Titis  : Kejari OI Terlihat Tidak Ada Kualitas 

Titis Rahmawati, kuasa hukum tersangka Romi


INDRALAYA
 – Pengacara  tersangka Romi, tenaga honorer Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) Ogan Ilir, Titis Rahmawati mengatakan Kejaksaan Negri (Kejari) Ogan Ilir tidak terlihat kualitasnya dalam mengusut kasus korupsi dana hibah Bawaslu pada Pilkada tahun 2020 yang lalu.

Titis sangat menyayangkan penetapan kliennya yang hanya tenaga honorer  sebagai tersangka. Padahal ada yang lebih bertanggungjawab atas kerugian negara kurang lebih Rp 7 miliar tersebut.

“Saya lihat Kejari Ogan Ilir semakin tidak ada kualitasnya dalam mengusut kasus korupsi ini. Seharusnya lebih mengedepankan kulitas daripada kuantitas. Kalau cuma banyakin orang (tersangka) tidak penting, seharusnya mencari tersangka yang tepat,” kata Titis kepada awak media, Selasa (08/11).

Menurutnya penetapan tersangka kepada kliennya itu terlalu dini dan tidak tepat sasaran. Tersangka seharusnya ditetapkan kepada pucuk pimpinan ataupun komisioner Bawaslu. Dia juga mempertanyakan mengapa bendahara tidak ditetapkan tersangka, padahal  yang paling bertanggungjawab.

“Masa klien kami yang hanya tenaga honorer ini yang harus bertanggungjawab? Punya wewenang apa dia? Apa tanda tangan klien kami ini berlaku? Kan tidak!,” ungkapnya.

Berdasarkan pengakuan klienya, Titis mengungkapkan bahwa memang klienya  sering mendapatkan uang tips setelah selesai mengurus pemberkasan dana hibah tersebut.

“Klien kami ini hanya menerima tips dari PPK dan Bendahara seperti setelah selesai ngetik berkas-berkas. Nominalnya saja tidak besar paling sekitar Rp 200 sampai Rp 500 ribu. Lainya paling diajak makan atau karaoke, hanya sekadar seperti itu. Uang tips kan bukan uang negara, jadi tidak bisa dikatakan merugikan negara,” terang pengacara kondang ini.

Titis mengatakan, jika ditotal semua tips yang didapat klienya tersebu kurang lebih sekitar Rp 25 juta. Itupun kemudian dirinya meminta klienya untuk mengembalikan uang tersebut.

Diberitakan sebelumnya,  Kejari  Ogan Ilir  resmi melakukan penahanan terhadap tersangka dugaan kasus korupsi dana hibah Bawaslu tahun 2020.

Penahanan tersebut setelah dilakukan pemeriksaan kepada kedua tersangka yakni Herman Fikri  (HF) dan  Romi  (R).  Dari ketiga tersangka yang telah ditetapkan Kejari OI, hanya dua tersangka yang dilakukan pemeriksaan dan dilakukan penahanan.

Sementara satu tersangka lainya  Aceng Fikri atau AF masih menjalani masa persidangan terkait dugaan kasus Korupsi Bawaslu Lubuk Linggau.

Kejari Ogan Ilir Nur Surya mengatakan penahanan ini dilakukan guna untuk mempercepat pemberkasan dan pemeriksaan terhadap kasus tersebut ke depan.

“Selanjutnya kasus korupsi ini dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Palembang,” ungkap Kejari.

Nur Surya mengatakan dalam pemeriksaan tersebut masing-masing tersangka dicecar dengan 20 pertanyaan.

“Pertanyaan tersebut nantinya bisa saja berkembang, tergantung kebutuhan penyidik. Tidak menutup kemungkinan dalam beberapa hari nanti kedua tersangka akan dimintai keterangan tambahan,”tambahnya.

Selanjutnya, ungkap Kejari, untuk kedua tersangka akan ditahan selama 20 hari ke depan di Rutan Pakjo Palembang.

Adapun terkait aset atau harta tersangka, terang kejari, sejauh ini belum ada yang disita. Namun pihaknya ke depan akan melakukan penyusuran sesuai SOP yang ada terhadap harta bergerak ataupun tidak milik tersangka.  (sro)