STOP KEKERASAN !


UIN RF Bentuk Tim Investigasi

AKSI kekerasan menimpa mahasiswa Universita Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang berinisial AR (19). Dia diduga menjadi korban kekerasan oleh seniornya ketika sedang mengikuti kegiatan pendidikan dasar (diksar) Unit Kegiatan Mahasiswa Khusus (UKMK) Penelitian dan Pengembangan (Litbang).

Kejadian yang dialami oleh AR ini terbongkar setelah kabar tersebut tersebar di media sosial Instagram. Saat kejadian berlangsung, AR mengikuti kegiatan diksar selama empat hari yang dimulai 29 September hingga 2 Oktober 2022 di Bumi Perkemahan Gandus Palembang.

AR merupakan mahasiswa semester tiga Fakultas Adab dan Humaniora. Dia dianiaya oleh seniornya pada Jumat (30/09) sampai Sabtu (01/10) pagi. Akibat penganiayaan tersebut, AR menalami lebam di wajah, luka-luka di beberapa bagian tubuhnya dan mengalami trauma berat. AR menjadi tidak mau lagi kuliah. Kini AR masih dalam perawatan di RS Hermina Jakabaring Palembang.

“Anak saya disiksa, disundut rokok pipinya, matanya. Untung tidak buta, hampir mati anak saya dibuatnya,” ujar Rusdi, ayah korban saat ditemui di RS Hermina Jakabaring, kemarin.

Rusdi menjelaskan, korban dianiaya oleh belasan pelaku dan juga ditelanjangi oleh para seniornyo itu.

“Ya Allah, anak saya itu hafiz Alquran. Dia gak berani melawan sama orang. Dia disiksa dari Jumat siang tanggal 30 September 2022 sampai Sabtu subuh. Itu mereka lakukan berulang-ulang memukuli anak saya. Gak sampai hati ternyata anak saya juga ditelanjangi dan itu kejadiannya dilakukakan di depan anak perempuan,” ungkap Rusdi sambil meneteskan air mata.

Rusdi menuturkan, akibat kejadian tersebut anaknya sampai ingin berhenti kuliah karena takut dan trauma.

“Yang saya bingung juga ini, anak saya gak mau lagi nerusin kuliah karena takut,” tuturnya.

Selain itu, diksar yang dilakukan tersebut ternyata tidak ada izin dari pihak kampus. “Mereka ini katanya mau diksar di Bangka. Nah itu disuruh lagi nambah uang Rp300 ribu ditambah sembako. Nah ini katanya pemberitahuanya ada di sosmed Instagram, tapi itu tersebar cuma di kelompok mereka saja,” lanjutnya.

Saat panitia memeriksa Hp anggotanya, kebetulan di Hp korban masih ada bukti pemberitahuan itu. Makanya dari situ korban disiksa. Pascakejadian, kata Rusdi, dia dipanggil ke Polsek Gandus untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

‘’Sebenarnya saya yang meminta damai. Tapi melihat kondisi anak saya, rasanya tidak terima. Saya juga diintimidasi akan dilaporkan balik oleh panitia dengan ancaman UU ITE terkait perbuatan anak saya,’’ ungkapnya.

Rusdi menambahkan, saat keluarganya memberitahu bahwa perbuatan para senior korban sudah kriminal sangat keterlaluan, dia akan membuat laporan polisi. Rusdi ingin kasus ini diusut tuntas agar anaknya mendapat keadilan.

Sementara, Mai yang merupakan ibu korban mengaku sangat terpukul saat mengetahui kabar anaknya telah menjadi korban kekerasan saat mengikuti diksar yang diduga dilakukan oleh seniornya tersebut.

Terlebih saat dia melihat kondisi wajah sang anak dipenuhi lebam dan terdapat luka akibat sundutan api rokok, Mai menilai tindakan tersebut sudah tidak manusiawi.

Lebih lanjut, Mai mengatakan atas kejadian tersebut anaknya sampai mengalami kondisi psikis yang buruk sehingga berniat tidak ingin melanjutkan perkuliahan kembali.

Akibat tak tahan atas rasa sakit yang dirasakan sang anak, kata Mai, akhirnya diputuskan untuk membawa korban ke Rumah Sakit Hermina di Jakabaring Palembang, kemarin siang.

“Tadi siang kami larikan ke rumah sakit dan korban masih belum bisa dibesuk dulu. Jujur, dari semalam saya terus-terusan menangis bila membayangkan saat anak saya diperlakukan seperti binatang, biadab sekali mereka,” ungkap Mai berharap pelaku dihukum sesuai dengan kesalahannya.

Sementara itu, Kun Ediyanto, Wakil Dekan III Fisip UIN sekaligus selaku ketua tim investigasi kasus pengeroyokan mahasiswa, mengatakan pihaknya belum bisa mejelaskan secara menyeluruh.

“Jadi kami belum bisa mejelaskan secara menyeluruh karena baru membentuk tim untuk mencari fakta yang ada. Jika memang terbukti terjadi kekerasan di dalam kegiatan tersebut, jelas pihak UIN tidak akan tinggal diam,” kata Kun, kemarin.

Kun menyampaikan, akan ada pemberhentian jika memang pelaku terbukti bersalah.

“Jadi akan ada pemberhantian, tapi kita akan melihat rambu normanya karena kita ada kode etik kemahasiswaan dan kode etik lain kita ada semuanya. Kan nanti setelah mencari fakta data, biar nanti kami putuskan tindakan apa,” ucapnya.

“Kalau bahan kami ga bisa ngomong, tugas kami hanya mencari fakta-fakta untuk di kumpulkan. Pihak UIN sudah jelas pasti tegas memberikan hukuman jika ada pelanggaran kekerasan kriminal maka pasti akan kita skors dan diberhentikan,” terangnya.

Dirinya mengungkapkan, jika pihaknya dan juga pihak kepolisian mash terus akan mengusut kasus tersebut hingga selesai.

“Kalau kepolisian nanti kami akan duduk bersama membahas fakta yang ada, kami akan membahas fakta yang ada. Karena konteks kami hanya fokus pelanggaran kampus. Ketika nanti di luar kami serahkan pada pihak keluarga akan dilanjutkan kepolisian atau bagaimana,” ungkapnya.

Nanti pihaknya juga akan mengecek terkait izin diksar yang UKMK Litbang lakukan. “Kami akan cek itu ada izin atau tidak, maka dari itu kami sedang mengumpulkan data. Ini sudah kumpul akan kami panggil, karena agar tidak menjadi konsumsi publik yang negatif ke UIN,” imbuhnya.

“Sekali lagi, ini akan kami selesaikan secepatnya sehingga tau apa yang terjadi di lapangan. Karena ini baru satu kelompok yang dipanggil yang lainnya belum dipanggil jadi belum disimpulkan. Apapun yang ada informasi yang didapat akan kami panggil,” pungkasnya. (tia)