Pratyaya

Oleh: Astrid Lavianca

“Dre, barusan aku dapat info kalau kamu diejek sama kelas lain trus mereka juga buat-buat omongan tentang kamu sampai bawa-bawa guru pula,” ujar Leta, teman dekatku. “Hah?! Aku salah apa ya sama mereka? Dunia memang gini ya, cuman ngeliat orang dari kesalahannya, bukan dari kebaikannya.” jawabku.

Aku Edrea, seorang murid kelas sembilan yang bersekolah di SMPN 18 Jakarta. Aku mempunyai satu teman dekat, namanya Leta. Aku sudah percaya dengannya sejak kelas tujuh. Persahabatan kami berjalan sama seperti hubungan persahabatan lainnya. Sempat berselisih, tetapi tidak lama. Sebenarnya, aku masih mempunyai satu teman lagi tapi tidak terlalu dekat, namanya Allisya.

Siangnya, setelah pulang sekolah, Allisya menghampiri aku dan Leta yang sedang mengobrol santai sambil berjalan keluar kelas. “Eh aku kesel banget tau gak sih,” ucap Allisya. “Emang kenapa?” tanyaku. “Itu loh si Adena sok bisa banget kemaren pas ngerjain soal prakarya. Mentang aja dia pembinaan prakarya.” jawab Allisya.

Adena adalah salah satu teman sekelas kami. Orangnya memang suka mencari kesalahan orang dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya orangnya baik dan suka membantu. Menurut pandanganku, Adena ada di tengah-tengah, gak baik juga gak jahat. “Iya bener Sya, minggu lalu aja dia sok ngajarin aku tentang prakarya eh ternyata salah dong jawaban dia hahaha,” susul Leta. Aku memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Sesampainya di rumah, kurebahkan diriku di atas kasur. Biasanya, aku pulang sekolah dengan riang, tetapi hari ini rasanya berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal tapi aku tidak tahu. Mungkin karena diejek? Ah tidak, itu hal yang biasa. Huh.

Jujur saja, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Mungkin ini yang namanya fitnah. Kalau saja omongan itu mengenai hal lain, masih bisa kuabaikan, tetapi ini membawa nama guru. Bisa-bisa namaku dicoret dari sekolah.
Malamnya, sesudah makan, aku memberanikan diri untuk bercerita kepada mama.

“Ma, kalau ada orang buat omongan tentang kita, gimana cara menghadapinya?” tanyaku pelan. “Kalau mama sih coba inget-inget dulu yang diomongin orang lain itu benar pernah kita lakukan atau tidak. Kalau pernah, ya berarti memang kita yang salah, kalau tidak pernah, sebaiknya ngomong langsung dengan yang terlibat.

Simpel sebenarnya, tapi tergantung kamu menyikapinya,” jawab mama. Aku mengangguk sambil mencermati jawaban mama secara perlahan.

“Ma, kalau misalnya temen Drea bilang ada temen sekelas yang sok bisa dan lain sebagainya gitu, sedangkan dalam pandangan Drea dia memang bisanya di bagian itu gimana ma?” tanyaku lagi.

“Ya itu sih kamu harus cermatin dulu orangnya, dia memang sok bisa atau dia memang hebat di bagian itu,” jawab mama, “kalau dia memang hebat ya kamu bilang dong ke teman-teman kamu, kamu kasih tau kalau memang bakat dia di situ.

Kamu jangan langsung percaya sama temanmu walaupun dia teman dekat, semuanya perlu bukti. Mereka ada ngasih bukti ke kamu?” lanjut mama. Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan mama, karena Allisya dan Leta tidak memberikanku bukti sama sekali terkait hal yang diucapkannya.

Karena aku penasaran dengan kebenarannya, keesokan harinya aku bertanya kepada Allisya juga Leta. “Eh kalian ada bukti gak kalau Adena berbuat sok bisa dan kelas lain memfitnah aku?” tanyaku. Tapi tak satupun dari mereka menjawab pertanyaanku. Mereka justru memulai pembicaraan baru. Semenjak adanya berita pemfitnahan dari kelas lain, hatiku mulai aneh rasanya.

Hari-hari selanjutnya kujalani seperti biasa, hanya dua yang beda yaitu suasana dan perasaan. Suasana sekolah tidak sama seperti biasanya, apalagi perasaan.

Lebay ya? Maaf tapi memang begini adanya. Akhirnya, aku memilih untuk tetap diam dan menjalani hari-hariku seperti biasa. Aku harap keputusanku untuk diam dapat menguntungkan diriku.

Pada suatu hari, aku mendapatkan kabar dari Leta bahwa yang memfitnahku pertama kali adalah Adena, lalu Adena menyebarkannya ke kelas lain. “Hah masa iya? Padahal kan aku juga gak pernah berbuat salah sama dia,” ucapku menanggapi kabar yang diceritakan Leta. Leta hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Mendengar hal itu, aku langsung benci Adena. “Oh, iya waktu itu kamu minta bukti kan? Nih aku ada buktinya,” ujar Leta. Ia segera mengambil hpnya dan membuka video yang berisikan bukti bahwa aku telah difitnah oleh kelas lain. Dari bukti itu, aku langsung terdiam. Tidak menyangka bahwa omongan yang mereka buat tentangku sungguh jauh dari kenyataan.

Tiga hari berlalu dengan suasana hati yang tidak menentu. Dari malamnya, aku sudah memutuskan untuk melabrak Adena di sekolah. Aku menceritakan hal ini kepada Leta dan Allisya. Mereka setuju untuk menemani dan membantuku. Pagi hari telah tiba, aku datang paling pagi di kelas, tak lama Leta dan Allisya datang, juga disusul oleh Adena. Kami memantapkan keputusan dan segera menemui Adena. “Heh! Maksud kamu apa buat-buat omongan tentang aku?!” teriakku.

Allisya dan Leta seketika menyuruhku bersabar. Namun, reaksi Adena sama sekali tidak sesuai ekspektasiku. Mukanya terlihat kaget dan terdiam, sambil menggeleng-geleng. “Maksud kamu apa Dre?” tanya Adena pelan. (*)