REKTOR AKUI ADA PEMUKULAN  

Rektor UIN Raden Fatah, Prof NYayu Khadijah memberikan keterangan pers, kemarin. FOTO : ADETIA-PALPOS


Laporan Arya ‘’Digarap’’ Jantaras Polda Sumsel  

PALEMBANG – Pascapemanggilan 10 mahasiswa terduga pelaku perundungan dengan korban Arya Lesmana Putra (19). Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Prof. Nyayu Khadijah, S.Ag.,M.Si membeberkan hasil pemeriksaan tim investigasi.

Rektor menyampaikan hasil dari investigasi tersebut melalui konferensi pers di Kampus B UIN Raden Fatah Jakabaring Palembang, kemarin.

Dalam keterangannya Rektor membenarkan terjadi pemukulan terhadap Arya Lesmana yang dilakukan oleh 10 terduga pelaku.

“Jadi saya mau meyampaikan terkait beberapa hal hasil investigasi beberapa hari ini. Pertama bahwa memang benar terjadi pemukulan antara pelaku dan korban yang sama-sama mahasiswa kami,” ujar Rektor.

Dia menegaskan bahwa tindak kekerasan yang terjadi di Bumi Perkemahan Pramuka Gandus Palembang pada Jumat (29/09) yang lalu saat pelaksanaan Diksar UKMK Litbang tidak berhubungan dengan pelaksaan diksar.

 “Kemudian peristiwa ini terjadi di tempat pelaksanaan diksar di luar UIN oleh salah satu UKMK. Namun pemukulan tersebut tidak ada kaitannya dengan diksar, apalagi dikaitkan dengan perpeloncoan,” tegasnya.

Nyayu Khadijah juga mengatakan pihaknya akan memeriksa pembina UKMK  untuk mencari tahu sejauh mana telah melakukan tugas dan tanggungjawabnya.

“Terakhir kami juga akan memeriksa  pembina pada UKMK itu. Sejauh mana dia telah melakukan tugas dan tanggungjawabnya terhadap sebagai pembina UKMK. Karena pemimpin UIN tidak mungkin mengontrol secara langsung tiap kegiatan UKMK. Kami mengangkat pembina ini dengan SK Rektor dengan tujuan merekalah yang mengantrol binaannya,” kata Nyayu Khadijah.

Dia menuturkan untuk sanksi yang akan diberikan jika memang terbukti maka aka mengikuti aturan kode etik mahasiswa.

“10 mahasiswa terduga pelaku tersebut, jika terbukti sanksinya sesuai kode etik mahasiswa. Yakni ada tiga, kesalahan ringan, sedang, berat, itu disesuaikan tingkatnya sesuai kode etik mahasiswa,” katanya.

Lebih lanjut dia membeberkan, untuk sanksi masih belum bisa diberikan sekarang karena investigasi belum sepenuhnya selesai.

“Kita akan investigasi lebih jauh dulu, masih belum bisa dipastikan. Mohon bersabar sampai investigasi selesai. Kalau memang terbukti kesalahannya berat memang bisa diberhentikan. Sanksi paling berat itu diberhentikan,” tandasnya.

Sementara itu, mengutip dari sumeks.co (grup koran ini), laporan  Arya Lesmana Putera (19) pada Selasa (04/10) kemarin ke SPKT Polda Sumsel atas kasus dugaan tindak kekerasan yang dialaminya digarap penyidik Subdit 3 Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel.

 “Laporannya sudah kita terima dan tengah diselidiki, sekarang tim lagi bekerja,” kata Wakil Direktur (Wadir) Ditreskrimum Polda Sumsel, AKBP Tulus Sinaga SIK MH, kemarin.

Menurut Tulus, nantinya dari hasil penyelidikan pihaknya bakal segera memintai keterangan dan akan melalukan pemanggilan pihak terkait.

Seperti diberitakan, Arya resmi melaporkan kejadian yang dialaminya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumsel.

Saat melapor Arya dan ayahnya Rusdi didampingi tim kuasa hukum dari YLBH Sumsel Berkeadilan menyelesaikan Laporan Polisi (LP) di SPKT Polda Sumsel. Laporan korban langsung diterima Ka Siaga III SPKT Polda Sumsel, AKP Kusyanto SH.

Ketua Umum YLBH Sumsel Berkeadilan, Sigit Muhaimin SH malam itu menyebut pihaknya mendapatkan kuasa dari korban Arya.

Korban melaporkan terkait sangkaan tindak pengeroyokan yang dilakukan secara bersama-sama terhadap kliennya.

“Kita laporkan dengan sangkaan melanggar Pasal 170 KUHP. Dengan terlapor untuk saat ini lima orang panitia Diksar UKMK Litbang di salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang,” ujar Sigit.

Menurut Sigit, akibat tindak kekerasan yang diduga dilakukan oleh lebih dari 10 orang panitia Diksar tersebut, dimana kliennya juga sebagai panitia yang mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.

Di antaranya luka lebam diduga akibat ditusuk benda tajam di bagian mata sebelah kiri hingga membiru, selain itu di bawah rahang ada luka bakar akibat disundut api rokok.

“Kami berharap dan meminta kepada Bapak Kapolda Sumsel agar dapat menerima dan menindaklanjuti laporan dari klien kami ini. Dan agar terus dapat mengawal sampai ke persidangan,” ungkap Sigit didampingi tim kuasa hukum Arya lainnya.

Sigit menyebut kejadian bermula dari adanya informasi melalui pamflet terkait kegiatan Diksar UMKM Litbang. Di dalam pamplet tersebut juga dicantumkan uang pendaftaran sebesar Rp 300 ribu dengan lokasi Diksar dikatakan di Provinsi Bangka Belitung (Babel).

Namun, pada kenyataannya justru Diksar digelar di Bumi Perkemahan Gandus. Sehari sebelum pemberangkatan juga para peserta diminta membawa sembako dan gula yang dikatakan untuk dipergunakan selama Diksar oleh peserta.

Tidak terima dengan hal ini dan membuat kliennya resah hingga informasi tarsebut disebarkan korban ke sejumlah grup medsos internal mereka. Rupanya, langkah korban yang menyebarkan informasi tersebut tak dapat diterima oleh panitia yang lain.

Hingga berujung pada tindak kekerasan terhadap kliennya, yang dimulai selepas salat Jumat pada tanggal 30 September hingga tanggal 1 Oktober keesokan harinya.

“Yang membuat klien kami dan keluarganya tidak bisa terima selian dianiaya. Juga ikut ditelanjangi dan disaksikan tak hanya oleh mahasiswa melainkan juga oleh mahasiswi,” bebernya.

Penjelasan dari Sigit seluruhnya dibenarkan Arya yang tak menampik sesaat selepas kejadian tersebut merasa trauma dan sempat sudah tidak mau melanjutkan kuliahnya di kampus tersebut lagi.

Arya juga kembali menegaskan jika tidak benar dirinya telah menyebarkan berita hoax karena apa yang disampaikannya benar ada dan merupakan buah dari kegelisahannya yang ingin disampaikannya.

“Itu tidak benar, kalau saya dikatakan menyebar berita hoax. Kabar yang saya sampaikan itu benar adanya dan tidak saya buat-buat. Saya hanya berharap keadilan ditegakkan di sini karena saya dan keluarga juga sudah terlanjur menanggung malu ini,” tutup Arya.(tia)