Soimah : Tetap Lanjutkan Proses Hukum

Soimah, ibu almarhum AM


PALEMBANG
– Ibu orang tua santri Ponpes Gontor Modern Darusalam Ponorogo Jawa Timur, Siti Soimah menginginkan proses hukum kematian anaknya terus diusut.

Meski pimpinan Ponpes Gontor tempat anaknya almarhum AM (17) meninggal diduga korban penganiayaan sesama santri sudah bersilaturahmi ke rumahnya.

Dikutif dari akun FB Soimah Siti, keluarga AM menyatakan beberapa poin pernyataan sikap :

  1. Terhadap adanya kunjungan dari Pimpinan Gontor ke kediaman rumah saya dengan bertakziah bersama saya dan keluarga besar dan juga pada sore harinya telah melakukan ziarah ke makam anak saya Albar Mahdi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tujuan mereka mengunjungi saya dan keluarga dapat saya maknai adalah suatu bentuk tindakan yang nyata kepada keluarga kami yaitu untuk menghibur dan mengucapkan Belasungkawa agar keluarga kami bersabar dalam menghadapi cobaan yang sedang kami alami.
  2. Bahwa dikarenakan masalah ini sudah memasuki ranah hukum, maka saya tetap akan melanjutkan proses hukum tersebut untuk menuntut keadilan yang sesungguhnya untuk anak saya Albar Mahdi. Begitupun kepada pihak-pihak yang terlibat yang mencoba menghilangkan bukti-bukti, menutup-nutupi atas peristiwa penganiayaan terhadap anak saya, sehingga anak saya harus menjalani otopsi, ekshumasi dan saya sebagai seorang ibu untuk menyetujui proses otopsi, ekshumasi tersebut benar-benar sangat membuat batin saya terguncang .
  3. Saya sebagai seorang ibu dari Albar Mahdi tetap terus akan melanjutkan perjuangan anak saya. Karena sebelum anak saya meninggal almarhum selalu berceloteh kepada saya, yang ingin memperbaiki sistim ponpes. Rupanya dengan meninggalnya almarhum baru saya bisa mengerti maksud celotehan tersebut adalah untuk memperbaiki sistem agar tidak terjadi tindakan kekerasan di lembaga pendidikan mana pun dan pengalihan pengasuhan dan pengawasan kepada senioritas

Palembang, 10 September 2022

Diberitakan sebelumnya, AM meninggal diduga dianiaya oleh seniornya saat mengikuti perkembanan Jumat Sabtu, Senin (22/08).  Siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1  Ponorogo asal Palembang ini dinyatakan meninggal sekitar pukul 06. 45 WIB. Namun pihak keluarga baru diberitahu oleh pihak pondok sekitar pukul 10.20 WIB.

Atas kematian putra sulungnya, Soimah menuntut keadilan karena kuat dugaan almarhum meninggal karena dianiaya. Soimah pun menemui pengacara kondang Hotman Paris Hutapea saat berkunjung ke Palembang, Minggu (4/9). Kasus ini pun langsung viral.

Pihak Ponpes Gontor membuat pernyataan resmi membenarkan AM meninggal karena dianiaya seniornya sesama santri. Aparat Polres Ponorogo langsung melakukan pengusutan dengan memeriksa sejumlah saksi dan melakukan otopsi jasad AM di TPU Sungai Selayur Kecamatan Kalidoni Palembang.

Sampai berita ini diturunkan, kemarin, Kasatreskrim Polres Ponogoro AKP Nikholas menyatakan pihaknya sudah memeriksa dua orang terduga pelaku yang menyebabkan AM meninggal dunia. Namun, dia menegakan masih terus memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan barang bukti untuk mengusut kasus ini hingga tuntas.

Nikholas berjanji akan memberikan keterangan resmi kepada awak media setelah sudah menetapkan tersangka penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya AM.

Terbaru, pihak Pondok Pesantren Modern Gontor Darusalam mendatangi kediaman AM dan melakukan ziarah ke makam almarhum di TPU Sungai Selayu, Jumat (9/9) kemarin.

Pihak Ponpes Gontor dipimpin Drs. KH. M. Akrim Mariyat Dipl.A.Ed, melakukan doa saat ziarah ke makam AM. Selain itu,  juga akan melakukan doa bersama di rumah duka Siti Soimah  di Jalan Mayor Zen, Lorong Sukarame, Kecamatan Kalidoni Palembang, malam harinya ini.

Selain KH Akrim, turut serta pimpinan Gontor lainnya yakni Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasih MA.

“Intinya kedatangan untuk silaturahmi dan melakukan takziah, karena almarhum merupakan anak didik,” kata KH Akrim saat ditemui awak media usai melakukan ziarah di makam AM.

KH Akrim meyakini, bahwa anak santri saat belajar dan kemudian meninggal dunia adalah mati syahid.

“Kita yakin dan percaya anak yang meninggal sedang belajar itu adalah jihad fisabillillah. Kita ke sini untuk bertakziah dan mengutarakan kedukaan kita,” ungkapnya.(nik)