TAK MENGUNTUNGKAN PETANI


Beras Naik Pupuk Juga Ikut Naik

HARGA beras yang melambung tinggi beberapa minggu belakangan ini, tak pelak membuat warga masyarakat menjerit. Belum selesai masalah kenaikan BBM, yang membuat kebutuhan pokok merangkak naik, kali ini harga beras yang naik.

Ironisnya pemerintah pusat seperti tidak ada solusi menghadapi ini. Hal ini tercermin dari pernyataan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang mengatakan, jika harga beras naik, menteri mengajak rakyat makan sagu saja.

Padahal sang Menteri tak sadar, bahwa harga sagu juga mengalami kenaikan. Tak pelak perkataan Menteri ini menuai reaksi masyarakat tak terkecuali warga Sumsel. Warga menilai pernyataan Mentri tersebut, tak cerdas dan tidak berpihak kepada warga yang sedang mengalami kesulitan.

Rama, warga Muara Enim menuturkan, jika hanya beberapa wilayah saja di Indonesia, yang warganya makan sagu “Sekarang menteri pada pikun dan juga bodoh, saat ini eranya mentri bobrok. Saya pribadi tidak bisa makan sagu. Jika saya tidak makan nasi saya bisa mati kelaparan,” jelasnya.

Sedangkan Maysito, warga Kota Palembang mengaku, suka makan sagu tapi yang telah diolah menjadi pempek makanan khas Palembang, namun tetap makanan utama adalah beras untuk memenuhi energi ditubuh.

“Sudah tidak normal lagi jika menteri mengatakan hal itu. Beras adalah makanan utama hampir seluruh warga Indonesia. Tidak ada lauk ataupun sayuran yang penting nasi dari beras harus ada di dapur,” tegasnya.

Untuk itu, ia berarap pemerintah pusat termasuk pemerintah daerah untuk bijak dalam melontarkan pernyataan dan harus cerdas mencari solusi. “Kenapa tidak bisa melakukan penekanan harga yang kini sedang melambung tinggi,” ucapnya.

Di Kabupaten OKU Timur, sejumlah petani mengaku, di tingkat pengecer, masih relative normal. “Harga beras di kalangan petani masih normal seperti biasanya, dengan melihat kualitas beras dikisaran harga Rp 7.000 hingga Rp 8.000 perkilogram,” ujar Arya Bima, salah seorang petani di Martapura OKUT.

Dikatakan Arya, terkait kenaikan harga beras saat ini, petani belum begitu merasakan dampaknya, terlebih dengan biaya tanam yang makin melonjak dan proses yang cukup panjang hingga bisa dinikmati konsumen.

“Petani begitu sangat tipis keuntungan, bahkan hanya bisa gali lubang tutup lubang karena berhutang di setiap masa tanam dikarenakan harga BBM naik berimbas ke pengelolaan tanah yang menggunakan mesin ikut naik, harga pupuk yang juga ikut naik dan langka, harga obat yang juga ikut naik, buruh tanam dan buruh panen ikut naik juga, jadi apa lagi keuntungan petani hanya bisa memutarkan uangnya lagi bahkan itu tadi, gali dan tutup lubang,” ungkapnya.

Oleh karena Arya berharap, pemerintah turun tangan langsung menyikapi hal ini. Jangan sampai, harga beras naik, namun petani tetap susah. “Yang menikmati bukan kami, tapi pedagang,” pungkasnya. Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Junadi saat dikonfirmasi melalui telepon mengatakan, ketersediaan stok kebutuhan pokok di OKUT aman dan tersedia. Bahkan tidak ada kenaikan harga yang signifikan.

“Kalau ketersediaan kita aman, bahkan surplus tahun ini. Khususnya gabah dan beras. Dari pantauan di 7 pasar besar di OKU Timur juga kenaikan semua dibawah 10 persen dan tidak ada inflasi. Sementara harga gabah bahkan mengalami kenaikan di tingkat petani, saat ini dikisaran harga Rp 4.500 hingga Rp 5.000 rupiah perkilogram,” bebernya.

Di Ogan Ilir harga beras berkisar diangka Rp 11 ribu hingga Rp 15 ribu, perkilogram. Namun walaupun naik, tidak berdampak baik kepada para petani padi. Bahkan banyak petani yang malah justru mengeluh dengan kenaikan harga tersebut. Bukan tanpa sebab pasalnya kenaikan harga beras di pasaran tak serta merta diikuti naiknya harga jual dari petani.

Marua, salah seorang petani padi di Mayapati, Kecamatan Pemulutan Selatan, OI justru mengeluhkan harga jual beras yang terbilang murah saat dijual namun saat di pasaran begitu justru mahal. “Harga beras kalau di sini Rp 4000 per kilo. Itu sudah jadi beras. Disini warga biasa jualnya kalengan. Sekalengnya beratnya 16 kilo. Jadi kalo tiga kaleng padi itu dapatnya 1 kaleng beras,” terangnya, Minggu (9/10).

Terkait kondisi harga beras yang menurutnya tidak sesuai ditambah . harga pupuk yang saat ini juga mengalami kenaikan. Dirinya menilai harga tersebut tak sebanting dengan biaya perawatan yang di keluarkan.

“Harga Rp 4 ribu per kilo tak sebanding dengan biaya perawatan. Terlebih harga pupuk naik juga. Apalagi panen padi ini setahun hanya sekali,” terangnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Ilir, Abi Bakri Sidik mengatakan bahwa ketersediaan pasokan pangan di OI terbilang aman dan tercukupi.

Kenaikan harga beras saat ini kata Abi, membuat pihaknya menggalakkan ketahanan pangan berupa jagung, padi dan kedelai. Untuk jagung sendiri di ogan ilir telah ada sekitar 15 hektar.

Di sisi lain, kenaikan harga beras diakui petani di Kabupaten Empat Lawang menguntungkan Seperti diungkapkan Putra, salah seorang petani sawah di Kabupaten Empat Lawang. “Kalau harga beras naik otomatis petani mengalami keuntungan namun jika beras mengalami kenaikan, pupuk juga mengalami kenaikan tentunya hal tersebut sama saja sebelumnya,” ungkapnya.

Apalagi kata Putra, petani sawah juga membutuhkan tenaga orang lain untuk menanam dan memanen dan itu pun memerlukan biaya, ditambah lagi pembelian pupuk, jika harga pupuk naik itu sama saja seperti biasanya. “Kan petani sawah itu juga membayar tenaga orang lain untuk menanam dan memanen. walaupun harga beras naik tetapi harga pupuk juga naik itu sama saja tidak naik, karena hargo komoditi itu saling tarik menarik . jika satu naik yang lain ikut naik juga,” keluhnya

Kondisi yang sama juga dialami petani di Muratara. Dimana kenaikan beras tidak berdampak pada petani karena hasil tanaman padi, untuk dimakan sendiri bukan untuk dijual. Pasalnya area persawahan wilayah Kabupaten Muratara didominasi sawah rawah lebak dan bukan sawah irigasi.

Kasuma, salah seorang petani di Desa Pauh Kecamatan Rawas Ilir mengatakan, dengan semakin tingginya harga beras bukan membuat dirinya merasa mendapatkan untuk besar dari hasil bercocok tanam. “Namun sebaliknya hal itu mejadi kekhawatiran bagi kami. Pasalnya hasil panen yang didapat belum tentu bisa memenuhi kebutuhan hidup lantaran panennya hanya sekali dalam setahun.

Sementara Akademisi UIN, Madi Apriadi SPdI MPd menyayangkan kenaikan harga beras. Pasalnya Pemerintah baru saja menerima penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI). “Sungguh ironis melihat beras naik harganya dipasaran disaat negara kita suasembada beras 3 tahun berturut-turut bahkan baru-baru ini pemerintah kita mendapat penghargaan dari IRRI karena swasembada beras,” kata Madi, Minggu (9/10).

Menurutnya, kenaikan harga beras ini sudah pasti akan berdampak bagi perekonomian masyarakat karena ini menyangkut kebutuhan pokok masyarakat.“Ini sudah pasti menyusahkan masyarakat, apa lagi masyarakat menengah ke bawah. Seharusnya pemerintah harus peka dengan masyarakat di jaman serba sulit seperti sekarang, setidaknya pemerintah tidak menaikkan beras karena kita tahu semua masyarakat kita sangat bergantung dengan beras untuk konsumsi sehari-hari,” ujarnya.

Madi menuturkan, Pemerintah jangan sampai menutup mata akan sulitnya ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat Indonesia. “Pemerintah jangan tutup mata bahwa masyarakat kita sangat bergantung kepada beras sebagai makanan utama, dengan demikian pemerintah harus segera menyelesaikan dan turun tangan mengatasi naiknya harga beras,“ tuturnya. (nik/ard/sro/pad/lam/tia)