana Sekumpang, kawasan yang pertama dibuka, itu dibuat Pelabuhan, lalu jalan-jalan besar dua jalur dirancang, pohon-pohon peneduh ditata, deru loader dan buldoser, semua terekam dalam ingatannya.

”Orang-orang sini yang sekarang kaya-kaya itu, toke-toke semua itu, saya tahu mereka dari sejak mereka miskin. Mereka datang ke sini pertama kali pasti ketemu saya dulu,” kata Pak Roni.

Kalau berbincang panjang dengannya, datanglah ke rumahnya yang teduh, dengan halaman luas di kawasan Pantai Pinggir. Ada pohon sukun besar yang sepertinya selalu berbuah. Tiap kali saya berkunjung ke sana, dia menyuguhiku sukun goreng, kudapan favoritnya.

Saya menulis banyak tulisan bersambung tentang sejarah kota ini dengan mewawancarai Pak Roni.  Saya juga meminjam foto-foto dari album pribadinya untuk di-repro.   Dia selalu menyebut beberapa nama untuk diwawancarai terkait satu dan lain hal.  Orang yang menurutnya lebih tahu, karena terlibat lebih banyak.

Sebagai bekas polisi dia mencemaskan kriminalitas yang tinggi sejak awal berkembangnya pulau ini.  Dia menunjukkan bekas luka panjang diagonal di perutnya.  Itu yang membuat dia berhenti jadi polisi.  Personel kurang.  Dana operasional tinggi.  Kejahatan tinggi.  Pulau ini kecil memang, tapi semua kejahatan ada di sini: penculikan, penyeludupan keluar dan masuk, trafficking, pencucian uang.

”Sekalian saja saya jadi preman, orang bebas. Daripada terikat dengan aturan kepolisian. Saya orangnya disiplin.  Tapi, tahu tidak, Mas Dur, sampai sekarang, sudah puluhan tahun saya berhenti jadi polisi, kapolres berganti belasan kali, saya masih diizinkan pegang pistol, lho… Mau lihat?” tanya.

”Nggak usah, Pak. Percaya,” kata saya. Tapi, tetap saja dia keluarkan pistolnya dari tas hitam yang selalu berada tak jauh dari dirinya itu.  Dia sorongkan ke saya. Menyuruh saya memegang pistol itu. Dingin. Dia suruh angkat. Berat.  Dingin dan berat.

”Kalau kamu mau tahu siapa-siapa orang sipil di sini yang pegang pistol tanya saya. Saya punya daftarnya,” katanya.

Saat itu saya hanya berpikir, mungkin suatu saat data itu berguna juga buat saya. Di antara banyak cerita Pak Roni yang paling sering beliau ceritakan ulang adalah menjadi sopir presiden. Siapa saja presiden negeri ini kalau berkunjung ke pulau itu maka sopir mobilnya selalu beliau.

”Kenapa, ya, Pak?”

”Saya ndak tahu juga. Mula-mulanya kan mungkin karena saya polisi ya, waktu itu. Setelah saya tak jadi polisi, protokoler tetap meminta saya. Katanya presiden sendiri yang minta.  Nyupir kan bukan sekadar nyupir ya, kadang-kadang beliau-beliau itu nanya macem-macem juga. Nah, itu saya lepas aja saya jawab apa adanya. Ganti presiden, cerita tentang saya mungkin nyambung, karena kan protokoler orangnya itu-itu juga orang yang sama,” kata Pak Roni.

Cerita-cerita dari pertemuan dengan Pak Roni itu berkilasan kembali ketika hari itu kami bertemu di peresmian pabrik perakitan elektronik raksasa Maestrochip Corps di Kawasan Industri Watukuning.  Ramai sekali. Ada tari persembahan yang megah dari kelompok seni dari Kota Tanjungpunai, kota seprovinsi di pulau seberang itu.  Makanan berlimpah.

“Bagus sekali batikmu, Dur,” katanya menggodaku. Itu bukan pujian, saya tahu. Pak Roni pasti tak pernah melihat saya pakai batik.  Kami berada jauh di deretan kursi belakang. Di barisan kursi VIP, saya lihat Pak IDR dan Bang Ameng berbincang akrab dan sesekali pecah tawa mereka. Di sana saya lihat juga ada pengacara Restu Suryono, dan Bang Eel.  Bos-bos besar Maestrochip menyalami tamu-tamu terhormat, ada Menteri Perindustrian dan Investasi, gubernur, sampai wali kota.

”Kamu harusnya di kursi VIP itu, dong,” kata Pak Roni, terus bercanda.

”Wah, di sini aja, Pak. Nggak betah,” kata saya. ”Pak, sudah baca berita hari ini. Istri polisi yang hilang itu, Pak. Bapak kenal kan?” tanyaku.

Pak Roni mengelilingkan pandang. Seperti berhati-hati. ”Itu perwira masih terbilang baru. Dia di dirkrimsus kan? Yang kemarin nangani kasus korupsi Kabag Keuangan Pemkot itu kan?  Dia agak lurus kelihatannya, tapi pasti tak bersih juga saya kira.  Saya tahu nama saja.  Tapi saya kenal mertuanya. Pernah jadi kapolres di Palembang. Saya dengar-dengar dari teman-teman yang masih aktif, istrinya gayanya sosialita gitu, dominan, lebih berkuasalah. Kalah pamornya, karena karir si perwira itu bagus karena mertuanya. Katanya, begitu. Kenapa?”

”Kenapa dia baru lapor kehilangan istrinya setelah tiga hari, Pak?”

”Kamu lebih tahu.”

”Apa istrinya masih hidup?”

”Kamu lebih tahu.”

”Kalau sudah mati, siapa yang membunuh?”

”Aku tunggu berita di koranmu aja,” kata Pak Roni.

Pak Roni berhati-hati bicara.  Pasti dia tahu sesuatu.

Seseorang dengan tanda nama panitia mendekati kami. Lalu dengan ramah memanggil nama saya. ”Pak Abdur, bisa ikut saya. Dipanggil ke ruangan VIP oleh Pak Risman. Pak Eel dan Pak Indrayana ada di sana, Pak.”  Aku tinggalkan Pak Roni yang juga harus segera beranjak dari situ, dia kali ini menjadi sopir Pak menteri.

Di ruangan VIP itu hanya ada Bang Ameng dan Bang Eel.  Bang Ameng kasih satu goody bag dan map berisi data rilis berita.  Kami berbincang sebentar, basa-basi penghangat, sekadar pelepas kekakuan. Dia minta tunggu sebentar karena Mr. Stephen Gwan, bos Maestrochip yang baru diresmikan itu hendak berkenalan dengan saya. Saya tak tahu apa perlunya. Toh dia sudah bertemu dengan Pak IDR dean Bang Eel.

Tak lama dia muncul, bilang terima kasih. Saya ucapkan selamat. Lalu melanjutkan basa-basi sampai ia keluar dari ruang VIP.  Bang Ameng memberi isyarat pada Bang Eel agar membiarkan kami berdua.

”Ini pabrik nyaris saja gagal. Nyaris pindah ke Vietnam.  Kalau terjadi, kita kehilangan investasi besar. Kita kehilangan lowongan kerja sepuluh ribu operator,” kata Bang Ameng.

”Wah, untunglah, Pak,” kata saya datar. Tak bisa saya lekas mencerna dan menentukan sikap. Apakah keadilan hukum baru satu orang pantas dikorbankan untuk pekerjaan bagi sepuluh ribu orang?

”Meskipun saya harus pasang badan, Dur,” kata Bang Ameng dengan sedikit berhati-hati.  Saya tak paham. Diam saya kala itu adalah diam yang menuntut penjelasan.

”Ingat otopsi Sandra? Berita yang tak naik di koranmu dulu?”

”Iya. Apa hubungannya, Bang?”

”Semua orang pasti mengira saya yang menghamili dia. Dia simpanan saya. Semua sepertinya mengarahkan kecurigaan ke saya.  Meskipun saya sebenarnya hanya pasang badan.”

”Jadi yang menghamili siapa, Bang? Apa dia juga yang membunuh Sandra? Atau paling tidak yang memerintahkan pembunuhan Sandra?”

”Kalau publik tahu dan orangnya diproses secara hukum, pabrik ini tak akan diresmikan hari ini,” kata Bang Ameng.  Saya teringat, pada hari-hari setelah penemuan mayat Sandra, Bang Ameng menggerakkan organisasi sosial di mana dia terlibat, bergerak cepat membantu keluarga, ibu, adik-adik Sandra.  Lalu seorang sopir taksi bodong ditetapkan sebagai tersangka.

Motif perampokan itu tak pernah terlalu meyakinkan dari jawaban tersangka dalam rangkaian sidang-sidang. Tapi, dengan demikian, kasus pun telah ditutup, paling tidak sudah dianggap selesai. (Bersambung)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 11 September 2022: 1000 Tahun

Cu Nuryani

Biarlah Inggris tetap kerajaan, contoh nyata dongeng H.C. Anderson hehe…

 

dabaik kuy

ada perang dulu antara pasukan raja dan pasukan opisisi (perang saudara/ perang sipil) … perang terjadi krn 1. raja menodai agama (menikah dgn non protestan) 2. menaikan pajak 3. berbuat tiran & menyengsarakan rakyat 4. tdk adil pada rakyat pasukan raja kalah… lalu raja diadili… di indo jg skr ada perang saudara… antara pendukung rezim dan oposisi… krn raja indo skr … tiran/otoriter…. naikin pajak…. naikin bbm 30% sekaligus… bikin uu yg merugikan.. janji kampanye tdk ditepati.. rakyat sengsara… tdk adil dalam hukum.. korupsi merajalela .. petani sawit dipaksa jual kebun… buruh hak-hak nya dikebiri dgn uu baru… kroni semena2 dlm memakai fasilitas negara tapi perangnya msh di dunia maya…

 

edi hartono

Jika anda mau tahu rasanya punya raja, tdk perlu sulit2 apply jadi WN Inggris, cukup pindah domisili saja ke Yogyakarta. Rajanya menolak jalan tol melintasi kota, hanya boleh sampai di pinggiran kota saja, agar rakyat nya tdk hanya melihat lalu lintas tol, namun juga merasakan dampak yg lebih besar lagi. Dll, dst. Beda dg Graham Smith yg anti kerajaan, saya malah kepikiran bagaimana kalau Indonesia memiliki raja, untuk menstabilkan situasi politik ketika pemilu, ketika posisi kepala pemerintahan dan parlemen sedang goyah, ketika buzzer kerja keras meruntuhkan kredibilitas pemerintahan. Raja bisa tetap tegak sebagai batas terakhir konstitusi dan penjaga kepercayaan rakyat. Pertanyaannya, lagi2, rajanya siapa? Bisa adil atau tdk? Duh, dari dulu memang susah mencari pemimpin. Hmm, Bagaimana kalau pemimpinnya diserahkan pada AI (artificial intelegence) . Undang2, peraturan, dan hukum disepakati oleh kepala negara dan Parlemen, namun pelaksanaanya diserahkan pada AI. Agar rakyat tdk khawatir dikibuli. Agar kita tdk khawatir dikibuli di peristiwa duren tiga, atau peristiwa bareng2nya koruptor kakap dibebaskan. (Komentar ngelantur sambil siap2 ke sawah, wkwkwk)

 

Al Fazza Artha

Kalau di negeri Indonesia mah mengenalnya bentuk negara itu Republik bukan kerajaan. Tapi ada juga sih yg pengen berkuasa model kerajaan, turun temurun sampe cucunya. Bila perlu sampai cicitnya canggahnya demi melestarikan trah sebagai keluarga pendiri bangsa ini.

 

AnalisAsalAsalan

Menjadi republik? Graham Smith harus belajar ke Indonesia. Saat euforia reformasi, begitu banyak usulan untuk kemajuan negeri, di antaranya: 1. Mengganti NKRI dengan Republik Indonesia Serikat (RIS), dengan harapan semaju Amerika, saat itu. 2. Mengganti Rupiah dengan Dolar Indonesia (Indonesian Dollar/ IDD), dan 1 IDD = 1 USD. Namun, semua dipatahkan. Negara harus punya benang merah, beda dengan komputer yang dengan mudah di-install ulang (format all). Ada sebuah ungkapan dari seorang petinggi di negeri seberang, Anda sudah tau, “Tak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.”

 

Budi Utomo

Sebagai tambahan yang menguatkan kisah pemancungan Charles I oleh kaum Republik yang dipimpin Oliver Cromwell maka kisah absurd berikut ini memperkuatnya. Charles II putra sulung Charles I menjadi raja tahun 1660 dua tahun setelah Cromwell meninggal. Konon rakyat Inggris berbalik membenci Cromwell maupun Republik karena memerintah dengan tangan besi. Singkat cerita, monarki parlementer pulih. Charles II melancarkan balas dendam kepada Oliver Cromwell yang memancung ayahnya. Caranya? Kuburan Oliver Cromwell digali, mayatnya dikeluarkan, lalu mayat yang sudah tak bisa merasakan apa-apa itu dipancung! Wkwkwk. Sungguh kisah sejarah yang unik.

 

Wahyudi Kando

Mulai hari ini saya rubah pola membaca CHD, Baca Komentator pilihan Dato’ DI untuk release hari kemaren, baru setelah itu baca CHD yg baru release. Pola Sebelumnya, baca release terbaru, setelah itu baru baca release hari kemaren. Discket otak suka ta nyambung at terkesan ada teracak. Hahaha Apakah Komentator ada yg seperti saya…? Salam Sehat Selalu Dato’ DI

 

Budi Utomo

Presiden diciptakan oleh USA sebagai head of state yang menggantikan raja/ratu. Selain itu founding fathers USA menggabungkan head of government dengan head of state di tangan seorang presiden. Di sistem demokrasi parlementer, head of government biasanya dijabat prime minister / perdana menteri. Monarki parlementer memisahkan head of state dengan head of government. Yang satu di tangan raja/ratu, yang lain di tangan perdana menteri. Indonesia jelas meniru USA. Sistem presidential ada plus minusnya. Begitu pula sistem monarki parlementer seperti di UK, Skandinavia hingga Jepang, Thailand, Malaysia.

 

Mirza Mirwan

Mungkinkah Inggris menjadi republik? Mungkin saja, meski kemungkinannya kecil. “Republic”, nama organisasi yang mengkampanyekan penghapusan sistem monarkhi Inggris sebenarnya sudah berdiri sejak 1983. Tetapi kurang mendapat sambutan publik. Tahun 2006 status legal Republic menjadi perseroan terbatas (limited company) dan Graham Smith menjadi CEO-nya. Smith boleh berharap memperoleh dukungan publik lewat referendum. Tetapi belum tentu kelompok pro-republik memenangi referendum. Rakyat Inggris, seperti juga rakyat Norwegia, Swedia, Denmark, Belanda dan Spanyol, kelihatannya sudah nyaman dengan sistem monarkhi. Jualan sistem republik di Inggris jelas kurang laku. Selama kepemimpinan Elizabet II bisa diteladani dan dipraktekkan Charles III, dan kelak juga Pangeran Wiliam, selama itu pula rakyat Inggris akan tetap nyaman dengan sistem monarkhi. Kalau menjadi republik dan kepala negara (presiden) dipilih langsung oleh rakyat, seperti AS dan Perancis (juga Indonesia) akan rawan terjadi konflik horisontal. Dengan sistem monarkhi, konflik yang terjadi hanya terbatas di lingkungan politisi saja. Dengan sistem monarkhi, politisi akan mati gaya di depan raja atau ratu. Tidak demikian halnya dengan politisi di depan presiden. Rakyat Norwegia bersikap takzim kepada Raja Harald V, begitupun dengan rakyat Swedia terhadap Raja Carl XVI Gustaf, atau rakyat Denmark terhadap Ratu Margrethe II, serta rakyat Spanyol dan Belanda terhadap raja mereka.

 

Er Gham

Sudah menjadi raja, Charles III bisa saja melakukan investigasi ulang atas penyebab kematian mantan istrinya, Lady Di. Apakah murni kecelakaan atau ada dugaan pembunuhan terencana.

 

Mirza Mirwan

Mbak/Mas Niar, bukan hanya anda yang bingung, bahkan saya juga tidak tahu dari sejak kapan hitungan 1000 tahun itu diperoleh. Karena bila dihitung sejak Raja Egbert yang berkuasa sejak tahun 827 -839 hingga Raja Charles III sekarang, menurut hitungan saya malah sudah 1.195 tahun. Dalam rentang waktu 1.195 tahun itu saya hitung ada 61 raja/ratu yang menduduki tahta kerajaan Inggris.

 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id