Siswa SMK Harus Berkompetensi Global

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hendarman. Foto net


JAKARTA
– Plt. Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hendarman mengingatkan bahwa siswa SMK harus memiliki kompetensi global sekaligus berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Kita memang harus memiliki kompetensi global, tapi jangan lupa bahwa kita hidup di Indonesia dan jadi bagian di dalam bangsa yang besar ini dan kita harus berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,” kata Hendarman dalam “Sapa Peserta Didik SMK: Cintai Negeri, Jadilah Pahlawan Masa Kini” yang digelar daring diikuti di Jakarta pada Senin.

“Apapun hebatnya kalian, semua itu tidak akan berarti kalau kita tidak menjadi bagian dari pelajar Pancasila,” tegasnya.

Menurut Hendarman, ada enam kriteria yang membuat seseorang dapat dikategorikan sebagai pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, mandiri, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan kreatif.

Ia menjelaskan bahwa pada kriteria pertama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, terdapat beberapa elemen kunci yaitu akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada sesama manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Kemudian mengenai gotong royong, ia mengatakan ada tiga elemen kunci yaitu kolaborasi, kepedulian, dan berbagai.

“Artinya, kita melakukan kegiatan bersama-sama dengan sukarela akan kegiatan yang dikerjakan bisa berjalan lancar, mudah dan ringan,” katanya.

Selanjutnya mengenai kemandirian, ia menjelaskan bahwa siswa SMK harus memiliki kesadaran akan diri sendiri dan situasi yang dihadapi, serta mampu meregulasi diri.

Dalam hal ini, menurut Hendarman, penting bagi siswa untuk mengetahui potensi yang dimiliki, baik potensi yang positif maupun yang negatif.

“Dengan demikian, kita tidak hanya memanfaatkan potensi positif tapi juga bisa mengendalikan yang negatifnya agar bisa dibalikkan menjadi sesuatu yang positif untuk diri kita,” ujarnya.

Sedangkan yang dimaksud bernalar kritis, kata Hendarman, adalah siswa harus mampu memproses informasi secara objektif, kemudian membangun keterkaitan berbagai informasi, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, membuat kesimpulan dari penalaran, serta mengambil keputusan. (ant)