TELUR YANG MAKIN MAHAL

Pedagang telur di pasar Muaraenim. foto : fahrozi-palpos


Pedagang Resah Sepi Pembeli

TELUR ayam merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi. Namun apa jadinya jika harga telur tersebut makin sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan pas-pasan.

Hasil pemantauan dalam sepekan terakhir, harga telur ayam terus mengalami kenaikan. Seperti di Pasar 7 Ulu Palembang, pedagang mengaku pembeli berkurang akibat kenaikan harga tersebut. Di pasar ini harga telur naik hingga Rp25 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga telur berkisar Rp22 ribu hingga Rp 23 ribu per kilogram.

“Telur ayam sekarang 25 ribu per kilo. Malah ada juga yang jual sampai Rp 27 ribu,” ujar Nurhayati (40), salah seorang pedagang Pasar 7 Ulu.

Dia menjelaskan, sejak harga telur beberapa waktu lalu mencapai angka Rp30 ribu, susah mengalami penurunan lagi.

“Sekarang paling kalau turun mentok di harga Rp20 ribu sampai Rp21 ribu. Sudah susah di bawah Rp20 ribu sejak sempat mahal kemarin.

Dari agennya memang stoknya sudah mulai sedikit, mungkin karena peternak tidak panen banyak,” tuturnya.

Tak hanya telur, di pasar ini juga mengalami kenaikan daging ayam. Kenaikannya mencapai Rp4 ribu per kilogram. Sebelumnya harga daging ayam Rp22 ribu sekarang menjadi Rp26 ribu per kilogram.

Husna (27), salah seorang konsumen di pasar tradisional Palembang mengeluhkan harga telur dan ayam yang terus mengalami peningkatan.

“Harga ayam sama telur naik turun terus, tapi gak pernah sampai Rp20 ribu per kilogram. Kalau saya pengennya harga ayam turun yang bener-bener turun,” ujarnya.

Sementara di pasar tradisional Kota Muaraenim, harga telur ayam masih belum cukup stabil. Di pasar ini, harga telur murah sekitar Mei 2022 yang lalu, berkisar antara Rp21 ribu sampai Rp22 ribu per kilogram.

Ani (60), salah satu pedagang telur di pasar tradisional Muara Enim, kemarin, mengatakan harga telur tidak pernah stabil dan belum pernah di bawah Rp25 ribu. Saat ini di pasaran harga telur berkisar Rp27 ribu per kilogram.

“Tidak heran kalau di warung-warung yang jauh dari pasar bisa sampai Rp30 ribu per kilogram, harga tidak stabil, kadang dalam kurun 2 minggu harga telur bisa dua kali berubah,” ujarnya.

Mau tidak mau, kata dia, pembeli memang banyak yang mengeluh, pihaknya menjual sesuai harga dari distributor. Kalau distributor naik, penjual telur tentu akan menaikan juga pasaran harga telur.

“Karena telur ini kan kebutuhan pokok pasti walaupun harganya mahal ya kami kasian juga sama pembeli, tapi mau bagaimana lagi, harga naik ya kami naikkan. Kalau turun ya kami turunkan,” jelasnya.

Dikatakan Ani lagi, selama ini paling turun naiknya sekitar Rp2.000. Namun belum pernah di bawah Rp25 ribu. Tentunya, kata dia, pihaknya berharap ada solusi dari pemerintah.

“Kalau sekarang saja harga telur tidak karuan apalagi nanti menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri,” pungkasnya.
Pedagang warung di Kelurahan Air Lintang, Ucok (45), mengatakan dirinya biasa menjual telur di warung seharga Rp28 ribu per kilogram.

Menurutnya, telur yang dijualnya dipasok dari Lembak, Ogan Ilir, Banyuasin dan Palembang.

‘’Akhir-akhir ini, penjualan telur berkurang karena ada penurunan daya beli masyarakat terhadap telur. Hal itu terlihat dari stok telur yang biasanya cepat habis kini masih menyisakan banyak stok. Kami pun pedagang berharap harga kembali normal seperti dulu, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi dan daya beli masyarakat meningkat pula,” harapnya.

Di pasar tradisional Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, harga telur dan ayam masih terbilang normal. Salah seorang pedagang telur, Meri mengaungkapkan satu karpet harganya Rp46 ribu dalam sepekan terakhir.

Ratna, pedagang ayam potong di Pasar Pulo Mas Tebing Tinggi mengatakan harga ayam juga normal, tidak mengalami kenaikan ataupun penurunan.

“Tidak naik masih harga normal. Satu kilonya Rp30 ribu. Ya, sudah satu bulan lebih harga segini,” ujarnya

Di pasar Kota Lubuklinggau harga ayam potong sempat turun di angka Rp25 ribu perkilogram (kg). Namun sepekan terakhir kembali naik menjadi Rp30 ribu/kg.

“Untuk harga yang menentukan pabrik, kita penjual hanya mengikuti harga pabrik dan tidak tahu pasti penyebab naik turunnya harga,” ungkap Suhairiah (52), pedagang ayam potong di Pasar Bukit Sulap (PBS) Lubuklinggau, kemarin.

Tetapi dilihat dari permintaan pasar, diprediksi kenaikan harga tersebut disebabkan karena tingginya permintaan. “Mungkin karena sekarang banyak yang hajatan, jadi harga ayam naik,” ujarnya.

Tetapi sebenarnya harga ayam di pasaran memang fluktuatif, selalu terjadi naik turun. “Jadi peyebab pastinya kita sama sekali tidak tahu,” ujar Suhairiah.

Sebab, lanjut Suhairiah, kenaikan harga ayam tidak serta merta membuat pedagang mendapatkan keuntungan berlipat. Karena keuntungan yang didapat bukan dari naik turunnya harga ayam.

“Keuntungan untuk pedagang perkilonya ya segitu-segiu saja. Kalau memang lakunya banyak ya untungnya banyak, kalau lakunya sedikit ya sedikit juga,” tuturnya.

Berbeda dengan harga telur. Jika harga ayam meningkat justru harga telur saat ini turun. “Sekarang harga telur per karpetnya Rp45 ribu dari harga sebelumnya sempat mencapai Rp 50 ribu sampai Rp55 ribu,” ungkap Apat (40), agen telur di Pasar Satelit Lubuklinggau.

Menurut Apat, harga telur stabil diharga Rp45 ribu per karpet sudah berlangsung sekitar sebulan lalu. Kondisi tersebut juga membuat permintaan akan telur ayam juga stabil.

Hampir sama di pasar Baturaja. Meskipun beberapa hari lalu sempat meroket hingga Rp32 ribu per kilogram, namun harga telur ayam ras yang dijual pedagang kembali stabil di kisaran Rp26 ribu per kilogram.

“Seminggu lalu harga telur sempat tembus Rp32 ribu per kilogram. Namun sekarang harganya sudah turun lagi dan kembali stabil di kisaran Rp26 ribu per kilogram,” ungkap Juyot, pedagang telur di Pasar Atas Baturaja, kemarin.

Dijelaskannya, kondisi ini terjadi karena harga tebus telur ayam ras di tingkat agen sejak beberapa hari ini cenderung turun.

“Waktu harga telur meroket tajam dikisaran Rp32 ribu perkg, maka daya beli masyarakat langsung turun. Karena itu, agen akhirnya menurunkan harga dan kami pedagang juga ikut menyesuaikan harga,” tegasnya.

Sementara untuk harga daging ayam ras, saat ini masih stabil di kisaran Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per ekor. “Kalau daging ayam harganya stabil selama sebulan ini,” ungkap Wati, pedagang ayam di Pasar RS Sriwijaya.

Sementara itu, penjualan daging ayam putih di pasar tradisional Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), terpantau per 26 Oktober 2022 mencapai Rp 30 ribu per kilogram.

“Harga ini naik Rp 5 ribu, dari sebelumnya yang dijual Rp 25 ribu per kilogram. Naiknya sudah sekitar seminggu ini, namun naiknya tidak secara langsung melainkan secara berangsur-angsur,” ungkap Andre (22) salah satu pedagang ayam.

Ia menambahkan, kenaikan harga ini dari tangan pertama, di mana membuat agen atau tangan kedua tempatnya membeli ikut menaikan harga.

“Kita beli ayam dari agen atau bos yang ada di Desa Arisan Buntal, Kecamatan Kayuagung ini. Di harga Rp 30 ribu kita beli dengan agen Rp 27 ribu. Sedangkan di harga Rp 25 ribu dulu belinya sekitar Rp 22 ribu,” ujar warga Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir ini.

Dikatakanya lagi, semenjak naik, tingkat pembelian masyarakat terhadap daging ayam masih sama. Namun menurutnya, tidak sedikit juga pembeli yang keberatan, dan mengurangi jumlah pembelian dari biasanya.

“Saya buka dagangan dari pukul 06.00 sampai 18.00 WIB. Dimana setiap hari, biasanya membawa sebanyak 50 ekor ayam bersih yang berat per ekor lebih kurang 2 kilogram,” tuturnya.

Masih kata Andre, keuntungannya dalam sehari bisa mencapai Rp 300 ribu saat harga masih normal. Namun, ketika naik sekarang menjadi berkurang, namun tidak terlalu signifikan.

Diterangkannya juga, pihak tangan pertama biasanya menaikkan harga karena panen sedikit. Dimana menurutnya, panen sedikit bisa disebabkan oleh ukuran ayam atau panen yang belum siap. (tia/len/yat/ozi/fad)