Teddy Minahasa


Oleh: Dahlan Iskan

TRAGIS benar nasib Irjen Pol Teddy Minahasa Putra. Baru saja dapat kabar gembira, ia langsung harus berduka. Belum lagi menempati posisi barunya yang moncer, ia ditangkap dengan tuduhan narkoba.

Semua ini masih keterangan sepihak dari Mabes Polri. Kita belum bisa menggali cerita versi Teddy. “Yang jelas saya kaget sekali. Beliau itu merokok saja tidak. Masak sih mengonsumsi narkoba,” ujar seseorang yang dekat dengan jenderal polisi berbintang dua itu.

Tuduhan kepadanya dua: pengguna dan pengedar narkoba. Tuduhan pengguna didasarkan pada tes urine Teddy: positif. Itu keterangan resmi dari Polri. Tak terbantahkan. Apa pun dalihnya.

Urine positif memang belum tentu narkoba. Bisa saja karena seseorang baru saja mengonsumsi obat tertentu dari dokter. Bisa juga karena menjalani pembiusan akibat ke dokter gigi atau operasi.

“Rasanya Pak Teddy ke dokter gigi sehari sebelumnya. Juga suntik nyeri engkel,” ujar orang itu. Ditunjukkanlah pada saya nama dokternya, tempat praktiknya dan juga nama dokter giginya.

Saya sendiri tidak kenal Teddy. Juga belum pernah bertemu. Ia jadi ajudan Wapres Jusuf Kalla di saat saya sudah sibuk berat di Surabaya. Beda generasi, beda masa pengabdian.

Tadi malam saya baca di Kompas online. Ada berita yang berbeda dengan yang di media beberapa jam sebelumnya. Irjen Pol Teddy Minahasa dinyatakan negatif. Test urinenya negatif.

Dua berita itu begitu bertentangan.

Bisa saja berita yang pagi itu salah. Bisa juga karena dilakukan tes ulang. Tapi reputasi Teddy sebagai pengguna narkoba sudah tersiar luas sepanjang hari kemarin.

Teddy tragis sekali. Ia lulusan terbaik Akpol tahun 1993. Sampai bisa terpilih menjadi ajudan wapres. Tapi karirnya setelah itu tidak lagi ke atas. Memang tidak juga ke bawah. Lebih tepat hanya ke samping: jadi kapolda Banten yang wilayahnya begitu kecil, lalu wakapolda Lampung, dan masuk ke staf ahli. Agustus tahun lalu ia jadi kapolda lagi, namun masih di wilayah kelas B, Sumbar.

Maka teman-temannya melihat Teddy bukan pemilik bintang yang terang. Yang tidak perlu didekati atau ditempel. Ia bukan kelompok Sambo yang cemerlang.

Temannya melihat selama banyak tahun terakhir Teddy seperti tertekan jiwanya dalam masalah  karir.

Waktu di majalah Tempo saya diajari untuk memperhatikan para juara angkatan di Akabri. Mereka pasti calon pemimpin masa depan. Saya memperhatikan Teddy karena ajaran itu. Ia juara angkatan 1993.  Bukan karena kenal.

Kadang sulit mengikuti perjalanan karir para juara itu. Apalagi ketika tidak terlalu aktif lagi di media.

Maka di kalangan wartawan yang memperhatikan mereka, Teddy digolongkan yang bintangnya redup. Barulah wartawan tiba-tiba terjaga ketika Teddy diangkat menjadi kapolda di wilayah A: Jatim. Lima hari lalu. Yakni setelah bintang-bintang di kelompok Sambo banyak disisihkan.

Saya bisa membayangkan betapa kaget Teddy menerima pemberitahuan jadi kapolda Jatim itu. Kagetnya orang gembira. Umurnya 51 tahun, masih nututi kalau setelah itu masih akan naik lagi. Tiba-tiba saja seperti ada bintang baru yang akan meramaikan persaingan menuju langit ke-7.

Putra dari seorang ayah Madura dan ibu Tionghoa-Muslim Pasuruan itu tinggal menunggu pelantikan. Ibarat pengantin tinggal menuju pelaminan.

Setelah menerima telegram pengangkatannya sebagai Kapolda Jatim itu ia belum ke Surabaya. Ibunya memang masih tinggal di Pasuruan tapi Teddy tunggu sekalian dilantik.

Pelaminan sudah disiapkan. Tapi terjadilah peristiwa narkoba itu. Ia hampir naik tapi tidak jadi naik. Ia juga tidak ke samping. Ia tidak hanya turun. Ia jatuh.

Soal narkoba itu sebenarnya bukan peristiwa baru. Kejadiannya di pertengahan bulan Juni. Empat bulan yang lalu. Yakni ketika kapolres Bukittinggi ingin unjuk prestasi. Agar bisa segera naik jadi Komisaris Besar Polisi.

Kapolres, Juni lalu itu, menangkap narkoba 41 kg.

Sang Kapolres, setelah itu, ternyata dipindahkan ke Polda. Menempati job yang bukan untuk pangkat Kombes.

Narkoba tangkapan itu sendiri akhirnya dibakar. Yakni setelah selesai dipergunakan untuk barang bukti penuntutan hukum. Ada upacara pembakarannya. Di depan umum.

Mungkin tidak semuanya dibakar. Menurut keterangan Mabes Polri, ada 5 kg yang tidak dimusnahkan. Agar yang dibakar tetap 41 kg dimasukkan tawas sebanyak 5 kg sebagai pengganti.

Narkoba 5 kg itulah yang dijual ke sang mami. Tahap pertama sebanyak 2 kg. Ada bukti pembicaraan dan WA. Ada aliran uang. Termasuk ke Teddy, sebanyak Rp 300 juta dalam bentuk Singapore dolar.

Cerita selanjutnya Anda sudah tahu: seorang pengguna narkoba ditangkap petugas Polda Metro Jaya di Jakarta. Ia mengaku mendapatkannya dari pengedar. Pengedar mendapatkannya dari seorang ‘mami’. Sang mami mengaku mendapatkannya dari kapolres Bukittinggi. Kapolres mengaku atas perintah Teddy.

Irjen Pol Teddy Minahasa pun ditangkap. Ia lahir di Minahasa ketika orang tuanya merantau ke sana.

Teddy belum bisa membela diri. Demikian juga sang kapolres, yang menurut keterangan Mabes Polri ditemukan sabu 2 kg di rumahnya.

Rasanya baru sekarang ini terjadi, jenderal bintang dua polisi ditangkap polisi. Soal narkoba.

Dari cerita itu bisa disimpulkan bahwa polisi yang mengungkap perdagangan narkoba ini luar biasa. Hebat sekali. Seperti tidak menghadapi problem ”rantai putus” yang sering digunakan oleh jaringan narkoba.

Kalau benar Teddy akhirnya negatif narkoba maka ia masih  menghadapi tuduhan sebagai penyalur narkoba. Itu berdasar pengakuan orang lain. Mungkin ia akan bisa berkelit di soal apakah pengakuan itu benar atau tidak.

Yang jelas bintangnya sudah jatuh. Bintang itu begitu tinggi tempatnya. Tapi bisa jatuh secara tiba-tiba. Penyebabnya bisa apa saja. (*)

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 14 Oktober 2022: Siti Jenar

 

Liam Then

Hakikat kehidupan yang saya paling paham : kalo gak makan jadi lapar, kalo gak tidur jadi ngantuk, kalo gak minum jadi haus.

 

dabaik kuy

hakikat tertinggi itu segala yg kita lakukan harus ikhlas (karena tuhan memerintahkan itu)..kita yakin tuhan memerintahkan utk kebaikan..tdk mungkin utk kerusakan…. ketika kita melakukan kebaikan atas dasar kemanusiaan, maka kemanusiaan jadi lebih tinggi dari tuhan…kemanusiaan jadi tandingan tuhan… tuhan itu satu… nabi bukan tuhan..kemanusiaan juga bukan tuhan…kebudayaan bukan tuhan…kasih sayang juga bukan tuhan… kita berkasih sayang karena tuhan memerintahkan kita…bukan krn budaya atau karena perikemanusiaan…. itulah hakikat tertinggi..tuhan itu satu..sehingga kita melakuan kebaikan karena melaksanakan perintah tuhan… tidak mungkin tuhan memerintahkan kerusakan

 

dabaik kuy

ketika kita melakuan kasih sayang karena perikemanusiaan maka itu hanya bernilai dihadaan manusia…tapi tidak bernilai dihadapan tuhan… berat sekali kalau melakukan sesuatu bukan karena tuhan… karena itu kesombongan terbesar….dan kesombongan berat sekali sanksinya kelak di akhirat… yg tidak sombong itu kita berbuat kasih sayang karena tuhan memerintahkan hal tsb…kita yakin tuhan memerintahkan utk kebaikan bukan utk kerusakan… spt nya hal sepele bahwa berbuat kasih sayang itu karena perikemanusiaan..buan krn tuhan…..tapi itu termasuk kesombongan besar …. krn tdk meyakini bahwa tuhan mengetahui mana yg baik dan mana yg buruk..

 

Mr P

Jika ada 1(satu) kursi, 1(satu) manusia, 1(satu) Tuhan. Apakah “satunya” kursi sama dengan “satunya” manusia, apakah sama juga dengan “satunya” Tuhan ?

 

joko purnomo

Wayang luar biasa Dalang lebih luar biasa Keduanya anugerah dan perlu dilestarikan Hari ini pembahasannya kurang menarik, disatu sisi orang yang senang budaya mengesampingkan nilai agama dan sebagian orang yang suka menjalankan syariat agama (Islam) justru tidak suka budaya Padahal keduanya indah jika digabungkan, orang Jawa itu filosof membuat sesuatu pasti ada arti atau nilainya. Tidak sembarangan atau asal Contoh, Lihatlah blangkon yang dibuat Raja Jawa (Sultan Agung) itu lipetannya harus ada 17 kenapa ? itu menandakan seseorang muslim harus sholat 17 rakaat dalam sehari semalam (mulai dari subuh – isya) Maka kalau hari ini ada orang (Islam) pakai blangkon tapi tidak sholat, maka ada yang keliru dalam kehidupannya

 

ibnuhidayat setyaningrum

Di zaman para wali ternyata sudah dilaksanakan intrik politik tingkat tinggi. Hingga mampu mengubah sejarah sebuah bangsa. Pada saat itu, jika ada seseorang yang menyatakan diri menjadi calon Demang, apakah orang lain yang juga ingin menjadi Demang tiba-tiba gelisah, santai saja, panik segera mencari teman, atau segera mencari topik sedang berduka ya?

 

Chei Samen

Di Negeri Kelantan Negeri-nya Cik Siti Wan Kembang (Pantai Timur Malaysia), ada digelar Wayang Kulit. Kerana Tok Dalang guna loghat/ bahasa Kelantan, saya di Pantai Barat sendiri tak berapa paham isi cerita Wayang Kulit itu. Yang pasti, tiada kisah Siti Jenar, seperti yang hanya saya dapat di tulisan

 

Mito Sumito Hardjo

Di Jawa Tengah ada juga wayang spiritual, namanya wayang wahyu. Berkisah tentang kehidupan Yesus Kristus. Biasa dipentaskan di hari Natal atau tahun baru. Itu yang saya tahu di tahun 70an, tetapi saya belum pernah nonton langsung. Entah sekarang masih ada atau tidak, kata pak DI tergantung kreativitas dalangnya.

 

Er Gham

Yang masih isi pertslite, itu tingkatannya syariat. Sedangkan yang isi vivo 89, tingkatannya hakikat. Yang satu terkait kuantitas, satunya lagi terkait kualitas. Hehehe.

 

Budi Utomo

Setuju Pak Pry. Tuhan pun jangan-jangan sedang mentertawakan kita yang “sok tahu”. Wkwkwk. Terus terang Siti Jenar dan Gus Dur adalah salah dua dari sekian banyak tokoh yang mempengaruhi pola pikir saya. “Spektrum” saya (menunjuk kalimat Gus Dur) mungkin dianggap warna-warni. Tidak hitam putih dalam hal spiritual (baca: ranah pribadi seseorang dengan Tuhan). Wkwkwk. Bukan berarti saya tak punya pendirian yang fix. Saya punya. Tapi itu ranah pribadi. Daripada debat kusir ya lebih baik praktekkan prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang kita yakini baik dan bermanfaat bagi hidup kita sebagai makhluk sosial (selain makhluk individual). Debat kusir ini mengingatkan saya pada humor Gus Dur sbb. Ceritanya para pemuka berbagai agama sedang antri di depan pintu surga. Tiba-tiba ada seorang yang berjalan sempoyongan karena mabuk melewati antrian yang panjang itu dan langsung masuk surga tanpa mengantri. Sehingga ada yang bertanya pada malaikat penjaga pintu surga sambil protes tentunya. Siapa dia? Oh dia supir metromini yang baru saja tewas karena kecelakaan akibat mabuk minuman keras. Lha kok bisa masuk surga? Oh itu karena dia bisa membuat para penumpang dari berbagai agama berdoa khusyuk dan tulus kepada Tuhan sebelum metromini dijalankan. Mengalahkan ceramah dan khotbah Anda sekalian. Wkwkwk

 

Pryadi Satriana

Di bawah, Dabaik Kuy ‘eker-ekeran’ (berdebat) dg Budi Utomo ttg ‘hakikat tertinggi’, tentang ‘Tuhan’. Saya jadi teringat percakapan dg Pdt. Noch Moningka, awal th 1990-an, saat beliau menjadi registrar dan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), di Malang. Kami ‘ngomong2 tentang Allah agak lama, sambil menyebutkan referensi buku2 theologi’, tiba2 Pdt. Noch Moningka berkata,”Dari tadi kita membicarakan Allah, ‘sok tahu’ tentang Allah, dan Allah di ‘atas’ sana jangan2 Allah sedang menertawakan kita.” Beliau merujuk ke Kitab Suci, “Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa” (Mazmur 2: 4). Kita memang ‘diajarkan’ (baca: diperintahkan) untuk melaksanakan firman Allah – yang adalah petunjukNya – dan bukan untuk ‘ngrasani’ (baca: membicarakan) Allah. “Nyuwun ngapunten nggih, Gusti”. Semoga semua umat berbahagia. Salam. Rahayu.

 

Leong putu

Cerbung Diam. ———————– Sore itu, niat saya mau pinjam Hp istri secara sembunyi² untuk melihat harga sebuah produk, di satu toko online terkemuka. Ting…ting… Terdengar suara notifikasi WA, disusul icon WA setelahnya. Tingak-tinguk sebentar, terpantau situasi aman. Istri lagi mandi. Biasaya lama. Saya buka, saya lihat dari Nora, penasaran saya buka. Lalu saya baca isi percakapan di dalamnya. Isinya sebagai berikut : Nora :” jeng…aku nanti malam main ke rumahmu ya…aku lagi suntuk nich…”. Istriku :”kok tumbenan jeng, main kok malam²?”. Nora :” iya jeng…ini lho… anu..biasa… Aku habis bertengkar, hebat. Si Mas sampai lempar² barang. Aku takut jeng…”. Istriku :” hmmmmmm…”. Nora :”kamu beruntung jeng…punya suami ganteng, baik hati dan sabar…”. Istriku :”hmmmm…ya ndak lah jeng… Aku ya kadang bertengkar, cuma suamiku kalau marahan seringnya diam jeng…”. Nora :”hmmm…enak kamu jeng…” Istriku :”..ya gak enak jeng… Boros sampo..kalau malam dingin jeng..”. Nora :”lhaaaa….kok ??????”. Istriku :”xixixixixi….iya jeng… Suamiku kalau lagi marahan, pasti diam…. Diam – diam minta jatah maksudnya….jadi basah deh…”. Nora :”$#@&®©£€¥…..”. …. …. –Tamat——


Chei Samen

Inayah udah membawak diri / Dari Borgam nyebrang ke Kota Tinggi / Lagi nunggu Mas Dur pujaan hati / Tak kunjung mnikah hingga hari ini.

 

Lukman bin Saleh

Saya tumbuh di keluarga dan masyarakat yg menganut Islam tradisional. Kemudian saat kuliah, saya banyak diterpa pemikiran2 liberal. Tapi dua hal ini tak membuat perhatian saya luput dari kelompok salafi. Kelompok salafi dalam artian luas. Salafi. Saya mengagumi beberapa karakter mereka yg menonjol. Umumnya mereka jujur, dapat dipercaya, karena lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Cara berpakaian atau gaya hidupnya sederhana. Kalau dia mahasiswa, maka mereka tidak sungkan ke mana2 menggunakan sepeda pacal. Di saat mahasiswa lainnya berlomba2 memiliki sepeda motor. Intinya banyak karakter2 mereka yg saya kagumi. Tp terlalu panjang jika diuraikan di sini. Suatu hari saya coba ikut tarawih di masjid mereka. Sebagai Muslim tradisional tentu banyak perbedaan yg saya rasakan. Mulai dari Fatiha tidak pakai basmalah, jumlah rakaat tarawih, dan seterusnya. Semua saya lalui dg biasa saja. Karena saya juga sudah tau teorinya. Sampai pada saat acara makan bersama. Di sebuah nampan besar. Dikerubungi bersama-sama. Ampuuun… sampai di sini saya mundur. Saya tidak bisa. Ceramah-ceramah atau kajian2nya juga membuat saya mengantuk. Bagi saya terlalu garing dan kaku. Sejak saat itu saya merasa hanya mampu menjadi pengagum Salafi. Tanpa mampu untuk menjadi bagian darinya. Biarlah Salafi itu bagai bunga indah bagi saya. Cukup dilihat dan dinikmati dari jauh. Tanpa harus menyentuhnya…

 

Rigih Bayu Ratri

Merokoknya kuat sekali. Frasa ini berada di antara frasa2 yg sifatnya pujian. Semoga Abah sehat, dan tulisan2nya memberi manfaat sehingga kelak bisa jadi hitungan penambah selamat di akhirat

 

yea aina

Penggali kuburnya harus cepat dan keras bekerja. Semakin cepat dikubur semakin selamat dari cacian kwkwkw

 

Liam Then

Anda sudah satu level lebih tinggi dari saya dalam hal memahami hakekat hidup. Saya masih ada di level waktu adalah molor.

 

Fenny Wiyono

sesat atau tidak sebuah ajaran, hanya dapat di buktikan oleh waktu. tapi jangan lupa waktu adalah uang.

 

Budi Utomo

Bung Johan, setuju, akhlak alias moralitas alias (su)sila yang penting. Kalau di Kejawen dikenal Moh Limo. Moh Mateni (Ga Mau Membunuh), Moh Maling (Ga Mau Mencuri / Korupsi), Moh Madon (Ga Mau Selingkuh/Nyeleweng), Moh Misuh (Ga Mau Mencacimaki), Moh Mabok (Ga Mau Mabuk Minuman Keras). Moh Limo ini adalah Pancasila Buddha yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Koh Liam, perumpamaan senar gitar itu mirip dengan cerita Buddha yang kemudian mengambil jalan tengah/madya marga. Tidak menyiksa diri dengan pertapaan dan puasa ekstrem dan tidak melenakan diri dengan kenikmatan ragawi.

 

yea aina

Pesan moralnya: berdoa sebagai jaminan hutang mudah cair kwkwkw. Begitulah Om @Liam.

 

Liam Then

Keteken send pulak, ” Bos sudah di transfer? Yang bos bilang mau pinjamkan semalam” ” Kamu sudah berdoa?” “Sudah bos” “Nanti saya transfer”

 

Pryadi Satriana

Menyimak tentang Isa dari Al-Qur’an: 1. Al-Qur’an menyatakan hanya Allah yg mampu menciptakan (Qs 2: 117), ternyata Isa juga menciptakan (Qs 3: 49). 2. Hanya Allah yg mengetahui tentang kiamat (Qs 31: 34), ternyata Isa juga mengetahui tentang kiamat (Qs 43: 61). Mengapa bisa demikian? Karena Isa “terkemuka di dunia dan akhirat” (Qs 3: 45) sehingga disebutkan “Tidak ada seorang pun dari ahli Kitab (orang2 yg mempunyai Kitab Suci), kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya” (Qs 4: 159). 3. Isa disebut ‘Al-Masih’. Dalam Injil disebut ‘Sang Mesias’ (bhs Indonesia) atau Kristus (transliterasi dari ‘kristos’ dlm bhs Yunani), yang berarti: “yang diurapi untuk menyelamatkan manusia.” Salam. Rahayu.

 

Kelender Indonesia Lengkap

Para pembaca Disway sekalian, saya penasaran bagaimana exit strategy Abah menyikapi artikel yang Beliau tulis tentang kapolda baru jatim 2 hari lalu, dengan kejadian penangkapan hari ini. Kalau boleh menebak, kemungkinan besok Beliau hanya menulis satu atau dua kalimat selingan bernada kecewa, yang diselipkan pada sebuah artikel utama yang sudah disiapkan jauh jauh hari. Tapi ntahlah …

 

Leong putu

@Om Adji… Coba dianalisa berdasarkan ilmu komputer atau ilmu saham. Bahwa manusia boleh berencana namun saldo yang akhirnya menentukan. Kira² relevan gak ya ?

 

Ghost It Is

Tujuan hidup. Sekolah dapat nilai bagus supaya punya posisi bos. Tujuan hidup. Masuk ke kepolisian dengan nilai bagus supaya punya sampingan jualan narkoba. Saldo adalah saldo. Cuma angka yang di tata rapi. Bukan kekayaan materi. Istri adalah selingan hiburan untuk pria2 sukses. Rumornya seperti itu menurut Beli Leong.

 

Anwarul Fajri

Jancuk… Makan hoax diriku… Huekkk… Tak lepeh lagi

 

EVMF

Mythomania (Pseudologia Fantastica). Ucapan Irjen Teddy Minahasa yang dikutip Abah pada CHD – Madura Minahasa : “Berhati-hatilah melaksanakan tugas. Jangan gegabah. Jangan pamrih. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi. Polisi itu pengabdian,” Sangat bertolak- belakang dengan jumlah kekayaan yang dimilikinya, yang terbilang luar biasa besar untuk ukuran seorang Pati Polisi. Juga hari ini beredar isu beliau ditangkap Propam karena terkait narkoba. Dua hal ini jelas sekali bertentangan (bertolak-belakang) dengan apa yang pernah diucapkan beliau. Lantas apa tujuan Irjen Teddy dengan ucapannya yang sangat bijaksana tersebut, yang juga dikutip oleh CHD ?? Ini adalah suatu kebohongan yang bisa dikategorikan sebagai “mythomania syndrome”. Beberapa karakteristik “mythomania” antara lain : 1. Kebohongannya tidak memiliki keuntungan khusus. 2. Kisah yang diceritakan biasanya bersifat dramatis seolah-olah menggambarkan dirinya sebagai pahlawan. Belum bisa dipastikan, tetapi kemungkinannya sangat besar akibat pengaruh dari pemakaian narkoba.

 

Chei Samen

Purwodadi. Grobogan. Dalam perjalanan panjang dari Rembang, setelah menjunjungi makam RA Kartini. Saya kemalaman di Purwodadi. Esoknya saya bertemu “sweke”. Dibilang makanan khas Purwodadi. Selamat pagi Indonesia.

 

Budi Utomo

@DK. Syukurlah kalau Anda punya prinsip tak ada pemaksaan dalam beragama. Berarti Anda bukan termasuk orang yang sangat ekstrem yang sedikit-sedikit mempermasalahkan agama seseorang. Sesuatu yang merupakan ranah pribadi. Walaupun demikian pemaksaan agama secara struktural dan bahkan governmental terjadi di negara kita. Contohnya di era Orde Baru ketika seseorang disuruh memilih salah satu dari lima. Padahal agama di dunia ini menurut mbah google ada puluhan, ratusan bahkan ribuan. Akibatnya ada yang beragama Konghucu terpaksa memilih Buddha di KTP nya. Gus Dur kemudian membuat gebrakan dengan menambahkan Konghucu sehingga pilihan agama menjadi enam. Dan kemudian terjadi debat sengit mengenai wiwitan, kejawen, dll. Apakah bisa dimasukkan sebagai agama juga. Keputusan akhirnya tidak. Lalu di KTP bagaimana? Dikosongkan. Lha kosong itu bisa ditafsirkan macam-macam mulai dari agnostik, tak beragama, sampai atheis. Sebuah ranah pribadi tapi pemerintah menjadikannya ranah publik. Karena itu kemudian Gus Dur setuju dengan kampanye menghilangkan kolom agama di KTP. Dan pemikiran Gus Dur ini kemudian dikecam dari berbagai penjuru. Tapi itulah sang Guru Bangsa sedang menunjukkan kearifannya walau melawan opini banyak orang.

 

Pryadi Satriana

Dari syariat menuju hakikat. Taurat itu syariat. Berisi hukum-hukum. Berisi perintah. Yang ‘ndhak manut’ akan di-‘hukum’. Contoh hukum: orang berzinah akan dirajam. Ngeri. Menakutkan. Itu tujuan ‘sanksi hukum’, untuk menakut-nakuti, membuat ‘ngeri’, agar orang tidak ‘melanggar hukum’ (baca: ‘berbuat dosa’). Dosa itu ada tingkatannya: ‘dosa mata’ (jelalatan dan/atau lirak-lirik, karena ada “yang bening”, yang “enak” dipandang), ‘dosa lidah’ – ini yg sering saya langgar (‘geblek’, ‘juancuk’, dsb), dan dosa2 lain. Anda sudah tahu. Yesus menjelaskan: syariat saja tidak cukup! Yesus menjelaskan: dibalik larangan zinah ada yg hakiki: jangan mengingini yg bukan menjadi ‘hak’! Memandang dg nafsu berahi pada perempuan yg bukan isteri sudah berzinah! Isteri itu cuma – dan harus – satu saja! Kenapa ada orang beristeri lebih dari satu? Yesus menyebut mereka ‘tebal tengkuk’ (‘ndhak mau diatur’, sak karepe dewe), dilarang pun tetap akan melanggar! Dengan berbagai alasan: rasionalisasi! Rasio yg mestinya dipakai ‘berpikir’ justru dipakai ‘membenarkan diri sendiri’! Kita punya nalar. Kita punya hati. Dengan nalar kita bisa menjalankan syariat. Dengan hati kita bisa memahami hakikat. Seluruh syariat “dirangkum” Yesus: 1. Kasihilah Allah, Tuhanmu, lebih daripada segala sesuatu dg segenap hati & jiwamu; 2. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Itulah hakikat dari seluruh pengajaran para nabi. Salam. Rahayu.

 

Impostor Among Us

Andaikan permusuhan antara ahli syariat dan ahli hakikat itu mau touring ilmu ala Musa dan Khidir, maka akan berakhir dengan damai dan saling mengerti. Musa pakar syariat. Khidir pakar hakikat. Tapi untuk hidup bermasyarakat, harusnya tetap menjadi Musa saja. Hidup disiplin dengan aturan. Katakan ‘Tidak’ pada pelanggar aturan. Masalah nanti itu benar atau salah, kita tunggu apa kata Sang Juri di Pengadilan Terakhir.

 

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt

Ilmu syariat, makrifat dan hakikat. Saya tidak begitu paham. Saya tidak begitu jelas. Tapi saya punya konsep mudah dalam berpikir tentang sesuatu. Yang masih saya ingat dari pelajaran dulu. Suatu metode atau cara hendaknya harus memenuhi 3 unsur yang sangat mudah. Apa itu 3 unsur? Yang pertama cara atau metode apapun harus mudah dijelaskan. Harus mudah dipahami oleh masyarakat luas. Sehingga semua akan mengerti dan paham. Yang kedua cara ataumetode apapun harus bisa dijelaskan cara prakteknya, cara mempergunakan. Sehingga semua bisa paham. Bisa praktek dan bisa menjalankan dengan mudah. Yang ketiga adalah yang terpenting. Apa itu? Cara atau metode apapun harus bisa berguna dan bermanfaat. Sehingga semuanya bisa memperoleh manfaat dan kegunaan setelah menggunakan metode itu. Itulah tiga unsur yg harus dipenuhi dalam melihat suatu cara atau tehnik apapun. Itu yang masih saya ingat.

 

dabaik kuy

bukan cuma wayang hakikat yg ada dalangnya…. tapi tragedi kanjuruhan juga ada dalangnya…. masa gak ada dalang nya? adalah…lihat pergerakan di hari itu… kalau gak ada dalang gak mungkin


Budi Utomo

@DK. We agree to disagree. Hakikat agama menurut Siti Jenar ya compassion itu. Mengenai Tuhan apakah Satu atau Dwitunggal atau Tritunggal dsj itu adalah keyakinan agama ybs. Jadi definisi SATU pun bisa diperdebatkan. Karena itulah kita memakai istilah Esa bukan Eka. Ada nuansa berbeda antara Esa dan Eka. Kita juga memilih istilah Ketuhanan bukan Tuhan. Ini juga ada nuansa yang berbeda. Wkwkwk

 

Kang Sabarikhlas

Gegara dunia medsos yang booming di negeri kita mendadak banyak orang yang jadi dalang-dalangan. Awalnya meniru orang populer buat setingan, coba di toktik lalu kebablasan lupa batasan.. Dan kita turut andil, lihat saja kita jadi cari ‘es dawet’ bosan es mambo..eh anu Mas Sambo. juga di medsos masih trending Lesti Kejora hingga kisah Putrinya mas Dur menghilang sungkan. apakah semua ini kebetulan atau ada dalang….Wallahu’alam. anu..saya juga buat setingan melas (ini asli lho) tapi..duh, ndak ada yang sudi.. ternyata buat setingan ndak gampang.

 

munawir syadzali

Fiqih tanpa tasawuf itu fasiq, tasawuf tanpa fiqh itu zindiq. Bagi saya, di era skrg yg mampu memadukan keduanya, adalah Gus Bahaudin Nursalim. Semoga Allah panjangkan usianya dalam kesehatan, kekuatan dan keberkahan. Juga untuk Abah Dahlan dan seluruh komentator disway

 

Rofi’udin

dari exit tol pungkruk ke suruh, berarti pak dahlan 2 jam offroad dong, jalannya selalu bikin istighfar, apalagi di sumberlawang. jalan situ selalu begitu, saya melewatinya magetan-demak sejak 2009. hallo pak ganjar #eh

 

Kelender Indonesia Lengkap

Waduk Kedungombo itu di demo habis-habisan di masanya, bahkan berminggu-minggu jadi headline media ternama dan barangkali media Grup Abah juga. Banyak juga LSM yang mengambil posisi kontra. Dan ternyata, kebijakan pemerintah waktu itu ternyata baru terbukti benar setelah berdekade lamanya.

 

AnalisAsalAsalan

Ngaji itu seperti sekolah. Lulusan SMA ya masih biasa. Begitu juga mondok 6 tahun (MTs sampai MA), juga masih biasa. Apalagi yang ga mondok, hanya baca buku terjemahan, hanya dengerin ceramah, hanya berguru ke “Syaikh” Google atau “Kiai” YouTube.

 

Macca Madinah

Foto Abah dengan Ki Hardono sudah mengikuti kaidah pengambilan foto milenial: Sudut pengambilan dari bawah diarahkan ke atas, boom! Abah jadi sejejar deh dengan Sang Dalang yang kurus tinggi hehehe.

 

Mr P

Oleh sebab itu, saya “takut” untuk mengetahui “Siapa” sebenar- benarnya Tuhan itu. Saya “takut” jika saya mengetahui Tuhan dengan “sebenar benarnya”, saya jadi malu untuk sekedar berharap “masuk” Sorga. Yang bisa saya lakukan hanya bersyukur masih bisa melihat hari ini. /Mr. P /

 

Leong putu

Betul Om@Liam… Saya setuju pendapat Om.Liam. Hidup itu “sebenarnya ” memang sederhana. Kalau ngantuk: tidur. Kalau lapar : makan. Kalau g ada uang : kerja. Keinginanlah yang membuatnya jadi agak rumit. Oleh sebab itu saya selalu belajar untuk mensyukuri apa yang ada pada saya hari ini. Contoh : Bersyukur punya istri, walau Cantik. Bersyukur punya rumah, walau besar. Bersyukur punya mobil, walau baru. Bersyukur punya motor, walaupun g kredit. .. Sehat selalu Om@Liam. Oh iya lupa, habis makan jangan lupa minum….. ##edisi_merendah_di_atas_gunung.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id