Tak Boleh Hilang, Pelajar Harus Tahu


Syafrudin – Sejarahwan 

G30SPKI yang setiap tahunnya diperingati sebagai sejarah kelam bangsa Indonesia, bahaya laten dari paham komunis pun sampai sekarang masih terus diwaspadai.

“Pertama kita harus paham, komunis itu merupakan suatu partai, Partai Komunis yang sudah dibubarkan dan tidak ada lagi. Sebagai sebuah ideologi, maka komunis itu akan tetap hidup selagi masih ada manusia yang mempelajari dan menganut paham itu,” ujar Syafrudin, salah satu sejarahwan di Kota Palembang, Jumat (30/9).

Dirinya menjelaskan, jika kehidupan komunis tidak diperlihatkan secara terang-terangan. “Masalahnya kan kehidupan komunis itu tidak bisa terang-terangan, ia akan tersentuh oleh larangan yang sudah ditetapkan MPR tahun 1966 dan 2001 juga ada yang melarang partai komunis itu,” jelasnya.

Lebih lanjut Syafrudin mengungkapkan, biasanya yang menganut paham komunis menerapkan ideologinya dengan cara menyusup ke berbagai organisasi.

“Kedua yang harus dilihat juga, karena polanya ideologi kumunis itu tidak bisa terang-terangan maka dia akan menerapkan ideologinya dengan menyusup organisasi baik itu organisasi politik atau organisasi kemasyarakatan dan yang lain,” ungkapnya.

“Pola komunis itu memang sudah diterapkan sejak kemenangan mereka di dalam pemilu tahun 1955, nah memang mencapai puncaknya pada tahun 1960an itu. Partai-partai politik, bahkan ABRI (TNI,red) pun yang disusupi orang-orang yang menganut paham komunis itu,” lanjutnya.

Selain itu, paham komunis lebih mudah masuk dan berkembang ke negara yang ekonominya rendah. “Dan jangan lupa, komunisme itu akan subur di tengah masyarakat yang kesulitan ekonomi. Jadi dia berkembang biak pada ekonominya rendah. Kalau di negara luar itu tidak berkembang, ada memang tapi tidak jalan. Karena komunisme itu memang akan cepat berjalan di negara yang ekonominya rendah,” tambahnya.

Syafrudin mengimbau, agar dapat menyampaikan informasi terkait paham komunis kepada generasi muda.

“Maka rakyat Indonesia harus lebih waspada, waspada yang tersusun. Ada semacam penyampaian informasi tentang komunisme itu kepada generasi muda, karena mereka tidak merasakan sehingga menganggap simbol-simbol yang disebutkan sebagai selogan itu dianggap sebagai hal yang bisa melakukan perubahan,” pungkasnya. (tia)