Sidak Toko Obat, Tidak Ditemukan Jual Obat Sirup

Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Sumsel, serta didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi dan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota.
Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Sumsel, serta didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi dan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota.

PALEMBANG- Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Sumsel, serta didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi dan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota.

Kali ini sidak dilakukan di beberapa apotek yang berada di Pasar 16 Ilir Palembang, guna memastikan obat sirup yang telah dilarang Kemenkes RI tidak lagi beredar.

“Kita pantau toko obat untuk memastikan penjualan obat sirup yang membahayakan anak. Karena jika dikonsumsi bahkan bisa merusak fungsi ginjal secara akut, maka kita pastikan obat sirup ini tidak boleh lagi diperjualbelikan di toko obat manapun,” ujar Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda, saat diwawancarai langsung, Kamis (27/10).

Wawako menuturkan, masih menunggu hasil resmi Kemenkes dan juga dari BBPOM terkait obat-obatan tersebut. Ini juga merupakan berdasarkan kesepakatan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk sementara waktu tidak boleh diperjualbelikan.

“Ada sekitar 102 jenis obat-obatan yang kamarin memang masih dalam penelitian dan kajian, nah kita di Kota Palembang ini masih menunggu informasi itu,” tuturnya.

Wawako mengungkapkan, sidak toko obat yang ada di pasar 16 Ilir hari ini tidak ditemukan yang menjual obat jenis sirup. Bahkan di tiap toko sudah diberikan pemberitahuan berupa tulisan bahwa tidak melayani pembelian obat jenis sirup.

“Alhamdulillah dari penelusuran kita dibeberapa apotek yang ada d pasar 16, tidak kita temukan satupun obat yang memang dilarang diperjualbelikan lagi. Kenapa kami pilih pasar 16, karena pasar ini kan banyak sekali yang mengambil obat di sini untuk partai besar makanya tempat ini jadi awal yang kita tuju. Dan bahkan tiap apotek sudah ada tulisan tidak melayani pembelian obat jenis sirup untuk anak,” ungkapnya.

Lebih lanjut Wawako mengatakan, jika telah disepakati oleh IDAI bahwa setiap dokter tidak diperbolehkan meresepkan obat yang berkaitan dengan sirup.

“Sementara juga sudah disepakati oleh IDAI kepada dokter-dokter, mereka diimbau tidak lagi meresepkan obat yang berkaitan dengan sirup,” katanya.

Sementara itu, Plt Kadinkes Sumsel menerangkan, jika tiap Kabupaten/Kota di Sumsel telah dberikan surat edaran terkait larangan peredaran obat jenis sirup tersebut.

“Terkait masalah obat sirup ini, kita sudah membuat surat edaran ke seluruh kabupaten kota dan juga sudah ada tim gerak cepat untuk mengantisipasi yang bekerjasama juga dengan IDAI, BBPOM, Dinkes kabupaten kota,” terangnya.

Dirinya juga menyebutkan, bahwa untuk sementara sudah ada 56 obat jenis sirup yang boleh digunakan. Akan tetapi masih menunggu surat edaran untuk bisa diberikan kepada pasien. (Tia)