Tinta Elizabeth


Oleh: Dahlan Iskan

ANDA mungkin pernah ikut berdoa: semoga Ratu Elizabeth bisa mencapai usia 100 tahun. Saya juga.

Waktu perayaan 70 tahun menjadi Ratu Inggris Februari lalu, dia masih terlihat begitu sehat. Pun setelah suami Ratu, Philip, meninggal dunia April tahun lalu, di usia 99 tahun.

Dua bulan lalu Ratu tetirah ke Istana Balmoral. Di pedalaman Skotlandia. Jauh di utara. Masih sekitar 150 km di utara Edinburgh. Itulah tempat istirahat kesukaan Ratu. Yang dibeli kerajaan di tahun 1850-an. Udaranya sejuk di musim panas seperti sekarang ini, dan cukup hangat di musim dingin.

Bahwa Ratu tidak kunjung kembali ke London Anda sudah tahu: di sana Ratu sakit. Tidak berat. Hanya tidak memungkinkan segera balik ke Istana yang di London.

Ketika persoalan politik di Inggris memuncak Ratu mengikuti perkembangannya dari Balmoral. Perdana Menteri Boris Johnson jatuh. Calon penggantinya mengerucut tinggal dua orang. Salah satunya keturunan India: Rishi Sunak. Tapi wanita kulit putih kelahiran Oxford yang akhirnya terpilih: Liz Truss, 47 tahun.

Setelah wali kota London dijabat keturunan Pakistan, hampir saja perdana menteri Inggris dijabat Sunak. Ia kalah suara di pemilihan dalam partai konservatif:

81,326 suara lawan 60,399.

Setelah terpilih Liz harus menemui Ratu. Wajib. Untuk mendapatkan pengesahan sebagai perdana menteri Inggris yang baru.

Hari itu Ratu Elizabeth masih bisa menemui Liz di Balmoral. Masih berdiri, berjalan dan menjabat tangan Liz. Senyumnya juga masih khas Ratu Elizabeth. Tidak ada tanda Ratu akan meninggal dunia dua hari kemudian.

Liz adalah perdana menteri Inggris  ke 15 yang disahkan Ratu Elizabeth. Pemimpin pemerintahan  terus berganti tapi Ratunya tetap sama: selama 70 tahun.

Gejolak terbesar selama 70 tahun itu justru datang dari dalam kerajaan. Yakni ketika Pangeran Charles menduakan Lady Diana, istrinya. Lady Di begitu hidup di hati rakyat Inggris. Juga di luar Inggris. Kecantikannyi, keanggunannyi, dan keibuannyi begitu cocok bisa menjadi permaisuri Raja Inggris berikutnya. Tapi Charles jatuh cinta ke wanita lain yang Anda pun malas menyebutkan namanyi.

Ratu Elizabeth menghadapi gejolak itu tanpa komentar apa pun.

Elizabeth sebenarnya tidak punya  harapan jadi Ratu Inggris. Yang lebih berhak adalah sepupunya: anak dari pakde-nya, Raja Edward VIII.

Edward menjadi raja Inggris hanya 11 bulan. Padahal ia tidak hanya raja Inggris. Ia raja di banyak sekali negara. Termasuk India. Tapi Edward jatuh cinta habis-habisan kepada seorang janda Amerika. Janda dua kali. Ia pilih janda itu. Ia tinggalkan istana. Ia lepaskan haknya sebagai raja. Umurnya 42 tahun.

Edward memang memusingkan ayahnya. Soal wanita. Soal istri orang. Soal pesta mudanya di Paris, pun di zaman perang. Menurut majalah TIME, Sang ayah pernah mengatakan ”semoga Edward tidak pernah kawin dan tidak punya anak”. Kelangsungan kerajaan Inggris bisa suram akibat kelakuan Edward.

Maka ketika Edward meletakkan haknya sebagai Raja Inggris, rakyat tidak lagi kaget. Bahkan bersuka ria.

Waktu itu Elizabeth masih berumur 10 tahun. Dia pemalu. Sampai dapat julukan Lilibet. Ia suka menyalahkan dirinyi sendiri. Tidak suka mencari kambing hitam. Waktu kecil, ketika merasa sulit belajar bahasa Prancis dia sampai menyiramkan tinta ke badannyi.

Ketika Raja Edward memilih wanita ketimbang takhta, ayah Elizabeth pun tiba-tiba jadi Raja Inggris: King George VI. Dan Elizabeth menjadi Princes. Lalu jadi Ratu. Jadilah Elizabeth ratu Inggris yang luar biasa.

Kisah ”pilih wanita daripada takhta” Raja Edward VIII ini abadi dalam love story. Maka nama Wallis Simpson harus dicatat sebagai bintang daya tariknya.

Waktu bertemu Edward VIII, sebenarnya Wallis sudah berumur sekitar 31 tahun. Saat itu dia masih dalam status sebagai istri dari suaminyi yang kedua: Ernest Simpson. Dia sudah lima tahun menjadi istri Simpson. Nama Wallis Simpson diambil dari nama belakang suami keduanyi itu.

Wallis kawin pertama di umur 20 tahun. Dengan Win Spencer, seorang anggota Marinir. Mereka baru bercerai setelah 9 tahun menikah.

Dalam publikasi documentary, disebutkan Wallis tidak tergolong cantik. Rahangnya terlalu besar untuk ukuran wanita cantik. Dia juga tergolong mungil untuk ukuran wanita Amerika. Tapi matanyi hijau kecokelatan. Geraknyi lincah dan enerjetik. Vitalitasnyi menonjol.

Edward jatuh cinta.

Pun Wallis.

Status perkawinan tidak seluas lautan. Edward memutuskan menyerahkan takhta kepada adiknya. Wallis menceraikan suami keduanyi. Mereka kawin.

Gosip tentang mereka ini tidak habis-habisnya. Jarak Inggris-Amerika menjadi begitu dekatnya.

Edward VIII meninggal dunia tahun 1972, di usia 76 tahun. Di Paris. Pasangan ini memang lebih banyak hidup di Paris. Edward dimakamkan di Inggris.

Wallis dua tahun lebih muda. Tapi begitu Edward meninggal dia  langsung hilang dari perbincangan.

Topik baru di Inggris kini pindah ke Raja baru: Pangeran Charles. Dengan gelar resmi King Charles III. Di usia 73 tahun.

Charles –dan keluarga kerajaan– memang menyusul ke Balmoral di hari-hari akhir Ratu Elizabeth. Charles menerima warisan kerajaan di situ. Ia masih harus menunggu pengumuman resmi dari satu dewan sesepuh Inggris. Dewan ini terdiri dari para senior di parlemen yang sekarang maupun yang sudah lewat. Ditambah ketua persemakmuran –negara-negara bekas jajahan Inggris.

Liz Truss punya kenangan begitu khusus. Ia jadi perdana menteri di hari-hari akhir Ratu Elizabeth. Ini menambah kepopulerannyi. Dia perlu itu. Dia lagi membuat program subsidi energi untuk rakyat Inggris. Dia perlu utang untuk subsidi itu.

Rakyat Inggris lagi harap-harap cemas menghadapi musim dingin. Harga gas naik terus seiring dengan perang di Ukraina yang berkepanjangan.

Jadi Ratu Inggris tidak dia harapkan. Memerintah begitu lama tidak dia bayangkan. Umur begitu panjang berakhir dengan begitu husnul khatimah. Nikmat apalagi yang masih harus didustakan. (*)

 

Siapa Membunuh Putri (7)

Kunci Kamar Kos

Oleh: Hasan Aspahani

 

TURUN dari ojek, dengan sekantong plastik penuh bungkusan mie lendir buat anak-anak panti, aku justru mendapati ketegangan di antara Bu Yani dan beberapa orang tamu yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Seorang lelaki berjas (pagi-pagi gini di kota ini pakai jas?) sepertinya seorang pengacara yang menjaga diri dengan identitas formal, dan seorang perempuan dengan stelan merah, penampilan pebisnis. Aku berbasa-basi dengan senyum dan langsung masuk ke dalam rumah. Bu Yani berdiri lekas menyusulku.

”Itu pemilik rumah baru dan pengacaranya,” kata Bu Yani.

”Oh, jadi bukan anaknya Pak Doni lagi yang punya rumah ini? Uang sewa harus dibayar ke ibu itu?” tanyaku. Pak Doni pemilik rumah yang disewa Panti Asuhan Abulyatama, sudah lama tak lagi mengurus properti miliknya ini. Urusan sewa-menyewa diserahkan ke anaknya. Rupanya, rumah ini oleh anaknya dijadikan agunan untuk pinjaman untuk satu proyek. Dan karena satu dan lain hal yang salah, rumah ini jadi milik mitranya si perempuan stelan merah itu.

”Masalahnya dia tak mau menyewakannya lagi,” kata Bu Yani.

”Berapa hari kita dikasih waktu untuk pindah?” tanyaku.

”Mereka minta secepat mungkin,” kata Bu Yani.

Saya menemui dua tamu itu. Anak-anak panti sedang sekolah. Kecuali yang masuk siang. Aku minta waktu sebulan. Mereka bilang paling lama dalam seminggu rumah itu harus kosong. ”Saya harus ketemu dulu dengan anaknya Pak Doni, bahkan Pak Doninya sendiri. Bukannya kami tidak percaya, pada ibu..” kataku. Si pengacara memberi surat-surat perjanjian kerja sama investasi dan surat persetujuan penyitaan asset.

Saya kira kami memang tak bisa berargumen apa-apa, kami harus segera mengosongkan rumah itu. Kami toh hanya penyewa, Pak Doni dulu bahkan meminjamkan saja. Dia punya banyak aset rumah. Usaha kateringnya di kawasan industri Watukuning, maju pesat, melayani ribuan pelanggan. Ketika Pak Doni melepas seluruh aset termasuk urusan usaha, anaknnya memungut sewa, untungnya tak mahal. Kedua tamu itu berpamitan. Saya dan Bu Yani menyanggupi mengosongkan panti dalam seminggu, paling lambat.

Saya harus menemui Ustad Samsu. Minggu lalu saya sempat menemaninya mengambil surat persetujuan lahan untuk membangun pesantren di kota pulau ini. Ini akan jadi cabang ke sekian dari pesantren yang berpusat di Balikpapan, yang sempat menjadi rumahku saat tsanawiyah dulu. Untuk sementara, pesantren diselenggarakan di ruko di kawasan Watuaji. Mungkin, saya pikir, anak-anak panti bisa dititipkan di sana, bahkan bisa seterusnya bergabung dengan pesantren saja.

Baru saja sang tamu pergi, sebuah motor dari jauh melaju kencang, dengan deru mesin lantang, memecah udara kota. Berhenti mendadak di depan panti dan orang yang dibonceng tanpa turun dari motor melemparkan bom molotov ke arah panti. Tak hanya satu. Beberapa. Api lekas menjalar ke dalam rumah. Aku dan Bu Yani, dibantu warga sekitar dengan spontan mengeluarkan apa yang berharga dalam rumah.

Saya terutama memikirkan barang-barang milik anak-anak panti. Bu Yani menyelamatkan semua barang penting, akta Yayasan, komputer, buku-buku. Saya bahkan lupa surat-surat berhargaku. Ijazahku, SK-ku yang baru, sertifikat dan lain-lain tak ada yang tersisa. Kecuali kartu-kartu penting di dalam dompet. Saya teringat judul buku Memoar Ajip Rosidi: hidup tanpa ijazah. Dalam arti yang sebenarnya.

Beberapa wartawan datang, Yon ada di antara mereka. Tak mungkin saya suruh Bu Yani untuk menjawab mereka. Aku mau tak mau temui mereka dan menjawab sekadarnya. Begini ya rasanya ditanya-tanya dengan pertanyaan tak bersimpati oleh wartawan di saat mengalami musibah. Saya tahu saya tak bertanya seperti itu. Saya banyak menjawab dengan ”tak tahu”, karena memang banyak hal yang saya tak tahu kenapa ada orang mau membakar panti kami.

Saya membayangkan apa judul headline surat kabar di kota ini besok. Lucu juga membayangkan di Metro Kriminal judulnya: Panti Dilempar Bom Molotov, Ijazah Sarjana Wartawan Kriminal Ikut Terbakar!

Bang Jon yang sedang libur datang menemuiku, tak lama setelah api padam. Ia menolongku ke mana-mana berurusan dengan storm-nya. Juga mengantar anak-anak pada sore harinya ke Watuaji. Nenia juga ikut membantu dengan amat cekatan, ia bahkan bawa satu mobil lain untuk angkut barang-barang panti.

Bila disusun daftar 100 pemilik ponsel pertama di Batam, Bang Jon masuk. Bila diperpendek menjadi 50 pun saya kira masih ada dalam daftar. Ketika operator seluler pertama di negeri ini dicoba di kota kami, seingat saya, Bang Jon sudah petentang-petenteng dengan Ericson sepergelangan tangan bayi. Dengan ponsel itulah dia menelepon ke sana kemari, cari info tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik pembakaran panti.

Saya yakin tak ada hubungannya dengan saya atau Bu Yani, atau panti yang sudah ada belasan tahun. Pasti terkait kepemilikan properti tersebut. Atau mungkin lahan. Saya dengar memang ada masalah dengan kepemilikan lahan di tempat rumah panti itu berdiri. Padanya saya bercerita tentang dua tamu yang baru saja datang. Bang Jon lalu menelepon beberapa orang. Juga pengacara Restu Suryono.

“Yang datang tadi itu Rully dan Nora. Memang pengacara dan kliennya, pengusaha, pengusaha barulah. Masih baru merintis. Nora itu juga anaknya Pak Doni, pemilik rumah ini. Tapi yang selama ini mengambil sewa kan bukan dia, iya, kan?”

“Ya, Mas. Anaknya yang laki-laki,” kataku.

Dari Mas Jon saya dapat info lengkap. Ini soal perebutan aset warisan antara Nora dan saudaranya laki-laki itu. Sampai gugat-gutatan. Nora pinjam sertifikat rumah ke kakaknya buat jaminan proyek. Dia didesak oleh mitranya. Nah, anaknya yang laki-laki mengulur waktu untuk menyerahkan dengan alasan masih disewa panti.

”Saya kira yang lempar bom itu orang suruhan Nora juga, supaya kalian lekas pindah. Dia bisa kuasai rumah ini. Udah terdesak sekali, tapi ya jahat sekali….,” kata Bang Jon.

”Apa Pak Doni tak tahu?”

”Pak Doni kabarnya meninggal bulan lalu itu.”

Soal lahan memang seperti bara api yang tertimbun jerami kering di kota ini. Panas. Dan dengan mudah menyala jadi api. Saling klaim, berebut adu legalitas, sempadan batas yang tumpeng-tindih. Macam-macam persoalan.

Bang Jon pergi. Dia tak bertanya soal tawaraannya pindah ke ”Podium Kota”. Pasti tak nyaman bertanya soal itu di saat seperti itu. Ia minta Nenia tinggal dengan mobil, supaya bisa antar saya hari itu ke mana-mana. Saya tak menolak, saya memang sedang perlu sekali perpanjangan kaki hari ini dan mungkin beberapa hari ini.

Apalagi akan disopiri oleh Nenia (saya belum bisa menyetir). Sebagai lelaki saya merasakan ada kenyamanan bersama seseorang seperti dia ke mana-mana. Melayani, menemani, memastikan segala yang harus diselesaikan hari terlaksana dengan sebaik-baiknya. Nenia mengambil peran itu selama menemaniku. Sedikit informasi tentang dia kudapatkan dari perbincangan di sela-sela urusan kami. Dia bisa dikatakan masih kerabat Bang Jon, lulusan universitas negeri di Malang (ah, Malang lagi… saya teringat misi kedua kedatanganku ke kota ini, yang semakin tipis harapannya), baru saja tes terakhir untuk menjadi staf PR dan marketing di Hotel Nagata Plaza.

”Tinggal nunggu masuk,” kata Nenia dengan senyum dan kemerduan yang tak dibuat-buat dan membuat kemanisan wajah dia makin memikat.

Bang Eel juga datang ke panti. Dia bolehkan aku untuk tak masuk hari itu sampai urusan kebakaran beres. Saya memperkenalkan Nenia pada Bang Eel. Menceritakan serba sedikit apa yang kutahu, sekadarnya. Bang Eel, tak mudah menyembunyikan perasaan. Ekspresif. Dia tampak amat tertarik padanya. Nenia kulihat tak terlalu nyaman.

”Malam ini tidur di mana, Dur,” tanya Bang Eel.

”Di tempatku. Iya kan, Mas Dur?” kata Nenia, seperti menggoda, tapi dengan kewajaran yang terukur, tak sampai terdengar jadi genit dan murahan. Ia menggoda Bang Eel, bukan aku.

Bang Eel berpaling ke arahku. ”Betul, Dur?”

Saya tertawa. ”Ya, nggak lah, Bang… Saya aja nggak tahu rumah Nenia di mana.” Nenia juga tertawa makin lepas. Seakan mau bilang: nah, kena, dia!

Kata Bang Eel, ”sementara di tempatku aja, ya.” Aku tak ada pilihan, menjawab dengan terserah saja.

”Nenia tinggal di mana?” kata Bang Eel pada Neni. Ia menyebut satu kompleks perumahan di Watuampar. Tak terlalu jauh dari kawasan kantor Metro Kriminal. Saya tak banyak terlibat dalam urusan perempuan, hingga melewati tiga perempat usia dua puluhanku ini. Tapi saya tahu itu bisa jadi urusan yang rumit.

Bila selama ini aku berat meninggalkan panti, tinggal di kos-kosan saja, seperti disarankan Bang Eel, karena tak enak meninggalkan anak-anak itu, maka setelah anak-anak ditampung di pesantren Ustad Samsu, aku mau tak mau cari tempat kos juga. Bagiku yang penting ada tempat untuk berbaring. Mungkin untuk sementara aku terima tawaran Bang Eel.

Aku punya waktu beberapa jam mengatur anak-anak di Pesantren Alhidayah, cabang baru yang sedang dirintis Ustad Samsu. Urusan pindah sekolah yang rumit, tak akan selesai dalam satu hari itu, tapi Bu Yani akan meneruskan. Nenia pamit ada urusan sebentar katanya, lalu pulang lagi menjemputku dengan satu kunci kamar kos. ”Ini kunci dari Bang Jon. Kamu pakai aja saja. Nanti sama saya ke sananya,” kata Nenia. Dia sebut alamat satu kompleks ruko di kawasan dagang dan nomor kamar.

Saya kira Bang Jon sudah terlalu jauh. Saya harus menjawab tawarannya lekas-lekas, saya menolak untuk membantunya di koran baru itu. Bersama Nenia saya menemui Bang Jon. Ia katakan, bantuannya tak ada kaitan dengan tawarannya. Ia paham apabila aku tak bisa membantunya. Ia mungkin ingin terus menjaga hubungan baik denganku, apakah karena dia merasa bisa memanfaatkan saya untuk rencana-rencananya yang lain? Ah, saya berprangka baik saja. Orang yang pernah kupandang sebagai semacam monster karena sosoknya sebagai wartawan yang lebih polisi daripada polisi.

Ia sedang memperlihatkan sisi lain dari dirinya, sisi yang ramah. Saya toh harus membangun jejaring yang lebih luas di kota ini, semakin luas, akan semakin baik. Bang Jon adalah simpul penting, pintu masuk yang akan membuka jalan ke mana-mana. Jalan apa saja, termasuk yang jalan ke tempat yang panas dan kawasan remang. Tapi itulah kota ini lengkap dan hidup dengan seluruh bagiannya yang kontradiktif ini.

Saya ternyata tak bisa tak masuk. Malah bingung karena tak tahu harus mengerjakan apa. Setelah beres semua urusan, saya masuk kantor.

Mila bertanya macam-macam dengan cemas. Dia selalu penuh perhatian seperti itu kepada siapa saja. Dia beri tahu ada telepon dari Risman Patron, beberapa orang lain. ”Pak Risman minta kalau Mas Dur sampai kantor segera telepon balik, Mas. Pak Sirait juga, telepon. Saya tak tahu, siapa dia, dia bilang kasih tahu aja bekas sopir Pak Habibie, ” kata Mila. ”Saya teleponkan, ya?”

Saya tertawa dengan cara Pak Sirait, Roni Sirait, menjelaskan identitasnya. Bekas sopir Pak Habibie. Itu branding yang kuat sekali, kalau dalam marketing. Di kota ini, hanya dia yang bisa memakai kalimat itu. Saya harus segera menemuinya. Lekas sekali berita menyebar, dia pasti ingin tahu kabar kebakaran panti itu.

Aku bicara sebentar dengan Bang Ameng lewat telepon. Ia terdengar tulus. Mengajukan banyak tawaran, termasuk ambil rumah di perumahan yang sedang ia bangun. Tak usah pakai uang muka, katanya, cicil aja semampunya. Belum tentu saya menerimanya tapi rasanya kebaikan-kebaikan seperti itu membesarkan hati, apalagi di saat tertimpa musibah begini.

Berita-berita reporter yang akan naik di halaman depan sudah kuedit semua. Terlalu capek rasanya kalau harus mengawal lay-out sampai selesai. Kami punya desainer dan lay-outer jago sekarang. Saya cocok dengannya dan suka hasil kerjanya. Dodo bisa diajak gila-gilaan. Idenya banyak, ia bisa tertib, bisa liar. Saya beri ia beberapa ide untuk dieksekusi untuk edisi esok.

Di mana tidur malam ini? Aku malah teringat anak-anak panti. Bagaimana mereka malam mini? Saya memandangi kunci kamar kos yang dititipkan Bang Jon lewat Nenia. Ke situkah? Atau ke kos Bang Eel? Sambil menimbang saya terus jalan, lampu-lampu jalan terang, di sepanjang trotoar dan bulebar Tanjung Kawin, seakan mengarahkanku ke alamat yang disebut Nenia.

Saya cari-cari, tak ada mobil yang tadi dibawa Nenia mengantarku ke mana-mana. Saya naiki tangga langsung dari depan ke lantai dua lalu menuju nomor kamar yang kuingat. Saya memasukkan anak kunci. Tapi pintu itu ternyata tak terkunci.

Kamar terasa sejuk, lumayan luas, ada sofa dan meja, dan tampak nyaman, mungkin karena aku terlalu capek. Aku nyalakan lampu, dan terdengar suara orang terkejut. Nenia muncul dari kamar sambil membereskan acak rambut dan kusut pakaian, ”Hei Dur, kamu mau tidur di sini?” Suara Nenia tenang sekali, biasa saja, saya terkejut, juga terkejut melihat ketenangan itu. Belum sempat aku menjawab, dari kamar Bang Eel muncul. ”Kamu tak ke kosku aja, Dur?”

Saya berusaha untuk tak tampak kaget. ”Oh, eeee… iya, Bang. Saya mau balikin kunci aja kok, Bang” kataku. Saya balik badan. Kunci kutinggalkan. Saya pikir malam ini saya tidur di kantor Metro Kriminal saja, seperti hari-hari awal saya kerja di kota ini. (*)

 

Komentar Pilihan Disway*

Edisi 9 September 2022:

 

Muin TV

Kalo di kampung, P3 itu identik dengan partainya orang tua, ibu-ibu atau emak-emak. P3 susah masuk ke segmen anak muda atau milenial. Posisi P3 memang sangat kritis. Kalau berdasarkan survei, P3 diprediksi tidak akan lolos ke Senayan. Karena cuma dapat 1,8%. Kita lihat saja nanti.

 

Siska Indahwati

Maaf njih, bagaimanapun sentilan pak Manoarfa itu perlu dibuat otokritik buat kiai, biar jujur saja.. fenomena itu mnrt saya masih ada bahkan banyak kok. Yang tahu pasti tentu kiai, coba yang bikir rusuh, marah marah bahkan lapor polisi itu kiai bukan?? paling mrk yang ngaku ngaku kiai. Khan bisasa dikita memoles yg spt itu agar masuk dalam ranah yang berbeda seolah olah bagian dari ritual atau apa… contoh sederhana setiap kali perusahaan kami mengadakan acara apapun yang mengundang kiai pasti diberikan amplop. Dan tak jarang secara tersirat dalam tauziah mereka ingin mendapat amplop lebih banyak meski dibungkus canda. Fenomena Kiai dan amplop mah sudah hal biasa di masyarakat… mudah2an kiai bisa spt petugas pajak yang sekarang ini gak pernah mau mendapatkan amplop tiap kali melakukan pemeriksaan.

 

Mbah Mars

Tak satupun partai yg tidak pecah. Golkar beranak pinak menjadi Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem. PDI juga demikian. Ada PDI Suryadi, PDIP dan partai-partai kecil lain. PKB pun mengalami hal yg sama. PAN setali tiga uang. Sudah ada partai Ummat sebagai sempalannya. Dari situ tampak, bahwa loyalitas orang partai itu lemah. Esensi loyalitasnya hanya pada kepentingan pribadinya. Loyal jika kepentingannya terpenuhi. Loncat pagar bahkan bikin rumah baru jika kepentingannya terabaikan. Di situlah perbedaan partai dengan ormas Muhammadiyah dan NU. Dua ormas tua ini tidak sekalipun mengalami perpecahan yg berarti. Semakin lama semakin dewasa. Kurang kaya apa Muhammadiyah dengan puluhan ribu amal usahanya. Kurang apa besarnya potensi yg dimiliki NU. Toh, dua ormas ini tidak menjadi ajang para pengurusnya untuk mengejar syahwat kekuasaan yg sampai menimbulkan perpecahan.

 

Mbah Mars

Seorang kyai, di kampungku pagi-pagi buta menerima tamu. Si tamu tergopoh-gopoh meminta maaf. “Kyai mohon maaf. Eee anu…amplop yg saya berikan habis pengajian tadi malam keliru. Yang benar ini Kyai. Maaf. Saestu nyuwun ngapunten”, kata tamu itu sambil menyerahkan amplop. “Keliru pripun ?”, tanya Kyai. Rupanya ia belum membuka amplop yg ada di saku tadi malam. “Nganu…Kyai, yg tadi malam saya serahkan itu e…e…daftar acara” jawabnya sambil tersenyum kecut. Si kyai mau tertawa tetapi tidak tega melihat wajah tamu yg tadi malam memang menjadi MC.

 

yoming AFuadi

Ibarat mau bercermin, harus siap2 dengan kondisi apapun wajah kita. Pak Suharso seperti menampilkan cermin untuk melihat wajah bangsa ini, kalau ada yang merasa direndahkan dengan kondisi yg ada berarti dia/ia ada rasa tinggi hati. Maka dari itu ada pernyataan rendahkanlah hatimu di hadapan Yang Maha Kuasa sehingga tidak ada lagi ruang untuk merendahkanmu.

 

Mirza Mirwan

Hanya meluruskan. Pak DI menulis yang mengundang untuk Mukernas adalah ASRUL SANI. Mungkin Pak DI hanya salah ketik, tetapi mungkin juga tidak memperhatikan nama politisi PPP kelahiran Pekalongan itu. Namanya yang benar adalah ARSUL SANI. Kalau ASRUL SANI (alm) itu sastrawan pelopor Angkatan 1945 bersama Chairil Anwar dan Rivai Afin, yang pada tahun 1962 bersama Usmar Ismail mendirikan LESBUMI (ornom NU) untuk mengimbangi LEKRA-nya PKI.

 

thamrindahlan

Wartawan bangkotan mengajukan perlop / Ingin jalan jalan ke Sumatera Barat / Jangan salahkan penemu amplop / Karena tujuannya untuk mengirim surat / Salam Jum’at Penuh Berkah

 

Arala Ziko

Pembaca Disway jangan tersulut emosi dulu, mungkin maksud Bapak Suharso ini, memberikan amplop bukanlah sebuah keharusan, melainkan keikhlasan. Namun, berdasarkan pengalaman yg dialaminya hal ini menjadi sebuah keharusan. Cara pandang dipengaruhi berbagai aspek termasuk pengalaman, maka lebih bijaklah dalam menilai org lain, ojo kesusu kalau kata RI 1

 

Roziq Kurniawan

Baru amplop saja sdh heboh ,, apalagi rekening ,,

 

ari widodo

Klau dicermati tulisan pak dahlan beberapa hari terakhir, menyinggung terkait dunia perbisan, kemarin tulisan tentang bus Kurnia (SAN), hari ini tentang bus restu, bus jurusan surabaya-madiun-ponorogo, yang nampaknya pak dahlan sering melihat bus ini bersliweran dijalan, baik saat disurabaya maupun saat mudik ke magetan, salam sehat selalu pak dahlan iskan dan keluarga serta seluruh pembaca & komentator disway

 

ari widodo

PPP seperti mengikuti jejak beberapa partai sebelumnya yang mengalami konflik internal yang berujung kepada perpecahan, dan bahkan mengulangi konflik internal PPP sebelumnya. Sistem dan struktur kepartaian di Indonesia suka tidak suka masih butuh figur sentral yang dijadikan pengayom atau pemersatu kader serta menjadi pengambil keputusan akhir kemana arah partai harus berjalan, bisa dibilang hal tersebut belum mencerminkan sistem kepartaian yang modern, dimana partai tidak bergantung dengan figur tetapi dibangun atas sistem yang disepkatai bersama, jadi mau siapa pimpinan atau pengurusnya partai tetap eksis dan berdiri tegak. Hal ini mungkin yang tidak kita temukan kepada PPP saat ini ataupun beberapa partai yang mengalami konflik internal dimana figur sentral tidak ada, sedangkan sistem partai juga tidak berjalan baik di internal. Solusinya memang agak rumit, kuncinya adalah mengesampingkan kepentingan kelompok serta ego individu diatas kepentingan partai, nampaknya dalam kasus PPP harus ada yang mau menjadi korban atau dikorbankan, klau tidak maka bisa terjadi “say goodbye” PPP saat pemilu 2024 nanti, sungguh amat disayangkan.

 

Rihlatul Ulfa

Masha Allah. Baru berhasil login hari ini. Mohon Abah orang ITnya rekrut yg paling pinter dan banyak pengalaman. Masa login aja susahnya nauzubilah.

 

Rihlatul Ulfa

Satu-satunya cara biar gak jadi permasalahan. Jangan ke Kiyai. Jadi tidak akan dibisiki oleh seseorang ‘kok gak ninggalin sesuatu’ kalau mau doa anda terkabul atau anda mempunyai suatu keinginan minta doa kedua orang tua anda saja, atau anda yg berdoa pagi, siang, malam. Atau misalnya anda ziarah saja ke makam-makam pahlawan ke makam mantan-mantan Presiden yg telah wafat. Kita kan tidak tahu, doa melalui yang mana yg akan terkabul.

 

Dacoll Bns

Nah, ini cocok tulisannya… Pak DI sesekali mesti mampir ke PonPes SPMAA di Turi, Lamongan… Kyai2 disini kalau diundang ceramah biasanya malah ngasih amplop ke masjid yang ngundang. Saya sendiri kaget waktu itu, lha ini kyai model apa kok kayak gini, setelah saya telusuri, tanya sana sini, tabayyun sendiri dan sempat mengikuti dakwah beliau, ternyata beliau2 Insya Allah benar- benar tulus ikhlas saat diberi kesempatan menyampaikan ajaran2 Allah SWT… Ponpesnya dan program2nya juga Insya Allah berbeda sekali dengan Ponpes2 yang pak Dahlan pernah kunjungi selama ini, pokoknya penuh surprise. Webnya spmaa.or.id kalau pak dahlan juga penasaran dan pengin mampir. Insya Allah disambut sebaik2nya seperti yg dicontohkan Nabi Muhammad SAW saat kedatangan tamu siapa pun itu …

 

Mbah Mars

Di Jogja ada juga dai, yg kalau diundang ceramah malah ninggali amplop. Maklum beliau itu pengusaha sukses. Usahanya di bidang pertokoan (supermarket yang jumlahnya puluhan), pom bensin, biro haji dan umroh serta lembaga pendidikan yang bonafit. Setiap kali ada panitia pembangunan masjid ingin menggali dana dari jamaah diundanglah beliau untuk berceramah. Dengan pancingan uang dari sakunya sendiri sang dai ini mampu mengumpulkan dana, barang-barang seerti perhiasan dan material bangunan. Semua untk panitia. Di saku sang dai biasanya ada uang 2 juta rupiah, sebagai umpan dalam acara mancing dana tersebut. Sungguh ideal kalau para dai dan kyai memiliki sumber rejeki dari hasil usahanya.

 

Er Gham

Cerita fiksinya tidak lagi pakai uang cash. Sudah tersedia bar code. Yang pamit mau pulang langsung buka aplikasi, lalu scan bar code. Kemudian masukkan pin. Selesai.

 

Sasti Ramedeni

“Amplop” sekecil itu setipis itu bisa diisi banyak hal, bisa diisi permintaan do’a restu, rasa sayang, minta dukungan, dilancarkan urusan, permintaan tutup mulut dimana isi yang kasat mata sebenarnya hanya selipan. Sewaktu kecil dulu saya sering merasa heran (hanya dalam hati), “Bagaimana orang itu bisa hidup lebih dari berkecukupan padahal yang saya ketahui dia hanya mengaji dan memberi ceramah”.

 

Jimmy Marta

Kemanapun sang kyai berceramah, selalu ia ikuti. Selesai pak kyai memberi pengajian seseorang itu lalu menyalami. Tersenyum dan mengucapkan salam dan salam tempel dg amplop abu abu. Di amplop tidak hanya berisi uang. Tapi juga ada tulisan arab kecil yg berisi nasehat untuk kyai. Awalnya pak kyai hanya mengira orang tersebut semacam panitia. Biasa saja. Tapi Itu terjadi lima sampai enam kali. Ditempat pak kyai ceramah yg tidak pd satu tempat. Pak kyai mulai kepikiran. Penasaran dan mulai bertanya tanya. Siapa lelaki misterius itu. Yg selalu menggunakan jubah lapang berwarna hitam itu. Konflik cerita dimulai saat sang kyai mulai ingin membuka amplop. Kebetulan tiap amplop sudah diberi seseorang itu tanggal. Pak kyai meng urutkan semua amplop berdasarkan tanggal. Ada lima amplop. Tapi dari tanggal yg tertera seperti ada yg terlewat. Bukankah ia menerima berturut-turut. Kyai percaya harusnya enam. Istrinya pun mengatakan ada nya hanya itu. Lima. “Pak, lihat kesini”, teriak istrinya histeris. Pak kyai bergegas kekamar. Masyaallah ucap mereka melihat dari lemari tempat kyai menyimpan amplop itu berhamburan uang lembaran setatus ribuan. Itu ringkasan cerpen berjudul amplop abu-abu. Siapa sosok misterius berjubah hitam. Apa nasehat yg tertulis diamplop tidak ditulis pengarang. Cerpen terdapat dalam kumpulan cerpen lukisan kaligrafi karya bpk.mustofa bisri.

 

Fenny Wiyono

kira2 kl disibukkan dengan permasalahan begini pemerintah tambah sedih krn banyak kerjaan, atau tambah seneng krn banyak “koordinasi”?

 

AnalisAsalAsalan

Ahli dalam hal mengatur wilayah dan negara? Nanti muncul lagi guyonan, “Syarat jadi presiden, sudah pengalaman minimal 5 tahun, karena kita butuh yang pengalaman.” Hahahahaha

 

Liam Then

Kwkwkwkkwkw. Saya sempat kepo dulu ,sempat browsing asal muasal QR code. Ternyata dari Jepang. Dikembangkan pertama kali oleh perusahaan Jepang. Denso Wave. Hebat memang orang Jepang. Pinter-pinter penemunya. Bikin saya agak miris juga. Melihat ketimpangan level. Disini ,. Sekelas pemimpin partai penting di Indonesia ,begitu gampang di lengserkan hanya terkait masalah amplop. Manuver klasik masih dipakai jadi tradisi ,kalo dah berebut posisi. Ah sudahlah, besok saya sarapan pisang kepok mengkal goreng, dilabur susu kental manis saja. Lebih langsung terasa efeknya.

 

Johan

Sebenarnya kurang elok, hal seperti ini menjadi masalah besar yang mengguncang sebuah partai politik yang sudah survive puluhan tahun. Perlu langkah khusus yang harus diambil berkaitan dengan isu amplop ini. Supaya masalah amplop tidak menjadi polemik lagi ke depannya, perlu ada terobosan baru, menyesuaikan metode memberi imbalan balas jasa yang sesuai zaman kekinian. Misalnya sarung, yang motifnya kotak-kotak itu. Sedikit di modifikasi dengan campuran motif Barcode atau QR Code, yang nge-link ke rekening yang pakai sarung. Yang ingin memberi imbalan tinggal scan pakai ShopeePay atau GoPay. Dengan metode seperti ini, tidak perlu amplop-amplop-an lagi, tidak perlu ada ketua partai yang dipecat lagi. Paling nantinya untuk orang yang mau scan harus lebih sopan, jangan scan pada bagian yang terletak di dekat daerah “burung” yang empunya sarung. Juga, nanti HPnya bisa error terkena gelombang sinyal syahwatic ultra high frequency 3.000 MHz.

 

yea aina

Sistem meritokrasi cukup efektif diterapkan Tiongkok. Penjenjangan karier para politikus//pimpinan berdasarkan kapabiltas atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial. Dari tulisan Abah Dis “Partai Amplop” ini, kita semakin tahu. Bahwa sistem penjenjangan karir politikus/pemimpin di sini, masih kental berlaku pola MERESTUKASIH. Seorang kandidat ketum partai ataupun Mentri, harus mengantongi tiket RESTU dari seseorang yang lebih berkuasa (calon atasannya). Bagaimana cara mendapatkan RESTU, anda sudah tahu. MERESTUKASIH mungkin saja tidak perlu mempertimbangkan kapabilitas dan prestasi, cukuplah dilihat berapa banyak tabungannya atau kelas sosial (trah politik) seseorang. Maka tak perlu heran, bila kita melnyaksikan pernyataan dan cara pengambilan kebijakannya tidak bijak.

 

balagak nia

Kalau membaca penjelasan lengkap P Suharso ttg Amplop Kiai sebetulnya tidak ada yg salah. Kalau menganggap amplop kiai itu untuk mengharapkan berkah ini menurut Sy malah salah….berkah itu hanya dari ALLAH nggak ada dari manusia. Banyak yg menurut Sy kurang tepat, seperti ngalap berkah dengan ziarah ke makam wali, mengelu2kan sampai mencium tangan kiai/habib/pak haji utk mengharapkan berkah…..Di mata ALLAH yg mulai itu hamba yang bertaqwa dan tidak disebutkan kiai, habib dsb. Jadi rakyat jelatapun kalo bertaqwa akan menjadi paling mulia. Jadi ingat sekitar tahun 99 mengantarkan Bpk Sy ziarah ke Makam Sunan Gn. Jati, Sy sebetulnya sudah melarang & tidak setuju tapi karena Bpk Sy ada nazar utk kesana jadi terpaksala Sy antar bersama keluarga yg lain. Waktu masuk ke area makam banyak sekali pengemis yg minta2 setengah memaksa yg menyebabkan Sy menegur dengan mengatakan kalau mengemis itu tidak baik, keluarga Sy menegur dan bilang kalau pengemis2 itu keluarga Sunan yg dpt memberikan berkah…tepuk jidat deh….. 🙁

 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id