SEJARAH KELAM


Waspada Bahaya Laten Komunis

JANGAN lupakan sejarah termasuk perjuangan para pahlawan. Inilah yang terus didengungkan para sejarawan dan para pejuang kemerdekaan terdahulu.

Seperti dalam pelajaran sejarah, bahwa Indonesia pernah memasuki fase kelam ditengah perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, yakni pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun 1948 dan Pemberontakan Gerakan 30 September PKI (G30SPKI) tahun 1965.

Dua peristiwa ini tak pelak menimbulkan korban jiwa para ulama dan santri termasuk para pejuang pada 1948 dan korban 7 pahlawan revolusi masing-masing 6 jenderal dan 1 perwira menengah TNI pada 1965.

Bahkan setiap akhir September setiap tahunnya, warga masyarakat menonton film G30SPKI. Tujuan pemutaran film ini, tentunya untuk mengenang peristiwa kelam yang menjadi fase sejarah di Indonesia.

Khususnya warga yang lahir tahun 70 an, tentu sudah tak asing dengan pemutaran film yang bertujuan mengajak warga masyarakat untuk waspada ideologi komunis. Namun seiring dengan berubahnya kurikulum khususnya dari masa orde baru ke orde reformasi, nampaknya ada perubahan ilmu sejarah.

Dari perubahan ini, timbul pertanyaan, apakah pelajar yang hidup di zaman milenial sekarang mengetahui sejarah pemberontakan PKI tersebut?. Dari pertanyaan seyogiyahnya para pelajar saat ini harus tahu dengan gerakan pemaksaan ideologi tersebut..

Seperti sejumlah pelajar yang ditemui Palpos Jumat (30/9), mengaku, tidak mengetahui sejarah tentang pemmberontakan G30SPKI . Eliza, salah seorang pelajar SMP di Kota Palembang menuturkan, jika ia tidak mengetahui apa itu pemberontakan PKI Madiun dan G30/PKI 1965

“Di pelajaran sejarah juga tidak ada pembahasan itu, saya taunya dari wawak saya apa itu PKI dan apa itu G30PKI tahun 1965,” paparnya. Senada dikatakan Fadel, salah seorang pelajar SMA menuturkan, sejumlah ilmu sejarah sudah hilang di buku pelajaran.

“Jadi jika ingin pintar dan mengetahui sejarah maka pelajar harus kreatif untuk mencari sendiri di google.Sekarang lebih pintar google daripada guru, apalagi nama- ama pahlwan saja sudah lupa,” jelasnya.

Sedangkan Mutia, salah satu siswa SMK di Kota Palembang mengaku, dirinya tidak terlalu paham soal kesaktian Pancasila ini.”Masih ingat, tapi terkadang tidak terlalu paham kenapa ada kesaktian Pancasila,” kata Mutia, siswa SMK.

Pelajar yang akrab disapa Tia menambahkan, dia tahu soal adanya Pahlawan Revolusi. “Tahu kalau ada pahlawan revolusi. Tapi, sejarahnya memang sekarang kurang didengar. Kalau dulu setahu saya sering ada di TV. Tapi sekarang sudah jarang,” ujarnya.

Tia berharap, agar nama pahlawan revolusi dan sejarahnya bisa kembali digaungkan. Sehingga, generasi muda tidak.akan lupa terhadap jasa-jasanya.

Terpisah, salah seorang siswa Sekolah Menegah Kejuaran (SMK) di Kabupaten Muara Enim, mengaku tidak banyak yang tahu tentang sejarah kelam bangsa ini berupa G30S/PKI. Mereka hanya mengetahui peristiwa tersebut sepenggal semata, yakni berupa pembunuhan terhadap 7 jenderal pada tahun 1965.

Pernyataan ini diungkapkan Selva (16), mengatakan pelajaran sejarah tentang G30S/PKI hanya tau sekilas saja semenjak menginjak SMK mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). “Saya tau tentang G30S/PKI tentang pembunuhan terhadap tujuh jenderal, itu saja,” ungkap Selva, Jumat (30/9).

Menurutnya, mata pelajaran PKN G30S/PKI yang pernah didapatnya di bangku kelas 10 itu pun hanya sekilas dan tidak ada penjelasan secara detail. Ia dan rekan sejawatnya menyarankan ada film yang dokumentasi tentang film G30S/PKI yang diputarkan.

Dengan begitu ia beserta teman lainnya minimal akan mengetahui alur cerita sejarah yang pernah terjadi di tahun 1965 kelam. Masih minimnya siswa yang mengetahui sejarah G30S/PKI ini, mengundang keprihatinan Tokoh Pemuda Muara Enim Ahmad Silihin.

Ia meminta agar para guru di sekolah hendaknya memberikan materi pelajaran sejarah G30S/PKI secara detail pada para siswa. “Jangan sampai generasi bangsa ini tidak tahu sejarah yang pernah terjadi di masa lalu, terutama sejarah kelam pada tahun ’65,” jelasnya.

Ia juga menyarankan agar jam pelajaran tentang sejarah bangsa ditambah. Hal ini untuk menambah wawasan pengetahuan siswa terhadap peristiwa sejarah bangsa. “Harapan saya ke depan agar jam mata pelajaran tentang sejarah bangsa di tambah,” tegasnya.(nik/ozi/ika)