Waspadai Gejalanya

ilustrasi


DIAGNOSA
penyakit Evali dianggap cukup pelik karena gejala-gejalanya menyerupai gangguan pernapasan lainnya, seperti pneumonia dan infeksi virus flu.

Sebagaimana dilansir CDC, gejala Evali umumnya ialah nafas pendek, batuk, sakit dada, demam dan flu, diare, mual, muntah-muntah, jantung berdebar serta nafas dangkal dan cepat.

Ketua Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P. (K) juga pernah menjelaskan alasan rokok elektrik bisa membawa efek berbahaya. Sifat iritatif dan oksidatif dari asap vape adalah salah satu sebab utamanya, di luar sebab substantif lain.

“Uap yang dihasilkan oleh rokok elektrik mengandung partikel halus seperti halnya asap yang dibakar oleh rokok konvensional yang dikenal sebagai particulate matter (PM). Partikel halus itu bersifat toksik merusak jaringan atau bersifat iritatif,” kata Agus seperti dilansir Antara.

Sementara berdasarkan riset yang dipublikasikan American Journal of Preventive Medicine pada pertengahan 2019 lalu, penggunaan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 30 persen dibandingkan orang yang tidak mengonsumsi vape sama sekali.

Jika seseorang mengonsumsi vape dan rokok bakar pada saat bersamaan, risiko penyakitnya pun lebih tinggi lagi. Infeksi paru-paru seperti bronkitis kronis, emfisema, asma, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah jenis penyakit akut yang mengintai konsumen dua jenis rokok ini, selain Evali.

Bahkan, studi lain menemukan bahwa konsumsi vape dan rokok bakar secara bersamaan bisa menaikkan risiko penyakit stroke.(chy)